Pustaka
Bahasa Indonesia

Sentuhan Presisi : Kamar Rahasia

69.0K · Ongoing
Brostar
27
Bab
546
View
9.0
Rating

Ringkasan

Bagi Rian (24 tahun), setiap sudut ruangan di Cluster Nirwana adalah cetak biru masa depannya. Sebagai kontraktor interior muda yang ambisius, ia datang tidak hanya membawa meteran dan draf desain, tetapi juga ketenangan, kesopanan, dan tubuh tegap yang memancarkan aura maskulin yang kuat. Misinya jelas: membangun reputasi bisnisnya dari nol hingga mencapai skala nasional dalam waktu sepuluh tahun. Namun, dinding-dinding megah di komplek elite itu ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih intim daripada sekadar urusan estetika. Di balik pintu-pintu kamar yang tertutup rapat, ada wanita-wanita kesepian yang haus akan perhatian dan sentuhan yang bertenaga. Dimulai dari Bu Diana, sosialita berkelas di Blok A yang agresif namun memendam rasa malu, hingga Bu Rahma, sang Ibu RT yang sehari-hari tampil syar'i dan terhormat namun menyembunyikan fantasi submissive yang liar. Belum lagi deretan wanita lain dengan berbagai latar belakang dan hasrat tersembunyi mereka masing-masing. Di sinilah profesionalisme Rian diuji. Di antara tuntutan pekerjaan yang perfeksionis dan godaan hasrat yang membara, Rian harus bermain cantik. Menggunakan pesona baritonnya yang sopan untuk menaklukkan ego mereka di siang hari, sebelum akhirnya menjelma menjadi pria dominan tanpa ampun yang memuaskan dahaga mereka di malam hari. Ketika bisnis, ambisi, dan kenikmatan privat menyatu dalam satu garis presisi... seberapa jauh Rian mampu menjaga kendali dan menaklukkan Cluster Nirwana?

RomansaDramaCoganBillionairePengkhianatanPlot TwistAmbiguTersesat/ObsesifGentleman

JASA INTERIOR DAN KLUSTER BARU

Pukul satu siang, matahari sedang terik-teriknya membakar aspal di kawasan perumahan Cluster Nirwana. Perumahan elite dengan arsitektur modern minimalis itu tampak sunyi, hanya sesekali terdengar suara dekorasi interior atau kendaraan operasional yang lewat. Di salah satu sudut blok, sebuah mobil bak terbuka berlogo “Rian Interior & Contractor” terparkir rapi di depan sebuah rumah berlantai dua dengan cat dominan putih bersih.

Rian turun dari pintu kemudi, menyeka keringat yang membasahi dahi dengan punggung tangannya. Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu memiliki postur tubuh yang tegap dan atletis—bahu lebar dan dada bidang yang terbentuk alami karena sering mengangkat material proyek, bukan tipe gym yang berurat ekstrem. Hari ini adalah proyek pertamanya di cluster tersebut, sebuah pesanan dari sang Ibu RT yang baru saja merenovasi ruang keluarga dan kamar utama rumahnya.

Rian berjalan ke bak belakang mobil, menurunkan beberapa gulungan kain gorden premium berwarna broken white dan sebuah tangga lipat aluminium. Sebelum melangkah mendekati pagar, ia merapikan kaos oblong katun hitamnya agar tetap terlihat sopan dan profesional. Ia lalu menekan bel di samping pagar besi tempa hitam rumah tersebut.

“Yuk, fokus. Proyek pertama di komplek elite, kalau kerjaan rapi, nama gua bisa naik di sini,” batin Rian menyemangati diri sendiri.

Tidak butuh waktu lama, pintu utama rumah besar itu terbuka. Seorang wanita melangkah keluar dengan penampilan yang sangat rapi dan bersahaja. Wanita itu adalah Bu Rahma, sang Ibu RT yang berusia tiga puluh enam tahun. Ia mengenakan gamis longgar berwarna hijau tua yang menutup seluruh tubuh hingga mata kaki, dipadukan dengan khimar panjang senada yang menutupi bagian dada dengan sempurna. Wajahnya yang keibuan tampak bersih tanpa polesan make-up berlebih, memancarkan aura wanita matang yang terhormat dan berwibawa di lingkungannya.

“Eh, Mas Rian. Tepat waktu ya. Mari, langsung masuk saja, Mas. Di luar panas banget,” sapa Bu Rahma dengan tutur kata yang sangat lembut dan senyuman ramah seorang tuan rumah.

“Iya, Bu Rahma. Kebetulan jalanan tadi agak renggang, jadi bisa langsung sampai,” jawab Rian dengan nada suara baritonnya yang berat namun terdengar sangat santun. Ia menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. “Saya bawa material gorden yang kemarin Ibu pesan lewat katalog, sama tangga lipatnya ya, Bu.”

“Oh iya, silakan dibawa masuk saja. Suami saya sedang dinas ke luar kota sampai akhir pekan, jadi rumah agak sepi. Anak saya, Dika, juga masih di sekolah dasar sampai sore nanti,” ujar Bu Rahma sembari membuka pintu pagar lebih lebar.

Rian mengangguk, lalu mulai mengangkat gulungan gorden dan tangga lipatnya masuk ke dalam rumah dengan cekatan.

Interior rumah Bu Rahma sangat rapi dan berkelas. Rian meletakkan peralatannya di ruang keluarga yang berbatasan langsung dengan taman dalam melalui pintu kaca besar. Di ruangan inilah gorden pertama akan dipasang.

“Mau diminum apa, Mas Rian? Teh hangat atau air dingin saja?” tanya Bu Rahma, berdiri menjaga jarak aman dengan pria asing di rumahnya, posisi khas seorang ibu rumah tangga yang sopan.

“Air dingin saja tidak apa-apa, Bu. Repot-repot amat,” sahut Rian santai sambil mulai merakit tiang gorden aluminium.

“Enggak repot kok, cuma ambil di kulkas. Tunggu sebentar ya.” Bu Rahma berbalik menuju dapur untuk mengambil minum.

Rian sendiri langsung fokus pada pekerjaannya. Ia mengambil meteran, mengukur kembali presisi tinggi jendela ruang keluarga, lalu mulai menyiapkan bor listrik. Pikirannya murni terarah pada teknis pemasangan agar tidak ada cacat sedikit pun pada dinding rumah pelanggan pertamanya di cluster ini.

Beberapa menit kemudian, Bu Rahma kembali membawa segelas air es dan meletakkannya di meja sudut. “Diminum dulu, Mas.”

“Terima kasih banyak, Bu.” Rian berdiri, meminum air tersebut secukupnya, lalu kembali meletakkan gelasnya sebelum melanjutkan pekerjaan.

Bu Rahma memperhatikan cara kerja Rian yang cekatan. “Mas Rian ini usahanya sendiri atau ikut orang?” tanya Bu Rahma, sekadar berbasa-basi untuk memecah kesunyian di ruang tengah.

“Usaha sendiri, Bu. Masih kecil-kecilan, rintisan bareng satu teman lama yang bagian admin. Tapi kalau untuk turun lapangan pasang gorden atau dekorasi interior privat begini, saya lebih suka turun tangan sendiri biar hasilnya sesuai standar saya,” jawab Rian ramah tanpa mengurangi kecepatan kerjanya.

“Bagus itu, Mas. Masih muda tapi sudah punya usaha sendiri dan bertanggung jawab. Jarang anak muda sekarang yang mau kerja kasar begini,” puji Bu Rahma tulus, menghargai etos kerja pemuda di depannya.

“Alhamdulillah, Bu, yang penting halal dan bisa buat muter modal,” sahut Rian sambil tersenyum sopan.

Dengan stamina fisik Rian yang prima, pekerjaan pemasangan gorden di ruang keluarga yang biasanya memakan waktu satu jam, selesai hanya dalam waktu empat puluh menit. Rian merapikan sisa-sisa debu bor dengan lap bersih yang selalu ia bawa di saku belakangnya.

“Bu Rahma, yang di bawah sudah selesai. Saya boleh langsung lihat jendela kamar tidur di lantai atas?” panggil Rian setelah memastikan area ruang tamu kembali bersih.

Bu Rahma yang baru selesai merapikan dapur menghampiri Rian. “Oh, sudah selesai? Cepat sekali, Mas. Mari, saya antar ke kamar atas.”

Mereka berjalan beriringan menaiki tangga jati menuju lantai dua. Bu Rahma membuka pintu kamar utama yang cukup luas, dengan kasur berukuran king size yang tertata rapi dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalan utama cluster.

“Di sini, Mas Rian. Gorden yang lama tolong dilepas dulu ya, diganti yang baru dengan bahan beludru tebal yang kemarin,” ujar Bu Rahma sambil menunjuk ke arah jendela.

“Baik, Bu.” Rian membuka tangga lipat aluminiumnya di depan jendela, memastikannya kokoh, lalu mulai naik untuk melepaskan sekrup gorden lama.

Bu Rahma berdiri di dekat pintu kamar, mengawasi jalannya pekerjaan dengan sikap formal. Ia melihat bagaimana Rian bekerja dengan tenang dan profesional, tanpa banyak bicara yang tidak perlu. Suasana di dalam kamar terasa tenang, hanya diiringi bunyi putaran obeng dan obrolan ringan seputar perawatan kain gorden beludru agar tidak mudah berdebu.

Pekerjaan di kamar utama akhirnya selesai menjelang pukul tiga sore. Gorden baru terpasang dengan presisi dan rapi, langsung mengubah atmosfer kamar menjadi lebih mewah dan privat. Rian menurunkan tangga lipatnya, merapikan kembali semua peralatan kerja, lalu membawanya turun ke lantai satu untuk dimasukkan ke dalam bak mobil.

Bu Rahma mengikuti Rian hingga ke teras depan rumah untuk menyelesaikan pembayaran.

“Ini, Mas Rian, uang untuk pelunasan gorden dan jasanya. Tolong dihitung dulu ya,” ucap Bu Rahma, menyerahkan amplop berisi uang tunai.

Rian menerima amplop tersebut dengan kedua tangannya sebagai bentuk kesopanan. “Pas kok, Bu. Tidak perlu dihitung lagi, saya percaya sama Ibu RT. Terima kasih banyak ya, Bu Rahma. Semoga puas dengan hasil kerjaan saya.”

Bu Rahma tersenyum ramah. “Kerjaan Mas Rian rapi sekali, saya suka. Kebetulan di komplek ini ada grup WhatsApp arisan ibu-ibu, Mas. Kemarin beberapa tetangga saya ada yang nanya rekomendasi tukang pasang gorden dan renovasi interior yang bisa dipercaya dan kerjanya rapi.”

Mendengar hal itu, Rian merasa peluang bisnisnya terbuka lebar. “Wah, serius, Bu? Alhamdulillah kalau begitu. Saya siap banget kalau ada warga sini yang butuh jasa saya lagi.”

“Iya, ada dua tetangga dekat yang paling butuh sepertinya. Yang pertama itu Bu Diana, rumahnya di blok depan, nomor 12 yang pagarnya besar. Dia kemarin sempat bilang mau merenovasi ruang lemari bajunya karena sudah penuh. Lalu satu lagi namanya Nisa, rumahnya persis di sebelah saya ini, nomor 05. Dia pengantin baru, mau pasang gorden yang tebal juga untuk ruang tengahnya biar lebih privat,” jelas Bu Rahma sambil menunjuk ke rumah tetangganya.

Rian mendengarkan dengan saksama, mencatat nomor rumah dan nama-nama tersebut di dalam kepalanya murni sebagai daftar calon pelanggan potensial berikutnya. “Baik, Bu Rahma. Terima kasih banyak atas rekomendasinya. Informasi ini berharga sekali buat perkembangan usaha saya. Nanti nomor kontak saya boleh dibagikan ke mereka, Bu.”

“Iya, Mas Rian, sama-sama. Saling bantu saja sesama warga. Nanti brosur atau nomor Mas Rian saya kirim ke grup arisan komplek,” ujar Bu Rahma.

“Aduh, terima kasih banyak, Bu RT yang baik. Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu ya, Bu. Sudah mau asar,” pamit Rian sambil melangkah menuju pintu mobil baknya.

“Iya, Mas Rian. Hati-hati di jalan ya.” Bu Rahma mengangguk ramah, mengantar Rian dengan pandangan formal sampai mobil itu bergerak.

Rian menghidupkan mesin mobilnya, perlahan memundurkan kendaraan lalu melaju membelah jalanan Cluster Nirwana. Pikiran Rian sore itu dipenuhi rasa syukur karena proyek pertamanya berjalan lancar dan berpotensi membuka jaringan pelanggan baru di perumahan elite tersebut. Ia tidak tahu bahwa rekomendasi sederhana dari sang Ibu RT hari itu akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang mengubah dinamika kehidupannya di kluster ini.

Matahari sore mulai meredup saat mobil bak terbuka milik Rian melaju membelah kepadatan lalu lintas pinggiran kota. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dari perumahan Cluster Nirwana, kendaraan tersebut berbelok masuk ke sebuah kawasan ruko dua lantai yang terletak agak masuk dari jalan protokol. Di sanalah tempat usaha Rian berada. Sebuah papan nama kayu sederhana namun estetik bertuliskan “Rian Interior & Contractor” terpasang di atas pintu kaca ruko bernomor 14 B tersebut.

Rian memarkirkan mobilnya dengan presisi di area parkir ruko yang tidak terlalu luas. Ia mematikan mesin, menghela napas panjang untuk melepaskan penat setelah seharian bekerja di bawah terik matahari, lalu turun dari mobil. Dari dalam ruko, sayup-sayup terdengar suara bising mesin jahit berkecepatan tinggi yang sedang memotong dan menyatukan lembaran kain.

“Alhamdulillah, target hari ini selesai tepat waktu. Tinggal ngecek stok kain di workshop sama urusan administrasi,” batin Rian sambil meregangkan otot-otot lengannya yang kaku.

Rian berjalan ke bak belakang, menurunkan kotak perkakasnya yang berat dengan satu tangan tanpa kesulitan berarti. Bahu lebar dan postur tegapnya tampak kokoh saat ia mendorong pintu kaca ruko dan melangkah masuk ke dalam ruangan ber-AC yang terasa sejuk.

Lantai satu ruko tersebut disulap menjadi area workshop sekaligus ruang pamer mini. Di sisi kiri dinding, berderet contoh-contoh gorden dengan berbagai jenis bahan—mulai dari katun, linen, hingga beludru premium—lengkap dengan sistem rel otomatis maupun manual. Sementara di sisi kanan, terdapat sebuah meja potong kayu berukuran besar tempat lembaran kain diukur dan dipotong sebelum dijahit.

Di balik mesin jahit di dekat meja potong, seorang pria paruh baya berkacamata tampak serius memperhatikan jalannya jarum pada kain brokat emas. Pria itu adalah Pak Jono, satu-satunya penjahit senior yang dipekerjakan Rian karena keahliannya yang luar biasa dalam menangani kain-kain mahal tanpa cacat.

“Baru balik, Yan? Gimana proyek di Cluster Nirwana? Lancar?” tanya sebuah suara dari arah kubikel meja admin di sudut belakang ruangan.

Rian menoleh dan melihat seorang pemuda seumurannya yang sedang duduk di depan laptop dengan segelas kopi hitam di sampingnya. Pemuda itu adalah Dimas, sahabat Rian sejak bangku SMK sekaligus partner usahanya. Berbeda dengan Rian yang lebih banyak bergerak di lapangan untuk urusan teknis dan eksekusi fisik, Dimas adalah otak di balik meja—menangani pembukuan, pemasaran digital, administrasi, dan pemesanan material.

“Lancar, Dim. Garapan di rumah Ibu RT udah beres semua. Tinggal tunggu testimoni aja,” jawab Rian sambil meletakkan kotak perkakasnya di dekat rak penyimpanan. Ia berjalan mendekati meja Dimas lalu menarik sebuah kursi kosong untuk duduk di sana.

Dimas mengalihkan pandangannya dari layar laptop, lalu menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Bagus deh. Soalnya kalau garapan di rumah Ibu RT itu rapi, biasanya pintu buat masuk ke warga komplek sana bakal kebuka lebar. Tahu sendiri kan ibu-ibu komplek elite kalau udah ngobrol di grup WA atau pas arisan? Promosinya lebih kencang daripada iklan berbayar kita di media sosial.”

Rian terkekeh pelan sambil mengambil botol air mineral yang ada di meja. “Nah, itu dia. Tadi pas pelunasan, Bu Rahma—Ibu RT-nya itu—langsung bilang kalau dia puas sama hasil pasang gorden beludru di kamarnya. Terus dia langsung ngasih info kalau ada dua tetangganya yang lagi butuh jasa interior juga dalam waktu dekat.”

Mendengar hal itu, mata Dimas langsung berbinar. Ia langsung meraih buku catatan kecil di samping laptopnya. “Serius lo? Siapa aja? Udah dapet nomor kontaknya belum?”

“Belum dapet nomornya secara langsung sih, tapi Bu Rahma bilang mau ngebagiin kontak kita ke grup arisan mereka sore ini. Yang pertama namanya Bu Diana di blok depan nomor 12, katanya mau renovasi walk-in closet karena lemarinya udah gak muat. Yang kedua namanya Nisa di nomor 05, tetangga sebelah Bu RT, mau pasang gorden tebal buat ruang tengahnya biar lebih privat,” jelas Rian merinci ingatan di kepalanya secara profesional.

Dimas langsung mencatat nama-nama tersebut dengan antusias. “Wah, mantap banget ini. Renovasi walk-in closet itu margin untungnya lumayan gede, Yan. Kita bisa mainin desain pencahayaan tersembunyi pakai lampu LED tersembunyi sama bahan kayu minimalis yang kelihatan mewah. Kalau yang pasang gorden tebal juga bagus, kita masih punya sisa stok kain blackout premium warna abu-abu sama cokelat muda di gudang atas.”

Rian mengangguk setuju. “Iya, makanya gua bilang ke Bu Rahma tadi, kalau ada tetangganya yang hubungi kita karena rekomendasi dia, gua bakal kasih potongan harga khusus. Hitung-hitung buat investasi relasi jangka panjang di komplek itu.”

“Strategi lo bener, Yan. Jangan pelit di awal kalau sama konsumen kluster kayak gitu. Yang penting mereka ngerasa dapet perlakuan eksklusif dulu,” sahut Dimas sambil kembali mengetik sesuatu di laptopnya. “Oh ya, ini ada beberapa laporan masuk dari pengiriman bahan kain yang kita pesan kemarin. Bahan beludru impor dari Surabaya udah sampai di gudang atas. Lo mau cek sekarang atau nanti?”

“Gua cek sekarang aja deh, sekalian mau ngeliat sisa stok rel gorden otomatis. Takutnya kurang kalau tiba-tiba ada pesanan borongan minggu depan,” kata Rian sambil berdiri dari kursinya.