Tuduhan Untuk Kiara
Jam sudahmenunjukkan pukul 05.00 Wib
“Hah!,” Manda terbangun kaget melihat jam.
“Gawaat,” ia meraba hp yang ia letakkan di tempat tidur.
“Dapat.”
Manda secepatnya menelfon Nisah yang kemungkinan masih tidur.
“Ni anak tidurnya pulas amat,” bergegas bangkit dari tempat tidudeh, ia mengikat rambut sembarangan.
“emang dasar deh.”
“Nisah, niss bangun bangungbangun cepat, niss,” menguncangkan tubuh Nisah yang masih tertidur pulas.
“Apaansih, gw masih ngantuk ni. Subuh subuuh buta lu udah bangunin gw,” ujarnya malas.
“Banguuuunnn...,” menarik paksa tangan Nisah hinga ia terduduk bangun.
“Mandaa HEH!”
“Elu ya emang ga bener lu.”
“Elu yang dari di bangunin kgak bangun bangun, jadi kgak?"
"Hehehe," Nisah tertawa cengegesan.
"Udah ayok ikuti gw," Manda menarik tangan Nisah ke kamar nya.
***
"Eeh ehh, mama udah bangun ayo buruan," Manda mengambil sapu untuk beres beres, sedangkan Nisah beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.
"Anak papa, sama keponakan om rajin amat pagi pagi udah beres beres," sanjung Georgy.
"Ohh tentu dong om," mereka ber dua cegegesan.
"Eeh Nis kalau gitu aku ke atas dulu ya buat bersih bersih."
"Ia Man, biar aku yang masak."
"Lohh loh, tumben nih anak anak mama pada rajin," menghampiri.
"Hehe tante bisa aja," nyengir.
"Yaudah kalau gitu gw lanjut nyapuin di atas," menepuk pelan pundak Nisah yang berarti kode dari rencananya mereka.
***
"Heh Kiara bangun lo sekarang," menulakkan Kiara.
"Kak Manda."
"Apa lu?"
"Nih nyapu lu sekarang."
"Buruan," bentak Manda.
Kiara terbangun membersihkan kamarnya, ia belum menyadari bahwa Manda telah menaruh anting anting Nisah di bawah bantalnya.
"Rasaain lu, bentar lagi Kiara elu akan mendapat masalah besar," dalam hatinya.
“Pa anak kita rajin ya,” sanjung hiren yang berada di samping Georgy.
“Siapa dulu dong anak papa,” menaik turunkan alis.
“Anak mama juga pa,” memukul suaminya itu dengan manja.
“Ehh tunggu dulu,” Nisah memberhentikan kerjanya ia mulai gelisah mencariin sesuatu yang hilang, inilah bagian rencana mereka berdua dengan Manda.
“Lohh kok!” Ujar Nisah.
Namun tingkahnya yang pura pura gelisah belum di perhatikan orang tuanya, ia semangkin bersibuk agar mereka mulaimemperhatikan.
“Kiaraa...,” panggil Manda.
“Ia kak?” ia pun menghampiri Manda yang duduk di kursi dekat kaca.
“Udah deh sini sapunya, lu udah siapkan nyapu? Yaudah kamu tidur lagi aja sana,” suruh Manda.
“Hah!” Kiara terheran melihat sikaf Manda ke dia.
“Udahh tidur aja kan lu udah siap nyapuin nya, gw ke bawah dulu,” Manda bangkit dari tempat duduknya tadi.
Smirk, “Akhirnya elu kenak,” ia menutup pintu kamar.
Di luar Manda meneteeskan obat tetes mata sehingga ia bisa untuk purra pura menangis.
“Byy Kiara,” Manda berlari ke tangga, namun langkahnya terhenti melihat Nisah yang masih kesibukan mencari cari.
“Gawat,” langkah Manda harus mundur ke belakang, karena takut ke tauan nantinya dengan rencana mereka.
“Ayo dong Nis buruan.”
“Maahh mahh,” teriak manda dengan panik.
“Kenapa sayang, kenapa?”
Keduanya melihat manda yang sedang gelisah mencariin, mereka mendatangi anak nya itu.
“Nak kamu kenapa?”
“Pah anting anting aku, pah hilang.”
Kedua orang tuanya ikutan terkejut mendengar itu.
“YESS.”
Dengan ekting berpura pura sedih Manda turun kebawah menyosor tante, om, dan sepupunya Nisah dengan menangis tersedu sedu, dan air mata buatan yang menetes membasahi pipinya.
“Manda... man kamu kenapa,” hiren mendatangi Manda.
“Tann... tante,” dengan tangis yang tersdedu sedu Manda memeluk Hiren.
“Kenak nak kenapa?” Hiren memeluk Manda dan menyapu kepala anak itu yang menangis di pelukan nya.
“Sayang ayo kesana,” Georgy mengajak Nisah untuk bersama dengan Manda.
Manda masih menangis haru, sedangkan Nisah hanya diam saja dengan wajah penuh gelisah.
“Omm...,” isak tangis Manda.
Mendengar tangisan keponakan nya itu, ia pun memeluk Manda.
“Kak Manda kenapa kak? Ada kabar duka dari desa?” Tanya Nisah.
“Engga kok dek,” ia melepaskan pelukan nya, dan memeluk Nisah.
“Kak kenapa?” Membalas pelukan Manda.
“Ayo cerita,” lanjut Georgy dengan paksa.
Akhirnya Manda membuka suara sesuai apa yang mereka rencanakan.
“Om, tante, Nisah maafin aku ya kalau punya salah selama disini,” menunduk.
“Kak Manda jangan bilang begitu dong, emang nya kenapa?”
“Habisnya tadi Manda di caci sama Kiara, soalnya Manda lihat ada anting anting di bawah bantal Kiara,” ia berhenti melap air mata.
“Anting anting,” ujar mereka serentak.
“Ia om, tante, Nis, tadi pas akumembangunkan kiara buat ngerapiin tempat tidurnya Mandi lihat anting anting yaudah Manda tanya aja itu punya siapa? Tapi dia malh ngehina keluaga Manda di desa,” menundukkan kepalanya dengan ekspresi sedih.
“Ya ampun tu anak emang ya bener bener,” lanjut Hiren.
“Kak sabar ya trus dia bilang apa,” Nisah menenangkan Manda.
“Dia bilang eeh anak desa lu disini bukan siapa siapa ga usah megang megang ni anting anting, lu cuma orang miskin. Lo nyadarkan emak lo noh di kampung, suara tersedu sedu. Udah miskin ga usah nyari masalah di rumah ini,” lanjut Manda mengarang cerita.
“Pah, mah!” Seru Nisah.
“Apa jangan jangan itu anting anting aku? Soalnya ma tadimalam telinga aku kyak ada yang megang megang gitu,” timpa Nisah menambahi.
“Bener bener kke terlaluan tu anak, ga bisa di biarin,” Georgy pergi berjalan deluan tampa menderkanmereka lagi, begitupun Hiren yang mengikuti Georgy dari belakang.
“Yess berhasil,” keduanya senyum gembira dengan rencana mereka.
“Udahh yok Manda buruan, nanti kita malah ketahuan.”
Bruuukkk, Georgy menendang pintu ksmsr Kiara, membuat ia terkejut.
“Pah? Mah?”
“Kak Manda, Kak Nisah? Kok pada disini?” Tanya Kiara heran.
“Awas kamu,” Georgy menariktangan manda dengan keras.
“Aww... papa!”
Georgy sibuk mecariin dimana Kiara menyimpananting anting itu, akhirnya setelah beberapa menit ia menemukan nya.
Semua yang ada disitu terkejut melihat anting anting yang berada di bawah bantal Kiara.
Kiara tercengang heran melihat itu.
“pap... pa pa, aku ga tau apa maksud semua ini.”
“Kiara hebat kamu ya,” cetus Hiren.
“Ma aku ga tau apa apa,” meyakinkan.
“Baguss kamu sekarang ya Kiara mangkin menjadi jadi,” bentak Georgy dengan nada yang kuat membuat semuanya terkejut.
“Anak sialan kamu di besarkan buat jadi pencuri, dan mengejek orang,” lanjutnya.
“Pahhh!”
Nisah, dan Manda tertunduk diam.
“Kiara kurang ajar kamu ngata ngatain Manda apa ha?” Georgy meremas pipi Kiara.
“Aku ga bilang apa apa pa.”
“Halah mana ada maling yang mau ngaku pa, kalau maling ngaku pasti penjara penuh, begitupun dengan lu kiara,” potong Hiren.
“Anak anak ayo kita pergi, tinggalkan Kiara,”
Disitu Manda berkesempatan memeluk Hiren, dan Georgy kemudian ia memeluk Kiara yangmenangis tak bisa berkata kata lagi.
“Kiara maafin gw ya kalau punya salah sama lu, gw bakalan balik kok ke desa gw,” Manda menanmagiskan air mata palsunya di bahu Kiara.
“Kak!”
“Makasih Kir buat selama ini, lu ga perlu mitnah mitnah gw lagi.”
“Udah ayo ke bawah tinggalkan anak hina itu sendiri,” Georgy melepaskan pelukan Manda, dan Kiara.
“Kiara memang sialan, tuhkan ga ada gunanya itu anak di rumah ini.”
“Pa kita ga mungkin ngusir tu anakkan,” memandang suaminya Georgy.
“Benar benar ke terlaluan, ohh ia kalian berdua ke kamar aja istirahat dulu,” lanjut Georgy.
Manda, dan Nisah pun pergi masuk ke dalam kamarnya Manda, Manda menutup pintu dengan rapat.
“Aghhh,” Nisa menjatuhkan badan nya ke kasur.
“Akhirnya,” Smirk.
“Ehh tapi Man gw belum puas,” Nisah bangkit duduk.
“Gw harus mencari ide baru lagi buat menjatuhkan Kiara.”
“Kalau lu mau membuat Kiara hancur gw punya caranya.”
“Apa kasih tau gw sekarang Man.”
“Gampang lu harus matahkan semangatnya, jatuhkan mentalnya dengan begitu Kiara akan mati dengan sendirinya.”
“Lu yakin itu akan berhasil?” tanya Nisah sedikit ragu.
“Ga ada cara terbaik membunuh seseorang dengan menjatuhkan mental, dan semangatnya. Bahkan 1000 tusukan pisau psikopat sangat lama untuk membunuh, pembunuh terbaik adalah dengan menjatuhkan mental, dan semangat Kiara,” Manda naik menduduki meja belajarnya.
“Gimana cara menjatuhkan Kiara?”
“Nisah elu kakak kandunng Kiara, begitupun Wilona cara terbaiknya adalah membanding bandingkan Kiara dengan Wilona sendiri,” smirk.
Nisah terdiam sejenak mencerna kata kata Mada barusan, senyum tipis kemudian tersemat di pipinya.
“Gw tau harus apa sekarang,” Nisa berjalan hendak membuka pintu.
“Tunggu!”
Suara Manda tersebut memberhentikan Nisah.
“Kenapa Man?”
“Sebaiknya elu ngatur renncana dulu.”
“Ga penting buat gw."
“Heh lu dengerin gw lu jangan aneh aneh, selama gw kemah nanti lu harus bisa jangan buat masalah,” cetus Manda dengan tegas.
“Bodoamat lah,” Nisah menghiraukan apa yan manda bilang.
