Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Saya Yang Tersakiti

Setetelah kejadian itu aku memutuskan untuk tak banyak bicara, aku lebih baik memendamnya dan menahan nya sendiri.

Kiara, semua tentang saya.

“Bodohnya aku terus terusan diam dengan ke adaan, gak ga ga... gw ga mau memikiran apapun itu lagi gw mau tenang di dalam dunia yang menyakitkan ini. Saat iti Kiara benar benar lelah ia capek dengan semuanya Kiara tak tau harus berbuat apa lagi agar dirinya tidak di tindas terus terusan.

“Kiaara!”

“Hebat ya lo Kiara, kiara kamu taukan hari ini hari apa? Lu tukan lu harus ngapain.”

“Dasar Anjjing ya lu Kiara.”

“Maa... maaf Jingga,” menunduk.

“Enak aja ya lu minta maaf ke gw, setelah lu lama datang, heh otak lu dimana sih Kir? Lu ngebiarin gw nyapu ni kelas dan lu santai santai setelah gw siap piket lu baru datang, hebat lu,” menolak Kiara dengan kasar.

"Dasar anak ga punya otak," cerca Jingga terus terusan memarahi Kiara.

“Taa.. tapi tadi gw ke sekolah jalan Jingga makanya gw telat,” ujar Kiara meyakinkan Jingga.

Walaupun begitu Jingga tak memberi ampin Kiara,baginya tidak ada pengampunan buat orang seperti Kiara.

“Ga alasan, mau lu jalan mau lu naik angkot, mau naik buroq juga sekalian bukan urusan gw, liat aja lu harus ngebayar semua ini. Karena lu udah ngebiarin gw nyapu kelas tunggu lu Kiara,” ujar Jingga yang mengancam.

"Tapikan Jingga lu piket kelas baru hari ini, selama ini yang piketkan Gw," potong Kiara.

"Ouhh jadi lo ngungkit masa lalu, terus kenapa kalau lo yang piket apa masalahnya buat gw," Jingga terus marah marah, karena geram ia menarik kuat rambut Kiara.

"Auuww Jingga sakit," Rintih Kiara.

"Eeghh dasar ya lu manusia ga berguna," Jingga melepaskan jambakannya kuat.

Melihat keributan di depan kelas, antara Kiara dan Jingga Manda menghampiri mereka.

"Eeh eh, kenapa tuh. Itukan Kiara ah Gw samperin lah," Ia mendatangi keduanya.

“Ya ampun ada apasih ribut ribut,” lanjut Manda yang melewati kelas mereka.

“Kak Manda,” ucap ke duanya serentak.

“Kenapasih ini masih pagi loh.”

“Udah emosian aja Jingga,” lanjut Manda.

“Kak Manda gimana aku ga emosi yang nyapu kelas gw sendiri lah semuanya beres.

“Whatt! Ouhh jadi begitu. Kiara kiara lucu ya kamu ga di rumah, ga di sekolah buat orang emosi aja, Jingga tadi juga si Kiara di rumah bangun nya lama,” fitnah Manda.

“Kak Manda kakak bohong,” tegas Kiara.

“Kiara kiara, kakak bohong dari mana nya? Jelas jelas yang tadi bangunin kamu kakak, yang tadi pagi ngatain kakak dari keluarga ga mampu kan kamu padahal kakak cuma bangunin kamu loh,” Manda menambah nambahi cerita yang sebenarnya tak terjadi.

Mata Jingga memandangke duanya.

“Kiara tega ya lu buat kyak gitu ke kak Manda, Kiara walaupun kalian tidak sedarah tapi niat dia itu baik loh,” potong Jingga.

“Jingga cerit yang sesungguhnya ga kyak gitu,” Kiara ingin memperjelas tetapi selalu saja di potong Manda.

“Kir apa salah nya kamu ngaku, jadi kamu mau ngejelekin kk, dan kk kandung kamu jelas jelas yang ngelakin pekerjaan rumah kk, kan kakak yang sering kamu suruh suruh, dan kak Nisa yang sering kamu marahi kalau apa yang di lakukan nya salah kamu pasti ga terima,” lanjut Manda terus terusan memperjelek Kiara.

“Kak aku ga pernah buat kyak gitu.”

“Jingga tadi Kiara bilang dia jalankan?” Tanya Manda.

‘Yaudah kakak jelaskan Kiara ga jalan kaki justru dia mesan taxi, jadi kk dan Nisah yang di antar, uang saku Kiara lebih banyak daripada kami.”

“Kiaraa! Lu itu keterlaluan ya lu mempermainkan gw, jadi apaan maksudnya lu bilang lu jalan kaki tadi.”

“Gw emang jalan, kk akukan ga di kasih uang jajan sama mama, sama papa kak.”

“Mustahil kamu jalan Kir jelas jelas tadi pas mobil mogok kamu lewat dekat kita kamu ngejein orang kakak, udahlah kir kakak mau nyapu kamar mandi soalnya di hukum,” Manda meninggalkan mereka berdua.

“Penipu lu!” menolakkan dada Kiara.

Semua orang yang ada di kelas mulai perlahan malas berteman dengan Kiara, perlahan Kiara mulai di benci semua orang.

***

"Rasain lu Kiara emang enak," smirk.

"Eeh ia," Manda mengambil ponsel dari sakunya, ia mengirim pesan ke nisa tentang yang ia lakukan.

"MANDA" gw berhasil.

"NISAH" Lu jadi mitnah dia?

"MANDA" ohh tentu dong

"NISAH" Kerja bagus, buat Kiara semangkin di benci orang.

"MANDA" Tenang aja Nis, itumah kerjaan yang gampang, udah ah gw mau masuk kelas tar lagi guru gw dateng.

"Kiara lu harus menderita, gw akan buat lu benar benar menderita," mengepal tangan nya.

***

"Siapa yang piket hari ini?" Tanya buk Merta selaku wali kelas Jingga, dan Kiara.

Mereka ber dua angkat tangan.

"Ibukk!" Seru Jingga seraya menatap Kiara.

"Saya yang piket, yang bersihin lokal sendirian Kiara tidak piket buk dia hanya duduk bersantai di kantin," lanjut Jingga.

"Kiara apa betul itu?"

"Tidak kok buk."

"Alah bohong buk, tanyak saja pada teman geman yang lain dia tidak piket buk."

"Iaa kan gays," lanjut Jingga meyakinkan.

"Ia buk, Kiara tidak piket, hukum dia buk," suara mereka yang membela Jingga.

"Kamu ini ya kiara sekarang keluar kamu."

"Tapi buk."

"Tapi apa lagi? Teman teman mu saja mengakui, Kiara sejak kapan kamu berani berbohong? Mereka semua adalah saksi Kir, kalau 1 atau 2 suara tadi tidak masalah ini Kiara 1kelas yang jadi saksi kalau kamu bahwasanya tidak piket, sekarang keluar kamu," bentak Merta.

Dengan perasaan kecewa dengan Jingga Kiara keluar ruangan.

"Jingga kamu tega ya, padahal selama ini yang piket aku, kamu tidak pernah bahkan membantu ku Jingga tapi sekarang kok kamu ngelaporin, padahal gw ga pernah ngelaporin elu Jingga, gw juga ga mempermasalahkan nya," Kiara benar benar kecewa dengan Jingga, tapi ia hanya bisa diam saja.

"Baiklah kalau emang semuanya harus kyak gini."

"Satu persatu aku akan merubah semuanya mulai dari kak Nisah, kak Manda sesuai perkataan mereka tadi, begitupun dengan Jingga," tekat Kiara begitu kuat untuk membalaskan mereka.

Kiara telah berfikir untuk melakukan apa yang seharusnyaia lakukan, namun ia tak punya nyali untuk membbalas mereka, sehingga ia memtuskan untuk tidak melakukan apapun itu.

Kiara hanya duduk di sofa memikirkan tindakan yang akan ia lakukan, Nisah, dan Manda yang melihat itu salingmenaikkan alis untuk menjebak Kiara.

“Taukan lu?” Tanya Manda.

“Tau dong, yokk ikut gw.”

Manda, dan Nisah melewati Kiara yang duduk di sofa, mereka ber dua naik ke kamar Kiara.

Nisah mencabut anting anting nya, ia membisikkan sesuatu ke telinga Manda.

“Lu ngapain ngelepas anting anting lu?”

“Jadi besok lu banguni Kiara, lu megang sapu terus pura pura bilang Kiara inikan anting anting kakak kamu,” Nisah mengatur strategi dengan sehalus mungkin.

“Ide lu bagus juga,” smirk.

‘Yoii gw gitu loh, ya kali.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel