Kado Untuk Kiara
Katanya pembunuh terbaik adalah mematahkan semangat seseorang lalu biarkan ia mati dengan sendirinya tapi itu tidak berlaku untuk ku.
~Kiara, semua tentang saya.
“Mamaaa...”
“Ehh Nisah, sini sayang sini.”
“Ma lagi apa?”
“Cuma lagi nonton kenapa emang.”
“Kak Wilona lama ya ma baru balik Nisah rindu,” merungut.
“Kan kakak kamu di Singapura juga sekolah lagian mereka belum libur kali.”
“Ia sih, aahh kak wilona lama amat pulangnya,” tidur di paha Hiren
Nisah terus terusan ngobrol dengan hiren sambil bermanja manja, sedangkan Kiara ia bahkan tak pernah di perlakukan Hiren seperti Nisah.
Kiara hanya bisa melihat Hiren, dan Nisah ia merasa iri pada Nisah namun sayang ia tak bisa melakukan nya, kiara hanya bisa membayangkan pelukan hangat dari ke dua orang tuanya.
“Udahlah ngapain gw berdiri disini, mending gw ke luar aja.”
Kiara beranjak pergi dari tempatnya berdiri.
“Mah, Kiara pergi dulu ya,” ujarnya berpamitan.
“Kiara mau kemana?”
“Hallah ma paling juga mau keluyuran,” potong Nissah.
“Engga kok kak, aku keluar ada urusan,” tegasnya.
“Mah, ga usah kasih Kiara keluar deh.”
“Kiara kamu dengar apa kata kak mu? Sekarang masuk dan beresin barang barang di gudang sekrang!” Seru Hiren membentak.
“Baa- baik ma,” Kiara hanya bisa patuh, ia tak pernah mau melawan bhkan mebantah sekali pun.
***
“Eh ia ma besok teman teman papa jadi datangkan?”
“Jadi dong.”
“Ma kalau gitu Nisah bersih bersih dulu ya ma,” bangkit dari tempatnya, s Nisah pergi ke atas ia bukan nya memberesi malah rebahan di kamarnya.
“Gw bingung mau apa, mana kak Manda pergi kemah lagi,” menatap ke atas kamar.
Nisah terus terusan tiduran mencari ide untuk menuduh Kiara yang tidak tidak.
“Ape ye, gw gabut benerdah Manda pulang 3hari lagi kalau gini gw bisa stres.”
“Hadehh,” Nisah masihbingung apa yang harus ia lakukan.
Sementara itu tampa ia ketahui papanya Georgy telah sampai rumah.
“Sayang mas pulang,”menghampiri Hiren yang lagi asik menonton televisi.
“Ehh mas.”
“Sayang mas punya kejutan buat kamu,” tersenyum.
“Ahh mas bisa aja,” Hirenpun tersenyum bahagia.
“Tutupdong mata kamu,” pintanya lembut.
Hiren menutup matanya dengan kedua tangan nya.
“Jangan ngintip ya.”
“Ia sayang.”
Georgy mengambil kotak yang di bungus dengan kertas kado bewarna emas. Ia memilih bentuk dan warna begitu cantik.
“Sayang sekarang buka mata kamu,” Georgy menghadapkan hadiah tepat di depan Hiren.
“Astaga sayang ini apa?”
“Buka deh pasti kamu suka,” tersenyum.
“Aku bukaya mas.”
Georgy menganggukkan ia, ia tak sabar melihat ekspresi istrinya itu seperti apa.
Hiren membuka penasarankado yang di bungkus kertas bewarnakuning itu, dengan cepat ia menrobeknya perlahan dan terlihatlah kotak kaca bewarna silver, di dalamnya terdapat cincin berlian yang bersinar dengan ukiran ukiran permata kecil di sekelilingnya, hirenpun langsung merobek robek kertas itu.
“Aauuuwwwhh mass aghh,” teriak Hiren ke girangan karena kado dari suaminya.
“Kamu suka?”
“Suka dong mas,” dengan cpat Hiren memeluk Georgy.
“Mas makasih ya,” lanjut Hiren.
“Sama sama sayang.”
“Sayang kamu cuma belikkan ini untuk aku?”
“Engga dong aku belikkan untuk Wilona, Manda, sama Nisah. Tapi sayang yang paling paling paling sangat sangat luar biasa spesial itu ya punya kamu,”
Hiren tersenyum manis di hadapan suaminya itu.
“Yaudah ya sayang aku ke atas dulungasi ni kado buat Nisah.”
“Ia mas.”
“Ahha sekarang gw punya ide,” Nisah duduk di atas kasurnya.
Tampa ia sadari Georgy berada di luar, berdiri di dapan pintu mendengarkan semua apa yang Nisah ungkapkan.
“Gw punya ide gima kalau gw fitnah si Kiara diakan ada di gudang nanti gw bilang aja ke papa kalau Kiara itu pergi ke moll poya poya pasti papa marah besar, lagian papa ga akan tau ide aku. Waktu itu aja mitnah Kiara yang anting anting papa sama mama percaya aja,” ujarnya dengan kuat.
Tanpa ia sadari suaranya hinga keluar, dan terdengar jelas oleh Georgy.
Mendengar ungkapan Nisah membuat nya begitu geram, namun Georgy menahan amarahnya itu. Akhirnya lelaki berbadan tegap itu pergi dari depan pintu Nisah ia tidak jadi memberikan kado.
Dengan sangat marah Georgy berusaha menutupi kemarahan nya di hadapan Hiren.
"Eehh sayang gimana? Nisa suka ga kadonya?" Tanya Hiren tanpa mengetahui kejadian.
Lelaki itu hanya mengangguk gagap karena bingung entah apa yang ia akan lakukan, kalau dia memarahi Nisah sama saja artinya ia membela Kiara.
"Sudahlah sayang aku mengantuk," ia pergi dengan langkah kaki yang terlihat capek Hiren tak hanya diam ia memperhatikab suaminya yang tak seperti biasanya.
***
“Tumben amat Georgy begitu yaudah deh mungkin aja dia kecapean,” batin Hiren.
Hiren sama sekali tak mengira bahwa suaminya itu sama sekali tidak memberikan kado itu, ia hanya berpikir bahwa suaminya ke kamar hanya ingin tidur karena capek.
Di kamar Georgy sangat ke bingungan ia tau apa yang di lakukan Nisah tetapi ia tak mau menghukum apalagi memarahi anak nya itu, begitupun dengan Nisah yang tak tau bahwasanya Georgy telah mengetahui rencananya.
Georgy seakan akan membungkm ia tak inngin Hiren tau bahwa ia akan memberi kado ini ke Kiara.
“Kiara dimana dari tadi aku tak melihatnya.”
Georgy bangkit ia kembali keruang tengah menghampiri Hiren, namun Nisah telahh berada di samping Hiren.
“Gawat gw ga boleh kesana,” aku mundur beberapa langkah ke belakang mengintip mereka.
“Ga ga tau mau ngapain, yang terpenting gw akan kesana mendatangi mereka.”
Georgy ikut bergabung dengan anak dan istrinya itu. Dia tak membela Kiara dia hanya mau mencari informasi tentang apa yang Nisah lakukan, selain itu Georgy juga ingin menolong Kiara agar tak di marahi.
“Lohh papa,” ujar Nisah tersenyum.
Geogry merangkul Nisah.
“Loh sayang ga jadi tidur?”
“Engga mata ku selalu saja meram seakan akan kamu memanggil untuk di belai di dekatmu,” goda Georgy.
Pipi Hiren memerah ia tampak malu karena godaan Georgy membuatnya salting.
“Mass jangan menggoda ah malu ada Nisah,” cengegesan.
“Ya gapap dong ma diakan anak kita,” senyum.
“Aduhh yaampun mama sama papa romantisdeh aku yang jadi baper hikss.”
“Gimana aku mau memarahi Nisah nantinya,” dalam hati.
Mereka bertiga berbincang bincang, saling bertukaran cerita bahkan ketiganya seakan akan menikmati suasana.
Georgy hampir lupa dengan apa yang harus ia lakukan.
“Ehh ia papa dari tidak melihat Kiara dimana anak itu?”
“Mas udahlah ga usah mentingin kiara,” ujar Hiren.
Ia mengkerutkan keningnya karena sebelum sebelumnya Georgy tak pernah menanyakan Kiara.
“Kamu kok nanyak Kiara?” Ia bertaya sepenuhny curiga.
“Memang kenapa sayang?”
“Ngapainsih pa harus nanya Kiara tu anak palingan melalain papa tau sendirikan Kiara gimana,” potong Nisah.
“Ia mas ga usah pentingin Kiara, lagian dia ga penting di rumah ini,” cetus Hiren kesal.
“Emang dasar kau Kiara,” ujar Georgy seakan akan ia berpura pura kesal dengan Kiara.
“sayang aku ke kamar mandi dulu ya, eeh ia Nis beliin papa obat sakit perut dong perut papa sakitni.”
Ia hanya berpura pura sakit perut agar Nisah pergi keluar, agar ia bisa memberi Kiara kado yang sudah berada di kantong celananya. Dengan cepat Georgy masuk kedalam gudang ia mendapatkan Kiara sedang bersih bersih mengangkati barang, wajah anaknya itu terlihat sangat capek.
“Kiaraa,” memanggil Kiara dengan wajah sedih.
Karena takut akan ketahuan Hiren aku mengunci pintu gudang rapat rapat.
“Pa!”
“Kiara,” karena aku sudah tak tahan langsung saja aku memeluk dia tubuhnya yang penuh dengan abu, bajunya yang basah karena keringat gadis itu hanya diam ke bingungan. Kiara sama sekali tak membalas pelukan ku.
“Kiara,” ujar ku menatap wajahnya yang berkeringat.
“Kenapa pa?”
“Kamu ga mau meluk papa?” Tanyaku memastikan ia namun Kiara hanya diam dengan wajah datar.
“Ga.”
“Kiaraa...”
“Apa?” aku sengaja menjawab tidak karena aku masih meyakinkan pasti ada sesuatu yang akan dilakukan padaku.
“Udah deh pa lepasin Kiara, Kiara masih banyak kerjaan ga usah ganggu Kiara,” tegasku yang sama sekali juga kepingin memeluk papa namun aku tak boleh terlihhat kepingin aku sudah berjnji harus kuat.
“Kiara,” melepas pelukan.
“Papa bantuin kamu ya, kamu istirahat aja dulu biar papa yang beresin semua ini kamu duduk dulu papa tau kamu capek kamu lelahkan,” aku berharap Kiara menerima tawaranku aku tersenyum seakan memberi kekuatan kepada Kiara.
“Taa- tapii...”
“Pa engga deh, nanti mama marah sama aku.”
“Kiara mama ga akan tau papa akan bantuin kamu,” aku mulai mengerjakan tugas Kiara aku membiarkan ia duduk ber istirahat sekejap karena sedari tadi ia sudah capek memberesi barang sebanyak ini di gudang sendirian.
***
“Kiara udah siap.”
“Pa!”
“Kiara papa punya kado buatkamu,” aku mengeluarkan kado yang berukuran kecil dari saku celana ku.
“Apaannih pa?”
“udah, nanti juga kamu tau itu apa sekarang kamu mandi, bersih bersih ya selamat sore cantik,” aku keluar dari gudang meninggalkan Kiara yang masih bingung karena sebelumnya aku tak pernah memberikan hadiah kepada dia.
