Ini Bukan Salah Ku
"Makanya kamu sih, itu perkara kamu tuhkan papa jadi marah," Nisah menyalahkan Kiara.
"Kiara sekarang kamu puas melihat tante harus kecewa? Emang kamu ya ga bisa di andelin," lanjut Manda dengan geram.
"Nisah udah ayok keluar ngapain juga kita di sini sama ni anak yang taunya cuma bikin perkara keributan doang," berpaling.
***
"Kenapa semua orang menyalahkan ku, seakan ke hadiran ku di rumah ini tak di harapkan, padahal semata mata kejadian itu bukan aku yang buat tapi kak Nisah," Kiara hanya menangis dengan kebenaran nya. Namun di sayangkan tidak ada pembelaan untuk dirinya.
"Sayang jadi gimana?" Tanya georgy membujuk istrinya yang sedang ga mood itu.
"Udahlah mas, ngapain jugasi si Kiara itu di rumah ini," ia kembali malas melihat semuanya.
"Ya trus mau gimana? Bagaimanapun Kiara darah daging kita, sayang kamu punya bajukan untuk di pakai besok?" Tanya Georgy mengelus kening istrinya.
"Punya kok," jawabnya singkat.
***
"Kiara buruan masak nya kamu ini ga tau apa orang mau cepat," perintah Hiren yang sudah berada di meja makan menunggu hidangan.
"Ia nih Kiara lama amat lu masak nya kita udah laparnih mana sarapan nya," tukas Georgy yang berada di samping Hiren.
"Ia pa, ma tunggu sebentar Kiara masih nyiapin nasi dulu," sahut Kiara.
"Buruan dong kamu ini," ujar Georgy membentak Kiara.
Lamban kamu ya Kiara, mereka berdua terus terusan memaksa Kiara biar cepat.
***
Setelah semuanya selesai Kiara pun menaruh hidangan ke atas meja, ia menarik kursi ingin duduk makan bersama orang tuanya.
"Heh kiara," Hiren membantingkan sendok ke atas piring.
"Ngapain kamu duduk sini, sana kamu bangunin kakak, kakak mu dulu," bentak Hiren.
"I... ia ma," Kiara tuntuk menerima perintah untuk membanguni ke dua kakak nya tersebut.
***
"Kak Nisah, kak bangun," Kiara membanguni Nisah yang tertidur pulas dengan pelan.
"Kakakk bangun sudah pagi loh," ujar kiara lagi.
"Ehhheemm," Nisa membelakangi menggaruk kepalanya.
"Kak Nis bangun," titah Kiara.
"Apaan sih, gw masih ngantuk," Nisah duduk dan meninggikan nada suara nya ia sangat marah terhadapa Kiara.
Suara Nisah membuat Kiata terkejut, ia mundur beberapa langkah.
"Tapikan kak ini sudah pagi, nanti kk ke siangan loh," ucap Kiara.
"Terserah gw lah sialan lo," menyiramkan air yang ada di atas mejanya ketubub Kiara.
Nisah pergi begitu saja dengan emosi kepada adek nya, ia meninggalkan Kiara sorang sorang dengan baju yang basah.
"Astaqfirullah," Kiara mengelus dada, dan tersenyum.
Selanjutnya kiara turun lagi ke bawah untuk membanguni Manda di kamarnya.
Kiara membuka pintu kamar pelan.
"Kak Manda, kak bangun udah pagi loh ini nanti kesiangan."
"Kak."
"He'm."
Manda bangun ia melihat Kiara yang berada di sampingnya.
"Ngapain lu di sini? Gw ga pernah ngijinin lo masuk ke kamar gw ya Kiara, gw ga sudi lu ada di sini cuuihh," manda berludah di hadapan Kiara.
Ia mendeluani pergi ke bawah.
***
Ia melihat semuanya telah makan di piring masing masing Kiara menghampiri mereka.
Kiara mengambil piring.
"Ehh ngapain lu," tukas Nisa berdiri menulak Kiara pelan.
"A.. aku mau makan kak," ujar Kiara.
"Apa makan? Lo ga boleh makan setelah kita siap makan, setelah semalam lo fitnah gw, trus dengan enak nya lu mau makan? Ngotak lo," bentak Nisah.
"Tap... tapikan."
"Udah ga usah tapi tapian."
"Kiara kamu ngertiin kakak kamu ga sih? Kalau di bilangnya nanti ya nanti dong, ga usah bandel kamu jadi anak," lanjut Georgy yang membela Nisah.
"Udahlah kiara kamu mending makan sisa kita kita aja nanti," sambung Manda.
Mereka ber empat tertawa puas.
"Tapikan."
"Udah ga ada tapi tapian sana kamu pergi ke dapur makan sisa yang ada disana," perintah Hiren.
Kiara menundukkan kepalanya ia hanya menuruti apa kata saudaranya itu,kiara pergi kedapur ia mengambil sisa sisa makanan yang ada di dapur, Kiara makan sendiri di dapur, ia melihat mereka ber emoat tertawa bahagia, makan makanan yang enak sedangkan ia hanya makan makanan sisa yang sudah dingin, dan hamoir basi.
Kiara memakan nasinya sambil meneteskan air mata, ia sangat sedih mendapati hidup yang benar benar membuatnya harus bisa kuat bertahan dengan semua masalah, membuatnya harus tetap bangkit.
"Paa," ujar kiara menghampiri mereka yang masih sarapan.
"Kiara udah siap makan nih."
"Ya terus kalau udah siap? Apa hubungan nya?"
"Ayo pergi pa," ujar Kiara.
"Kiara karena kamu telah membuat kesalahan kamu ga akan papa kasih uang jajan, dan jangan harao kamu papa antar ke sekolah papa hanya akan menghantar Nisah, dan manda," tegas Georgy.
"Tapi paa..."
"Udah ga ada tapi tapian."
"Pa inikan bukan salah Kiara pa, kiara cuma di fitnah pa," jelasnya.
"Apa lo bilang, lo di fitnah, Kiara gw harap lu punya malu lu yang mitnah gw ga tau malu lu ya, sembarangan lo. Udah deh ga usah drama sana lo pergi," usir Nisah.
"Ia kak," manda ingin menyalim kedua orang tuanya.
Namun baik sang ibu, maupun sang ayah tak ada yang mau mereka ber dua menapis tangan Kiara.
"Kiara pergi deluan ya," ujar Kiara dengan sedih.
"Yaudah pergi lu sana, mau lu pergi mau engga lu ga ada gunanya di rumah ini," celoteh Manda mengejek.
Nisah hanya smirk tersenyum puas karena akhirnya amarahnya tersamoaikan.
"Akhirnya, belum sampai sini Kiara lu liat aja selanjutnya," senyum tipis.
Sementara Kiara pergi kesekolah ia bahkan tak mendapati uang saku untuk naik ojek, ataupun angkontan umum untuk di naiki.
“Aduh yaampun capek banget,” Kiara menudukkan badan nya kelelahan.
“Yaallah mana sekolah aku masih jauh lagi,” mengerrutkan kening.
“Ehh pa... pa liat tu si Kiara,” ujar Nisah, di mana mobil mereka berda di belakang Kiara.
“Adek kamu itu emang kurang ajar banget ya, mau buat malu papa,” mengepal tangan nya geram.
“Ehh pa, pa udah ga usah marah, emng dasar tu orang ga tau malu,” smirk.
"Ia om ga usah di ladenin, dasar anak buat malu orang tua," lanjut Manda memanasi.
Mereka ber tiga melintas pelandi samping Kiara.
Perlahan Manda membuka kaca mobil.
“Aduhh kasihan ya kamu, naik angkot sana ga usah buat malu.”
Kiara terkejut mendengar suara itu.
“Kak Nisah, kak Manda, papa.”
Sang papa langsung menggaskan mobilnya, melewati Kiara begitu saja.
“Astaqfirullah, kenapa papa, dan kakak ninggalin aku sih,” menundukkan kepala.
“Yaudah de gak papa, lagian sekolah gwe juga dekat lagi mau nyampe,” Kiara menyemangati dirinya sendiri.
Ia terua berjalan dengan keringat yang bercucuran dari wajah nya.
