Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Hadiah Dari Papa

Hadia kecil yang membawa kebaagian besar

Sore itu aku masih tidak menyangka bahwa papa telah memberiku hadiah, rasa bahhagia itu masih ada. Sebelum belumnya aku belum pernah di beri hadiah oleh siapapun.

“Tumben tumbenan papa mau ngasih hadiah,” mengkat kotak kado itu sambil rebahan.

Aku terus terusan memandangi sambil senyum senyum cengegesan.

“Hihi kotak kadonya lucu,” karena sudah tak sabar dengan isinya akhirnya aku membuka kado itu, pada saat membuka terjatuh lah kertas kecil ber tulisan: Kiara jangan kasih tau kakak kamu kalau papa telah memberikan kado hadiah buat kamu.”

Sekejap aku terdiam dan membungkam kalau papa sudah memberikan kado yang berisi sebuah cincin berlian.

Pukul 20.03 Wib di ruang makan.

“Mah, Kiara sama Nisah mana?” tanya ku yang duduk di samping wanita cantik berambut pirang itu.

“Kalau Nisah masih di kamar mandi sayang, kalau Kiara ga tau biasalah lagian ngapain juga nanyain Kiara,” jawabnya malas.

“Emangnya kenapa lagiankan ini waktunya makan malam anak anak belum ada yang datang.”

Hiren membuang wajahnya.

“Udahlah mas tumben tumbenan kamu nanyain Kiara, lagian ngapain sih mikirin tu anak.”

“Ya gapapalah sekali kalikan ga masalah sayang,” merangkul bahu Hiren.

Ekspresi wajah Hiren seketika berubah dengan cepat.

Tak beberapalama Nisahpun keluar dari kamar mandi.

Georgy langsung saja menyuruhnya memanggil Kiara.

“Nisah panggil Kiara suruh turun supaya makan malam,” perintah Georgy.

“Loh pa kok aku pa,” mengerutkan kening.

“Ga papalah kalau kamu manggil Kiara buat makan bareng sama kita.” kekeh ku.

Karena membantah papanya akhirnya Nisah dengan terpaksa naiks memanggil Kiara.

Hiren yang melihat itu hanya diam saja tak berani membantah apa yang telah di bilang Georgy.

“Sumpahdeh kalau ga kerna papa aku ga bakalan mau manggil Kiara,”omelnya sambil berjalan menaiki tangga ke kamar Kiara.

Bruukkkk... Nisah memasuk kedalam kamar Kiara ia melihat adiknya itu sedang belajar di dalam.

“Kak Nisah kalau masuk itu yang sopan dong, setidaknya ketuk pintu dulu,” ujar Kiara.

Mendengar perkataan kiara membuat Nisah geram.

“Heh udah pande ya lo nge nasehati gw ga usah sok deh Kiaraa, buruan lo di suruh papa turun kebawah makan,” tanpa berlama lama Nisah keluar dari kamar Kiara.

Setelah ia sampai di bawah, tak berapa lama Kiara pun sampai di bawah.

“Ehh Kiara sini duduk,” Georgy langsung mengajak Kiara duduk di tempat makan.

“Eeeh... eh tunggu dulu Kiara kamu pigi ambil tempat nasi dulu,” perintah Hiren dengan sangat tidak ramah.

“Ia ma,” gadis itu menuruti perintah Hiren dengan senyum khas di wajahnya.

Georgy memerhatikan senyuman Kiara yang manis membuat hatinya lulu.

“Kalau di lihat lihat Kiara manis juga ya,” batin ku.

“Kiara sini duduk makan yok,” aku tersenyum.

“Ia pa.” Kiara mengambil piringnya.

Mereka ber4 makan tertawa kecil bersama Kiara, walaupun sesaat namu itu sangat berarti baginya.

“Ouhh ia besok papa ada acara kalian sudah taukan,” Georgy menanyakan pada istri, dan anaknya.

“Udah dong sayang,” Hiren tersenyum di hadapan Georgy.

“Sayang besok jangan lupa ya kamu harus mempersiapkkan semuanya dengan baik,” tegas ku yang mempercayain Hiren.

“Tenang sayang aku pasti akan berikan yang terbaik,” membelai pipi Hiren.

“Nisah, Kiara kalian berdua juga ya harus bekerja sama.”

“Loh pa kok sama aku sih,” tolak Nisah terang terangan.

“Ga deh pa aku ga mau,” Nisah terus terang bahwasanya dia memang malas jika harus bersama Kiara. Walaupun Kiara saudara kandung Nisah tetap saja ia enggan untuk bersama dengan Kiara.

“Udah ah gw mau tidur,” Nisah bangkit meninggalkan obrolan ia langsung beranjak pergi ke kamarnya.

“Nakk nak, Nisaahh,” panggil Hiren.

Namun Nisah hanya melihat, dan memalingkan kembali wajah nya.

“Mass ih,” Hiren bangkit dan mengejar Nisah.

Ia tak berani menyalahkan Georgy apalagi Kiara saat ini.

Namun untuk menenangkan Nisah Hiren datang ke kamarnya.

"Sayangg," Hiren mendatangi Nisah ke tempat tidurnya, ia melihat Nisah yang menangis.

"Mama," Nisah menangis cegukan di dalam kamar, karena prilaku Georgy yang menyuruhnya harus bekerja sama dengan Kiara.

"Udah sayang, udah," Hiren memeluk Nisah melap air matanya.

"Ma kenapasih papa begitu," Nisah mempertanyakan itu dalam ke adaan menangis tersedu sedu.

"Udah dong kamu jangan nangis, mama kan di sini sama kamu," Hiren melap air mata Nisah ia berupaya menenangkan anaknya itu.

"Ia ma tapikan papa," suara Nisah bergabung dengan tangisan nya.

"Udah udah," Hiren kembali memeluk Nisah.

"Kamu ga usah mikirin itu nak," lanjut Hiren.

"Eemm mama, makasih ya ma udah selalu ada untuk aku. Mama memang terbaik deh, mama jangan berubah ya," Nisah melap air matanya yang menetes.

"Ia mama ga akan berubah kok, mama akan selalu di samping kamu," mengelus kepala Nisah.

"Udah ya jangan nangis lagi," wanita itu melap air mata yang menetes di pipi Nisah.

Begitulah kasih sayang Hiren kepada Nisah yang sangat tulus, ia begitu sangat menyayangi Nisah, namun berbeda dengan Kiara. Sikap Hiren kepada Kiara tak pernah memperhatikan bahkan menyayangi Kiara ia selalu memperlakukan Kiara dengan tidak adil.

***

Di ruang makan yang hening tinggallah Kiara, dan Georgy ber dua di sana.

"Pa, papa kenapa melakukan itu ke kak Nisah?" Ujar Kiara yang membuka percakapan terlebih dahulu.

"Kenapa sayang?" Tanyaku kembali melempar pertanyaan ke dia.

"Seharusnya papa gak buat kak Nisah sedih pa."

"Emang kamu tau dari mana kalau Nisah sedih? Emang selama ini Nisah tau kalau kamu lagi sedih? Apa dia pernah ngerasain apa yang kamu rasain selama ini?" Georgy melempar pertanyaan ke Kiara yang membuat keduanya berbicara empat mata.

Berhubung Hiren, dan Nisah berada di atas ke duanya kerap berbincang bincang.

"Masalah itu Kiara ga tau pa, tapi tetap aja papa nyakiti perasaan kak Nisah."

"Kiara kiara. Papa itu hanya ingin melihat kalian bersama ke dekatan kalian, dan ke akraban kalian," ujar Georgy memberi harapan kepercayaan ke Kiara.

"Tapi. Kak Nisah ga akan mau bersama dengan aku, lagian perilaku papa udah membuatnya sedih."

"Kiara udah ya, papa yakin kok semua nya baik baik aja," Georgy tersenyum menyubut pipi Kiara pelan.

Ia juga mengelus elus kening Kiara.

"Kiara sekarang kamu naik ke atas, terus tidur supaya kamu besok engga kesiangan ya," Georgy tersenyum sebelum Kiara benar benar meninggalkan dirinya.

"Ia pa," ujar Kiara mengikuti perintah papanya.

***

Semuanya telah kembali seperti semula, Hiren tetap saja tidak berani menanyakan maksudnya, dan mengganggu gugat keputusan suaminya itu.

***

"Gimana pun caranya pokoknya gw harus cari cara agar Kiara kembali di benci papa. Ga. Ga akan aku ga akan biarin Kiara dekat dengan papa," Nisah masih bekum terima dengan Kiara, serta keputusan Georgy yang harus bekerja sama dengan dia.

"Aagghhh Manda lu pulang cepat kek gw butuh lu buat ngerjain Kiara."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel