Bab 9 Salah Paham?
Allura tidak menjawab dan masuk ke kamar. Merebahkan tubuh di tengah-tengah kasur. Begitu memejamkan mata, hanya wajah lelaki yang seminggu lalu tidur bersama dengannya.
Hanya satu malam, tapi Allura tidak bisa melupakannya. Hati kecilnya meyakini bahwa lelaki itu tidak sekejam pria-pria di kelab malam. Walaupun merenggut kesuciannya, Allura ingat betul bahwa dirinya juga yang meminta agar dibebaskan dari rasa sakit itu.
Jika diminta melupakan, Allura sungguh tidak bisa. Sentuhan itu masih terasa sangat jelas sampai sekarang. Suara lembut laki-laki itu juga masih terngiang-ngiang.
Namun, menikah bersama Calvin adalah mimpi besar yang rasanya mustahil terjadi, tetapi ternyata sudah ada di depan mata. Walau begitu, Allura merasa tidak layak. Sudah pasti Calvin akan kecewa jika tahu dirinya bukan gadis lagi.
Membuang napas panjang dan mengambil guling, lalu memeluknya. Allura mencoba menutup mata. Ia berharap semua bisa berjalan dengan semestinya. Jika Calvin tidak mencintainya atau Candra menjadi tidak setuju dengan perjodohan itu, ia akan berusaha menerima.
Malam itu Allura tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap dua jam sekali dia tiba-tiba terbangun dan berakhir menenangkan diri dengan meminum air. Anehnya, ada keinginan yang kuat untuk menemui pria yang menjamahnya, yakni tuan dari Beni.
Keesokan paginya setelah sarapan, Allard dan Raina keluar dari rumah. Raina memaksa Allard untuk pergi ke kediaman Sarah. Sementara berbicara dengan Candra akan dilakukan saat makan malam nanti.
Ketika Allura ingin ikut, Allard mencegahnya dan memintanya untuk tetap diam di rumah setelah pergi menyerahkan surat pengunduran diri. Alhasil, Allura kembali ke rumah setelah diantar Rava. Sang adik langsung pergi begitu menurunkannya di depan rumah.
Allura yang hendak menekan bel di tembok samping pagar rumah, mendadak dibuat heran dengan sebuah mobil merah yang berhenti di belakangnya. Tubuhnya berbalik, dan sosok yang tak asing keluar dari pintu kemudi.
“Beni?” gumam Allura dan mengamati Beni yang berjalan ke arahnya. “Dari mana kamu tahu rumahku?”
Beni membungkuk singkat, dan tak lama seorang pria keluar dari pintu di belakang kemudi. Pria itu adalah bos dari Beni dan seseorang yang selama ini mengganggu pikiran Allura.
“Ka-kamu ....” Menelan ludah, Allura melirik Beni sekilas sebelum menatap lelaki itu. “Kalian mau apa?”
“Aku ingin meminta maaf dengan benar sekaligus membicarakan sesuatu yang penting. Apa kita bisa keluar bersama sekarang?”
“A-aku harus diam di rumah.”
“Aku tidak akan macam-macam. Malam itu juga sama, aku tidak bermaksud melakukan hal tak senonoh itu. Aku hanya ingin menolongmu.”
“Aku tahu, tapi ... papaku melarangku untuk pergi.”
“Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan menghadap orang tuamu setelah pembicaraan kita selesai.” Allura tak langsung setuju, tapi mengamatinya dari atas sampai bawah. “Kamu bisa melakukan apa pun kalau aku memang kurang ajar.”
“Oke.”
Tidak ada obrolan di dalam mobil Devan. Hanya keheningan dan sesekali Allura melirik pria di sebelahnya. Begitu pula dengan Devan yang mencuri pandang ke arah Allura.
Hingga kendaraan roda empat warna merah itu berhenti di depan kafe. Devan dan Allura keluar dari sana dan masuk ke kafe. Sedangkan Beni tetap di dalam mobil sambil berbicara dengan sesorang di balik ponsel.
Devan memesan segelas espresso dan cheese cake. Allura membeli satu cup cappuccino dan rainbow cake. Mereka duduk di dekat jendela dan saling berhadap-hadapan.
“Kenapa kamu nampakin diri? Bukannya pagi itu kamu sengaja lari dan gak mau kalau kita punya hubungan? Sebenarnya apa yang mau kamu rencanain?”
“Orang yang menambahkan sesuatu di minumanmu saat di kelab malam itu adalah adik kandungku. Aku datang karena ingin tanggung jawab. Aku mau mengenalmu lebih jauh, Allura ....”
“Ka-kamu tahu namaku?” Memandang Devan lekat-lekat, Allura sedikit memundurkan kursi ketika pria itu membalas tatapannnya. “Apa kamu juga tahu tentang masa lalu orang tua kita?”
Devan mengangguk. “Aku tahu, dan aku juga tahu kalau kamu akan dijodohkan dengan Calvin, teman sekolahmu.”
“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa tahu itu semua? Dari mana kamu tahu?!”
“Aku sudah minta ibuku untuk memaafkan orang tuamu, jadi ... apa kamu mau mengenalku lebih jauh?”
“Jawab dulu pertanyaanku! Kamu tahu itu semua dari mana?!”
“Devi mantan kekasihku. Dia sahabatmu, ‘kan? Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Devi demi mengenalmu dan bertanggung jawab atas perbuatanku malam itu. Apa kamu bersedia menolak perjodohanmu dan Calvin?”
Allura yang hendak menyahut itu mendadak dikejutkan dengan kedatangan Devi. Sosok perempuan yang tampak marah dengan kedua tangan mengepal itu berjalan tergesa-gesa menuju mejanya dan Devan.
Melihat sepasang mata Allura membola, Devan memutar kepala. Ia menoleh ke belakang. Seketika itu sebuah telapak tangan melayang di pipi kirinya dengan sangat keras hingga membuat semua pengunjung kafe meliriknya.
“Jadi ini alasanmu putus? Kamu ada hubungan sama cewek lain di belakangku?! Dan parahnya ... orang itu Lura?! Lura sahabatku, Van!”
“A-aku gak tahu kalau dia pacarmu, Vi. Aku baru tahu ini,” sahut Allura berdiri.
“Aku bakal balas perbuatanmu, Van!” Melotot ke arah Allura, Devi meneliti penampilan Allura dari atas sampai bawah. “Bohong kalau kamu baru tahu Devan pacaraku! Aku sering posting fotonya di status.”
“Aku beneran gak tahu, Vi! Aku gak pernah lihat Devan di akun sosmed kamu!”
Mengambil minuman Allura dan menyiramkannya ke muka sang sahabat. Devi meremas gelas itu dan melemparkannya ke Devan. “Jangan harap kalau aku cuma diam. Jangan harap hidup kalian bakalan tenang.” Melangkahkan kakinya dengan pipi yang sudah berderai air mata.
Setelah menerima kata putus dari mulut Devan, ia memang tidak tinggal diam. Devi langsung menghubungi dua orang kepercayaan orang tuanya untuk menguntit Beni dan Devan. Pagi ini ia mendapat kabar bahwa mobil Devan bergerak bukan menuju kantor, melainkan rumah Allura.
Seketika itu juga Devi keluar rumah dan mendapat informasi bahwa di tempat inilah mereka saling berbincang. Salah satu orang suruhannya meneleponnya dan duduk tepat di belakang Allura, jadi Devi bisa mendengar semua ucapan Devan dan Allura.
“Calvin ... aku harus deketin laki-laki itu,” lirih Devi sebelum memasuki mobilnya.
Di rumah Sarah, Raina yang gugup itu mencoba mengumpulkan keberanian dengan mengambil napas dalam-dalam dan menatap Allard cukup lama. Sudah lima belas menit lamanya kendaraan Allard tiba di depan rumah Sarah, tetapi mereka tak kunjung memanggil petugas keamanan.
Tepat ketika Raina turun dari mobil, seorang pria berumur membukakan pintu. Seketika itu juga Allard memasukkan mobilnya dan parkir di halaman rumah. Sementara Raina berjalan pelan sembari memandang ke arah pintu utama.
Seseorang membuka pintu itu dari dalam. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” ucap perempuan yang baru saja membuka pintu itu tersenyum ramah.
“Apa ini benar rumah Sarah?”
“Betul, Nyonya.”
“Bisa saya bicara dengan Sarah? Saya Raina.”
“Silakan masuk, Nyonya. Nyonya bisa menunggu Nyonya Sarah di dalam.”
Raina mengangguk dan mengikuti langkah wanita yang tak masih cukup muda itu dengan menoleh ke belakang. Ia berharap Allard tidak emosi jika nanti Sarah menyambut mereka dengan cacian maupun mengusir dengan kasar.
Tia masuk dan memberi tahu kedatangan tamu sang nyonya. Sarah yang sedang berada di ruang dapur lantas berjalan mendahului Tia. Di ruang tamu, ia bisa melihat Raina yang sudah duduk, dan Allard berdiri di samping Raina.
“Pergi dari rumahku!” pekik Sarah yang membuat Raina bangkit. Ia melangkah sangat cepat menuju tempat di mana Raina berada. “Aku gak kenal mereka! Usir dari rumahku sekarang, Tia!”
“Tapi, Nyonya ....”
“Aku tahu kesalahanku dan Allard padamu sangat besar, Sarah. Aku tahu kami berdua sangat tidak pantas meminta maafmu, tapi ... aku datang bukan untuk kebaikanku atau pun Allard. Aku datang karena kedua putramu melakukan hal yang tidak pantas terhadap putriku, Allura. Aku mohon, kali ini bersikap bijaklah.”
“Kamu tidak malu memintaku bersikap bijak?”
“Devin, putra keduamu, dia yang berniat kotor ingin meniduri putriku. Devan, putra pertamamu, dia yang tidur bersama putriku. Apa aku harus menerima itu untuk membayar dosaku di masa lalu? Apa pantas anakku yang membayar itu semua? Aku mohon, Sarah ... aku ingin putramu bertanggung jawab.”
“Apa maumu?!”
Raina menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia berlutut di depan Sarah yang menatapnya terkejut. “Aku ingin Devan menikahi Allura. Aku tidak mungkin menutupi kejadian ini. Aku tidak bisa menerima Candra sebagai besanku tanpa tahu bahwa Allura sudah tidak suci lagi.”
