Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Ciuman Pertama?

“Bangunlah. Ka-kamu pikir aku akan memaafkanmu kalau kamu berlutut?!”

“Aku tidak meminta untuk dimaafkan, tapi memintamu untuk memberikan restumu. Aku ingin kamu menikahi Devan dan anakku.

“Kalau kamu tidak mau, aku bisa melaporkan semua perbuatan Devin pada pihak berwajib,” sahut Allard yang akhirnya bersuara setelah beberapa saat memerhatikan istrinya berlutut di depan Sarah.

Sarah menoleh ke arah Allard. Ia tampak kesal, tapi merasa tidak enak dengan Raina yang rela berlutut padanya. Ia tidak menyangka jika Raina mengesampingkan harga diri demi kebaikan putrinya.

“Aku akui, aku dan Raina memang berdosa padamu, tapi tidak dengan putri kami, Sarah. Bangun, Sayang”

“Aku tidak mau berdiri sebelum Sarah memutuskan.” Raina menolak uluran tangan sang suami.

“Bangun, Raina!”

“Kalau kamu tidak mau menikahkan Devan dengan putriku, baiklah ... aku akan menyetujui ucapan Allard, Sarah.”

“Keluar dari rumahku,” ucap Sarah berjalan mundur. “Kalau memang Devin harus dipenjarakan, silakan. Aku tidak keberatan, tapi ... jika kalian berani mengusik Devan, aku tidak akan tinggal diam. Devan tidak pernah melakukan kesalahan besar, dan selama ini dialah anak yang paling berbakti. Jadi, kalau kalian berani menyentuh Devan ... aku akan menghancurkan bisnis kalian.”

“Sarah!” pekik Allard yang seketika dadanya segera ditahan oleh Raina.

“Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Aku menghargainya, tapi ... kedatanganku hari ini benar-benar ingin meminta maaf. Dari hati yang paling dalam, aku sungguh menyesal karena merusak persahabatan kita.”

Melihat air mata Raina, Sarah membuang muka. Jujur saja, dia merindukan Raina. Ia sangat ingin memeluk tubuh Raina, sahabat yang disayangi dan selalu ada untuknya di kala susah.

Sarah tak bisa melupakan masa lalu mereka yang penuh canda tawa, tapi harus berakhir dengan permusuhan. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa Allard yang diam-diam mencintai Raina lebih dulu. Hanya karena rasa cemburu dan marah, ia pun tidak bisa memaafkan Raina yang menerima pinangan Allard setelah putus dengannya.

Mengingat itu, hatinya sudah tidak terlalu sakit seperti dulu. Akan tetapi, untuk menjadi besan sepertinya Sarah tidak bisa. Ia membenci Allard, sangat membenci pria yang dulu selalu mengisi hatinya dengan penuh perlakuan manis.

“Aku minta maaf, Sarah,” ucap Raina sebelum tangannya ditarik Allard. Tubuhnya dirangkul dan dipaksa keluar dari rumah Sarah oleh sang suami yang tenaganya jauh lebih kuat darinya.

“Tenanglah. Calvin pasti bersedia menikahi Lura. Calvin yang pertama kali meminta Candra untuk membicarakan perjodohan mereka. Jadi, kalau putra pertama Sarah tidak mau bertanggung jawab menikahi Lura, kita bisa menikahkannya dengan Calvin.”

“Tapi gimana kalau Candra berbalik menentang dan Calvin gak mau menikahi Lura, Sayang?” tanya Raina saat tangan Allard memasangkan sabuk pengaman.

“Aku akan mencarikan Lura pria lain. Lebih baik saat ini kamu fokus untuk melaporkan Devin. Malam nanti aku akan membicarakan masalah Lura pada Candra dan Calvin.” Dilihatnya kepala Raina mengangguk. Tatapan istrinya mengarah pada rumah Sarah sebelum mobil mereka benar-benar pergi dari sana.

“Sarah pasti bisa memaafkanku. Dia pasti mempertimbangkan ucapan kita, Sayang.”

“Jangan pikirkan dia. Aku sadar, kesalahanku dulu sangat besar. Maaf, karena kamu sampai harus berlutut seperti tadi. Seharusnya aku langsung menyeretmu.”

“Seharusnya aku berlutut dari dulu,” gumam Raina memejamkan mata sembari memegangi cincin di jari manis tangan kiri. Cincin yang dulu diberikan oleh Sarah ketika dirinya berulang tahun ke tujuh belas.

Persahabatan yang paling indah dan terlihat sangat sempurna bagi teman-teman di SMA tempat Sarah dan Raina bersekolah. Ya, mereka berdua terkenal dekat dan mirip seperti kakak beradik, karena tak pernah bertengkar. Membicarakan kejelekan di belakang pun tidak pernah.

“Aku rindu masa muda kita, Sarah ....”

*

Beni menjalankan mobil merah sembari melirik ke arah Devan yang tampak murka. Ia meyakini bahwa tuannya itu benar-benar melupakan Devi dan beralih hati ke Allura, perempuan cantik yang ternyata sahabat dekat Devi. Mobil yang menampung tiga itu akhirnya tiba di tempat tinggal Devan.

Sesuai perintah Devan, mereka berhenti di toko pakaian milik Sarah agar Allura merasa lebih nyaman. Devan juga membujuk Allura untuk mengobrol di rumahnya supaya mereka bisa lebih leluasa dalam mengenal dan mengobrol tentang hubungan mereka ke depannya.

Allura yang sudah mengganti pakaiannya dengan gaun hijau tua sebetis, duduk di gazebo taman depan rumah Devan. Di tangannya sudah ada segelas coklat panas.

“Boleh aku membahas malam panas kita?”

Allura mendadak menoleh ke kanan dan menggeser duduknya begitu mendengar kata panas meluncur dari mulut Devan. Memandang Devan penuh kewaspadaan.

“Maaf, aku salah bicara ... ma-maksudku, malam di mana kita melakukan itu.”

“Memangnya di kafe tadi kita membahas hal apa kalau bukan tentang itu?”

“Apa kamu ingat semua apa yang kita lakukan malam itu?”

Allura yang tercengang dengan bibir terbuka seketika berdeham. Ia mengangkat gelas di tangan kanan dan mencicipi minuman manis. Mengerjapkan mata berkali-kali sebelum kepalanya mengangguk perlahan.

“Apa kamu bisa melupakannya?” Allura tampak menyudahi minumnya dan menatap ke arahnya. “Aku pribadi gak bisa melupakan pengalaman pertamaku bersamamu. Aku bahkan rela mengakhiri hubunganku dengan Devi demi untuk mengenalmu. Kalau kamu?”

“Aku? A-aku ... aku menyukai Calvin dan kami akan menikah. Malam ini ayahku akan membahas masalah kita. Ayahku akan menceritakan semuanya.”

“Aku gak mau tahu tentang pria lain. Aku hanya penasaran dengan perasaanmu setelah malam itu. Apa kamu bisa melupakanku? Kalau iya, aku akan belajar melupakannya juga.”

“Aku ... a-aku selalu penasaran siapa kamu, gimana sifat aslimu, dan apa benar kamu datang untuk menyelamatkanku walaupun ujungnya aku kehilangan kehormatanku. Setiap hari aku memimpikan wajahmu, tapi ... kemarin orang yang aku suka ternyata berniat menikah bersamaku.”

“Lalu? Apa kamu akan menikah bersamanya kalau dia gak keberatan setelah tahu kamu pernah berhubungan badan bersama pria lain?”

“A-aku memang merasa gak layak dan penasaran tentangmu, tapi ... aku udah lama menyimpan rasa suka untuknya.”

“Baklah. Aku akan mendukung keputusanmu. Aku harap dia mencintaimu dengan tulus.”

Melihat Devan dalam kedaan sadar dan menangkap senyuman itu, hati Allura menghangat. Ia bisa melihat jelas tatapan teduh Devan yang tertuju untuknya. Berbicara seperti sekarang bersama Devan, entah mengapa membuatnya semakin ingin mengenal Devan.

“Ayo, aku antar kamu pulang.”

Meletakkan gelasnya, Allura turun dari gazebo. “Aku bisa pulang sendiri. Kamu gak perlu repot-repot mengantarku.” Ia pun tersenyum dan balik badan.

“Kalau laki-laki itu membatalkan niat baiknya untuk menikahimu, menikahlah bersamaku. Aku yang akan menggantikan posisinya. Kita ucapkan janji pernikahan bersama, Allura.”

Allura yang sudah berjalan, mendadak menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke belakang dengan jantung berdebar. ‘Kenapa aku ingin menangis? Apa aku betul-betul menyukainya?’

Devan yang beranjak dari gazebo, mengayunkan kaki ke arah Allura. Berdiri tepat di depan wanita cantik dan tampak menawan di matanya. Menyentuh dagu Allura, dan menatap mata indah yang terlihat berkaca-kaca.

“Walaupun kehormatanmu hilang dengan cara yang salah, kamu tetap wanita yang layak dicintai, Allura. Akulah yang salah karena ikut terbakar nafsu dan sulit mengendalikan diri ketika melihat tubuh indahmu. Maaf, karena aku menyentuhmu terlalu jauh. Maaf juga karena aku yang pertama untukmu, dan bukan laki-laki itu.”

Allura berjinjit dan memeluk leher Devan. Menabrakkan bibirnya ke bibir Devan. Allura memejamkan mata dengan cairan bening yang memaksa keluar dari sarangnya dan membasahi pipi.

Tidak ada nafsu di sana. Devan membalas ciuman Allura. Kedua tangannya mendekap pinggang ramping itu. Meraba punggung Allura dengan hati yang terasa nyeri tiba-tiba karena teringat sang ibu. Ia mencintai Allura, tapi di sisi lain dia tidak ingin melihat air mata Sarah jika dirinya dan Allura menikah.

“I-ini ciuman pertamaku saat sadar,” bisik Allura setelah menarik diri.

“Apa kamu bisa di rumahku lebih lama lagi?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel