Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Masa Lalu

“Apa tujuan kamu memberi tahu itu, Van? Itu masalah kamu. Mami gak mau ikut campur. Mami pusing sama tingkah kalian berdua. Gak Devin, gak kamu ... kalian berdua sudah berhasil buat hidup Mami gak tenang.”

Ia tampak marah dan kecewa saat menatap Devan. Sarah melanjutkan langkah kakinya.

“Kenapa Mami gak suka waktu aku sebut nama Raina? Apa Mami kenal Raina?”

Sarah batal melangkah menuju kamarnya. Ia memilih jalan ke arah ruang keluarga dan diikuti oleh Devan. Sedang Beni tetap duduk anteng di ruang tamu.

Sarah memandang Devan sekilas sebelum mengambil gelas dan menuang air mineral ke gelas di genggaman tangan kiri. “Ya, Mami kenal wanita iblis itu. Mami pernah sangat dekat.”

“Bisa Mami ceritakan? Aku ingin tahu apa hubungan Mami dan Tante Raina. Aku yakin hubungan kalian berakhir buruk, tapi aku penasaran, Mam. Boleh aku tahu?”

“Percuma Mami diam, karena ujungnya kamu tetap akan cari tahu. Mami tahu kamu nekat kalau sudah penasaran.” Meminum air sampai setengah gelas, lalu mempererat cengkeraman tangan pada gelasnya. “Mami dan Raina bersahabat. Hubungan kami sangat dekat, karena Mami menganggap Raina seperti kakak. Sampai hari di mana Mami jatuh cinta. Laki-laki itu bernama Allard.”

“Allard?”

“Ya, yang sekarang sudah menjadi suami Raina. Ayah dari perempuan yang kamu tiduri itu bernama Allard, Devan.”

“Jadi, apa Mami dan Tante Raina jatuh cinta sama orang yang sama?”

“Mami pacaran dengan laki-laki itu. Mami mencintainya sampai kami bertunangan.”

“Lalu?”

“Dua minggu sebelum menikah, Allard meminta pernikahan kami dibatalkan. Allard merasa kalau perasaannya ke Mami selama pacaran cuma perasaan iba. Allard juga bilang kalau dia jatuh cinta sama sahabat Mami. Sejak hari itu Mami berusaha menjauhi mereka. Mami juga memutuskan untuk menikahi papimu walaupun Mami masih cinta sama Allard.”

“Apa Mami belum bisa memaafkan mereka?”

“Maaf? Dikhianati orang yang paling dipercaya dan orang terdekat itu rasanya jauh lebih sakit daripada dihina orang yang gak kita kenal, Van. Apa menurutmu kamu bisa memaafkan mereka kalau kamu ada di posisi Mami?”

“Enggak, Mam.”

“Ya sudah. Jadi, jangan paksa Mami untuk memberi mereka maaf.”

“Tapi kalau aku di posisi Mami sekarang mungkin aku bisa memaafkan, Mam. Lagi pula Mami juga sudah punya dua anak, umur Mami gak muda lagi. Aku yakin aku bisa memaafkan mereka kalau aku sudah punya pasangan dan punya anak seperti Mami yang sekarang.”

“Apa kamu cinta sama anak Raina, Van?”

“Aku ... aku gak tahu, Mam. Aku rasa ini cuma rasa tanggung jawabku sebagai laki-laki. Aku yakin Allura pasti gak bisa hidup dengan tenang, Mam. Aku dengar dari Beni kalau Allura dijaga ketat sama Tuan Allard.”

“Allard anak konglomerat. Cepat atau lambat pasti Allard tahu apa yang menimpa putrinya walaupun putrinya menutup mulutnya rapat-rapat.”

“Karena itu ... aku mau minta tolong sama Mami.”

“Minta tolong apa?”

“Maafkan Tuan Allard dan Tante Raina supaya aku bisa menikahi Allura.”

Menggelengkan kepalanya, Sarah tidak sudi. Dia benar-benar belum bisa memberikan maaf pada Raina maupun Allard. Menatap wajah mereka saja Sarah enggan, terlebih lagi mengampuni kesalahan mereka.

“Pengkhianatan mereka menyakiti hati Mami kandungmu, Van. Apa kamu serius memohon ke Mami seperti ini demi anak mereka? Kamu gak peduli sama perasaan Mami, Van?”

“Lalu? Apa Mami mau aku jadi pria bajingan seperti Devin, Mam? Aku bisa tidur sama Allura berkat minuman Allura yang dicampuri obat perangsang sama anak kesayangan Mami. Kalau hari itu Devin nekat tidur sama Allura, Devin yang harusnya tanggung jawab, Mam.”

“Terus kamu mau Mami datang ke rumah mereka?!” Sarah menghabiskan minumnya dan berdiri. Mami gak sudi, Van!” Berjalan meninggalkan Devan yang duduk sambil mengacak-acak rambutnya.

Lima menit sejak kepulangan Candra dan Calvin di kediaman keluarga Allura, belum ada yang membuka suara meski mereka hanya menikmati makanan penutup. Raina yang merasa suasana di ruang makan sangat tidak mengenakkan lantas menepuk pelan pundak Allard.

“Ada masalah apa?”

“Coba tanya putri cantikmu, Sayang.”

Allura menelan ludah. Suara berat dan serak sang papa yang memasuki kedua telinganya, mampu membuat jantung semakin berdebar kencang. Menundukkan kepala, Allura yakin sekali bahwa sang papa telah mengetahui rahasianya.

“Coba tanya apa yang dilakukannya di kelab malam minggu lalu.”

Rava yang memegang ponsel sambil menggigit es krim lantas menoleh ke Allura. “Ke-kelab malam?” Menyenggol lengan kiri sang kakak. “Ngapain ke kelab malam?! Berani banget ke sana!”

Memasukkan tangan kanan ke dalam saku jas, Allard membanting beberapa lembar foto ukuran 3R ke meja makan. Melirik Allura yang sedang menundukkan kepala.

Raina dan Rava buru-buru bangun dari kursi dan mengambil beberapa foto. Keduanya menatap foto di tangan mereka lekat-lekat.

“Laki-laki yang menjebakmu di kelab malam namanya Devin. Sedangkan yang menidurimu namanya Devan. Kenapa selama ini kamu tutup mulut, Lura? Lihat Papa!”

“A-aku takut, Pa.”

“Apa kamu diancam mereka?”

Allura menggeleng. “Aku takut Papa marah. Aku juga takut Mama kecewa,” lirihnya dengan air mata jatuh ke pipi. “Aku gak berani bilang sama Mama sama Papa.”

“Berhenti dari tempat kerjamu. Lamar posisi sesuai jurusan kamu di kantor Papa. Papa mau kamu kerja di kantor Papa.”

“Anak siapa mereka?” Menatap potret wajah Devan dan Devin yang sedang di kelab malam. Raina kini menoleh ke arah Allard. “Kamu pasti tahu latar belakang mereka. Siapa mereka? Dari keluarga mana?”

“Sarah. Mereka anak-anak Sarah.”

Mengatupkan bibir dengan mata terbuka lebar. Tak lama kemudian air mata Raina menetes. “Apa ini balasan dari dosa kita di masa lalu?”

“Siapa Sarah? Mama sama Papa kenal?” tanya Rava tampak sangat penasaran dengan tangan yang sudah mengepal. “Kalau kenal, ayo ke rumahnya! Minta mereka tanggung jawab, Pa!”

“Te-terus perjodohanku sama Calvin ... apa harus dibatalin, Pa?”

“Kamu setuju sama perjodohan kalian?”

“A-ku suka sama Calvin, Pa, Ma ... tapi aku juga gak mau nutup-nutupin hal ini dari Calvin. Aku gak pantas juga buat Calvin.”

“Mama akan ke rumah Sarah dan minta maaf untuk dosa Mama dulu. Mama juga akan minta anak-anaknya untuk tanggung jawab.”

“Memangnya Mama pernah salah apa?”

Allard berdeham dan berkata, “Sebaiknya kamu istirahat sekarang, Lura. Perihal perjodohan kamu dan Calvin, Papa akan membahasnya besok sama Om Candra. Papa akan jujur tentang kejadian ini ke Om Candra dan Calvin. Kalau mereka mau lanjut, kamu bisa meneruskannya.”

Allura mengangguk. Ia bangun dari kursi. Namun, saat ingin mengayunkan kaki Allura mendadak menoleh pada Allard. “Sejak kehilangan kehormatan di malam itu, Lura kepikiran laki-laki yang ternyata namanya Devan. Apa Lura jatuh cinta sama dia, Pa?”

“Kakak!”

“Kita bahas besok lagi. Mama kamu butuh istirahat juga, Lura. Besok akan jadi hari yang sangat berat untuk Mama,” sahut Allard sembari menggenggam tangan istrinya. “Papa harap kamu bisa mencintai pria lain selain Devan kalau Calvin gak mau nikah sama kamu.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel