Bab 7 Tanggung Jawab?
Ucapan Calvin tentu saja mengejutkan. Bagaimana tidak? Calvin adalah laki-laki yang disukai Allura secara diam-diam. Sejak duduk di bangku sekolah, Allura tidak pernah menyatakan perasaannya pada Calvin.
Selain takut kalau Calvin akan menolaknya, Allura juga tidak siap menerima kecanggungan di antara mereka. Namun, petang ini telinganya justru mendengar satu kata yang sangat menguntungkannya, yaitu perjodohan.
Raina pamit pergi menyiapkan kudapan dan minium untuk kedua tamunya. Meninggalkan Allura yang menatap tak percaya pada sang suami.
Candra yang datang bersama Allard dipersilakan duduk dan kini berada di samping putranya. Ia memandang ke arah tangan Allura yang terulur padanya. Dengan senyum Candra berkata, “Sehat kamu, Allura?”
“Sehat, Om,” balasnya sembari menarik tangan.
Memundurkan tubuhnya dan menoleh ke Allard yang menempatkan diri di sebelahnya. Allard duduk di bekas Raina duduk. “Kenapa?” tanyanya yang sadar dengan ekspresi penasaran sang putri.
“Apa betul Papa sama Om Candra mau jodohin aku sama Calvin?” bisik Allura dengan tubuh condong ke Allard. “Papa yakin?”
Allard duduk lebih tegap. Ia memandang putrinya dan Calvin bergantian. Senyum senang terpajang di wajahnya.
“Ya. Papa dan Om Candra akan menjodohkan kalian. Bukan perjodohan seperti zaman dulu, tapi lebih tanya ke pendapat kalian. Kalau kalian tidak ingin menikah, kami juga tidak akan memaksa,” balas Allard yang membuat Allura menatapnya dengan bibir sedikit terbuka.
Rava yang sedari tadi menyimak semakin tercengang. Ia hendak tertawa saat melihat kakaknya melotot.
Beranjak dari sofa, Rava menghela napas panjang sebelum membuka mulut dan berkata, “Saya rasa ini pembicaraan yang sangat privasi dan harus didengar oleh orang dewasa saja. Saya pamit, Om, Kak Calvin.” Kedua orang yang dipandangnya lantas mempersilakan.
“A-apa kamu setuju sama perjodohan ini?”
“Setuju,” balas Calvin dengan suara tegas dan mantap.
Allura cukup senang mendengarnya. Terlihat dari kedua sudut bibir yang terangkat dan sepasang mata berbinar terang.
Akan teteapi, respons itu tak berlangsung lama. Sebab, peristiwa satu malam bersama orang asing mendadak terputar di kepala. Senyum Allura memudar.
“Calvin setuju, kalau kamu setuju atau tidak, Allura?”
“A-aku ... aku belum tahu, Om.”
Suara langkah kaki seseorang tiba-tiba terdengar oleh mereka yang ada di ruang tamu. Ketiganya sontak memandang ke arah pintu utama yang masih terbuka dan menampilkan sosok yang tak asing bagi Allura. Ia menoleh ke Allard.
“Maaf, Ndra. Ada beberapa hal penting yang harus aku bahas bersama anak buahku. Kalian bisa ke ruang makan. Allura akan mengantar kalian ke sana.” Allard menatap tajam putrinya.
Melihat tatapan sang papa dan mata dari pria berpakaian serba hitam itu yang tertuju ke arahnya, Allura sadar bahwa ada sesuatu dengan mereka. ‘Apa selama ini Papa cari tahu ke mana aku pergi minggu lalu?’ batin Allura dengan perasaan yang mulai merasa tidak enak.
Calvin dan Candra turut berdiri saat Allura mengayunkan kaki. Ketiganya berjalan menuju ruang makan sesuai anjuran dari Allard.
Allura mempersilakan mereka duduk, dan melirik Raina yang hendak mengangkat nampan. Ibunya tampak memberi kode lewat sepasang alis yang naik-turun sebelum mengernyitkan dahi.
Allura hanya mengangkat bahu, tapi sang ibu sepertinya langsung paham. Dilihatnya Raina menyerahkan beberapa toples camilan di atas meja makan. Satu teko jus jeruk diletakkan di tengah-tengah meja. Dua gelas berisi jus jeruk diberikan pada Calvin dan Candra.
“Papa kamu di mana, Ra?”
“Lagi ngobrol sama anak buah Papa, tapi bukan Om Jay.”
“Siapa?”
“Aku gak tahu namanya, Ma. Dulu pernah lihat sekali.”
Raina mengangguk saja, meski di dalam hati masih penasaran dan menebak-nebak. “Saya siapkan makan malam. Tunggu sebentar,” ucap Raina pada Candra dan Calvin. Begitu dipersilakan, barulah Raina pergi ke dapur.
“Allura, Om izin cek handphone, ya.”
“Silakan, Om. Om gak perlu izin sama Lura.”
Calvin yang baru saja minum, memandang ke arah Allura. Ia pun bertanya, “Denger-denger dari Om Allard kalau setiap Sabtu kamu bebas main asalkan sampai rumah jam delapan tepat. Benar, gak?”
“Iya, tapi udah satu minggu ini gak boleh keluar malam-malam. Kalau Papa bilang begitu, berarti boleh asalkan perginya sama kamu.”
“Udah lama kita gak ketemu. Gimana kalau besok malam Minggu kita jalan bareng?"
Allura tersenyum. “Aku tahu, semenjak lulus sekolah kamu sibuk kuliah. Sekarang sibuk kerja, bolak-balik ke luar kota.”
“Jadi, besok malam Minggu mau jalan sama aku gak, Ra?”
“Lihat besok, aku izin Papa dulu. Kalau memang Papa kasih izin, aku mau.”
“Nanti biar aku yang izin sama Om Allard.”
Rania yang datang membawakan semangkuk capcay kuah. Menaruhnya di meja makan dan berkata, “Maaf kalau nanti rasanya tidak sesuai dengan lidah Calvin dan Pak Candra.”
Allura yang hendak menjawab pertanyaan Calvin, kini dikejutkan dengan suara ayunan kaki sang papa dari pintu makan yang terdengar tergesa-gesa. Dilihat tatapan Allard yang tampak memancarkan kilat amarah tengah terarah padanya.
“Maaf ada urusan mendesak. Sepertinya pembahasan tentang perjodohan Calvin dan Allura bisa kita bicaran di lain hari. Sekarang waktunya makan malam,” ucap Allard dan duduk di samping Raina. Ia berhadapan dengan Candra.
Sebelum makan, Allura memanggil Rava dan memintanya turun ke ruang makan untuk makan malam bersama. Begitu Rava dan Allura kembali, mereka makan malam dengan tenang, kecuali Allura.
Putri Allard itu tidak bisa tenang karena sesekali menangkap tatapan tajam sang ayah. Sudah bisa dipastikan bahwa Allard pasti mengetahui tentang kepergiannya malam itu, dan yang paling ditakutkan Allura adalah sang papa tahu dirinya menginjakkan kaki di kelab malam. Ya, kemungkinan besar Allard sudah tahu lewat anak buahnya tadi.
Sementara di tempat lain, kaki Devan dan Beni sudah menginjak teras rumah kediaman Devan dulu. Mereka berada di teras rumah milik ibu dari Devan.
Mengelus kepala putranya, Sarah tersenyum dan bertanya, “Kenapa baru hari ini datang ke rumah Mami? Kemarin sibuk apa?”
Devan hanya tersenyum. Tidak menjawab, tetapi langsung mendekap erat ibu kandungnya. “Ada, cuma masalah kecil,” balasnya sembari melirik Beni yang tengah menatapnya.
“Mami dengar dari Beni kalau sepulangnya kamu dari rumah Mami minggu lalu, Devin berulah lagi.”
“Ya.”
Devan mengikuti langkah sang ibu yang menggandengnya masuk. Sarah pun mengajak Beni untuk ikut masuk. “Sampai sekarang Devin masih kamu pantau kan, Van?”
“Masih, Mam.”
“Mami takut kalau dia harus direhab lagi.”
“Kalau minggu lalu bukan masalah obat, tapi ... balik lagi ke cewek-cewek.”
“Wanita lagi?!” Devan mengangguk dan melihat sang ibu menarik napas dalam-dalam. “Aduh, anak itu ... rasanya Mami pengen dia masuk penjara, Van. Karena dari dulu sering dimanja papimu, dia jadi anak kurang ajar. Tambah umur bukannya bertobat, tapi malah semakin menjadi-jadi.”
“Mami bisa janji? Janji gak nangis tiap malam kalau Devin aku kirim ke penjara?”
“Kalian harta paling berharga milik Mami. Bukan cuma kamu, tapi Devin juga. Senakal-nakalnya Devin, dia tetap anak Mami.”
“Iya, anak kesayangan.” Sarah melotot dan memukul lengan Devan spontan. “Mam, ada yang mau aku sampaikan ke Mami.”
“Tentang apa?”
“Aku sudah putus sama Devi.”
“Putus? ! Kenapa?”
Bukannya menjawab pertanyaan Sarah, Devan justru membalas dengan pertanyaan. “Mami kenal Raina? Model yang cukup terkenal sekitar dua puluh tahun lalu,” tanyanya sambil memerhatikan wajah sang ibu yang sekarang tampak syok.
“Jangan sebut nama wanita iblis itu,” sahut Sarah marah. Tampak matanya mulai berkaca-kaca. “Kalau kamu lapar ambil makanannya di dapur atau minta sama Mbak Tia. Mami mau istirahat.”
“Anak perempuan Raina target Devin waktu minggu lalu.” Terlihat langkah kaki sang mami berhenti. Devan meneruskan, “Tapi bukan Devin yang ambil keperawanannya. Aku yang tidur sama anak perempuan Raina, Mam. Itu alasanku yang sebenarnya buat putus sama Devi. Besok aku mau Mami ikut aku ke rumah Raina. Aku mau tanggung jawab, Mam.”
