Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Perjodohan?

Menguap dan mengucek mata sebelum bersandar pada tembok. Memangku bantal, Devi berusaha mengumpulkan nyawa.

Merasa cukup sadar, sepasang kaki turun dari ranjang dan menginjak lantai kamar. Akan tetapi, saat berdiri dan mengayunkan kaki, mendadak suara dari gawainya terderang.

Diambilnya benda pipih di meja samping tempat tidur. Melirik layarnya dan seketi matanya membola. “Devan!” pekiknya tampak sangat senang.

Padahal hanya pesan singkat dari pria itu, tapi Devi senang bukan main. Bagaimana tidak? Devan sangat sibuk dan jarang memeriksa ponsel terlebih lagi mengajaknya jalan-jalan.

Devan: Ayo makan siang bareng. Di rumah makan yang dekat dari rumahmu. Datang tepat waktu.

“Tumben Devan ngajak makan siang. Apa ada sesuatu yang mau diomongin?!” Tampak Devi mulai berpikir dan menerka-nerka. “A-apa Devin nekat ce-cerita?” Kepala menggeleng, Devi membuang-buang jauh pikiran buruk itu.

Menaruh handphone ke atas meja seperti semula. Buru-buru mencari pakaian yang akan dipakai untuk menemui sang kekasih. “Mungkin Devan mau ngasih kejutan,” lirih Devi dengan senyum yang mulai terbingkai manis di wajahnya.

Perasaan was-was dan cemas itu mulai tergantikan dengan senyum lebar. Devi lebih berpikiran positif dan kini berharap bahwa ada hal baik yang akan dibicarakan Devan mengenai hubungan mereka.

Ia pun jadi teringat akan rencana Devan dulu yang ingin menikahinya. Pria itu pernah berjanji akan menjaganya sampai hari pernikahan tiba. Jadi, mungkin saja Devan akan membicarakan pernikahan.

Lebih dari satu jam Devi berada di kamar. Kekasih Devan itu memilih pakaian terbaik hanya untuk mempercantik diri. Wajahnya juga dipercantik dengan bedak, perona bibir, dan kawan-kawan.

Menit berlalu, Devi berangkat dengan penuh semangat dan wajah yang cerah. Sampai di rumah makan yang disebutkan Devan di pesan tadi, sepasang mata menyapu dari ujung kiri ke kanan.

Tatapannya berhenti. Sorot matanya jatuh pada sosok yang dicari. Lelaki itu sangat tampan dengan kemeja warna putih.

Langkah kaki Devi dipercepat. Mendatangi tempat duduk Devan, pria yang saat ini tengah menatapnya.

Seperti biasa, ia melingkarkan tangan di pinggang Devan. Melampiaskan rasa rindu sekaligus sayangnya. “Kangen, Sayang.” Dikecupnya pipi kanan Devan sebelum beralih ke bibir.

“Hem. Makanlah, keburu dingin.”

Duduk di kursi yang membuatnya berhadapan dengan Devan. Tatapannya tertuju pada piring di depannya. “Wah, makanan favoritku! Makasih, Sayang!” Devan hanya tersenyum simpul.

Kini Devan dan Devi mulai menyantap pun makan dengan posisi duduk yang saling berhadapan. Devi makan dengan senyum lebar sesekali curi-curi pandang ke Devan.

Sayangnya, Devan hanya fokus pada makanan di piringa. Pria itu bahkan tampak mengabaikan ocehannya. Terbukti dari jawaban Devan yang sangat singkat. Hanya Devi yang terus saja berusaha mencari topik obrolan.

“Cepat habiskan. Ada hal penting yang harus kamu tahu.”

“Hal penting apa?”

“Habiskan makananmu dulu, baru kita bicara.”

Semakin bersemangat, jantungnya berdebar-debar. Melihat Devan yang sepertinya sangat tenang, Devi merasa bahwa Devin belum membeberkan tentang kegilaan mereka di belakang Devan. Ia pun semakin yakin bahwa Devan pasti akan membahas tentang pernikahan.

“Selesai! Jadi, apa yang mau kamu obrolin? Apa penting banget sampai kamu rela makan siang sama aku?”

“Putus. Aku mau kita putus. Ayo kita akhiri ini, Vi.”

Senyum yang menghiasi wajah Devi pun memudar. Binar di matanya perlahan meredup dan digantikan dengan tatapan tak percaya. “Pu-putus?”

“Ya.”

“Ini masih siang, bercandanya jangan keterlaluan, Sayang.”

“Serius, Vi. Aku mau kita udahan.”

Devi yang merasakan hantaman cukup keras di dada lantas bertanya sekali lagi. “Kamu lagi gak mabuk kan, Van?” Sakit sekali mendengar satu kata yang tidak pernah terbayangkan akan keluar dari mulut Devan. “Kita pacaran udah tiga tahun. Kamu tahu semua sifat baik dan jelekku. Aku juga tahu kamu gimana. Selama ini kita gak pernah bertengkar hebat, tapi kenapa kamu tiba-tiba bilang putus?!”

“Aku gak ada rasa sama kamu, Vi.”

Devi tertawa. Dengan mata memerah dan berkaca-kaca ia memukul-mukul meja.

Devan beranjak dari kursi. “Sudah lama aku mau kita putus, tapi aku belum punya kesempatan yang pas untuk bilang. Maaf kalau selama ini aku terlalu sibuk.”

Devi pun berdiri. Membiarkan air matanya jatuh ke pipi. “Aku gak terima sama alasan kamu minta putus, Van! Selama ini kamu selalu jaga aku. Kamu gak pernah nyentuh aku, Van! Apa itu bukan cinta?!”

“Aku sayang sama kamu, tapi sebatas itu. Aku sadar, itu cuma sayang. Bukan persaan cinta.”

“Bilang aja kamu gak suka sama kelakuanku yang minta barang-barang mahal, Van! Kamu gak suka aku minta dibeliin macem-macem?!”

“Uang bisa dicari lagi.”

“Atau kamu marah karena aku selalu minta kamu jangan terlalu sibuk kerja, Van?”

“Ya. Anggap aja begitu.”

“Bohong! Kalau itu alasannya, udah dua tahun lalu kamu minta putus!”

“Kamu mau tahu alasan paling jujur?” Devan menarik napas dalam-dalam dan menatap Devi lekat-lekat. “Selama ini kamu terlalu egois. Kamu cuma mau didengar dan selalu cerita tentang masalahmu. Gak pernah kamu peduli tentang masalahku atau minimal tanya gimana kabarku.”

“A-apa kamu serius itu alasanmu?!”

“Aku harap kamu paham sama perasaanku dan terima keputusanku. Makasih sudah hadir di hidupku, Vi. Aku harap kamu lebih bahagia sama laki-laki lain.”

Meremas dadanya yang terasa berdenyut nyeri, Devi menatap punggung Devan yang terbalut kemeja putih nan bersih. Air mata turun begitu saja ke pipi, tak bisa dihentikan.

“Lebih dari tiga tahun, Van ... kamu bener-bener gak ada cinta? Kalau memang gak cinta, kenapa dulu ngejar-ngejar aku, Van?” Menatap sosok bertubuh tinggi dan berlengan kencang itu sampai masuk ke mobil. “Kalau ini ujungnya, kenapa dulu kamu harus susah payah deketin aku? Apa segampang itu kamu lupa semua tentang aku, tentang kita?”

*

Satu minggu setelah kejadian di kelab malam, Allura tetap membungkam mulut mengenai ke mana dia pergi. Walaupun Rava terus mendesaknya untuk jujur, Allura enggan memberi tahu. Bahkan sekarang ini Rava yang tengah duduk di samping Allura, menatap lekat-lekat.

“Kakak pergi ke mana? Aku janji bakal tutup mulut.”

“Berapa kali Kakak harus bilang, Rav? Kakak nginap di hotel karena pagi-pagi mau renang.”

“Mana buktinya kalau Kakak ke hotel!”

“Gak ada. Kakak gak sempat foto.”

“Pasti bohong. Kakak suka foto-foto gak jelas kalau pergi ke mana pun. Jadi, kalau gak ada foto berarti Kakak gak ke sana.”

Allur menghela napas dan memerhatikan film di sana sebelum mengambil bantal sofa. Diambilnya bantal itu dan dilemparkan ke arah Rava. “Berisik!”

“Maaf mengganggu waktunya, Non, Den. Ada tamu di luar,” ucap Toni yang sudah berdiri di balik pintu ruang keluarga.

Raina yang baru datang dan hendak masuk, menoleh kepadanya. “Siapa, Pak?”

“Saya belum pernah lihat, Nyonya. Tapi tadi saya tanya, namanya Calvin. Ya, sepertinya namanya Calvin.”

“Dia ke sini mau cari siapa?” tanya Raina dan buru-buru masuk ke ruang keluarga. Ia meletakkan nampan ke meja dan kembali menghadap Toni.

“Calvin?” Allura bangkit dari sofa. Tampak keningnya berkerut. “Calvin ... Mama lupa sama Calvin?”

“Calvin siapa, Kak?” Rava ikut penasaran dan turut berjalan mengikuti langkah Allura.

Allura mengabaikan pertanyaan sang adik. Ia justru berjalan cepat sampai mendahului Toni. Sampai di ruang tamu, ia melihat sosok yang berdiri di dekat pintu utama.

“Kamu siapa?” tanya Raina cukup kencang pada Calvin.

Pria itu menoleh seketika. “Saya Calvin. Selamat malam, Tante,” sapa pria tampan berkacamata itu dan mendekati Raina. Mengulurkan tangan pada Raina dan membungkuk sopan. “Hai, Lura. Gimana kabarmu? Masih single atau udah punya pacar?”

Saat Allura hendak menyahut, Raina justru menyela, “Selamat malam juga. Silakan duduk.” Ia melihat Calvin berjalan menuju sofa empuk ruang tamunya lalu bertanya, “Kamu siapanya Lura?”

“Tante lupa? Aku Calvin, anaknya Pak Candra, teman dari Om Allard. Dulu aku pernah satu sekolah sama Lura.”

“Oh, anaknya Candra.” Raina tersenyum. “Jadi, kenapa malam-malam datang ke sini? Kamu mau perlu apa? Atau mau ketemu sama Om Allard?”

Rava dan Allura yang penasaran pun duduk di sebelah Raina. Mereka bertiga menatap Calvin yang tampak tersenyum tipis. Namun, tiba-tiba saja pintu utama dilewati oleh Allard yang tampak tertawa bahagia dengan sosok pria berjalan di sampingnya.

“Om Allard dan papaku akan membahas tentang perjodohanku dan Lura, Tante.”

Mata Allura membulat. "Perjodohan?" tanyanya sambil memandang ke arah sang papa.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel