Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Hukuman

“Beni, Nona.”

“Oh, oke, Beni. Jadi, apa aku boleh pergi sekarang?”

“Sarapannya sudah cukup? Tidak mau dihabiskan dulu, Nona?”

“Tidak, sudah cukup. Apa bisa mengantarku sekarang saja? Dan apa kamu tahu kelab malam yang aku maksud?”

“Tentu saya tahu, Nona. Saya berada di sana saat tuan saya membawa Nona pergi dari sana.”

Berdiri dengan hati-hati, karena sesuatu di bawah sana milik Allura terasa sakit. Ketika mengayunkan kaki pun Allura tidak berani berjalan cepat.

Akibat apa yang dilakukannya semalam bersama bos Beni, Beni yang sudah masuk mobil harus menunggu Allura yang berjalan seperti siput.

Tiga puluh menit lamanya Beni dan Allura duduk diam di mobil. Kini kendaraan roda empat Beni berada di parkiran kelab malam yang semalam didatangi Allura.

“Terima kasih, Beni,” ucap Allura begitu membuka pintu mobil.

“Hati-hati, Nona.”

Allura dengan helaan napas panjang menghampiri mobil hitamnya dan masuk bersama jantung berdegup kencang. Duduk dan mengenakan sabuk pengaman, air mata kembali tumpah. Ia pun mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata.

Di kediaman Allura, sang ayah tidak berhenti marah-marah. Pria yang hampir menginjak kepala lima itu ditenangkan oleh ibu Allura yaitu, Raina.

Orang tua mana yang tidak khawatir jika anak perempuannya tidak pulang ke rumah? Begitu juga yang dirasakan Allard usai tahu pagi ini sang putri belum turun ke ruang makan. Ketika dicek oleh sang istri dari kamar tidur, ruang keluarga, bahkan halaman belakang dan depan, putrinya tidak ada.

“Semalam kamu tidur jam berapa, Rav?” tanya Allard pada putranya yang mondar-mandir di depan meja makan sambil mengotak-atik ponsel.

“Aku gak lihat jam, Pa. Terakhir lihat Kak Lura jam delapan di ruang baca. Aku masuk kamar sekitar jam sembilan.”

Memandang ke arah sang istri, Allarad dengan tegas berkata, “Mulai hari ini kamu sita kunci mobil Lura.”

“Mobil itu bukan cuma hadiah ulang tahun Lura yang ke dua puluh. Lura bayar setengahnya, Sayang.”

“Hanya itu cara yang bisa kita lakukan sebagai orang tua supaya Lura berhenti keluyuran.” Berdiri dari tempat duduk, Allard menyeka mulutnya dengan tisu. Meminum segelas air sebelum menyingkir dari ruang makan. Tangan kirinya menyambar gelas berisi kopi hitam pana yang dibuatkan oleh sang istri

Bejalan menuju teras, Allard pilih menunggu kepulangan putrinya sembari menyesap kopi. Di belakangnya, Raina berjalan dengan jantung yang berdebar-debar.

Melihat kursi di sebelahnya diduduki, Allard bangun dan kembali mengotak-atik gawai. Mencoba menghubungi nomor sang putri meski berulang kali tak kunjung mendapat respons.

“Pasti ada alasannya kenapa Lura keluar dan belum pulang, Sayang.”

“Apa pun alasannya, tidak seharusnya dia pergi dan menginap tanpa izin dariku.”

“Mungkin menginap di rumah temannya karena hal penting,” balas Raina lagi.

Membela sang putri adalah satu hal yang sering dilakukan Raina. Bukan bermaksud memanjakan, tetapi karena suaminya terlalu membatasi pergaulan Allura.

“Hubungi semua nomor teman-temannya!”

“Ini masih pagi, Allard.”

“Lalu? Aku harus menunggu sampai kapan?”

Kepergian Allura tengah malam ini memang baru pertama. Namun, sudah sering Allura meminta izin untuk keluar di atas pukul tujuh malam dan tak kunjung mendapat izin dari sang suami. Raina menduga bahwa Allura nekat keluar malam karena sering dilarang.

Raina tidak menjawab dan segera mengeluarkan benda pipih berwarna putih dari saku daster. Ia pun mendial nomor teman Allura yang dikenalnya.

Sembari berjalan menjauh dari sang suami, Raina menyapa perempuan yang kini menjawab panggilannya. Ia turut menyapa setelah anak muda di seberang memberi sapaan ramah. “Begini, Meta ... Tante mau tanya tentang Lura. Apa tadi malam Lura menginap di rumahmu, Meta?”

“Lura? Enggak, Tante Raina. Em, apa Lura izin ke Tante kalau dia mau main rumahku, Tante?”

“Tidak. Kalau begitu Tante tutup panggilannya. Maaf Tante menggangu waktumu. Terima kasih, Nak.”

“Sama-sama, Tante.”

Mendengar jawaban sang istri, Allard mendekatkan pinggiran cangkir. Menyesap lagi kopi hitam dengan sorot mata tajamnya tertuju pada Raina.

“Aku coba hubungi yang lain. Duduk diam dan nikmati kopimu saja.”

“Putriku pergi diam-diam semalam dan sampai sekarang belum pulang. Bagaimana aku bisa tenang?!”

“Lura juga putriku, jadi bukan cuma kamu yang khawatir!” sentak Raina tak mau kalah. “Karena itu, lain kali jangan terlalu mengekangnya. Jangan terlalu mengatur kalau dia izin baik-baik denganmu!”

Menatap ke layar gawai, Raina yang tampak kesal itu mulai menghubungi teman Allura lainnya. Cukup lama dia menelepon lima orang lainnya satu-persatu. Namun, tak kunjung mendapatkan informasi tentang keberadaan sang putri.

“Masih belum ada yang tahu di mana Lura?!”

“Sabar! Tunggu sebentar dan habisakan saja kopimu, Allard!”

“Sudah dua kali kamu menyebut namaku. Apa kamu mau aku hukum di kamar sekarang?”

Raina buang muka dan memilih mendial nomor Devi. Beberapa detik tak mendapat jawaban, sampai Raina harus mencoba berulang-ulang. Sekitar tiga menit kemudian panggilan Raina dijawab dengan suara pelan dan cukup ramah.

Tanpa mereka ketahui, sebuah kendaraan roda empat berhenti di depan tembok samping pagar cokelat sejak lima belas menit yang lalu. Mobil hitam itu adalah milik Allura.

Sang pengemudi yang takut mendapat amukan dari sang ayah enggan masuk. Ia sudah bisa menebak seberapa besar amukan sang papa jika melihatnya.

Walaupun takut masuk dan menemui sang papa, Allura baru saja menghubungi adik kandungnya lewat pesan singkat. Memberi tahu bahwa dirinya sudah sampai rumah, tetapi masih di luar pagar.

Rava yang menerima pesan sang kakak pun cepat-cepat ke luar rumah. Namun, ia tak langsung menjemput atau menemaninya masuk. Melainkan menghadap sang papa.

“Papa!” panggil Rava yang membuat Allard memandang ke arahnya. “Sekitar tiga hari yang lalu Papa pinjam flashdisk punyaku dan belum Papa kembalikan.”

“Flashdisk? Apa Papa pinjam punyamu?”

“Ya, Papa pinjam. Aku masih ingat, dan belum Papa kembalikan. Itu flashdisk penting buat ngerjain tugas, Pa. Bisa Papa kembalikan sekarang?”

“Coba kamu cari sendiri di laci ruang kerja Papa.”

“Sudah, Pa, tapi belum ketemu. Mungkin Papa taruh di kamar atau di ruang baca. Coba Papa cari sendiri kalau ada di kamar Papa.”

“Apa flashdisk-nya mau kamu pakai sekarang? Kalau tidak, Papa carikan nanti. Tunggu kakakmu pulang.”

“Sekarang, Pa. Aku mau nyalin file. Ada tugas presentasi juga yang harus aku teliti lagi di flashdisk itu,” jelas Rava yang sudah pasti hanya karangan saja. Karena nyatanya, flashdisk itu sudah dikembalikan di hari sang papa pinjam.

Berdiri sembari menatap pagar yang masih tertutup rapat, lalu melihat pos penjagaan di mana security rumahnya berada. “Bilang ke Papa kalau kakakmu sudah pulang.”

“Siap, Pa.”

Begitu sang Papa beranjak dari hadapannya, Rava lantas berbisik pada Raina. Ia membeberkan tentang keberadaan Allura.

Seketika itu juga Raina membuntuti Allard. Ia hendak memastikan bahwa Allard akan masuk kamar mereka. Sedangkan sang putra meminta penjaga rumahnya untuk membawa masuk mobil Allura.

Allura yang melihat adiknya keluar pagar pun cepat-cepat turun dari mobil. Menyerahkan kunci mobil pada sang penjaga rumah. “Maaf ngerepotin, Pak Toni.”

“Tidak perlu sungkan, Non Lura.”

Allura mengucapkan terima kasih dan berjalan di balik punggung Rava. “Aku pancing Papa ke kamar, tapi paling aman lewat pintu halaman belakang.”

“Ya, lewat sana aja.”

Keduanya mempercepat langkah kaki. Allura setia menatap punggung sang adik. Bersama dada yang kembang kempis saking takutnya berhadapan dengan sang papa, ia tidak berani melihat kanan dan kiri.

Hingga langkah kaki Rava tiba-tiba berhenti. Membuat dahi Allura membentur punggung.

“Berani mengerjai papamu?! Uang sakumu Papa potong, Rav.”

Rava tidak bisa membantah. Ia menghela napas sembari melirik sang mama. Melihat kode mata dari mamanya, ia pun hanya bisa mengayunkan kaki. Sebelum pergi dari lorong dapur menuju halaman, Rava sempat menoleh ke Allura yang tidak berani mendongakkan kepala.

“Jangan karena kamu merasa sudah besar dan punya uang sendiri, kamu bebas menginap di luar tanpa izin dari Papa.”

Allura masih mengatupkan bibir rapat-rapat. Ia tidak berani bersuara sedikit pun karena memang melakukan kesalahan paling fatal.

Pergi diam-diam dari rumah demi mengunjungi kelab malam, dan tidak pulang semalaman. Ia telah mencari masalah dengan sang ayah.

Bahkan tanpa keluarganya tahu, dia telah kehilangan apa yang selama ini dijaga baik. Rasanya, ingin sekali menangis sejadi-jadinya saat ingatan itu kembali muncul.

“Kamu perempuan, Lura. Berbeda dengan adikmu yang bisa menjaga diri sendiri.” Dilihat sang putri yang hanya menunduk sedari tadi lekat-lekat dengan rahang mengetat. “Kamu masih tanggung jawab Papa karena belum menikah. Kalau ada sesuatu yang tidak-tidak menimpamu, Papa merasa tidak becus menjadi orang tuamu, Lura.”

“Aku memang salah karena pergi diam-diam, jadi aku minta maaf, Pa.”

“Mulai sekarang serahkan kunci mobil kamu ke Papa. Selama dua bulan kamu diantar-jemput Rava. Selama itu juga kamu buktikan ke Papa kalau kamu benar-benar menyesal sudah keluar malam tanpa izin Papa.”

“Buktikan gimana, Pa?”

“Pulang kerja langsung kembali ke rumah. Kamu cuma boleh main di hari Minggu, dan batasnya sampai jam enam sore. Papa sewa pengawal untuk menemani kamu selama dua bulan penuh.”

“Allard!” sela Raina yang berdiri samping Allura. “Jangan berlebihan!”

Pria yang tak muda lagi, tapi masih gagah itu melirik pada istrinya sekilas. “Kalau itu semua kamu lakukan, kunci mobilmu Papa kembalikan tepat waktu,” tambahnya yang terdengar serius di telinga Allura.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel