Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Permainan Panas 2

Devi yang tidak bisa dan tak berani membantah, mau tak mau melakukan permintaan Devin. Terpaksa naik ke tubuh adik dari sang kekasih dengan mata berkabut dan hati yang terasa nyeri.

Sedangkan pria di bawah Devi menatap penuh minat. Netranya menelusuri lekuk tubuh yang menurutnya sang seksi dan selalu memikat. Disingkirkanlah kain yang menutupi kulit halus itu satu-persatu.

“Gerakan pinggulmu!” pekik Devin yang membuat Devi mengusap air matanya. “Puaskan milikku!”

Dengan berat hati, Devi mulai bergerak maju dan mundur perlahan. Sebisa mungkin ia memancing barang Devin agar tegak berdiri sebelum miliknya dimasuki.

Merasakan benda keramat di bawahnya dan menatap wajah Devin, pikirannya kembali terlempar pada kejadian beberapa bulan lalu. Lebih tepatnya saat dia tidak bisa menahan hasrat berkat Devin yang membubuhkan sesuatu ke dalam minumannya.

Ia tidak menyangka bahwa Devin adalah pria brengsek yang menggunakan tubuhnya dan mampu membuatnya berselingkuh dari Devan. Merasa sudah kotor, dirinya tidak mungkin mengajak Devan untuk bercinta.

Sebab, Devan dengan tulus mencintai dan menjaganya. Hanya satu kekurangan Devan, yaitu selalu sibuk bekerja.

“Layani aku setiap aku memanggilmu! Apa sesusah itu datang padaku? Kamu selingkuh di belakang Devan, tapi tidak mau berhubungan denganku?” tanya Devan sembari meremas benda empuk milik Devi.

“Wanitamu banyak. Aku juga gak bisa main-main sama adik dari pacarku!”

“Lalu kamu bisa seenaknya selingkuh di belakang kakakku?” Devan tertawa. Tangan kiri menekan pinggang Devi. “Wanitaku banyak, tapi tidak ada yang seenak tubuhmu. Jadi, izinkan aku memakai jasamu. Bukan pria tadi saja yang bisa memakaimu.”

“Ja-jasa?” Ingin sekali Devi meremas mulut kotor pria yang sekarang ini tertawa lebar. “Aku menyukainya! Dan pria itu tahu cara memperlakukan wanita, bukan sepertimu yang menganggap semua wanita cuma mainan. Aku merasa dicintai, dan ... dia selalu ada waktu untukku. Bukan seperti Devan yang super sibuk atau sepertimu yang gila wanita!”

“Lalu untuk apa kamu bertahan di samping kakakku?! Akhiri saja hubungan kalian kalau memang pria tadi menyukai atau mencintaimu!”

“Aku mencintai kakakmu! Walaupun aku marah karena Devan gak ada waktu untukku, tapi aku tahu dia mencintaiku dengan tulus. Kakakmu pria yang langka, dia benar-benar menjagaku.”

Menciumi dada Devi dengan kedua tangan mencengkeram bongkahan padat sebelum menamparnya. Bibirnya memberikan hisapan di benda padat lain milik Devi yang tadi sempat dimainkan dan diremas-remas.

“Si bodoh Devan sengaja menjagamu untukku.” Tawanya meluncur lagi. “Buktinya akulah yang menjebol keperawananmu. Tubuhmu cuma milikku, Devi.”

“Gak! Aku bukan milikmu! Aku gak sudi!” teriak Devi yang sebisa mungkin menahan desahan saat gelombang kenikmatan itu menghantam miliknya.

“Bukan milikku? Oh ... milik sugar daddy tadi maksudmu? Padahal sekarang kamu sedang bergerak liar di atasku, Devi.” Devin melirik tanda merah yang diciptakannya di dada Devi. “Jangan lupa, Devi ... akulah yang pertama kali menikmati tubuh ini.” Mengusap kiss mark buatannya hingga perut rata Devi.

“Devin bajingan!”

Detik berikutnya Devi bisa merasakan mulut dan lidah Devin di kulitnya. Bagian puncak gunungnya merasa kegelian sebelum dihisap kuat.

Saking terbuainya dengan permainan mulut itu, desahannya pun tak bisa ditahan lagi. Dipeluknya muka Devin sebelum meremas rambut itu.

“Kamu satu-satunya pria bajingan yang aku kenal, Vin! Aku bersumpah gak akan jatuh ke dalam pelukanmu! Ini jadi yang terakhir kita berbuat gila!”

Merasa tersinggung dan tak terima dengan pernyataan Devi, bibirnya yang sudah menghisap itu pun semakin nakal. Belum lagi tangannya yang mulai meremas-remas. Ia mengigit kecil puncak gunung itu yang membuat sang pemilik menarik kuat rambutnya.

“Sakit, Devin!”

“Balasan karena menolakku ketika kita sedang asyik meraih kenikmatan!” seru Devin sembari menyelami sepasang netra wanita yang kini mendesahkan namanya. “Jangan munafik, Devi ... aku tahu kamu menikmati permainan gila kita ini.”

Beberapa jam berlalu. Sinar matahari masuk ke dalam kamar melalui kaca jendela.

Allura yang merasakan sinar matahari menerjang wajah, lantas bergerak sponta. Seketika itu ia merasakan tubuhnya remuk dan sakit di bawah sana begitu kaki digerakkan.

Berusaha bangun dan duduk, sepasag mata terbuka perlahan-lahan. Ia terdiam, mencoba mencerna apa yang dirasakan tubuhnya.

Sembari mengingat apa yang terjadi semalam, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Beberapa detik kemudian tangis Allura pecah.

Memeluk diri erat-erat sambil memekik, “Apa yang sudah aku lakukan?!” Meremas selimut yang menutupi tubuh, lalu memukul-mukul dada bersama air mata yang turun ke pipi.

Tangisnya semakin kencang kala ingatan tentang betapa memaksanya dia minta dipuaskan layaknya seorang tante girang. Tak berhenti di situ saja, tapi ketika menunduk dan tak sengaja melihat cairan merah di sprei kasur, Allura menarik rambutnya kuat-kuat.

Hancur sekali hatinya. Tahu dengan jelas dan dalam keadaan sadar, rasa sakit menghujam dadanya.

Bukti bahwa segelnya sudah terbuka ada di ranjang orang asing, sungguh membuatnya syok bukan main. Satu-satunya mahkota yang dijaga justru ia serahkan pada pria sembarangan.

Menatap sekeliling, Allura meremas selimut kuat-kuat. Sepasang netra mengamati setiap sudut ruangan.

Kemudian menurunkan kakinya bergantian sambil melirik sebuah pintu yang ada di seberang ranjang. Hendak mengayunkan kaki pelan-pelan ke sana, tetapi kenop pintu lainnya tiba-tiba diturunkan. Sontak saja tangan Allura mempererat selimut yang membalut tubuh polosnya.

Tepat sesudahnya seorang laki-laki terlihat. Ia berjalan lurus seperti menuju ke arahnya dan menyapa, “Selamat pagi, Nona.” Sambil mengangkat pape bag di tangan ia menambahkan, “Saya bawakan pakaian untuk Nona. Karena tuan saya tidak tahu ukuran Nona, maka dari itu saya membeli beberapa gaun dengan ukuran berbeda-beda.”

Allura menatapnya tanpa berkedip. Dilihatnya pria itu yang berjalan mendekati kasur bekasnya dengan pria asing bertempur semalam.

Diperhatikanlah gelagat pria itu yang ternyata menaruh kedua paper bag ke atas tempat tidur. Allura dibuat terperangah dengan senyuman ramah lelaki itu, yang dirasa adalah pria baik-baik.

“Kalau Nona sudah selesai bersih-bersih, saya siap mengantar Nona pulang. Saya tunggu di luar, Nona, permisi.” Berbalik dan berjalan menuju pintu ruangan.

“Sebentar! Tu-tunggu dulu!” seru Allura begitu jemari pria tersebut menyentuh kenop pintu. “Begini ... makasih buat pakaiannya, tapi ada yang mau aku tanyakan. Apa aku boleh tanya sesuatu?”

“Ya, Nona, silakan bertanya.”

“Jadi bosmu yang bawa aku ke sini?” tanya Allura cukup pelan. “Apa dia masih di rumah ini?”

“Benar, dan bos saya sudah bekerja, dan maaf sebelumnya. Sebenarnya saya juga tidak bisa lama-lama bersama Nona, karena tugas dan pekerjaan saya banyak. Jadi, Nona ... jika Nona selesai bersiap, sebaiknya Nona segera sarapan. Saya akan mengantar Nona pulang supaya bisa bekerja bersama bos saya.”

Allura berjalan tertatih-tatih ke pintu yang diyakininya adalah pintu kamar mandi. Masuk ke dalam, menanggalkan selimut di luar kamar mandi.

Dengan cepat mengguyur badan penuh bekas kecupan. Allura kembali menangis kala teringat lagi peristiwa di atas ranjang yang belum dia ketahui siapa namanya.

Pengalaman terburuk yang kini hanya bisa disesali. Allura menangis sekencang-kencangnya di bawah shower yang terus memancurkan air. Dipeluknya kedua kaki yang tertekuk sembari menghadap tembok.

Membenamkan wajah di atas kedua lututnya, Allura menangis tersedu-sedu. Ketakutan yang kini melingkupi dadanya tak bisa dihindari. ‘Aku sudah tidak suci lagi. A-aku ... aku tidak bisa menjaga diriku sendiri! Aku mohon ... tolong ampuni aku, Tuhan,’ batinnya bersama air mata yang terus saja berjatuhan. ‘Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku katakan ke Papa nanti? Alasan apa yang harus aku pakai kalau Papa tanya?’

Allura cepat-cepat berganti pakaian dan keluar dari kamar itu sambil celingak-celinguk. Mengambil tas hitam miliknya dari meja di samping ranjang, dan menggantungnya ke pundak sebelah kanan. Sepatu berhak tinggi tak lupa dipakai.

Sebuah suara mendadak muncul, mengagetkan Allura dari arah samping setelah ia berjalan menuju pintu kamar. “Nona sudah selesai?” tanya pria itu yang membuat Allura menoleh dan mengangguk-angguk. “Makanan sudah datang, Nona bisa sarapan di ruang makan.”

“Terima kasih, tapi aku harus pergi sekarang. Aku ingat, mobilku juga ada di parkiran kelab malam, aku harus cepat-cepat ke sana.”

“Saya akan mengantar Nona ke sana, tapi sebelum itu Nona makan sedikit saja untuk mengganjal perut dan menghargai sedikit kebaikan dari tuan saya.”

Merasa tak enak, Allura mengangguk. “Oke,” balasnya.

“Apa ini rumah tuanmu?” tanya Allura setelah mereka sampai di ruang makan. Pria itu menjawabnya dengan anggukan. Duduk di depan meja makan, Allura mengambil semangkuk bubur ayam dan menyantapnya. “Omong-omong, siapa namamu?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel