Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 Jangan Hiraukan Dia

Bab 11 Jangan Hiraukan Dia

Nosa mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Kaylila yang duduk disebelahnya juga tidak bersuara, asyik dengan mengamati pemandangan di sepanjang jalan perumahan. Pohon pucuk merah yang berjajar rapi dan lurus memang enak dilihat.

Dan bagi Kaylila itu merupakan keindahan yang tak boleh luput dari pandangannya. Nosa melirik Kaylila yang sedang asyik dengan dunianya sendiri.

Kemudian Nosa menyetel mp3 di mobilnya, kebetulan lagunya John Legend dengan All of Me mengalun merdu. Sesekali Kaylila menggerakkan bibirnya mengikuti lirik lagu. Nosa yang mengamati itu tersenyum geli.

"Apa sih yang menarik perhatianmu?" tanya Nosa memecah kesunyian diantara mereka.

"Ga ada sih. Hanya saja, terlalu indah untuk dilewatkan. Perumahan ini begitu tenang, rapi, mana cantik pula penataan taman di sepanjang jalan. Arsiteknya keren nih." Kaylila berkata lancar penuh kekaguman.

"Masak sih? Bukannya biasa saja? Namanya perumahan, agar menarik minat pembelinya bukankah harus di setting dan di tata sedemikian rupa? Kalau tidak, mau sebagus apapun bangunannya, peminatnya akan berpikir dua kali untuk membelinya," kata Nosa.

"Hmmmm…" kata Kaylila. Nosa kembali tersenyum melihatnya. "Mas, kembali ke pertanyaanku ya? Mas Nosa memata-mataiku? Bagaimana Mas Nosa bisa tahu kalau Genta berseliweran di depan rumahku dan rumah mbak Della?" Kaylila bertanya tiba-tiba. Pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakan kepada Nosa.

"Ngapain saya memata-matai kamu? Kamunya saja sudah ada bersama saya," jawab Nosa singkat.

"Iya sih. Maksudnya bagaimana mungkin mas tahu Genta ada dirumah?" tanya Kaylila lagi.

"Saya meminta Haris untuk mengecek rumah kamu tadi. Dan dia melihat sosok Genta disana, menunggu kamu. Kemudian dia juga mendatangi rumah Della, mengamati dari jauh sampai tiga kali. Saya tidak habis pikir mendengarnya. Niat sekali menunggumu," jawab Nosa singkat.

"Ohhh begitu rupanya. Ya sudah," ucap Kaylila akhirnya.

"Cuma itu saja yang ingin kamu ketahui? Tidak ada yang lain?" tanya Nosa.

"Banyak sih. Tapi tidak sekarang." Jawab Kaylila lagi, kemudian kembali asyik dengan mendengarkan lagu dan mengamati pemandangan di sepanjang jalan Soekarno-Hatta. Kali ini lagunya Jessie J dengan Flashlight.

Mobil yang mereka kendarai memasuki pintu gerbang perumahan dimana Kaylila tinggal. Tak lama, terlihatlah rumah tempat tinggal Kaylila tinggal yang berada di sudut jalan.

Rumah dengan gaya minimalis dengan cat hijau. Nosa menghentikan mobilnya kemudian turun dari mobilnya. Begitu pula dengan Kaylila yang tidak mampu menunjukkan rasa bahagianya tiba dirumahnya sendiri.

Kaylila segera membuka pintu pagar rumahnya. Melihat Nosa hanya berdiri saja di samping kendaraannya, Kaylila menghentikan langkahnya kemudian berbalik.

"Apakah Mas Nosa mau mampir terlebih dahulu dengan secangkir kopi latte?" tanya Kaylila ragu-ragu.

Nosa tidak menjawabnya namun segera mengayunkan langkah melewati Kaylila memasuki pekarangan rumah Kaylila.

Kaylila menggendikkan bahunya kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu depan rumahnya. Setelah membuka pintu, Kaylila segera mempersilakan Nosa untuk masuk dan duduk di ruang tamu Kaylila yang sempit.

"Mungkin rumahnya tidak sebesar rumah tempat tinggalmu, Mas. Tapi, silakan duduk. Saya buatkan kopi latte dulu." Ucap Kaylila.

Nosa tidak juga bersuara, dia masuk sambil mengamati isi didalam rumah Kaylila. Cat rumah yang berwarna putih dengan peralatan rumah tangga sederhana berwarna hijau membuat teduh pandangan.

"Dia penyuka warna hijau rupanya. Pantas saja dari tadi selama di perjalanan dia tampak asyik sekali mengamati tanaman hijau yang berjajar rapi di jalan." Ucap Nosa dalam hati.

Kaylila tiba dengan dua cangkir kopi latte ditangannya, kemudian meletakkannya di meja. Nosa masih tetap berdiri sambil mengamati foto dan lukisan abstrak di dinding ruangan.

Melihat Kaylila sudah menyediakan kopi, Nosa segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Kaylila.

"Maaf, mas. Saya tidak memiliki kudapan." Kata Kaylila tersipu malu. Nosa memberikan isyarat mata dan bibir mencibir.

"Setelah kita menikah, kamu tidak bisa tinggal disini lagi. Kamu harus tinggal dirumah saya. Jadi, sebaiknya kamu bersiap-siap untuk pindah." Kata Nosa tiba-tiba yang membuat Kaylila mendelik.

"Mas, saya saja belum memberikan jawaban atau keputusan. Bagaimana bisa Mas Nosa bisa mengatakan hal itu?" kata Kaylila.

"Apakah ada alasan yang masuk akal sehingga kamu akan menolak tawaran saya?" Tanya Nosa.

Kaylila kemudian berfikir, benar adanya yang dikatakan Nosa. Permasalahannya yang harus segera diselesaikan adalah memutuskan Genta dan mengabari mamanya.

Saat Kaylila sedang terpaku memikirkan perkataan Nosa, terdengar nada panggilan pada ponsel Kaylila yang berada di kamarnya.

"Sebentar, Mas. Saya ambil ponsel saya dulu," kata Kaylila.

Nosa menganggukkan kepalanya. Panggilan dari Genta, kemudian panggilan itu berhenti karena Kaylila tidak segera menjawabnya.

Benar saja, saat ponsel sudah ditangannya, Kaylila dapat melihat bahwa terdapat panggilan tak terjawab sebanyak 97 kali.

Ada Genta yang menelpon sebanyak 88 kali, kemudian mamanya sebanyak 4 kali dan Della sebanyak 5 kali.

Sambil berjalan menuju ruang tamu dari kamarnya, Kaylila hanya mampu menggelengkan kepala.

Setelah tiba di kursi tamu, Genta kembali menelepon.

Kaylila masih membiarkan panggilan itu, tanpa menjawabnya. Nosa yang melihat hal itu segera menyuruh Kaylila menjawab telepon itu.

"Jawab saja. Kasihan juga karena dia pasti masih mengkhawatirkan kamu sedari tadi berada dimana." Kata Nosa.

Kaylila kemudian menjawab telepon dari Genta. "Assalamualaikum." Kata Kaylila. "Dirumah. Ponsel tertinggal." Jawab Kaylila menjawab pertanyaan Genta di seberang sana.

Kemudian ponsel pun mati. Kaylila pun mulai merasakan cemas. Dia tahu bahwa Genta akan segera datang kerumahnya.

"Tidak perlu khawatir. Hadapi saja. Itu akan mempermudah kamu untuk bisa memutuskan langkah yang akan kamu ambil. Saya tidak akan ikut campur mengenai hal itu. Hanya saja, saya akan tetap menunggu hingga hubungan kalian menjadi jelas." Kata Nosa yang mengerti dengan kebimbangan Kaylila.

Benar saja, tak lama kemudian suara mobil Genta terdengar di luar. Kemudian tampaklah Genta yang dengan terburu-buru memasuki rumah Kaylila.

Tanpa mengucapkan salam, Genta langsung masuk dan segera mendekati Kaylila. Tanpa diduga, Genta langsung memegang tangan Kaylila, dan menariknya.

Namun kemudian langkahnya terhenti saat menyadari ada orang asing yang berada di kursi tamu Kaylila. Pegangan tangan Genta pada pergelangan tangan Kaylila semakin kuat. Kaylila mengaduh, merasakan panas dan sakit pada pergelangan tangannya. Melihat hal itu, Nosa mengernyitkan mata, khawatir.

"Kamu siapa? Ada hubungan apa kamu dengan Kaylila?" Tanya Genta dengan nada tinggi.

Nosa kemudian berdiri dan berhadapan dengan Genta. Tubuh Nosa yang tinggi mengulurkan tangannya kepada Genta.

"Saya Nosa. Sepertinya anda telah menyakiti pergelangan tangan Kaylila. Tolong segera dilepaskan." Jawab Nosa dengan tegas.

Genta menyadari hal itu, kemudian melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Kaylila.

Tanpa ada yang menyadari, Genta segera menarik kerah kaos putih Nosa.

"Yang kutanyakan siapa kamu. Dan ada hubungan apa antara kamu dan Kaylila? Apa belum jelas?" Tanya Genta lagi.

Kaylila yang melihat hal itu terkejut, kemudian segera menarik tangan Genta agar melepaskan pegangan Genta dari kerah baju Nosa.

Namun Nosa tidak bergeming. Nosa tidak menunjukkan perlawanan. Genta semakin tersulut melihat Nosa yang tenang seolah mengejeknya.

Pegangannya semakin keras dan menarik kerah Nosa dengan kasar. Kaylila menjerit masih berusaha memegangi lengan Genta lainnya.

Kaylila tahu Genta sedang marah. Tanpa Kaylila sadari, tangan Genta yang dipegang oleh Kaylila dikibaskan. Alhasil, mengenai pipi Kaylila sehingga Kaylila jatuh terduduk di sofa.

Nosa yang semula diam, melihat perlakukan Genta terhadap Kaylila menjadi berang.

Dengan kasar Nosa menarik kerahnya dan melepaskan tangan Genta dari kerahnya.

Nosa menghampiri Kaylila yang memegangi pipinya. Pipi kanan gadis itu memerah dan matanya berkaca-kaca menahan tangis.

Nosa tidak tega melihat hal itu. Nosa memberikan isyarat agar Kaylila segera masuk ke dalam kamarnya. Kaylila mengerti kemudian segera meninggalkan Genta dan Nosa berdua saja di ruang tamu itu. Nosa segera berdiri kembali.

Genta yang terkejut dengan perbuatannya sendiri masih diam mematung. Ada rasa bersalah di matanya.

"Lebih baik anda duduk, mari kita bicarakan hal ini baik-baik." Kata Nosa tegas segera kembali ketempat duduknya semula.

Genta yang mendengar perkataan Nosa segera tersadar dari keterkejutannya. Genta menolak untuk duduk.

"Apakah anda mengingat saya dengan baik?" Tanya Nosa tiba-tiba yang tidak disangka-sangka oleh Genta.

Genta kemudian mengamati Nosa yang sedang menyesap kopi miliknya. Genta mencoba mengingat siapa kira-kira pria yang berada di hadapannya ini.

Genta merasa bahwa wajah Nosa tidak asing baginya, namun dia lupa pernah bertemu dimana.

"Kalau Anita, anda masih ingat?" Tanya Nosa lagi.

Genta segera tersadar siapa pria yang ada dihadapannya ini. Genta hanya terdiam menatapnya.

"Kalau saya katakan saat di pusat perbelanjaan, kamu menabrak teman wanita saya. Apakah juga masih ingat?" tanya Nosa lagi.

Ia mencoba mengingatkan Genta peristiwa saat dia secara tidak sengaja menyenggol seorang wanita cantik yang sedang membawa belanjaannya, dan membuat wanita itu menjatuhkan barang belanjaannya.

Genta tercekat, karena saat itu dia sedang bersama Wina.

"Kalau saya katakan lobby hotel di Kota Batu saat ada gathering PT. Wisata Karya?" Tanya Nosa lagi.

Genta pun mengingatnya, bahwa dia sedang menginap di hotel itu bersama Audi. Genta yang menyadari bahwa kartunya ada ditangan Nosa tidak bisa berbuat apa-apa.

"Apa maumu sekarang?" Tanya Genta.

"Tinggalkan Kaylila." Jawab Nosa tegas.

"Dia kekasihku. Kami saling mencintai. Tidak mungkin bagiku memutuskan hubungan kami." Kata Genta lagi.

Nosa menarik nafas kemudian menghembuskannya lagi secara perlahan.

"Baiklah. Kalau seandainya Kaylila mengetahui ketiga moment itu. Apakah menurutmu dia akan tetap mempertahankan hubungan kalian?" Tanya Nosa yang membuat Genta mati kutu.

Kesal karena Nosa memiliki kartu As dari perbuatan Genta selama ini yang tidak diketahui Kaylila membuat Genta semakin berang.

Tanpa berpamitan, Genta meninggalkan rumah Kaylila sambil menahan amarahnya. Mobil yang dikendarai Genta melaju dengan kencang.

Setelah memastikan Genta telah pergi, Nosa mengetuk pintu kamar Kaylila. Kaylila segera keluar dari kamarnya. Matanya memerah, dia habis menangis. Ingin Nosa mengusap air mata itu, namun diurungkannya. Akhirnya Nosa kembali ke tempat duduknya.

"Apakah dia sudah pergi?" Tanya Kaylila.

"Ya." Jawab Nosa singkat.

"Apa yang membuat dia pergi begitu saja?" Tanya Kaylila lagi.

Nosa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kaylila. Nosa tidak tega menyampaikannya. Nosa akan membiarkan Kaylila melihat dengan mata kepalanya sendiri.

"Yang terpenting kamu aman sekarang. Tapi saya tidak menjamin bahwa kamu akan aman esok hari. Apakah kamu mau saya mintakan Pak Budi menjaga kamu dirumah?" Tanya Nosa.

"Tidak perlu, Mas. Cepat atau lambat saya harus segera menyelesaikan permasalahan kami berdua." Jawab Kaylila.

Namun tidak begitu bagi Nosa. Melihat gelagat Genta yang tidak baik membuatnya khawatir.

"Apakah kamu yakin akan mempertahankan hubunganmu dengannya?" Tanya Nosa lagi.

"Sepertinya tidak. Saya seolah tidak mengenalnya lagi. Dia bukan Genta yang dulu." Jawab Kaylila sedih sambil membungkuk dan memegangi kepalanya.

Nosa memajukan tubuhnya berhadapan dengan Kaylila. "Apakah itu berarti kamu menerima lamaranku?" Tanya Nosa lagi.

Dia mendekatkan wajahnya kehadapan Kaylila. Jarak antara wajahnya dan wajah Kaylila berjarak sangat dekat.

Kaylila tercekat, jantungnya bergemuruh. Nosa mengulurkan tangannya dan mengusap air mata Kaylila yang masih mengalir dipipinya. Kaylila tertegun.

"Perasaan apakah ini? Mengapa dadaku bergemuruh seperti ini?" Kaylila mengerjapkan kedua matanya.

Nosa sempat terpaku menatap wajah ayu Kaylila. Dadanya bergemuruh. Segera dilepaskannya tangannya dari pipi Kaylila.

Nosa takut tidak dapat menahan hasratnya. Dengan perlahan Nosa menyandarkan punggungnya di kursi. Kaylila tertegun.

"Apa keuntungannya bagi saya bila saya menerima lamaran itu?" Tanya Kaylila setelah dapat menguasai dirinya.

"Apapun keuntungan yang kamu inginkan. Kamu berhak mendapatkannya." Jawab Nosa.

"Mengapa harus saya?" Tanya Kaylila lagi.

"Karna kamu telah mencuri hati mama saya." Jawab Nosa lagi.

"Itu tidak benar. Kami tidak pernah saling kenal." Jawab Kaylila.

"Bagi saya, mama adalah segalanya. Apa yang menjadi pilihannya, berarti hal itu terbaik bagi saya. Baru kali ini saya melihat mama begitu akrab dengan orang lain. Orang yang baru pertama dikenalnya. Apakah itu sudah cukup sebagai alasan?" Tanya Nosa lagi.

"Setelah setahun, saya akan jadi janda?" Tanya Kaylila.

Nosa tersenyum geli, mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Kaylila.

"Semua tergantung sama kamu. Kamu masih ingin tetap mempertahankan pernikahan, tidak masalah. Saya tidak akan menceraikan kamu tanpa kamu yang meminta." Jawab Nosa lagi.

"Saya takut menjadi janda." Ucap Kaylila lagi. Nosa tertawa lepas, menampakkan gigi-giginya.

"Meskipun kamu janda. Kamu tetaplah gadis utuh. Karena saya tidak akan menyentuhmu. Dan sudah saya katakan. Semua tergantung kamu. Saya tidak akan menceraikan kamu tanpa kamu yang meminta. Apakah sudah cukup jelas?" Tanya Nosa lagi.

"Baiklah. Saya akan menerima lamaran itu. Dengan segala persyaratan dan komitmen kita." Ucap Kaylila.

Nosa tersenyum mendengar ucapan Kaylila. Rasa bahagia menyelimuti hatinya. Berkuranglah satu kekhawatiran baginya.

Karena pada akhirnya dia akan segera mengakhiri masa lajangnya. Yang kedua, dia akan menikahi seorang wanita yang secara tidak langsung merupakan pilihan mamanya.

"Baiklah kalau begitu. Bersiap-siaplah. Malam ini kamu akan saya perkenalkan kepada kedua orangtua saya. Luangkan juga waktumu pada hari Selasa, kita berangkat kerumah orangtuamu. Saya akan mengajakmu menghadap kedua orangtuamu. Bagaimana menurutmu?" Tanya Nosa.

"Saya ikut saja dengan apa yang Mas Nosa lakukan, kalau memang itu yang terbaik untuk kita lakukan saat ini." Jawab Kaylila.

Nosa menatap mata Kaylia, begitu pula Kaylila. Lembaran baru kehidupannya akan segera mereka dimulai. Meskipun terdengar konyol, tetapi untuk saat ini mereka menganggap bahwa keputusan mereka lebih efektif, tanpa merugikan satu sama lainnya.

"Bersiap-siaplah. Kita akan segera menuju kediaman orangtua saya. Kebetulan kalau pada hari libur begini, semua berkumpul dirumah. Akan semakin baik bila kamu sekaligus bertemu dengan kakak dan adikku. Saya akan menunggu kamu disini. Tidak lama, kan?" Tanya Nosa.

"Baiklah. Tidak akan lama." Ucap Kaylila, kemudian bergegas memasuki kamarnya. Sepeninggal Kaylila yang sedang berganti pakaian, Nosa menyandarkan diri pada kursi. Nosa merasakan kantuk. Nosa memejamkan mata, berharap dia bisa beristirahat barang sejenak menjelang Kaylila selesai berganti pakaian.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel