Bab 10 Putuskan!
Bab 10 Putuskan!
Setibanya dirumah, Nosa segera memarkirkan kendaraannya di garasi. Nosa segera masuk kedalam rumah, celingak celinguk mencari seseorang. Pak Budi segera menghampirinya.
"Mbak Kaylila sedang berada di taman belakang, Mas Nosa." Kata Pak Budi yang memahami siapa yang dicari Nosa.
"Oh, Oke. Saya kira dia sudah pulang." Ucap Nosa.
"Tadi kan Mas Nosa pesan menyuruh mbaknya biar disini saja. Jadi saya juga tidak berani menawarkan diri mengantarnya pulang, Mas." Tambah Pak Budi lagi.
Nosa menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan memberikan tanda jempol dengan tangan kirinya kepada Pak Budi.
Nosa berjalan melewati ruang tamu menuju taman dibelakang rumah. Di dapur tampak Bi Ijah sedang memasak makanan. Nosa menghampiri Bi Ijah terlebih dahulu.
"Masak apa, Bi?" Tanya Nosa.
Masak bistik daging sama cah sawi dan udang goreng tepung, Mas." Jawab Bi Ijah.
"Oke. Terima kasih." Ucap Nosa sambil tersenyum.
Nosa segera menuju ke taman belakang. Kaylila dan Si Mbok sedang ngobrol santai. Sesekali terlihat Kaylila tersenyum, bahkan tertawa sambil menutup mulutnya.
Nosa terpana, dan tanpa Nosa sadari, dia tersenyum melihat pemandangan itu. Gadis yang sederhana, anggun dan dengan "aurat tertutup".
Nosa segera teringat perkataan papanya tentang Gladis yang selalu memakai pakaian terbuka, sehingga tidak akan memungkinkan bagi Nosa untuk mencoba membawa Gladis masuk kedalam keluarganya.
Nosa menghentikan langkahnya. Nosa mengusap wajahnya, kemudian berjalan menuju ke arah Kaylila dan si mbok.
Sejenak Nosa merasa takjub dengan Kaylila yang memancarkan pesona keanggunan wanita muslimah yang tidak dimiliki oleh Gladis. Nosa mencoba memantabkan hatinya.
"Lho, Mas Nosa sudah datang?" Tanya si mbok.
Nosa yang tertegun menatap Kaylila seolah tersadar, kemudian tersenyum. Kaylila yang mendengar bahwa Nosa pulang, segera berdiri dari tempatnya duduk.
"Iya, Mbok. Sedang apa kok berada disini?" Tanya Nosa lagi mencoba menutupi keterkejutannya.
"Kasihan Mbak Kaylila didalam sendirian, jadi saya ajak ke taman untuk melihat koleksi bonsainya Mas Nosa." Jawab si Mbok menjelaskan.
Nosa berjalan menuju salah satu bonsai yang berada di dekat Kaylila, dan mengamatinya kemudian menyentuh ujung bonsai yang tertekuk.
Sementara Kaylila tetap tenang tanpa berbicara, sembari mengamati apa yang dilakukan Nosa. Sebenarnya Kaylila ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Namun karena ada si mbok, Kaylila mengurungkan niatnya.
"Saya tinggal dulu ya, Mas Nosa. Mau bantu-bantu Bi Ijah memasak untuk makan siang. Mbak Kaylila saya tinggal, ya?" kata si mbok.
"Ya, mbok. Terima kasih sudah menemani Kaylila." Ucap Nosa tanpa menatap si mbok.
Kaylila hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Setelah selesai makan siang, kamu baru akan saya antarkan pulang."
Tiba-tiba Nosa berbicara seolah dia mampu membaca isi pikiran Kaylila. Kaylila langsung tersenyum lebar.
"Benarkah?" Tanya Kaylila.
"Bukankah kamu seharusnya kesepian tanpa saya dirumah saya sendiri? Dan saat saya sudah berada dirumah saya, kamu malah dengan senang hati ditawari akan diantar pulang?" Tanya Nosa masih mengamati bonsai-bonsainya.
Kaylila mengerlingkan matanya. "Kamu melukai harga diri saya. Bukankah seharusnya kamu berterima kasih pada saya karena telah menyelamatkanmu?" Kata Nosa lagi.
Kaylila yang semula tersenyum lebar memonyongkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan Nosa.
"Maaf." Kata Kaylila merasa bersalah.
"Apakah mengucapkan kata maaf juga hobby kamu selain menabrak?" kata Nosa lagi, masih sibuk dengan bonsai-bonsai tanamannya tanpa menatap Kaylila.
"Benar kata si mbok. Kalau sudah dengan anak-anaknya (bonsai-bonsay itu) dia lebih baik sendiri. Ga bisa diganggu. Pantas saja. Sibuk sendiri sih." gumam Kaylila pelan, takut Nosa mendengarnya. Kaylila kemudian duduk di kursi semula.
"Mas ...," Ucap Kaylila terputus. Nosa mengabaikan panggilan Kaylila. "Mas." Panggil Kaylila dengan suara diperbesar agar Nosa mendengar panggilannya.
Nosa menghentikan aktifitasnya dengan tanaman, kemudian berjalan menuju kursi di samping Kaylila.
"Kenapa?" Tanya Nosa.
"Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya Kaylila lagi.
"Tanya saja." Jawab Nosa.
"Tidak bisakah kita makan siang sekarang? Saya sudah lapar." Jawab Kaylila cepat.
Nosa yang menduga Kaylila akan berbicara serius, hanya mampu tersenyum geli melihat tingkah Kaylila yang menggemaskan.
Nosa kemudian mengajak Kaylila masuk kedalam untuk santap siang. Lagi-lagi Nosa berjalan mendahului Kaylila.
Kaylila segera berjalan dengan cepat menyusul Nosa. Dan lagi-lagi Nosa berhenti mendadak. Kaylila lagi-lagi menabrak punggung Nosa.
"Aduh…" keluh Kaylila berpura-pura mengaduh padahal merasa malu karena kejadian ini terus berulang.
Nosa lagi-lagi membalikkan badannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Maaf. Lagipula kenapa sih tidak dari tadi saja bilang kalau kamu lapar?" ucap Nosa kemudian lanjut berjalan menuju ruang makan untuk santap siang.
Padahal Kaylila ingin sekali mencari semua jawaban dari pertanyaan yang muncul dipikirannya. Tapi Kaylila malu untuk memulainya.
***
Selesai makan siang, Kaylila sholat Zhuhur. Nosa menepati janjinya akan mengantarkan Kaylila pulang. Walau dengan berat hati.
Nosa mencoba mengulur waktu. Nosa melaksanakan sholat Zhuhur terlebih dahulu di kamarnya. Selesai melaksanakan sholat, Nosa sudah tidak memiliki alasan apapun untuk menunda mengantar Kaylila segera pulang kerumahnya.
Sewaktu Nosa mengantarkan Gladis, Haris asistennya menghubungi bahwa Genta sudah tidak berada dirumah Kaylila setelah mengunjungi rumah sahabat Kaylila yang bernama Della.
Haris mengatakan bahwa terjadi obrolan antara Genta dan Della, namun Haris tidak dapat mendengarnya. Itulah sebabnya Nosa akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Kaylila pulang kerumahnya.
Memang benar, Nosa memata-matai Kaylila, tepatnya mulai pagi ini. Saat Nosa melihat peristiwa yang terjadi di area jogging track perumahan.
Nosa merasa iba melihat keadaan Kaylila yang menjadi perhatian orang yang melewati area itu. Rasa geram ditahan oleh Nosa. Menyayangkan sikap Genta sebagai laki-laki yang tidak memikirkan perasaan kekasihnya.
Nosa tidak mengenal siapa Genta ataupun Kaylila sebelumnya. Namun Nosa mengetahui sepak terjang Genta tanpa sepengetahuan Kaylila. Genta mengingat dengan jelas, bahwa Genta sempat mengencani pegawainya.
Kebetulan saat itu Nosa baru saja ada pertemuan dengan salah seorang rekanannya di lobby Hotel di daerah Kota Batu.
Saat itu Nosa melihat seorang pegawai wanitanya digandeng seorang pria yang tidak dikenali oleh Genta. Kebetulan pegawainya itu menyapanya. Sehingga Nosa dapat melihat wajah sang pria.
Kemudian beberapa hari kemudian saat Nosa berkunjung di pusat perbelanjaan untuk mengantarkan Gladis berbelanja, lagi-lagi Nosa melihat Genta sedang menggandeng seorang wanita yang berpakaian terbuka, dan itu bukan Kaylila.
Hingga kejadian terakhir Nosa melihat secara langsung sosok Genta dengan wanita yang berbeda.
Nosa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya Genta bukanlah pria yang baik untuk seorang wanita yang tulus dan polos seperti Kaylila.
Nosa tidak memberikan penjelasan kepada Kaylila karena dia ingin agar Kaylila lebih baik mengetahuinya sendiri.
Nosa berharap bila pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas. Karena Nosa tahu, tidak mungkin untuk mengarungi bahtera rumah tangga tanpa adanya cinta. Begitu pula Nosa, dia tidak mungkin menduakan Gladis, wanita yang dicintainya.
