Bab 12 Makan Malam
Bab 12 Makan Malam
Kaylila segera mandi. Setelah mandi, dengan mengenakan piyamanya Kaylila kemudian membuka isi lemarinya mencari-cari pakaian apa yang akan digunakannya untuk pertemuan pertama dengan calon mertuanya.
Kaylila memilih setelan berwarna pasta, namun diletakkannya kembali. Setelan berwarna baby pink dipegangnya namun tampak terlalu lembut sehingga diletakkannya kembali.
Akhirnya Kaylila memilih terusan berwarna pastel dengan cardigan dengan warna yang lebih tua dan jilbab senada.
Setelan itu dipakainya sambil mematut-matutkan diri di depan cermin. Kaylila memoleskan make up tipis kemudian memilih lipstick berwarna nude yang membuat tampilannya terkesan anggun dan kalem. Kaylila kembali mematutkan dirinya di depan cermin, kemudian tersenyum.
“Mengapa jantungku berdebar-debar tidak karuan begini, ya? Apakah karena aku akan segera bertemu dengan calon mertuaku? Tapi kenapa aku harus cemas begini. Bukankah pernikahan kami hanya sekedar formalitas? Dulu waktu bertemu dengan kedua orangtua Genta tidak begini-begini amat," ucap Kaylila pada dirinya sendiri.
Kaylila sudah beberapa kali bertemu dengan ayah dan ibunya Genta. Ibunya Genta yang hangat persis seperti Genta membuat Kaylila tidak merasa canggung kalau sedang berbicara dengannya.
Hal itulah yang menimbulkan kedekatan secara emosional antara ibu Genta dan Kaylila. Ibu Genta sudah menganggap bahwa Kaylila adalah anaknya sendiri.
Namun, sepertinya hubungan mereka harus segera diakhiri. Kaylila memantapkan hatinya lagi, bahwa dia akan memulai kehidupan yang baru dengan Nosa.
***
Selesai berpakaian dan berdandan, Kaylila keluar dari kamarnya dan mendapati Nosa sedang tertidur di kursi dengan bertumpu pada tangan kanannya pada bahu sofa.
Kaylila ingin membangunkannya namun diurungkannya niatnya itu. Kaylila mendekati Nosa, menatap wajahnya yang tertidur pulas. Kaylila mengamati wajah Nosa seolah tidak ingin melewatkannya sedikitpun.
Alis dan bulu matanya yang tebal, hidung mancung, tulang rahang yang tegas dan bibirnya yang meliuk indah di wajah ovalnya.
Terdengar nafas Nosa yang teratur, menandakan bahwa dia tertidur. Kaylila mencoba mendekatkan wajahnya, melihat titik hitam di hidung Nosa kemudian ingin menyentuhnya.
Sebelum tersentuh, Nosa membuka matanya, memperlihatkan bola mata berwarna coklat yang menatap tajam kepada Kaylila.
Kaylila yang tidak menduga, menggantungkan tangannya dengan mulut terbuka. Lagi-lagi jarak wajah mereka begitu dekat.
Sepersekian detik mereka terlena dengan pikiran mereka masing-masing. Kaylila dengan cepat menyadarkan dirinya, kemudian menarik tangannya yang menggantung.
“Sepertinya di hidung mas Nosa ada lalat, saya hanya ingin mengusirnya.” Kaylila mengucapkan dengan terbata-bata.
Belum sempat tangannya berhasil ditarik, Nosa dengan sigap menarik tangan Kaylila kemudian mengarahkannya ke hidungnya.
Membiarkan Kaylila menyentuh titik hitam yang disangka lalat oleh Kaylila. Ternyata titik hitam itu hanyalah sebuah tahi lalat.
Wajah Kaylila memerah menahan malu. Menyadari Kaylila merasa malu, Nosa tertawa.
“Apakah kamu ingin mengusir lalat atau hanya ingin menyentuhnya saja?” tanya Nosa tampak tenang.
“Ternyata tahi lalat. Maaf, tadi Mas Nosa tampak tertidur lelap, saya tidak berani membangunkan," jawab Kaylila terbata-bata.
Lagi-lagi jantungnya berdegub kencang. Nosa segera melepaskan tangan Kaylila, kemudian berdiri.
“Itu karena kamu terlalu lama berganti pakaian. Tapi, kamu cantik. Ayo kita pergi," kata Nosa sembari melangkahkan kakinya menuju pintu untuk segera keluar.
Kaylila meraba wajahnya yang bersemu merah, kemudian memukulkan tangan kanannya ke kepalanya sendiri, menyadari kekonyolannya.
****
Didalam mobil, Nosa menyetir tanpa bersuara. Dia menyalakan mp3 kali ini lagunya Shane Ward dengan lagu No Promises. “
"Mengapa lagu-lagunya mellow semua, ya?” tanya Kaylila didalam hatinya.
Kaylila meremas jari-jarinya. Kaylila nampak cemas karena kali pertama baginya bertemu dengan orang hebat seperti Pak Sasongko dan Bu Sasongko, yang merupakan orangtuanya Nosa. Kaylila tidak tahu harus melakukan apa nanti disana.
"Kamu tidak perlu khawatir. Bukankah kamu sudah pernah berinteraksi dengan mereka? Santai saja. Mereka tidak akan menggigitmu. Paling nanti kamu hanya akan kewalahan meladeni adik-adik perempuanku yang rasa ingin tahunya sangat besar," kata Nosa mencoba menenangkan Kaylila.
“Perlu kamu ingat saja. Nanti akan ada Kakak pertamaku Mas Arman Pranujiwa, dia menikah dengan mbak Ambar, memiliki sepasang anak yang akan merepotkanmu nantinya, Michael dan Michelle. Mereka akan dengan senang hati mengajakmu berbicara. Ada kakak keduaku Mas Arya Pranujaya, menikah dengan mbak Hanum, memiliki dua orang anak perempuan kembar yang kalem, tidak banyak berbicara bernama Hani dan Hana.”
Nosa menghentikan pembicaraannya sembari melirik Kaylila yang sedang memperhatikan Nosa menceritakan anggota keluarganya. Nosa tersenyum melihat Kaylila tampak tegang.
“Ada adikku Ajeng Pranuwidya, dia menikah dengan Ronal Gery dan memiliki dua orang anak laki laki dan perempuan bernama Andi dan Audi. Mereka berdua anak-anak kutu buku. Meski nanti kamu akan direpotkan dengan mereka, namun kamu tidak perlu khawatir karena mereka akan lebih suka mendengarkan ceritamu. Kemudian yang terakhir, adik bungsuku yang akan banyak bertanya adalah Nicken Pranugati, menikah dengan Aryo Wicaksono, memiliki tiga orang anak laki-laki kembar berusia 4 tahun yang lucu, menggemaskan dan cerewet, Adiatma, Adiwangsa dan Adinata," lanjut Nosa lagi panjang lebar.
Kaylila mengerutkan keningnya sambil menghembuskan nafas panjang. Nosa lagi-lagi tertawa melihat tingkah laku Kaylila.
Tidak lama kemudian, mobil yang mereka kendarai tiba di perumahan tempat kedua orang tua Nosa tinggal.
Rumah yang semalam didatangi juga oleh Kaylila dalam acara jamuan makan malam. Dan malam ini Kaylila harus kembali lagi dengan menyandang label sebagai “Calon Menantu”.
Tangan kaylila semakin terasa dingin. Nosa yang mengetahui itu hanya dapat tersenyum.
Nosa memarkirkan mobil tepat di depan pintu masuk, kemudian datanglah seorang bapak paruh baya mendekati mereka.
"Ayo turun, itu Pak Abdi. Penjaga dirumah ini.”
Nosa segera turun dari mobil. Kaylila masih tetap duduk dengan masih meremas tangannya sendiri. Nosa menyerahkan kunci mobil kepada Pak Abdi.
Pak Abdi membungkukkan kepalanya, Nosa menganggukkan kepalanya. Nosa memutar membukakan pintu untuk Kaylila.
Kaylila tak sanggup menyembunyikan rasa nervousnya. Nosa mengulurkan tangannya, kemudian Kaylila menyambutnya.
Kaylila pun akhirnya turun dari kendaraan sambil memegang jemari tangan Nosa. Nosa tersenyum merasakan jemari tangan gadis ini yang terasa dingin.
Belum sampai pintu masuk, terdengar suara riuh anak-anak kecil di taman tempat dimana semalam diadakan acara garden party untuk jamuan makan malam.
Tiba-tiba tiga orang anak kecil berwajah sama berlari mendekat sambil berteriak, “Papa Nosaaaaaaa…” teriak mereka bertiga berbarengan.
Kaylila segera melepaskan pegangan tangannya pada Nosa.
"Pasti ini si kembar tiga anak dari adik Mas Nosa yang paling bungsu," kata Kaylila dalam hati.
Ketiga anak laki laki kembar itu berebut berhambur kepelukan Nosa. Nosa sedikit kewalahan.
Nosa membungkuk, menyambut tangan mereka yang menyalaminya satu-persatu. Mereka bertiga lucu-lucu.
“Papa Nosa kok ga pernah main kerumah? Mas kangen lho. Tempo hari Papa janji kan mau ngajak kita main tembak-tembakan?” tanya salah satu dari mereka.
Kaylila tidak mampu membedakan mereka bertiga. Mereka kembar identic.
"Iya, papa masih repot. Nanti kalau sudah tidak repot pasti datang deh ngajakin kalian main tembak-tembakan," jawab Nosa dengan senyum manisnya.
"Tante ini siapa, Papa? Pacar Papa, ya?” tiba-tiba salah satunya lagi nyeletuk, membuat Nosa berdehem menghilangkan keterkejutannya.
“Oh Ya. Papa mau ngenalin Tante kaylila. Ayo, salaman dulu. Ada tamu tangan dianggurin," kata Nosa.
Dengan patuhnya mereka bertiga berebutan menyalami Kaylila. Kemudian dari arah dalam tampak seorang wanita yang kira-kira seumuran Kaylila datang setengah berlari kearah kami.
"Atma, Nata, Wangsa, Papa Nosa masih capek. Disuruh masuk dulu dong.”
Ternyata dia Nicken, adik bungsu Mas Nosa. Dengan patuhnya mereka bertiga menarik tangan Nosa mengajak masuk kedalam.
Tapi salah satu diantara mereka menarik tangan Kaylila, dan mengajak Kaylila masuk. Kaylila tersenyum padanya.
“Wah ada tamu?” tanya Nicken dengan bola mata membesar.
Tampak sekali bahwa dia penasaran dengan Kaylila.
“Kenalan dulu sana," kata Nosa dengan memberikan isyarat mata kearah Kaylila.
"Halo mbak, apa kabarnya? Nama saya Nicken," kata Nicken memperkenalkan diri pada Kaylila.
"Saya Kaylila. Mas Nosa bercerita banyak tentang mbak Nicken," jawab Kaylila.
Ternyata di dalam telah menunggu keluarga besar Nosa yang sedang duduk di ruang keluarga. Mereka tersenyum pada Kaylila.
Kemudian Nicken memperkenalkan satu persatu anggota keluarga itu. Kaylila merasa kikuk, namun kemudian Nicken menarik tangannya untuk mendekati Bu Sasongko. Kaylila menyalami Bu Sasongko dan Pak Sasongko.
“Siapa yang dapat menduga kalau akhirnya kita dapat bertemu lagi. Bukankah begitu, Mbak Kaylila?” tanya Bu Sasongko.
Kaylila menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia setuju. Karena keluarga besar yang notabene baru dikenal oleh Kaylila, dan Nosa satu-satunya anak yang belum menikah membuat Kaylila menjadi pusat perhatian mereka.
Kehangatan keluarga itu membuat akhirnya ketegangan yang semula dirasakan Kaylila berangsung hilang.
Suara adzan maghrib berkumandang. Semua bersiap-siap sholat berjamaah, tanpa terkecuali. Kaylila diberikan mukena oleh Nicken sembari mengajak Kaylila menuju mushola yang berada di samping taman.
Semua yang hadir memenuhi mushola yang tidak terlalu besar itu namun cukup menampung keluarga besar Pak Sasongko.
Mas Arman kebetulan menjadi Imamnya. Tampaknya mereka selalu kompak. Mereka tertawa bersama.
Meskipun sesekali terdengar suara tangisan anak-anak, yang berebut mainan. Selesai sholat berjamaah, semua didaulat berkumpul di taman untuk santap malam bersama. Meja panjang telah disediakan beserta kursi-kursinya untuk setiap anggota keluarga.
Kaylila ragu akan duduk di mana, kemudian Nosa datang menarik tangannya dan menempatkannya duduk persis di samping kirinya.
Suasana makan malam itu sangat ramai dengan riuh rendah dan keseruan keluarga besar Nosa. Ditambah lagi dengan anak-anak kecil yang memeriahkan suasana.
Mereka santap malam sambil sesekali menceritakan kejadian lucu yang mengundang tawa. Tampak bahwa Mas Arya sebagai anak kedua memiliki sense of humor. Tidak ada ceritanya yang tidak menarik gelak tawa.
Kaylila yang semula merasa seolah-olah berada di dunia lain kini merasakan hal yang berbeda. Lagi lagi Kaylila merasakan kehangatan disana.
Kaylila mengamati mereka satu persatu yang akan segera menjadi keluarganya nanti setelah dia dan Nosa menikah.
Nosa yang memperhatikan Kaylila sedari tadi, kemudian memegang erat tangan Kaylila. Kaylila yang terkejut dengan perlakuan Nosa segera menatap sosok Nosa disampingnya.
Kemudian secara tiba-tiba Nosa berdiri, mendentingkan sebuah cangkir dengan menggunakan sendok. Seluruh perhatian berpusat pada Nosa. Jantung Kaylila berdebar-debar.
“Mohon perhatiannya untuk semuanya. Hari ini, saya ingin menyampaikan berita gembira. Bahwa saya akan segera menikahi Kaylila. Semakin cepat semakin baik. Jadi untuk mama, papa, mas Arman, mas Arya dan yang lainnya, hentikanlah mengatur kencan buta untuk saya. Dan berhentilah mencarikan saya calon istri. Insyaallah kami akan segera meresmikan pernikahan kami setelah saya dapat bertemu secara langsung dengan kedua orangtua Kaylila yang baru dapat saya hubungi via telepon. Mama, papa, tolong berikan restu kalian pada kami. Mohon doanya juga semoga mama dan papa Kaylila merestui hubungan kami. Terima kasih.” Nosa mengucapkan kata-katanya dengan mantap.
Suara tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan. Pak Sasongko dan Bu Sasongko tersenyum penuh kebahagiaan mendengar berita baik yang disampaikan oleh Nosa.
Karena pada akhirnya Nosa telah menemukan tambatan hatinya. Pak Sasongko kemudian berdiri memberikan tepuk tangan yang kencang untuk kebahagiaan itu.
“Mbak Kaylila dan anakku Nosa, Papa doakan semoga apa yang menjadi niat baik kalian diberkati Allah SWT. Papa dan mama merestui kalian. Jangan lupa untuk menceritakan kepada papa atau mama apabila kalian mengalami kendala dalam mempersiapkan segala sesuatunya. Mas-mas, mbak-mbak dan adik-adikmu ikut mendukung secara langsung untuk masa depan kalian.” Pak Sasongko tersenyum lagi sambil memberikan tepuk tangan untuk kesekian kalinya disambut oleh anggota keluarga lainnya.
Selesai santap malam bersama, Nosa meninggalkan Kaylila bersama Bu Sasongko, Nicken, Ajeng, Mbak Ambar dan mbak Hanum di ruang tengah. Sementara Nosa berkumpul dengan Pak Sasongko, mas Arman, Mas Arya, Ronal dan Aryo di pendopo taman.
“Mbak Kaylila, mama senang sekali mendengar kabar baik ini. Rasanya mama bersyukur sekali karena akhirnya Nosa bisa menemukan tambatan hatinya. Mama minta tolong, supaya Mbak Kaylila bisa sabar menghadapi sikap Nosa yang terkadang keras kepala. Dia tipe orang yang perfeksionis, ga mudah percaya sama orang lain. Tapi percayalah, dia bukan laki-laki yang tidak bisa dipegang omongannya. Dia sangat konsisten dengan omongannya. Dan mbak Kaylila tahu sendiri kan, dia sangat menyayangi keponakannya," kata Bu Sasongko sambil tersenyum.
“Beneran deh, Ma. Nicken juga kaget waktu tadi padi Mas Nosa datang dengan mbak Kaylila. Rasanya kaya mimpi apa gitu semalam. Kami ikut senang dengan kebahagiaan kalian mbak. Ngomong-ngomong kok bisa ya, baru ketemu dua hari langsung ngajak nikah. Kadang mas Nosa itu agak nekat juga lho mbak. Beneran ini.”
Nicken menceritakan tentang Nosa sambil menggebu-gebu. Tapi dia tidak menceritakan tentang pakaian yang diminta Nosa untuk dipakai Kaylila pagi tadi.
Ajeng yang pendiam dan tak banyak bicara tiba-tiba juga menyahuti obrolan kami.
“Saya malah berpikir Mas Nosa ga bakal nikah sampe tua lho, Mbak. Jadi waktu mbak datang, rasanya kok bahagia sekali. Bersyukur rasanya mendengar berita bagus ini. Saya titip Mas Nosa, ya Mbak. Dia sangat penyayang sebenarnya meskipun dengan pembawaannya yang super cuek," ungkap Ajeng.
Kaylila menanggapi perkataan mereka sambil menganggukkan kepala dan tersenyum. Ada kebahagiaan bergulir didalam hatinya.
“Mungkinkah begini rasanya apabila kita akan segera menikah? Tapi, apakah aku layak merasakan bahagia sementara pernikahanku dan Mas Nosa hanyalah sebuah formalitas saja?” batin Kaylila berbisik.
***
