Bab 5
Hujan turun semalaman, keesokan harinya langit cerah, tetapi kasur di dalam kamar sudah basah kuyup.
Tong’er sedang menjemur kasur, sementara Jiang Li duduk di dalam rumah. Di atas meja ada setumpuk alas sepatu. Itu adalah pekerjaan yang harus ia lakukan setiap hari—menjahit lima puluh alas sepatu, baru bisa ditukar dengan satu untai uang kepeng.
Uang itu sendiri tidak banyak gunanya di gunung, Tong’er juga tidak bisa turun gunung. Hanya bisa menunggu sampai pedagang keliling naik ke atas, lalu membeli sedikit kue gula untuk dimakan.
Itulah satu-satunya kemewahan Jiang Li dan Tong’er.
Dari jendela, Jiang Li bisa melihat Tong’er berdiri di atas bangku menjemur kasur. Tak jauh dari sana, ada biksuni yang berbusana abu-abu melintas tanpa melirik sedikit pun ke arah mereka.
Mereka tidak bisa menyuruh-nyuruh para biksuni itu. Waktu itu, Jiang Li dihukum dan dikirim ke sini karena kesalahannya sendiri, hanya membawa Tong’er seorang diri. Tong’er adalah pelayan yang dipilihkan oleh Ye Zhenzhen untuk mendampingi Jiang Li, dan gadis pelayan ini memang selalu setia di sisinya.
Gadis kecil itu masih punya sifat keras kepala. Menatap punggung dua biksuni yang pergi menjauh, ia meludah sambil mengumpat, “Ayam betina tanpa bulu!”
Jiang Li tahu itu karena pagi tadi Tong’er ditolak saat meminta kasur kering, hatinya kesal, makanya memaki begitu.
Jiang Li tidak kuasa menahan senyum.
Bagaimana sifat majikannya, begitu pula tabiat pelayannya. Tong’er sudah berada di sini delapan tahun, tetap saja wataknya keras. Barangkali dulu Nona Kedua Jiang memiliki sifat yang lebih berapi-api. Pantas saja, kalau tidak keras kepala, Nona Kedua Jiang juga takkan sampai nekat bunuh diri.
Tetapi… dengan sifat sekeras itu, saat dituduh membuat ibu tirinya keguguran, apakah akan membela diri?
Jiang Li teringat cerita yang didapat dari mulut Tong’er, konon Nona Kedua Jiang sampai mati pun tidak mengakui tuduhan mencelakai ibu tirinya. Menurut Jiang Li, jika memang benar ia yang melakukannya, mestinya ia akan mengaku dengan lantang, bukannya menyangkal.
Namun sekarang semua itu tidak lagi penting.
Tong’er selesai menjemur kasur, kembali duduk di sisi Jiang Li. Sejak beberapa hari ini, ia tidak pernah berani jauh-jauh, takut dirinya lengah lalu Jiang Li kembali menceburkan diri ke danau.
Melihat Jiang Li melamun, ia pun mengambil alas sepatu dan mulai menjahit. Jiang Li menatap jari-jemari kecil itu yang penuh lubang bekas tusukan jarum, lalu merebut alas sepatu itu dan melemparkannya, berkata, “Sudahlah, jangan kerjakan lagi.”
“Eh?” Tong’er bingung. “Tapi tiga hari lagi pedagang keliling akan datang. Bukankah Nona ingin makan permen gula maltosa?”
Jiang Li menggeleng, lalu balik bertanya, “Apa kau mau seumur hidup duduk di sini, hanya menunggu sepotong gula maltosa setiap bulan?”
“Tentu saja tidak mau.” Tong’er menjawab. “Tapi sekarang kita juga tidak bisa keluar dari sini.”
Ia lalu menggerutu, “Dulu sudah pernah menulis surat ke Tuan, juga pernah menulis surat ke Nyonya Tua Ye di Xiangyang, tapi kenapa tidak pernah ada balasan? Jangan-jangan mereka sudah lupa pada kita.” Wajah mungil Tong’er muram.
Jiang Li hanya bisa menghela napas. Jangankan bicara soal mengirim surat, barangkali setiap gerak-gerik mereka di sini sudah ada yang mengawasi. Biasanya, anak perempuan bangsawan yang dihukum dan dikirim ke kuil keluarga akan tetap diperlakukan lumayan, karena keluarga asal pasti menitipkan uang agar dirawat dengan baik.
Tetapi di sini jelas-jelas mereka sengaja dipersulit. Bahkan ketika Jiang Li sakit, tabib pun tidak pernah dipanggil. Sudah pasti ini adalah siasat dari orang-orang di kota Yanjing.
Dan siapa dalangnya, tidak perlu ditebak lagi—tentu saja si ibu tiri itu.
Kalau memang benar Jiang Li yang menyebabkan Ji Shuran keguguran, Ji Shuran pasti takkan melepaskan Jiang Li. Tapi kalau Jiang Li memang tidak bersalah, maka Ji Shuran hanya membuat sandiwara itu, tujuannya juga adalah demi menyingkirkan Jiang Li.
Lebih-lebih sekarang pertunangan Jiang Li pun sudah direbut. Ia tidak punya apa-apa lagi. Hanya ada keluarga ibunya di Xiangyang yang sudah lama menutup pintu baginya. Putri sah yang ditelantarkan seperti ini, sekalipun mati di sini, tidak akan menimbulkan gelombang apa pun.
Tapi… mengapa Ji Shuran tidak langsung menghabisi Jiang Li?
Jiang Li tidak merasa itu karena Ji Shuran berhati lembut. Mungkin saja dirinya masih berguna bagi sang ibu tiri, atau mungkin juga bagi keluarga Jiang.
Bukankah hal semacam ini sering terjadi? Seorang putri dijadikan batu pijakan untuk pernikahan politik, demi membuka jalan bagi karier ayah dan saudara lelaki. Sama seperti Shen Yuyong. Bedanya, Shen Yuyong menjadikan dirinya sebagai alat pernikahan, sementara Xue Fangfei dijadikan batu sandungan.
Nona kedua keluarga Jiang membuat Xue Fangfei teringat pada dirinya sendiri. Sama-sama dirampas apa yang menjadi miliknya, sama-sama keluarga direbut oleh orang lain, sama-sama tidak mampu membela diri.
Tong’er menatap perubahan raut wajah Jiang Li yang kian muram, tubuhnya tak sadar merinding.
Entah mengapa, Tong’er merasa sejak Nona Kedua telah bangun, sang Nona menjadi agak aneh. Dulu Nona Kedua selalu blak-blakan, bicara sejujur isi hati, bahkan pernah berkelahi dengan para biksuni di biara perempuan ini, mudah tersulut emosi, mudah marah.
Tentu saja, itu sama sekali bukan salah Nona Kedua, melainkan salah semua orang jahat itu.
Namun, setelah siuman, Nona Kedua tidak pernah lagi marah. Ucapannya selalu lembut dan tenang, membuat orang tidak bisa menebak apa yang ia pikirkan. Ketika ia diam dan larut dalam pikirannya, Tong’er justru merasa takut.
Jari-jari Jiang Li menyapu alas sepatu yang baru saja selesai dijahit. Jahitannya rapat dan rapi. Meski Tong’er cerewet, keterampilannya dalam menjahit memang tidak bisa diremehkan.
Ia harus memikirkan cara untuk keluar dari sini.
Xue Fangfei di Yanjing seharusnya sudah mati. Tapi bagaimana Tuan Putri Yongning dan Shen Yurong, dua orang biadab itu, menutup kebohongan mereka, Xue Fangfei tidak tahu.
Xue Fangfei masih harus pergi melihat Xue Zhao, dan juga harus kembali ke Tongxiang di Xiangyang sekali lagi.
Xue Huaiyuan sudah meninggal, kedua anaknya juga sudah meninggal. Siapa yang akan mengurus jenazahnya?
Xue Fangfei bahkan belum sempat melihat Xue Huaiyuan untuk terakhir kali.
Ia harus pergi dari sini. Namun kini di Yanjing, di seluruh Dinasti Yan, tidak seorang pun lagi yang mengingat dirinya, Jiang Li. Seorang yang tidak diingat siapapun, tidak akan pernah ada yang bersedia membawanya pergi.
Kalau begitu, ia hanya bisa keluar dengan caranya sendiri.
Tidak ada yang mengingat, maka buatlah seluruh dunia mengingat. Itu pun bukan sesuatu yang sulit dilakukan.
Tiba-tiba Jiang Li tersenyum.
Tong’er terkejut melihatnya. Selama ini, Jiang Li tidak pernah tersenyum, kecuali senyum sinis atau getir. Tapi kali ini berbeda, senyum yang tulus, menyenangkan hati. Senyuman itu membuat wajah pucatnya yang layu seketika hidup, semerbak bagai bunga pagi.
“Tong’er,” Jiang Li bertanya pada pelayannya, “kau bilang ada pedagang keliling yang naik ke gunung?”
“Benar,” jawab Tong’er, “si pedagang keliling Zhang setiap tanggal sepuluh bulan kelima selalu datang siang hari ke sini. Kita sudah berjanji dengannya, kalau ada kue atau permen enak, dia harus mampir ke tempat kita dulu, biar kita yang pilih lebih dulu.”
Benar-benar gaya seorang pelayan dari rumah besar. Meski sudah jatuh miskin, meski hanya mampu mengeluarkan segenggam koin tembaga, cara bicaranya tetap penuh wibawa.
“Apakah dia membawa sangat banyak permen?” tanya Jiang Li.
“Banyak sekali,” jawab Tong’er. “Apakah Nona ingin makan permen?”
Jiang Li tersenyum tipis. “Iya, aku ingin.”
Terlalu pahit. Karena hidupnya terlalu pahit, maka ia begitu merindukan rasa manis dari madu. Permen itu bisa membuatnya merasakan manisnya, tapi juga bisa membuat sebagian orang lain merasa getir.
Tong’er pun bersorak riang. “Bagus kalau Nona ingin makan permen. Beberapa hari ini kita sudah mengumpulkan banyak koin tembaga. Bisa ditukar dengan beberapa keranjang permen! Nona mau makan berapa pun, pasti cukup!”
Jiang Li berkata, “Kau bilang, di dekat sini ada Kuil Helin, kan?”
Tong’er tertegun menatapnya. “Apakah Nona ingin pergi membakar dupa?”
“Tidak,” jawab Jiang Li. “Aku tidak percaya pada Buddha.”
Tong’er kebingungan.
Senyum Jiang Li semakin lembut saat ia berkata, “Apa yang perlu dipercaya dari Buddha?”
