Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 – Anak Panah di Tengah Eksekusi

Suara benturan logam menggema di seluruh Lapangan Kerajaan.

Trang!

Pedang algojo terpental beberapa langkah dari tangannya setelah dihantam anak panah yang melesat secepat kilat.

Semua orang membeku.

Tidak seorang pun menyangka akan ada yang berani mengganggu eksekusi seorang adipati yang telah diputus bersalah oleh Dewan Bangsawan.

"Kawal Duke Lucien!"

"Amankan panggung!"

Puluhan kesatria kerajaan langsung mencabut pedang dan membentuk barisan pelindung di depan Duke Lucien.

Sementara para pemanah mengangkat busur, mencari asal anak panah yang datang dari atap-atap bangunan di sekitar lapangan.

Namun sosok berpakaian hitam itu telah menghilang.

Seolah ditelan angin.

---

Di atas panggung eksekusi, algojo mundur dua langkah dengan wajah pucat.

"T-tuan..."

"Ada penyusup!"

Komandan penjaga menggeram.

"Cari dia!"

"Hidup ataupun mati!"

Ratusan prajurit segera berpencar memasuki gang-gang sempit di sekitar lapangan.

Di tengah kekacauan itu, Aurelia memanfaatkan kelengahan para penjaga.

Ia melepaskan diri dari pegangan seorang prajurit dan berlari menuju ayahnya.

"Ayah!"

Edmund mengangkat wajahnya.

"Aurelia!"

Gadis itu langsung memeluk ayahnya tanpa memedulikan rantai besi yang masih membelenggu kedua tangannya.

Air matanya jatuh tanpa henti.

"Ayah... maafkan aku..."

"Aku tidak bisa melakukan apa pun."

Edmund tersenyum lembut.

"Jangan berkata begitu."

"Kau sudah datang."

"Itu sudah lebih dari cukup."

Aurelia menggeleng kuat.

"Tidak."

"Aku akan membawa Ayah pergi dari sini."

Edmund menghela napas panjang.

"Mustahil."

"Seluruh lapangan dipenuhi prajurit."

"Tapi..."

Sebelum Aurelia sempat menyelesaikan ucapannya, Duke Lucien berjalan menaiki panggung.

Tongkatnya menghantam lantai kayu.

Tak!

Suasana kembali hening.

"Lady Aurelia."

"Apakah kau benar-benar ingin dianggap membantu seorang pengkhianat?"

Aurelia berdiri di depan ayahnya.

Tatapannya dipenuhi keberanian.

"Ayahku bukan pengkhianat."

Lucien tertawa kecil.

"Semua bukti telah ada."

"Bukti itu palsu."

"Berani sekali."

Lucien melangkah semakin dekat.

"Kau masih muda."

"Kelak kau akan belajar bahwa..."

"...kebenaran ditentukan oleh mereka yang memegang kekuasaan."

Kalimat itu membuat beberapa bangsawan saling berpandangan.

Bahkan sebagian rakyat mulai berbisik.

Mereka tidak menyangka Duke Lucien akan mengucapkan kata-kata seperti itu di depan umum.

Namun Lucien tidak peduli.

Baginya...

Tidak ada seorang pun yang cukup berani menentangnya.

---

Di balkon tertinggi istana...

Raja Adrian masih memperhatikan seluruh kejadian.

Kepala Pengawal Kerajaan berdiri di sampingnya.

"Yang Mulia."

"Apakah kita perlu menangkap penyusup itu?"

Adrian tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tertuju kepada Aurelia.

Seorang gadis yang kehilangan seluruh keluarganya...

Tetapi masih memiliki keberanian menatap Duke Lucien tanpa rasa takut.

"Selidiki."

"Siapa sebenarnya pemanah itu."

"Baik."

"Dan..."

Adrian kembali berbicara.

"Awasi gadis itu."

Kepala pengawal tampak bingung.

"Lady Aurelia?"

Adrian mengangguk pelan.

"Entah kenapa..."

"...aku merasa semua ini belum berakhir."

---

Sementara itu, di balik sebuah menara lonceng yang menghadap lapangan...

Sosok berpakaian hitam menarik napas perlahan.

Ia bukan pembunuh bayaran.

Bukan pula pemberontak.

Di balik topeng hitamnya tampak sepasang mata tajam yang terus mengawasi Duke Lucien.

"Seperti dugaanku..."

"Lucien benar-benar ingin menghabisi keluarga Valerian."

Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah cincin tua bergambar singa putih.

Lambang keluarga Valerian.

Ia mengepalkannya erat.

"Yang Mulia Adipati..."

"Saya terlambat."

---

Di panggung eksekusi, Duke Lucien mulai kehilangan kesabaran.

"Komandan."

"Lanjutkan eksekusi."

Komandan tampak ragu.

"Tapi penyusup belum ditemukan."

Lucien menatapnya dingin.

"Aku yang bertanggung jawab."

"Segera laksanakan."

Algojo kembali mengambil pedangnya.

Aurelia memeluk ayahnya semakin erat.

"Tidak!"

"Tolong..."

"Jangan..."

Edmund menepuk bahu putrinya perlahan.

"Aurelia."

"Dengarkan Ayah."

"Apa pun yang terjadi..."

"...tetaplah hidup."

"Ayah..."

"Janji padaku."

Aurelia tidak mampu menjawab.

Tangisnya semakin keras.

Di bawah panggung, Sir Gavin mengepalkan tangan.

Sebagai seorang kesatria, ia wajib mematuhi perintah.

Namun sebagai manusia...

Hatinya memberontak.

Ia tahu Adipati Edmund adalah pahlawan.

Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Tetapi siapa yang berani menentang Duke Lucien?

Tepat ketika algojo kembali mengangkat pedangnya...

Terdengar suara lonceng istana berdentang keras.

Dong!

Dong!

Dong!

Seluruh prajurit spontan berlutut.

Duke Lucien menoleh ke arah gerbang utama istana.

Wajahnya yang selama ini tenang akhirnya berubah.

Karena di kejauhan...

Terlihat iring-iringan kereta kerajaan berlapis emas keluar dari gerbang istana.

Di depan kereta berkibar panji naga hitam berlatar emas.

Lambang yang hanya digunakan ketika...

Raja sendiri turun tangan.

Dentang lonceng istana masih menggema ketika iring-iringan kereta kerajaan berhenti di depan Lapangan Kerajaan.

Empat kuda putih berbaju zirah emas menarik kereta berhias ukiran naga hitam—lambang keluarga kerajaan Asteria. Di belakangnya, puluhan Pengawal Istana berbaris rapi dengan tombak terangkat.

Seluruh rakyat spontan berlutut.

"Hidup Yang Mulia Raja!"

Suara itu bergema dari segala penjuru.

Aurelia yang masih berada di atas panggung mengangkat kepalanya. Di balik air mata yang membasahi wajahnya, ia melihat pintu kereta perlahan terbuka.

Seorang pria tinggi turun dengan langkah tenang.

Jubah hitam berlapis benang emas menjuntai hingga menyapu lantai batu. Sebilah pedang panjang tergantung di pinggang kirinya.

Wajahnya tampan, tetapi dingin.

Tatapan matanya tajam hingga membuat para bangsawan yang hadir menundukkan kepala.

Dialah Raja Adrian Alistair.

Begitu Adrian melangkah ke tengah lapangan, suasana yang semula gaduh berubah sunyi.

Tak seorang pun berani mengeluarkan suara.

Bahkan Duke Lucien ikut membungkukkan badan.

"Salam hormat kepada Yang Mulia."

Adrian hanya mengangguk tipis.

Tatapannya langsung tertuju kepada Edmund Valerian yang masih berlutut di atas panggung.

Kemudian beralih kepada Aurelia yang berdiri di samping ayahnya dengan mata sembab.

Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu.

Kesedihan.

Keberanian.

Dan tekad yang tak biasa.

---

"Kenapa eksekusi belum selesai?" tanya Adrian datar.

Duke Lucien maju selangkah.

"Yang Mulia, terjadi gangguan kecil. Seorang pemanah misterius menghalangi algojo."

Adrian menoleh ke arah pedang algojo yang masih tergeletak beberapa langkah dari panggung.

"Gangguan kecil?"

Suara Adrian tetap tenang.

Namun semua orang dapat merasakan tekanan yang keluar dari setiap katanya.

"Keamanan ibu kota berhasil ditembus."

"Dan kau menyebutnya gangguan kecil?"

Lucien terdiam sejenak.

"Kesalahan itu akan segera kami perbaiki."

Adrian tidak menjawab.

Ia menaiki tangga menuju panggung eksekusi.

Langkahnya pelan, tetapi setiap langkah terasa begitu berat hingga membuat para prajurit menahan napas.

Sesampainya di depan Edmund, Adrian berhenti.

"Kita pernah bertempur bersama."

Edmund mengangkat wajah.

"Benar, Yang Mulia."

"Dua belas tahun lalu."

Saat itu Adrian masih menjadi pangeran.

Mereka pernah memimpin pasukan melawan invasi Kerajaan Norvia di perbatasan utara.

Edmund bahkan pernah melindungi Adrian dari hujan anak panah musuh.

"Aku masih mengingatnya."

Suara Adrian terdengar pelan.

"Lalu sekarang..."

"...kau dituduh mengkhianati kerajaan."

Edmund tersenyum pahit.

"Kesetiaanku tetap sama seperti hari ketika aku mempertaruhkan nyawa demi keluarga kerajaan."

"Sayangnya..."

"...kesetiaan tidak selalu mampu mengalahkan ambisi manusia."

Ucapan itu membuat beberapa bangsawan saling berpandangan.

Duke Lucien segera menyela.

"Yang Mulia."

"Pengadilan telah memutuskan."

"Bukti-bukti telah diperiksa."

Adrian menoleh kepadanya.

"Apakah kau yang memeriksanya sendiri?"

Lucien tidak langsung menjawab.

"Dewan Bangsawan melakukannya."

"Jadi bukan kau."

Suasana kembali hening.

Aurelia memperhatikan semua itu dengan jantung berdebar.

Untuk pertama kalinya sejak keluarganya ditangkap, ia melihat seseorang yang berani mempertanyakan keputusan Duke Lucien.

Namun harapan itu belum cukup.

Karena keputusan terakhir tetap berada di tangan raja.

---

Adrian melangkah mendekati Aurelia.

Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.

"Apa namamu?"

"Aurelia Valerian... Yang Mulia."

Suara gadis itu masih bergetar.

"Kau percaya ayahmu tidak bersalah?"

Aurelia mengangkat kepala.

Tatapannya bertemu langsung dengan mata sang raja.

"Ya."

"Tidak..."

"Aku tidak percaya."

"Aku yakin."

Karena jawaban itu begitu tegas, Adrian sedikit mengangkat alisnya.

"Kenapa?"

"Karena aku mengenal ayahku."

"Beliau mengajarkanku bahwa kehormatan seorang bangsawan lebih berharga daripada nyawanya sendiri."

"Orang seperti beliau tidak akan pernah mengkhianati kerajaan."

Suara Aurelia terdengar jelas di seluruh lapangan.

Banyak rakyat mulai mengangguk pelan.

Sebagian dari mereka pernah melihat sendiri bagaimana Edmund memimpin perang demi melindungi negeri.

Keraguan mulai tumbuh di hati mereka.

---

Duke Lucien menyadari perubahan suasana itu.

Ia segera berkata lantang,

"Yang Mulia."

"Belas kasihan tidak boleh mengalahkan hukum."

"Jika hukuman tidak segera dilaksanakan, wibawa kerajaan akan runtuh."

Adrian menatap Lucien cukup lama.

Kemudian ia berkata,

"Benar."

Lucien tersenyum tipis.

Namun senyum itu langsung menghilang ketika Adrian melanjutkan ucapannya.

"Karena itu..."

"...aku akan memeriksa sendiri seluruh bukti sebelum hukuman dijalankan."

Mata Lucien membelalak sesaat.

"Yang Mulia..."

"Itu tidak perlu."

"Itu perintah."

Suara Adrian berubah dingin.

Tak seorang pun berani membantah lagi.

"Eksekusi ditunda selama tiga hari."

"Selama waktu itu, tidak seorang pun boleh menyentuh Adipati Edmund Valerian."

"Jika ada yang melanggar..."

"...ia dianggap melawan titah raja."

Seluruh lapangan kembali gempar.

Aurelia menutup mulutnya.

Air mata syukur mengalir tanpa bisa ditahan.

Ayahnya...

Masih hidup.

Meski hanya tiga hari.

Itu berarti masih ada kesempatan menemukan kebenaran.

Namun di balik kerumunan rakyat, sosok pemanah misterius yang tadi melepaskan anak panah memperhatikan semuanya dari balik atap.

Ia tersenyum tipis.

"Tiga hari..."

"Itu sudah cukup."

"Karena malam ini..."

"...aku akan mencuri sesuatu dari ruang rahasia Duke Lucien."

Di sisi lain, Duke Lucien menggenggam tongkatnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Dalam hatinya hanya ada satu pikiran.

"Jika Edmund tetap hidup... seluruh rencanaku bisa hancur."

Tatapannya perlahan beralih kepada Aurelia.

Sorot matanya dipenuhi niat membunuh.

Ia berbisik sangat pelan hingga tak seorang pun mendengarnya.

"Kalau begitu..."

"...putrinya yang akan mati lebih dulu."
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel