Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 – Bayangan di Balik Mahkota

Langit di atas ibu kota Asteria mulai berubah jingga ketika Lapangan Kerajaan perlahan kembali sepi.

Rakyat yang sejak pagi memenuhi tempat eksekusi berjalan pulang sambil terus membicarakan keputusan Raja Adrian.

Belum pernah sebelumnya seorang raja menunda hukuman mati yang telah diputuskan Dewan Bangsawan.

Kabar itu menyebar ke seluruh penjuru kota hanya dalam hitungan jam.

Di pasar.

Di penginapan.

Di rumah-rumah bangsawan.

Semua orang membicarakan satu nama.

Adipati Edmund Valerian.

Namun bagi Aurelia, penundaan itu bukanlah akhir dari penderitaan.

Melainkan awal dari perjuangan yang jauh lebih berat.

---

Dua orang penjaga membawa Edmund menuju ruang tahanan bawah tanah yang berada tepat di bawah Istana Kerajaan.

Lorong menuju penjara itu gelap dan lembap.

Dinding batu dipenuhi lumut.

Suara tetesan air terdengar di setiap sudut.

Meski kedua tangannya dirantai, Edmund berjalan dengan kepala tegak.

Seorang penjaga muda menatapnya penuh hormat.

"Maafkan kami, Yang Mulia Adipati."

Edmund hanya tersenyum tipis.

"Jangan meminta maaf."

"Kalian hanya menjalankan tugas."

Tak jauh di belakang rombongan itu, Aurelia ikut digiring oleh dua penjaga wanita.

Ia terus menoleh ke arah ayahnya.

Setidaknya...

Ia masih bisa melihat ayahnya hidup.

Itu sudah cukup untuk memberinya harapan.

Namun ketika rombongan tiba di persimpangan lorong, jalan mereka dipisahkan.

Edmund dibawa ke sel tahanan khusus.

Sedangkan Aurelia diarahkan menuju bangunan lain.

"Tunggu!"

"Ayah!"

Edmund berhenti dan menoleh.

Tatapan ayah dan anak itu kembali bertemu.

"Jangan takut."

Suara Edmund tetap tenang.

"Percayalah..."

"Kebenaran akan menemukan jalannya."

Pintu besi kemudian ditutup perlahan.

Brak!

Suara itu terasa seperti memutus hubungan mereka.

Aurelia menggigit bibirnya hingga hampir berdarah.

Dalam hati ia bersumpah.

Apa pun yang terjadi...

Ia akan membuktikan bahwa ayahnya tidak bersalah.

---

Di saat yang sama...

Di ruang pertemuan Dewan Bangsawan.

Suasana jauh berbeda.

Ruangan luas itu dipenuhi meja bundar dari kayu hitam.

Di sekelilingnya duduk delapan bangsawan paling berpengaruh di Asteria.

Tak seorang pun berbicara.

Semua menunggu Duke Lucien.

Beberapa saat kemudian pintu terbuka.

Lucien masuk dengan langkah tenang.

Namun siapa pun dapat melihat wajahnya jauh lebih dingin daripada biasanya.

"Yang Mulia Duke."

Seorang bangsawan tua berdiri.

"Kenapa Raja ikut campur?"

Lucien melepaskan jubahnya.

"Karena seseorang membisikkan keraguan ke telinganya."

"Apakah itu berbahaya?"

Lucien tidak langsung menjawab.

Ia mengambil peta kerajaan yang tergantung di dinding.

Tatapannya berhenti di wilayah utara.

Wilayah Valerian.

"Kita telah menghabiskan dua puluh tahun membangun semua ini."

"Hanya tiga hari..."

"...dan semuanya bisa runtuh."

Ruangan kembali sunyi.

Lalu seorang pria berambut pirang berkata pelan.

"Kalau begitu..."

"...kenapa tidak bunuh saja putri Valerian?"

Lucien tersenyum.

"Itulah rencananya."

Namun senyum itu perlahan memudar.

"Tetapi..."

"Jangan lakukan di dalam istana."

"Raja sedang memperhatikannya."

"Pastikan kematiannya terlihat seperti kecelakaan."

Semua orang mengangguk.

Tak seorang pun membantah.

Seolah membunuh seorang gadis muda hanyalah bagian kecil dari permainan politik.

---

Sementara itu...

Di sebuah ruangan sederhana dekat taman belakang istana.

Aurelia duduk sendirian.

Tangannya tidak lagi dirantai.

Namun pintu ruangan dijaga empat kesatria.

Ia belum dianggap tahanan biasa.

Tetapi juga belum dibebaskan.

Di atas meja tersedia makanan.

Sup hangat.

Roti.

Dan teh.

Namun ia sama sekali tidak berselera.

Pikirannya dipenuhi wajah ayah dan ibunya.

"Bagaimana keadaan Ibu?"

"Apakah beliau mengetahui Ayah masih hidup?"

"Apakah Kastel Valerian sudah benar-benar disita?"

Semakin dipikirkan, dadanya semakin sesak.

Air mata kembali mengalir.

Tiba-tiba...

Tok... tok...

Seseorang mengetuk pintu.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Yang masuk ternyata Sir Gavin.

Kesatria muda itu membawa sebuah nampan kayu.

"Lady Aurelia."

"Saya membawa obat."

Aurelia mengangkat kepala.

"Terima kasih."

Gavin meletakkan nampan di atas meja.

Kemudian memastikan tidak ada penjaga yang memperhatikan.

Dengan suara pelan ia berkata,

"Saya berhasil mengirim seseorang ke Kastel Valerian."

Jantung Aurelia langsung berdegup.

"Ibuku?"

Gavin menggeleng pelan.

"Saya belum menerima kabar."

"Tetapi..."

"Sebelum kastel disegel..."

"...ada seorang pelayan tua yang berhasil melarikan diri."

Aurelia berdiri.

"Siapa?"

"Namanya Harold."

Mata Aurelia langsung melebar.

Harold.

Kepala pelayan keluarga Valerian.

Orang yang telah mengabdi sejak masa kakeknya masih hidup.

"Dia menitipkan pesan."

"Apa pesannya?"

Gavin menatap sekeliling.

Lalu berbisik sangat pelan.

"Jangan pernah membuka liontin itu di depan siapa pun..."

"...karena seseorang di dalam istana sedang mencarinya."

Aurelia tanpa sadar menggenggam liontin yang tersembunyi di balik pakaiannya.

Belum sempat ia bertanya lebih jauh...

Terdengar suara langkah kaki mendekat.

Gavin segera mengambil sikap hormat.

Pintu terbuka.

Seorang pria berpakaian hitam memasuki ruangan.

Semua penjaga langsung berlutut.

"Salam hormat, Yang Mulia."

Aurelia perlahan mengangkat kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya...

Ia berdiri berhadapan langsung dengan Raja Adrian Alistair.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Sir Gavin dan para penjaga segera berlutut dengan kepala tertunduk.

"Salam hormat kepada Yang Mulia."

Raja Adrian melangkah masuk tanpa diiringi suara apa pun selain gesekan jubah hitamnya di atas lantai marmer.

Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Aurelia.

Gadis itu tetap berdiri.

Meski gugup, ia tidak berlutut.

Bukan karena ingin melawan.

Melainkan karena kedua kakinya terasa kaku.

Ia tidak pernah membayangkan akan bertemu langsung dengan raja dalam keadaan seperti ini.

Adrian memperhatikan wajah Aurelia selama beberapa saat.

Ia melihat bekas air mata yang belum mengering.

Pakaian sederhana yang dikenakannya masih dipenuhi debu dari lapangan eksekusi.

Sangat berbeda dengan para wanita bangsawan yang selalu tampil anggun di hadapannya.

Namun entah mengapa, justru kesederhanaan itu membuatnya tampak lebih tulus.

"Semua keluar."

Perintah Adrian singkat.

Sir Gavin dan para penjaga saling berpandangan.

"Yang Mulia..."

"Aku ingin berbicara dengannya berdua."

Mereka segera memberi hormat dan meninggalkan ruangan.

Pintu kayu besar tertutup perlahan.

Kini hanya tersisa Adrian dan Aurelia.

---

Aurelia menundukkan kepala.

"Terima kasih telah menunda eksekusi ayah saya."

Suaranya lirih.

Adrian berjalan mendekati jendela.

"Aku belum menyelamatkannya."

"Hanya memberinya waktu."

Aurelia mengangguk.

"Itu sudah lebih dari cukup."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Adrian akhirnya menoleh.

"Katakan yang sebenarnya."

"Apa menurutmu ayahmu dijebak?"

Aurelia mengangkat wajah.

"Ya."

"Kau yakin?"

"Sangat yakin."

"Apa dasarnya?"

Aurelia menarik napas panjang.

"Lima hari sebelum dipanggil ke ibu kota..."

"Ayah mengatakan kerajaan sedang berubah."

"Banyak orang lebih mencintai kekuasaan daripada rakyat."

"Beliau juga memberiku liontin peninggalan keluarga."

Adrian sedikit mengernyit.

"Liontin?"

Aurelia hampir saja menyebutkan benda itu masih berada di tangannya.

Namun ia teringat pesan Harold dan Edmund.

Jangan percaya siapa pun di istana.

Ia segera menggeleng.

"Maksudku... sebuah kenang-kenangan."

Tatapan Adrian tetap tenang.

Namun dalam hati ia sadar.

Gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu.

Meski begitu, ia tidak memaksanya.

---

Di sisi lain istana...

Duke Lucien menerima laporan dari salah seorang mata-matanya.

"Yang Mulia."

"Raja sedang berbicara dengan Aurelia."

Lucien mengepalkan tangan.

"Berdua?"

"Ya."

Tatapan Lucien berubah tajam.

"Kalau begitu..."

"...kita tidak punya banyak waktu."

Ia membuka sebuah laci rahasia.

Di dalamnya terdapat beberapa gulungan dokumen tua.

Salah satunya memuat lambang keluarga kerajaan.

Di sudut dokumen itu tergambar simbol yang sama persis dengan ukiran pada liontin milik keluarga Valerian.

Lucien tersenyum dingin.

"Akhirnya..."

"Liontin itu akan kembali."

---

Kembali ke ruang tamu kecil.

Adrian duduk di kursi yang berhadapan dengan Aurelia.

"Aku memiliki satu pertanyaan lagi."

"Silakan, Yang Mulia."

"Jika ayahmu benar-benar dibebaskan..."

"...apa yang akan kau lakukan?"

Aurelia terdiam cukup lama.

Kemudian ia menjawab dengan suara mantap.

"Kami akan kembali ke wilayah utara."

"Melayani kerajaan seperti sebelumnya."

"Bukan membalas dendam?"

Aurelia menggeleng.

"Balas dendam hanya akan melahirkan dendam baru."

"Aku hanya ingin nama keluargaku dipulihkan."

Jawaban itu membuat Adrian terdiam.

Selama bertahun-tahun ia bertemu banyak bangsawan.

Sebagian besar hanya mengejar kekuasaan.

Namun gadis di hadapannya justru menginginkan kehormatan keluarganya kembali.

Untuk pertama kalinya...

Adrian mulai percaya bahwa Edmund mungkin benar-benar tidak bersalah.

---

Saat Adrian hendak berdiri...

Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari luar.

Brak!

Kemudian disusul teriakan para penjaga.

"Penyusup!"

"Penyusup memasuki taman belakang!"

Adrian langsung mencabut pedangnya.

Pintu ruangan terbuka.

Sir Gavin berlari masuk.

"Yang Mulia!"

"Seseorang berhasil menyusup ke dalam istana!"

"Ke arah mana?"

"Menuju Arsip Kerajaan."

Mata Adrian langsung berubah tajam.

Arsip Kerajaan menyimpan seluruh catatan keluarga bangsawan selama ratusan tahun.

Jika seseorang nekat menyusup ke sana...

Berarti targetnya bukan harta.

Melainkan...

Rahasia.

Adrian menoleh kepada Aurelia.

"Tetap di sini."

Namun sebelum ia melangkah keluar...

Seorang penjaga lain datang dengan wajah pucat.

"Yang Mulia!"

"Bukan hanya Arsip Kerajaan..."

"...sel tahanan Adipati Edmund Valerian juga diserang!"

Wajah Aurelia seketika memucat.

"Ayah...!"

Adrian menggenggam gagang pedangnya semakin erat.

Ia sadar.

Semua kekacauan hari ini bukanlah kebetulan.

Seseorang sedang menjalankan rencana besar di dalam istana.

Dan target utamanya...

Bukan hanya Edmund Valerian.

Melainkan seluruh rahasia yang terkubur bersama keluarga Valerian.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel