Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 – Hari Eksekusi

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika kereta tahanan yang membawa Aurelia meninggalkan Kastel Valerian.

Hujan yang mengguyur semalaman telah berubah menjadi gerimis tipis. Kabut putih menyelimuti jalan berbatu menuju ibu kota, membuat pemandangan di depan tampak samar.

Di dalam kereta, kedua tangan Aurelia dibelenggu rantai besi.

Gaun biru yang biasa dikenakannya sebagai putri bangsawan telah diganti dengan pakaian sederhana berwarna abu-abu. Rambut panjangnya yang dahulu selalu dirawat para dayang kini berantakan akibat hujan dan perjalanan semalam.

Namun ia tidak memedulikan semua itu.

Pikirannya hanya dipenuhi satu hal.

Ayah.

Semalaman ia tidak dapat memejamkan mata. Setiap kali mengingat ucapan Duke Lucien bahwa ayahnya akan dihukum mati pagi ini, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.

"Tidak..."

"Ayah pasti belum dihukum."

"Aku harus menemuinya."

Aurelia mengepalkan tangan hingga rantai besi di pergelangan tangannya berbunyi pelan.

Di sudut kereta, seorang prajurit muda diam-diam memperhatikan gadis itu.

Ia bernama Sir Gavin, seorang kesatria kerajaan yang baru dua tahun bergabung dengan Pengawal Istana.

Berbeda dengan prajurit lain yang memandang rendah keluarga Valerian, Gavin justru mengenal nama Adipati Edmund sejak kecil.

Ayahnya pernah menjadi prajurit di bawah komando Edmund.

Bahkan nyawanya terselamatkan berkat sang adipati.

Karena itu, melihat putri sang adipati diperlakukan seperti tahanan membuat hatinya terasa berat.

"Lady Aurelia..."

Suara Gavin terdengar lirih.

Aurelia mengangkat kepala.

"Apa?"

Gavin memastikan prajurit lain tidak memperhatikan mereka.

"Saya mendengar... eksekusi akan dilakukan sebelum matahari berada tepat di atas kepala."

Jantung Aurelia berdegup kencang.

"Masih ada waktu?"

Gavin mengangguk pelan.

"Tapi saya tidak bisa membantu lebih jauh."

"Maafkan saya."

Aurelia menarik napas panjang.

"Terima kasih."

Setidaknya sekarang ia tahu ayahnya masih hidup.

Harapan sekecil apa pun masih tetaplah harapan.

---

Menjelang siang, rombongan akhirnya memasuki ibu kota Asteria.

Kota itu jauh lebih megah daripada wilayah utara.

Jalan-jalan lebar dipenuhi kereta bangsawan.

Gedung-gedung batu menjulang tinggi.

Air mancur besar berdiri di setiap persimpangan.

Namun hari itu suasananya berbeda.

Semua orang berjalan menuju satu tempat.

Lapangan Kerajaan.

Tempat hukuman mati dilaksanakan.

Penduduk berdesakan di sepanjang jalan.

"Katanya yang dihukum hari ini Adipati Valerian."

"Aku tidak percaya."

"Beliau pahlawan perang."

"Tapi Dewan Bangsawan tidak mungkin salah."

Bisikan demi bisikan memenuhi udara.

Sebagian percaya Edmund bersalah.

Sebagian lagi yakin ia dijebak.

Kereta tahanan berhenti di depan gerbang besi.

Aurelia segera turun.

Begitu melihat menara eksekusi di kejauhan, langkahnya terhenti.

Di atas panggung kayu...

Seorang pria berlutut dengan kedua tangan dirantai.

Pakaiannya penuh noda darah.

Namun punggungnya masih tegak.

Meski wajahnya dipenuhi luka...

Aurelia tetap mengenalinya.

"Ayah..."

Air mata langsung mengalir.

Edmund Valerian mengangkat kepala perlahan.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat, suara ribuan orang di lapangan seolah menghilang.

Yang tersisa hanyalah seorang ayah...

...dan putrinya.

Edmund tersenyum.

Senyum yang sama seperti ketika mengantar Aurelia belajar menunggang kuda bertahun-tahun lalu.

Tidak ada rasa takut.

Tidak ada penyesalan.

Hanya ketenangan.

"Ayah!"

Aurelia berusaha berlari.

Namun dua prajurit segera menahannya.

"Lepaskan aku!"

"Itu ayahku!"

"Ayah tidak bersalah!"

Teriakannya menggema di seluruh lapangan.

Sebagian rakyat mulai saling berpandangan.

"Lady Aurelia..."

"Itu putri Adipati."

"Kasihan sekali."

Di atas panggung, Edmund menggeleng pelan.

Jangan mendekat.

Sorot matanya seolah mengatakan demikian.

Aurelia semakin menangis.

"Tolong!"

"Ada yang tolong!"

"Tolong hentikan ini!"

Namun tak seorang pun bergerak.

Di kursi kehormatan, Duke Lucien duduk dengan tenang sambil menyeruput teh hangat.

Di sampingnya duduk beberapa anggota Dewan Bangsawan.

Mereka memandang eksekusi itu seolah hanya sebuah pertunjukan biasa.

Seorang algojo maju membawa gulungan keputusan kerajaan.

Dengan suara lantang ia membacakan isi hukuman.

"Adipati Edmund Valerian..."

"Terbukti melakukan pengkhianatan terhadap Kerajaan Asteria."

"Dijatuhi hukuman mati."

Setelah kalimat terakhir selesai dibacakan...

Seluruh lapangan menjadi sunyi.

Edmund menoleh ke arah Aurelia sekali lagi.

Kemudian...

Ia tersenyum tipis.

"Aurelia."

Suara itu pelan.

Namun cukup untuk didengar putrinya.

"Hiduplah..."

"Jangan membalas dendam karena kebencian."

"Carilah..."

"...kebenaran."

Aurelia menggeleng kuat.

"Tidak!"

"Ayah!"

"Ayah jangan tinggalkan aku!"

Edmund menutup mata.

Untuk pertama kalinya sejak pagi itu...

Air mata jatuh dari sudut matanya.

Namun bukan karena takut mati.

Melainkan karena ia harus meninggalkan putri satu-satunya.

Saat algojo mengangkat pedang besar...

Tiba-tiba...

"Berhenti!"

Suara lantang menggema dari gerbang utara lapangan.

Seluruh orang menoleh bersamaan.

Seekor kuda putih berlari kencang menuju panggung eksekusi.

Penunggangnya mengenakan jubah hitam panjang dengan lambang keluarga kerajaan di dada kirinya.

Wajahnya tertutup tudung.

Namun suara tegasnya membuat bahkan Duke Lucien ikut berdiri dari kursinya.

"Aku membawa perintah langsung dari istana!"

Suara derap kaki kuda bergema di seluruh Lapangan Kerajaan.

Semua mata tertuju pada sosok berjubah hitam yang baru saja menerobos barisan prajurit. Kudanya berhenti tepat di depan panggung eksekusi, sementara jubah panjangnya berkibar diterpa angin.

Pria itu turun dengan tenang.

Di dadanya tersemat lambang burung phoenix emas—simbol Pengawal Kerajaan, pasukan yang hanya menerima perintah langsung dari raja.

Para prajurit spontan memberi jalan.

Bahkan algojo menurunkan pedangnya.

Duke Lucien menyipitkan mata.

"Siapa kau?"

Pria berjubah hitam itu tidak segera menjawab. Ia mengeluarkan gulungan surat yang disegel dengan lilin merah berlambang keluarga kerajaan.

"Aku membawa titah dari Istana."

Seorang pelayan istana segera menerima gulungan itu dan menyerahkannya kepada Duke Lucien.

Lucien membuka segel perlahan.

Tatapannya bergerak cepat membaca isi surat.

Ekspresinya tidak berubah, tetapi jemarinya tampak menegang.

"Bagaimana?" tanya salah seorang anggota Dewan Bangsawan.

Lucien menggulung kembali surat itu.

"Titah ini..."

"...meminta eksekusi ditunda selama satu jam."

Suara gaduh langsung memenuhi lapangan.

"Ditunda?"

"Kenapa?"

"Apakah Raja turun tangan?"

Bisik-bisik rakyat terdengar di mana-mana.

Namun sebelum harapan sempat tumbuh di hati Aurelia, Lucien kembali berbicara.

"Hanya ditunda."

"Bukan dibatalkan."

Kalimat itu membuat wajah Aurelia kembali pucat.

Satu jam.

Hanya satu jam tambahan.

Apakah satu jam cukup untuk menyelamatkan ayahnya?

---

Di atas panggung, Edmund Valerian memandang pria berjubah hitam itu dengan tatapan tajam.

Meski wajah pria tersebut tertutup tudung, Edmund merasa pernah melihat cara berdirinya.

Namun sebelum ia sempat mengingat, pria berjubah hitam itu telah membalikkan badan dan berjalan menuju sisi panggung.

Saat melewati Edmund, ia berhenti sepersekian detik.

Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik,

"Yang Mulia Adipati..."

"...maafkan kami yang terlambat."

Edmund membelalakkan mata.

Namun pria itu sudah kembali melangkah, seolah tidak pernah mengatakan apa pun.

---

Di bawah panggung, Aurelia masih berusaha melepaskan diri dari dua prajurit yang menahannya.

"Tolong!"

"Biarkan aku berbicara dengan Ayah!"

Sir Gavin memandang gadis itu dengan iba.

Ia akhirnya melangkah mendekati komandan penjaga.

"Komandan."

"Eksekusi masih ditunda."

"Biarkan Lady Aurelia mengucapkan salam terakhir."

Komandan ragu-ragu.

Namun setelah melihat Duke Lucien yang tampak sibuk berdiskusi dengan anggota dewan, ia akhirnya mengangguk.

"Hanya lima menit."

Belenggu di tangan Aurelia tidak dilepas, tetapi ia diizinkan menaiki panggung.

Begitu berada di hadapan ayahnya, air matanya kembali mengalir.

"Ayah..."

Edmund tersenyum lembut.

"Kau menangis lagi."

"Ayah..."

"Aku akan menyelamatkan Ayah."

Edmund menggeleng pelan.

"Dengarkan aku."

"Mulai hari ini..."

"...jangan percaya siapa pun di istana."

Tatapan Aurelia berubah bingung.

"Bahkan orang yang terlihat baik sekalipun."

Edmund menundukkan kepala sedikit.

"Liontin itu..."

"Jangan pernah sampai jatuh ke tangan Duke Lucien."

Aurelia tanpa sadar menggenggam liontin yang disembunyikan di balik pakaiannya.

"Kenapa?"

Edmund menatap putrinya dalam-dalam.

"Karena di dalamnya..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara keras memotong pembicaraan mereka.

"Waktu habis!"

Seorang penjaga menarik Aurelia menjauh.

"Tidak!"

"Ayah belum selesai bicara!"

Edmund hanya menggeleng perlahan.

Tatapannya seolah berkata,

Hiduplah.

Itu lebih penting daripada apa pun.

---

Sementara itu, di balkon tertinggi istana kerajaan...

Seorang pria muda berdiri memandang ke arah Lapangan Kerajaan dari kejauhan.

Usianya sekitar dua puluh tujuh tahun.

Rambut hitamnya tersisir rapi.

Jubah kerajaan berwarna hitam dihiasi benang emas yang berkilau diterpa cahaya matahari.

Wajahnya tampan, tetapi dingin.

Tatapan matanya setajam pedang.

Dialah...

Raja Adrian Alistair.

Di belakangnya berdiri kepala pengawal kerajaan.

"Yang Mulia."

"Perintah penundaan telah disampaikan."

Adrian tetap memandang ke arah lapangan.

"Aku tahu."

"Apakah Yang Mulia yakin Adipati Valerian bersalah?"

Untuk pertama kalinya Adrian berbicara.

"Justru karena aku tidak yakin..."

"...aku mengirim perintah itu."

Kepala pengawal menunduk.

"Namun Dewan Bangsawan menekan agar eksekusi tetap dilakukan."

Adrian mengepalkan tangan.

"Kerajaan ini..."

"...terlalu banyak dikendalikan oleh orang-orang yang mengatasnamakan hukum."

Tatapannya kembali mengarah ke Aurelia yang sedang dipaksa turun dari panggung.

Untuk sesaat...

Pandangan mereka seolah bertemu dari kejauhan.

Entah mengapa, hati Adrian terusik.

Ia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya.

Namun sorot mata penuh kesedihan dan keberanian itu meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan.

---

Di Lapangan Kerajaan, algojo kembali mengangkat pedangnya.

Matahari telah berada tepat di atas kepala.

Penundaan telah berakhir.

Duke Lucien berdiri.

"Demi ketertiban Kerajaan Asteria..."

"Eksekusi dilanjutkan!"

Aurelia berteriak sekuat tenaga.

"AYAH!!"

Edmund menutup mata.

Pedang algojo mulai diayunkan.

Namun tepat pada detik berikutnya...

Wuuusss!

Sebuah anak panah melesat dari arah atap bangunan.

Trang!

Pedang algojo terpental sebelum sempat mengenai Edmund.

Seluruh lapangan seketika gempar.

"Musuh!"

"Lindungi Duke Lucien!"

Para prajurit langsung mencabut pedang.

Sementara di atas atap sebuah bangunan, tampak sosok misterius berpakaian serba hitam memegang busur panjang.

Ia menatap tajam ke arah panggung.

Lalu berkata dengan suara pelan,

"Adipati Valerian... belum boleh mati."
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel