Bab 1 – Malam Berdarah di Kastel Valerian
Hujan turun sejak fajar menyingsing.
Awan hitam menggantung di atas Kerajaan Asteria, sebuah negeri yang selama tiga ratus tahun dikenal sebagai kerajaan paling makmur di Benua Timur. Hamparan ladang gandum membentang sejauh mata memandang, sungai-sungai besar mengalir membelah kota, sementara tembok-tembok tinggi yang mengelilingi ibu kota menjadi simbol kekuatan yang tak tergoyahkan.
Namun di balik kemegahan itu, para bangsawan mengetahui satu kenyataan yang tak pernah diketahui rakyat biasa.
Kerajaan sedang retak.
Raja Aldric IV telah sakit selama lebih dari dua tahun. Tubuhnya semakin lemah, sementara Putra Mahkota masih terlalu muda untuk mengendalikan para adipati dan menteri yang mulai saling berebut pengaruh.
Di ruang-ruang perjamuan, senyum para bangsawan terlihat ramah.
Namun di balik senyum itu, tersimpan pengkhianatan.
Di balik sumpah kesetiaan, tersembunyi ambisi untuk menguasai takhta.
---
Jauh di wilayah utara berdiri Kastel Valerian, benteng terbesar yang menjaga perbatasan kerajaan.
Dindingnya menjulang tinggi dari batu granit abu-abu. Bendera keluarga Valerian berkibar di puncak menara, bergambar seekor singa putih yang mencengkeram pedang emas—lambang keberanian dan kesetiaan.
Selama puluhan tahun, keluarga Valerian menjadi perisai kerajaan.
Adipati Edmund Valerian telah memimpin puluhan pertempuran melawan kerajaan tetangga. Ia berkali-kali menolak tawaran kekuasaan demi tetap setia kepada mahkota.
Karena itulah rakyat utara menghormatinya lebih dari bangsawan mana pun.
Di taman belakang kastel, seorang gadis muda sedang memetik bunga mawar putih.
Gaun biru mudanya berkibar tertiup angin.
Rambut hitam panjangnya diikat sederhana dengan pita putih, sementara sepasang mata cokelatnya memancarkan kelembutan.
Dialah Lady Aurelia Valerian.
Usianya baru menginjak delapan belas tahun.
Meski terlahir sebagai putri adipati, Aurelia tidak pernah bersikap angkuh. Hampir setiap hari ia membantu tabib mengobati warga desa, mengajar anak-anak membaca, dan mengunjungi para prajurit yang terluka.
Karena itulah rakyat mencintainya.
"Lady Aurelia!"
Seorang pelayan muda berlari kecil menghampiri.
"Nona, Yang Mulia Adipati meminta Anda datang ke ruang kerja."
Aurelia tersenyum.
"Ayah sudah selesai menerima tamu?"
"Ya."
Ia segera berjalan melewati lorong-lorong kastel yang dipenuhi lukisan para leluhur keluarga Valerian.
Di depan pintu ruang kerja, ia mengetuk perlahan.
"Ayah?"
"Masuklah."
Begitu pintu terbuka, aroma teh hangat langsung memenuhi ruangan.
Adipati Edmund Valerian sedang berdiri di depan jendela sambil memandang hujan.
Tubuh pria berusia hampir lima puluh tahun itu masih tegap. Rambutnya mulai dihiasi uban, tetapi sorot matanya tetap tajam seperti seorang panglima perang.
Di pipi kirinya terdapat bekas luka panjang.
Luka yang ia dapat ketika melindungi Raja Aldric dua puluh tahun lalu.
"Ayah memanggilku?"
Edmund menoleh sambil tersenyum hangat.
"Datanglah."
Aurelia duduk di hadapannya.
Edmund menuangkan secangkir teh.
"Kau tahu hari ini aku harus pergi ke ibu kota?"
Aurelia mengangguk.
"Dewan Bangsawan memanggil Ayah."
"Benar."
"Apakah ada masalah?"
Edmund terdiam cukup lama.
"Lima tahun terakhir kerajaan berubah."
"Banyak orang yang lebih mencintai kekuasaan daripada rakyat."
Aurelia mengernyit.
"Ayah mencurigai sesuatu?"
Edmund menghela napas.
"Aku hanya berharap firasatku salah."
Ia kemudian membuka laci meja.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah liontin perak berbentuk bunga lili.
"Pegang ini."
Aurelia menerimanya dengan bingung.
"Bukankah ini peninggalan Nenek?"
Edmund mengangguk.
"Ya."
"Mulai hari ini, liontin itu menjadi milikmu."
"Ayah, kenapa memberikannya sekarang?"
Edmund menatap putrinya dalam-dalam.
"Karena suatu hari nanti..."
"...kau mungkin akan membutuhkannya."
Kalimat itu terdengar aneh.
Namun sebelum Aurelia sempat bertanya lebih jauh, pintu kembali diketuk.
Seorang kesatria masuk dan memberi hormat.
"Yang Mulia."
"Kereta kerajaan telah tiba."
Edmund berdiri.
"Aku harus berangkat."
Aurelia ikut berdiri.
Entah mengapa dadanya terasa sesak.
"Kalau begitu... hati-hati, Ayah."
Edmund tersenyum, lalu mengusap kepala putrinya seperti saat ia masih kecil.
"Jangan khawatir."
"Aku hanya menghadiri rapat."
"Aku akan kembali sebelum makan malam."
Aurelia tersenyum tipis.
"Aku akan meminta dapur membuat sup favorit Ayah."
Edmund tertawa kecil.
"Itu janji."
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.
Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa percakapan sederhana itu akan menjadi percakapan terakhir sebagai ayah dan anak.
---
Kereta kerajaan meninggalkan Kastel Valerian diiringi puluhan ksatria pengawal.
Aurelia berdiri di balkon lantai dua sambil melambaikan tangan.
Sampai bayangan kereta benar-benar menghilang di balik hujan.
Barulah ia masuk kembali ke dalam kastel.
Namun sejak kepergian ayahnya, suasana berubah menjadi aneh.
Burung-burung gagak mulai berputar-putar di langit.
Angin bertiup semakin dingin.
Bahkan para pelayan yang biasanya bercanda kini memilih diam.
Menjelang sore, hujan justru semakin deras.
Petir menyambar tanpa henti.
Aurelia membantu ibunya, Duchess Elena, meminum obat.
Wanita itu tersenyum lemah.
"Ibumu selalu merasa lebih tenang jika kau berada di dekatku."
Aurelia menggenggam tangan ibunya.
"Ayah pasti segera pulang."
Elena memandang keluar jendela.
"Aku berharap begitu."
Namun senyum wanita itu perlahan memudar.
"Entah kenapa..."
"...hatiku tidak tenang."
Ucapan itu membuat bulu kuduk Aurelia meremang.
Ia mencoba tersenyum agar ibunya tidak semakin cemas.
"Tidak akan terjadi apa-apa."
"Selama Ayah ada, keluarga kita akan baik-baik saja."
Akan tetapi, jauh di luar kastel...
Puluhan penunggang kuda berbaju zirah hitam sedang melaju menembus hujan menuju wilayah Valerian.
Bendera kerajaan berkibar di antara mereka.
Di barisan paling depan, seorang pria tua berjubah merah menatap kastel di kejauhan dengan senyum tipis.
"Dua puluh tahun..."
"Akhirnya keluarga Valerian akan lenyap malam ini."
Pria itu adalah Duke Lucien Ashford.
Orang yang diam-diam telah menyiapkan sebuah jebakan selama bertahun-tahun.
Malam turun lebih cepat dari biasanya.
Awan hitam menutupi cahaya bulan, membuat seluruh wilayah Kastel Valerian diselimuti kegelapan. Hanya nyala obor di sepanjang tembok benteng yang menari diterpa angin dan hujan.
Aurelia berdiri di depan jendela kamar ibunya.
Tatapannya terus mengarah ke jalan utama yang menghubungkan kastel dengan ibu kota.
Biasanya, perjalanan pulang dari ibu kota menuju wilayah Valerian hanya memakan waktu hingga senja.
Namun kini malam telah larut.
Kereta ayahnya belum juga terlihat.
"Ayah pasti baik-baik saja..." gumamnya, lebih seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Di belakangnya, Duchess Elena duduk bersandar di kursi dekat perapian. Wajah wanita itu pucat, napasnya terdengar berat. Penyakit paru-paru yang dideritanya semakin memburuk sejak musim dingin lalu.
"Aurelia."
Gadis itu segera menghampiri.
"Ibu harus beristirahat."
Elena menggeleng pelan.
"Entah kenapa... hatiku sangat gelisah."
Sebelum Aurelia sempat menjawab, suara lonceng peringatan dari menara penjaga menggema memecah kesunyian.
Tong... Tong... Tong...
Suara itu hanya dibunyikan ketika ada keadaan darurat.
Aurelia dan Elena saling berpandangan.
Belum pernah lonceng itu berbunyi sejak bertahun-tahun terakhir.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki berlari di lorong.
"Lady Aurelia!"
Kepala pelayan membuka pintu dengan napas tersengal.
"Pasukan kerajaan telah tiba di gerbang!"
Aurelia langsung berdiri.
"Pasukan kerajaan?"
"Jumlah mereka... lebih dari seribu orang."
Jantung Aurelia berdegup semakin cepat.
Untuk apa pasukan sebanyak itu datang ke kastel seorang adipati yang selama ini setia kepada kerajaan?
Ia segera berlari menuju balkon utama.
Begitu melihat ke luar, wajahnya langsung memucat.
Di bawah guyuran hujan, ribuan prajurit berbaju zirah hitam memenuhi halaman depan kastel.
Bendera kerajaan berkibar di tengah barisan.
Di depan mereka berdiri seorang pria tua berjubah merah tua dengan tongkat berlapis emas.
Duke Lucien Ashford.
Tangannya terangkat perlahan.
"Atas nama Kerajaan Asteria..."
"Saya memerintahkan gerbang dibuka."
Komandan penjaga kastel maju beberapa langkah.
"Maaf, Yang Mulia Duke. Adipati sedang tidak berada di kastel."
Lucien tersenyum tipis.
"Justru karena itulah aku datang."
Tatapannya berubah dingin.
"Jika gerbang tidak dibuka..."
"...anggap tindakan ini sebagai pemberontakan."
Komandan penjaga mengepalkan tangan.
Ia tahu tidak mungkin melawan pasukan sebanyak itu.
Dengan berat hati, ia memberi perintah.
Gerbang kastel perlahan terbuka.
Suara roda besi dan rantai memenuhi udara.
Pasukan kerajaan segera memasuki halaman.
Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi mencekam.
Para pelayan berkumpul sambil menangis.
Anak-anak kecil para pekerja bersembunyi di balik rok ibu mereka.
Aurelia turun ke aula utama.
Ia berdiri tepat di depan tangga besar ketika Duke Lucien memasuki kastel.
Meski usianya telah melewati enam puluh tahun, sorot mata pria itu tetap tajam.
Seolah mampu membaca isi hati setiap orang.
"Lady Aurelia."
Aurelia membalas dengan hormat sekadarnya.
"Apa tujuan Duke datang malam-malam seperti ini?"
Lucien mengeluarkan sebuah gulungan perkamen.
"Atas perintah Dewan Bangsawan..."
"Adipati Edmund Valerian dinyatakan bersalah karena bersekongkol dengan musuh kerajaan."
"Seluruh harta keluarga Valerian disita."
"Seluruh gelar bangsawan dicabut."
"Dan..."
Ia berhenti sejenak.
"Besok pagi..."
"...Adipati Edmund akan dihukum mati."
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa pelayan langsung jatuh terduduk.
Aurelia merasa telinganya berdenging.
"Apa..."
"...yang Duke katakan?"
"Mustahil."
"Ayahku tidak mungkin berkhianat."
Lucien menyerahkan gulungan itu.
"Ini buktinya."
Aurelia membukanya.
Matanya langsung tertuju pada cap keluarga Valerian di bagian bawah surat.
Namun hanya dalam beberapa detik ia menyadari sesuatu.
Cap itu berbeda.
Ayahnya selalu menggunakan lambang singa dengan tujuh helai surai.
Sementara cap pada surat itu hanya memiliki enam.
"Itu palsu."
Aurelia mengangkat kepalanya.
"Seseorang memalsukan cap keluarga kami."
Lucien tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.
"Kau masih terlalu muda untuk memahami urusan negara."
"Pengadilan telah memutuskan."
"Keputusan tidak bisa diubah."
Aurelia mengepalkan tangan.
"Bukan pengadilan."
"Melainkan orang-orang yang ingin menyingkirkan Ayah."
Tatapan mereka saling bertemu.
Untuk sesaat, tidak ada seorang pun yang berani bersuara.
Kemudian Lucien tersenyum.
Senyum yang membuat bulu kuduk semua orang meremang.
"Keberanianmu mengingatkanku pada ayahmu."
"Sayang sekali..."
"...keberanian sering kali berakhir sia-sia."
Ia memberi isyarat kepada pasukannya.
"Geledah seluruh kastel."
"Jangan tinggalkan satu ruangan pun."
Puluhan prajurit segera berpencar.
Suara lemari dibongkar, peti dibuka, dan barang-barang dilempar ke lantai memenuhi seluruh kastel.
Aurelia hanya bisa menggigit bibir.
Air matanya hampir jatuh.
Namun ia menolak menangis di depan orang yang telah menghancurkan keluarganya.
Saat itulah...
Seorang prajurit berlari menghampiri Duke Lucien.
"Yang Mulia!"
"Kami menemukan sebuah peti rahasia."
Lucien menoleh.
"Bawa ke sini."
Peti kayu itu diletakkan di tengah aula.
Begitu dibuka...
Di dalamnya terdapat beberapa batang emas, peta wilayah kerajaan, dan surat-surat yang seolah menunjukkan kerja sama dengan musuh.
Para pelayan langsung gempar.
Aurelia justru menggeleng kuat.
"Itu bukan milik kami."
"Aku belum pernah melihat peti itu."
Lucien menghela napas seolah kecewa.
"Lady Aurelia."
"Bahkan sekarang kau masih ingin menyangkal?"
Aurelia memandang peti itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia yakin seratus persen.
Barang-barang itu baru saja dimasukkan.
Ini jebakan.
Jebakan yang telah dipersiapkan dengan sangat rapi.
Namun siapa yang akan mempercayai seorang gadis delapan belas tahun melawan Duke paling berkuasa di kerajaan?
Lucien menutup peti itu.
"Lady Aurelia Valerian."
"Mulai malam ini..."
"...kau bukan lagi seorang bangsawan."
"Mulai besok, nasibmu akan ditentukan oleh kerajaan."
Aurelia menundukkan kepala.
Namun di balik wajahnya yang dipenuhi air mata...
Api kecil mulai menyala di dalam hatinya.
Jika ayahnya benar-benar dihukum mati...
Jika keluarganya benar-benar dihancurkan...
Maka suatu hari nanti...
Ia akan mengungkap siapa dalang di balik semua ini.
Meski harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.