Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Cuilan X

Keruk-keruk kerongkongan menggema dari toilet di sekitar lingkungan dapur. Emma baru saja meletakkan panci baja anti karat ke dalam rak dan mendadak tertoleh kepalanya ke toilet.

“Ben?” Emma memanggil sambil mencicil pelan-pelan langkahan kakinya mendekati toilet. Dia lalu menyandarkan pinggulnya ke meja kompor elektrik dengan alat penghisap besar di atasnya.

“Hm, ya,” balas Ben dengan nada malas.

“Kau yang jatuhkan pancinya?” tanya Emma.

“Nope.”

“So?” Dia mulai merinding dan kedua alisnya mengerut. Tidak lucu kalau mansion besar Henry Goodfellow yang sudah diurusnya hampir satu dekade belakangan ini jadi sarang makhluk astral.

Ben kembali tak bersuara seakan-akan tengah menyembunyikan sesuatu dari Emma.

“Kau serius?” tanya Emma agak getir. “Terus, kau lagi apa di toilet?”

“Oh, really? Apa aku mesti menjelaskannya lebih detail sekarang ini aku lagi apa di toilet?” sindir Ben suntuk.

Emma menekan kedua bibirnya hingga terkatup rapat dan matanya sekilas menggulung ke atas. Dia menyesal atas pertanyaan bodoh tadi, seakan-akan nalar berpikirnya berjalan sangat lambat.

“Perutku tadi tiba-tiba mulas. Aku mau masak air panas, tapi emasku sudah berada di ujung tanduk.” Ben berkokok lagi. Dia menjelaskan dengan sukarela setelah menduga kalau wanita di dapur itu terdiam dan bisa mati ketakutan hanya karena persoalan panci jatuh yang tidak tahu siapa pelakunya. “Ya, aku tidak sengaja menjatuhkan pancinya karena tergesa-gesa.”

Paru-parunya terasa lapang mendengar pengakuan Ben. Dia sedikit tersusupi kegeraman dengan kelakuan usil pria itu.

“Itu aku sudah siapakan air minumnya di atas meja mini bar,” imbuh Ben. “Tadi rencananya mau aku bawa ke kamar Ny. Goodfellow sambil menunggu air menggelegak. Tapi kau tahu, ‘kan? Sampah kesayangan dari perutku ini—”

“Right. Right. Right. OK!” Emma memotong sadis ucapan Ben. Suaranya terdengar agak membentak sambil mengerling ke gelas di atas permukaan meja mini bar dengan kursi yang bisa disesuaikan ketinggiannya melalui tuas di bawah sandaran bokong itu terlihat berjajar-jajar rapi sebanyak empat buah. Dia sungguh bosan, tidak suka, dan jijik ketika pria itu mengulang-ulang kiasan zat sisa dari dalam tubuhnya, sehingga mukanya berubah masam.

Emma mengambil gelas bening itu. Dia lalu menghentikan jejaknya sejenak sebelum meluruskan jalannya menuju kamar Anne.

“Lain kali jangan buat cerita-cerita begitu. It’s not funny, though,” kata Emma sambil cemberut.

“Kenapa? Kau takut, ya?” goda Ben sambil tertawa kecil. “Dasar penakut,” ejeknya.

“Hfft.” Dia tak membalas Ben, karena khawatir ledekannya semakin menjadi-jadi.

***

Ben keluar dari toilet setelah kurang lebih lima menit menyadari keberadaan Emma yang tidak lagi mendiami dapur. Napasnya menderu cepat dari lubang hidung, lalu menuruni tangga secepat mungkin. Tidak bisa dipungkiri perasaan panik dan gundah mengepung palung jiwanya. Ben tidak tahu harus ke mana untuk menenangkan pikirannya.

“Balik ke mansion saja.” Ben mendesis sambil membayangi rumah mewah besar milik Anne Goodfellow dan memang sengaja dititipkan kepadanya lantaran Anne yang asli tidak begitu sering ke sana. Meskipun dia menghuni mansion itu, namun dia tetap menggunakan kamar khsuus asisten dan tidak pernah lancang mendiami kamar-kamar istimewa lainnya.

Kakinya terhenti di pertengahan susunan anak tangga. Ben menggeleng-gelengkan kepalanya kilat. “Aku ke pub saja. Ya, ke pub.” Lajuan kedua kakinya terus melanjut sembari membayangi nikmatnya bir di pertengahan malam menuju dini hari untuk sekadar menenangkan otaknya.

***

Emma masuk ke dalam kamar dan membangunkan perempuan ayu jelita seperti seorang putri tidur di dunia dongeng itu.

“Ny. Goodfellow.” Emma menepuk-nepuk halus punggung tangan Anne.

Kelopak mata Anne terbuka pelan kira-kira kurang dari semenit ditunggui wanita berbusana hitam dengan kerah terlipat, kancing ganda di area dada, rok terusan, dan berlengan pendek supaya bisa bergerak dengan bebas melakukan pekerjaannya.

Anne sedikit melenguh sambil menegakkan setengah tubuhnya. Emma pun segera menyusupi air melalui liang di bawah hidungnya sampai tinggal menyisakan sedikit saja di alas wadah gelas. Anne kemudian berdeham dan kembali berbaring tanpa banyak berkata-kata.

Tanpa bertanya bagaimana dan apa yang diarasakan Anne setelah meneguk air mineral, Emma memandang raut wajah wanita itu sedikit segar dan tampak lega. Dia menyeret selimut agar menutupi dada Anne yang menggunung.

“Dadanya kenapa bisa jadi montok begini, ya?” tanya Emma dalam hati. Satu sisi dia terpukau dengan kepadatan dan sehatnya payudara idaman bagi setiap perempuan dewasa pastinya. Namun, dia bingung juga kenapa tiba-tiba bisa berubah. Apa ada pertumbuhan secara hormonal lainnya lagi dari dalam diri manusia? Dia semakin pelik memikirkannya dan mengibas-ngibaskan kelopak matanya untuk mengusir perasaan curiga, lalu menilik ke dalam air gelas tanpa sengaja.

Titik-titik butiran putih bersemayam di alas wadah gelas. Seketika alis Emma terajut.

“What is—” gumam Emma dan mendadak menggorok pertanyaannya sendiri. Dia teringat kesalahannya dua hari lalu. “Oh, mungkin ini karena aku cuci pakai deterjen. Ada sisa-sisa menempel begini kalau kering jadinya. Ck.”

Dia menyesal mencuci piring memakai deterjen lantaran cairan pencuci piring yang biasa digunakan sudah habis. Emma merasa sangat bersalah dan berharap itu tidak fatal saat masuk mengaliri darah Anne sehingga bisa jadi menyebabkan keracunan. Kendati nasib baik masih berpihak kepadanya lantaran wanita bermuka sendu itu tidak mengeluh apa pun tentang rasa airnya. Namun, hati tulus dan bersihnya tetap saja meregang.

Emma beranjak dari pinggiran tempat tidur. Dia menghidupkan lampu tidur kamar, lalu tanpa berlama-lama lagi keluar setelah mematikan lampu besarnya. Rasa tanggungjawab dan sikap kejujuran menyertai ayunan kedua kakinya menuju dapur dan memebersihkan gelas itu, bahkan kalau perlu semua gelas.

***

“Oh.” Anne mendesah sambil menyesap-nyesap. Dia mendaratkan tangan kanannya di kepalanya, lalu memutar-mutarnya halus untuk mengusir denyut-denyut yang mengakar di bawah kulit rambut.

“Morning, Nn. Winterdust?” Emma menganjurkan lehernya di celah pintu yang terbuka kecil sambil mengetuknya pelan menggunakan buku-buku jari. Dia membawa nampan bambu berisi sarapan untuk wanita yang tampak sedikit kaget dan melontarkan matanya cepat ke arah pintu.

“Sudah pagi, ya?” tanya Anne. Telapak tangan menutup beberapa saat kedua matanya, lalu terbuka sambil menghembuskan napasnya kuat-kuat sebelum Emma semakin mendekat. Tidak lucu kalau dia mencium aroma busuk dari mulutnya yang masih belum higienis di pagi itu.

Emma tersenyum. Dia meletakkan nampan di meja dekat ranjang secara hari-hati. Gelagatnya begitu lihai dan cekatan mematikan lampu tidur, dan berjalan gesit menuju gorden untuk dibuka agar cahaya pagi menerangi kamarnya. Emma tidak membuka jendela tengah yang besar, melainkan hanya membuka dua di sisi pinggirannya saja.

Keadaan kamar meremang-remang karena cuma bergantung dari cahaya matahari luar saja ketika Emma menekan mati saklar dari lampu gantung besar di atas ranjang utama yang sedang didiami Anne.

“And, I serve your breakfast, Madame Goodfellow.” Emma menyambangi nampan sambil tersenyum cerah.

“Kenapa kau panggil aku Nn. Winterdust tadi?” tanya Anne bingung. Kepalanya tersenget.

“Oh, apa aku panggil kau masih pakai nama itu tadi? Benarkah?” Emma balik bertanya dan mengira kalau wanita itu mungkin tersinggung dengan kekeliruannya. “Kau sudah resmi menikah dengan Tn. Goodfellow, ‘kan?” Dia gugup dan salah tingkah.

“Hm, sekarang kau menyandang gelar Ny. Goodfellow. Aku benar-benar lupa tadi kalau begitu.” Emma melirik Anne dan termakan oleh rasa malunya dengan pipi agak memerah.

“Menikah dengan Tn. Goodfellow?” tanya Anne dalam hati. Namun, dagunya terjungkit sedikit setelah ketukan memorinya menjabarkan peristiwa kemarin—hari pernikahan antara dirinya dan Henry.

Sembari Anne berpikir-pikir, Emma telah membuka lipatan kaki nampan sehingga bernaung tepat di atas pahanya.

“Apa ini? Bubur?” tanya Anne menunjuk mangkuk putih berisi bubur.

“Ya, bubur,” jawab Emma. Matanya melirik bubur, lalu memandang wajah risau Anne.

“Kenapa harus bubur? Em, aku tidak suka bubur.”

“Heuh?” Emma tercengang sekejap. Setahu dirinya, Anne Winterdust sangat suka bubur. Baik lagi sakit maupun tidak, bubur merupakan salah satu makanan favoritnya.

“Kau kemarin mengeluh sakit. Mungkin bubur bisa cocok dengan kondisi tubuhmu sekarang,” sarannya.

“Aku sakit?” gumamnya sembari mencoba berpikir-pikir lagi. “Sakit?”

Emma juga bungung kenapa Anne menjadi linglung dan tidak peka dengan kondisi tubuhnya tadi malam.

“Aku rasa mungkin kau kelelahan,” kata Emma sambil menatap mata Anne yang nanar.

Mata mereka berdua bubar ketika beberapa detik saling beradu. Anne kemudian mencermati lagi jenis-jenis sarapannya yang tersaji selain bubur—ada segelas susu dan roti lapis isi daging babi asap dengan seledri.

Anne meneguk susu hangat dan tangannya langsung menjepit roti lapis. Dia lahap memakan semua sarapannya, kecuali bubur.

Emma mengangsur-angsur kecil langkahan kakinya menuju pintu kamar. Dia berhenti di ambang pintu sambil menoleh dari balik bahunya dan memandang Anne sejenak dengan ekspresi penuh tanda tanya akan perangai wanita yang menggigit rakus roti lapis sembari meneguk susu secara bersamaan itu. Dia tentu heran, karena seumur-umur Anne tidak pernah secongok itu dan tahu tata krama jika makan, meskipun di dalam situasi sendirian.

“Hm, ada-ada saja kelakuan orang sakit,” gumam Emma.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel