Cuilan IX
Kaki Ben menapak turun dari mobil. Dia terpana ketika memandangi ranjang empuk dan lilin-lilin aromatik yang tak akan meleleh kalau tidak dipadamkan secara manual karena ulah makhluk hidup ataupun secara otomatis karena kekuatan alam. Kedua bola matanya terlempar cepat ke sebuah batu dengan sepasang kekasih yang seharusnya sedang bermadu kasih, namun roman-romannya tampak tidak mulus seperti yang diidam-idamkan.
Henry meraup tubuh Anne dengan sigap. Walaupun sadar istrinya tidak pingsan, Henry melakukan itu supaya lebih menghemat waktu dan menyusul asisten pribadi Anne yang dari tadi di dekat pintu mobil hanya bisa termangu, seakan-akan tak tahu mesti berbuat apa dan membantu majikannya dengan cara apa.
“Buka pintu mobilnya!!” tegur keras pria yang sebelumnya menelepon Ben agar datang ke titik lokasi yang dikirimnya melalui aplikasi ponsel dengan nada panik bercampur geram.
“Ok, Sir.” Ben tersengat dan tangannya langsung membuka pintu mobil tanpa menunda-menunda lagi.
Kepala Henry menunduk sambil meletakkan perempuan lemah di dalam buaiannya itu dengan cukup hati-hati, meski relung batinnya tak dapat dipungkiri masih terasa gerah dan panas lantaran acara yang dia persiapakan secara matang malah berubah berantakan.
Anne menyesap di balik gigi-gigi rapatnya dan matanya tampak layu. Dia kemudian melincirkan kepala ke arah yang berlawanan dari wajah Henry, karena risih ditatap terus. Dia tahu pria itu masih teguh pendiriannya menuduh Anne lagi bersandiwara, meskipun cuma tersirat sesaat di dalam hati.
Lidah Henry mendecak. Dia menegakkan patahan tulang panggulnya dan merubah arah tatapannya ke Ben yang berada di balik pintu sambil tangannya memegang tuas.
“Kenapa dengan rambutmu?” tanya Henry dengan raut sinis karena baru pertama kali dia melihat Ben berpenampilan bersih, bahkan sampai botak. Seingatnya, Ben adalah tipe pria yang suka menggondrongi rambutnya, memelihara jambang, dan berpenampilan semi uarakan.
Ben tidak bicara sepatah kata pun dan hanya menidurkan kelopak matanya. Dia mengulum bibirnya.
“Bawa dia pulang. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Tiba-tiba mengeluh ada masalah di kepala.” Henry mencebik dan parasnya mencorekkan perasaan tak puas.
“Yes, Sir.” Tanpa bernegosiasi lagi, Ben kemudian mendorong pintu mobil hingga tertutup rapat dan berjalan buru-buru menuju singgasana di balik kemudinya.
Mesin terdengar dihidupkan dan lampu mobil tersiar menerangi salah satu lilin yang apinya tampak bergoyang-goyang karena beradaptasi dengan tiupan angin malam. Ben pun memundurkan mobil tak sampai lima meter, dan membanting setirnya ke kanan.
Permaisuri Goodfellow siap untuk diantarkan kembali ke istananya. Sementara itu, Sang Kaisar Goodfellow masih termenung sambil memperhatikan mobil sedan terlihat semakin lama semakin menjauh.
Henry menggeretakkan giginya dan helaian rambut depannya terembus angin kencang. Kakinya tidak kuasa lagi menahan aliran darah yang menggebu-gebu penuh rasa amarah, lalu dia menendang keras batu seukuran kepalan tangan. Batu kedua bahkan berhasil terbidik tanpa disengaja sehingga menumbangkan salah satu lilin aromatik.
Angin kencang seakan-akan mendukung luasan kobaran api. Henry masih terpaku, retinanya dipantulkan oleh dedas-dedasan api dari lilin yang jatuh. Bekuan hatinya sedikit mencair sembari menderap ke bakaran kecil rumput itu dan menginjaknya berulang-ulang kali dengan hati panas.
Rumput kering berhasil Henry jinakkan sendiri dengan tapak keras sepatu kulit hitam sehingga membekaskan noda hangus pada permukaannya.
***
Ben membawa mobil dengan lajuan sedang, namun tetap diusahakan agar cepat sampai dan selamat. Dia melirik jam digital di mobil sudah bermuara ke angka sepuluh. Matanya kini menjenguk Anne melalui kaca spion tengah yang tampak bangun dari tidur singkatnya.
“Are you OK?” tanya Ben peduli sambil tatapannya mencuri-curi ke jalanan di hadapannya.
“What’s that?” keluh Anne, namun kalimatnya tidak terarah.
“What is what?” Keningnya kusut.
“Entahlah. Ada yang memanggil-manggil di dalam otakku. Tapi, bukan namaku.” Anne menyandarkan lemah punggungnya dan menggerakkan lehernya dengan pelan-pelan.
Ben belum mendapatkan petunjuk pasti dari keluhan Anne. Dia tidak bisa menafsirkan apa pun.
“Apa aku pernah hujan-hujanan sambil menangis?” tanya Anne sambil melamun. Suaranya terdengar mengambang.
“Heuh?”
“Aku tidak pernah mengalami itu sepertinya. Tapi, kenapa terasa sangat nyata dan seolah benar-benar terjadi,” tukas Anne. “Apa pernah terjadi, ya?”
“Em … lalu?”
“Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Sangat tidak jelas.”
“You would have been dreaming.”
Anne mencoba mengangkat penuh kepalanya. Namun baru sedikit saja bergerak, lehernya bagaikan dikalungi ban truk.
“Kepalaku pusing. Perutku mual,” gumam Anne sambil menatap langit-langit mobil.
“Sebaiknya kau istirahat. Aku akan usahakan supaya lebih cepat sampai ke Glasgow.”
Anne membuang mukanya ke rumah-rumah kayu sederhana di sepanjang jalan. Dia merasa sangat dekat dengan model dan jenis rumah seperti itu. “Apa aku punya masa lalu yang tersembunyi?” pikirnya sambil lalu dan menutup matanya kembali.
***
Waktu ditanya apakah mau digendong atau didampingi saja sampai ke kamar, Anne pun memilih opsi kedua. Ben mengangguk dan menawarkan tangannya setelah membuka pintu mobil agar perempuan yang masih mengenakan gaun pengantinnya itu merasa terjaga, terlindungi, dan aman.
Sesampai di depan kamar, Anne menggosokkan tapak kaki kotornya di atas keset kasar. Dia lalu masuk ke kamar sekaligus ditemani Emma yang sejak sebelum naik ke tangga tadi menyambut dirinya masuk ke mansion bersama Ben.
“Aku mau ganti gaun ini,” kata Anne dengan wajah risih dan tak bersemangat dengan busana seharinya itu.
“Baik.” Emma mengangguk dan melirik sekilas lelaki botak yang masih berdiam diri dan tidak mengerti jika sedang berada di dalam zona urusan kewanitaan.
Alis Ben berkedut. Mulutnya kemudian membulat terbuka setengah. “Oh,” ucapnya sambil berbalik badan menuju pintu kamar, namun terhenti dan berbalik lagi tumitnya untuk memberitahukan Emma sesuatu. “Aku mau ambil air minum di dapur. Jaga Anne, ya.”
Emma menelengkan kepalanya mendengar kelancangan Ben menyebut nama majikan perempuannya.
“Em, jaga Nn. Winterdust,” imbuh Ben membetulkan kode panggilan yang sebetulnya hanya legal di antara Anne dan dirinya saja.
“Ny. Goodfellow … maksudku.” Ben mengernyih, jari telunjuknya menggaruk-garuk kecil pelipisnya.
Emma mengangguk tipis. “Ya.”
Ben keluar dari kamar tanpa menutupnya dan langsung menuju dapur yang tidak begitu jauh dari kamar Anne.
Di depan barisan gelas, Ben mencongkel dari bailk kantung jas hitamnya. Sebuah botol berisi pil yang dia simpan dari jauh hari di dasbor tanpa ada maksud yang jelas. Maksud hatinya hanya untuk berjaga-jaga kalau diperlukan, dan keresahannya terbukti benar. Ingatan Anne palsu perlahan-lahan mulai cerah kembali.
Jarinya mengail dua pil saja, lalu Ben tumbuk menggunakan pantat gelas bening bercorak pahatan prisma di atas tisu putih yang didapat dari sekitar wastafel.
“Right. Done.” Muka Ben terlihat mengetat. Dia mengambil gelas lainnya dan diisi air mineral dari dispenser. Bubuk pil dituang ke dalam gelas. Terakhir, tugas sendok yang akan membaurkan bubuk itu dengan air.
Ben mengangkat gelas dengan jepitan jari telunjuk dan jempol bagaikan ilmuwan di laboraturium kimia. Dia menjulingi badan gelas. “Airnya jadi agak keruh, tapi tidak terlalu kelihatan,” katanya sambil mengembuskan napas.
PRANG!!
Bunyi benda terjatuh terdengar berasal dari dapur dan mengagetkan Emma dari kamar. Beruntung mata Anne masih melekat syahdu dan tidak terganggu. Sebenarnya dia segan meninggalkan wanita yang telah berganti mengenakan gaun tidur, tapi keingintahuan seakan mengakar di urat-uratnya lantaran Ben begitu lama mengantarkan segelas air minum saja.
“Emma, aku haus.” Kelopak mata Anne terbuka seinci dan nada suaranya seperti mengigau.
“Baik, Ny. Goodfellow. Aku akan ambil minumnya. Tunggu sebentar,” kata Emma. Mulutnya hampir menyalahkan keterlambatan Ben, tapi urung dia lakukan dan lebih memilih bergegas menyusul dapur.
Anne tak mengeluarkan suaranya dan hanya berdeham halus saja.
Emma tiba di dapur mewah dengan instalasi tekstur serba terbuat dari batu pualam. Melongok-longok leher wanita berambut keriting megar itu. “Ben?” Dia terheran-heran karena tidak menemukan siapa pun di sana dan menemukan panci tertelungkup di lantai. “Where is he?”
