Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Cuilan XI

Cincin putih suci bermatakan berlian yang terpasang di jari manis tampak dielus-elus oleh jari telunjuk. Tengkuknya menekuk dan menatap cermat benda itu tanpa berkedip selama hampir dua menit, lantaran alam bawah sadar berhasil membujuk dirinya ke dalam momen pemberkatan kemarin. Henry mendorong kepalanya hingga mempertemukan kedua bibir mereka, pertukaran cincin setelah berciuman yang membuat hatinya berdesir-desir canggung, dan berakhir dengan kecupan manis di dahi Anne yang sekaligus memupus rantaian adegan-adegan diikuti kelopak matanya kini kembali berkedip.

Anne menghirup napasnya dalam-dalam. Dia kemudian mengangkat nampan berkaki yang mengolongi setengahan badannya tepat di atas paha dan memundurkannya sampai setara tulang kering. Secara hati-hati dia melakukannya karena mengingat piring dan gelas bekas sarapan masih tergeletak dia atas nampan.

Tatapan matanya tanpa sengaja terpaut ke manekin tanpa kepala yang berdiri di dekat lemari pakaian berwarna hitam pekat. Dahi Anne kusut beberapa detik dan timbul hasrat untuk membesuknya. Meskipun cahaya masih belum melingkungi berlian itu, tapi pesonanya tetap tergiur awet.

Lutut terlipat ke atas, lalu Anne membuka selimut. Kakinya kini menjuntai di pinggir ranjang setelah pantatnya bergeser sembilan puluh derajat.

“Heart Flawless … Diamond,” ucap Anne dengan nada siulan. Jari-jarinya mengusap berlian sambil mengetuk-ngetuk lembut. Susunan-susunan memori kembali tersegarkan kembali dan bermain di dalam alam pikirannya. Dia ingat berlian itu bukan asli alias duplikasi, karena berlian yang asli mendadak hilang dan dia juga tidak tahu, Lauren tampak terpendam di dalam kekesalannya dan segera menelepon Stacey, serta Luna menjahit berlian duplikasi itu ketika baru sampai dengan keterampilan hebatnya.

Anne tersirap. Meskipun tidak asli, dia suka dengan corak polosnya tanpa banyak lekukan-lekukan diagonal. Kedua bibirnya kemudian mengecup hangat Heart Flawless Diamond.

Jari-jarinya kembali mengusap berlian itu agar kilauan pesonanya memancar. Uap embun napasnya pun luput. Dia lalu meninggalkan manekin setelah melirik mantel handuk yang seakan-akan mengundang untuk segera dipakai.

Berhubung kulitnya terasa kering, lengket, dan butuh diremajakan secepat mungkin supaya mengusir kesuntukan, Anne pun menyetujui dan melunasi niat hatinya.

Kakinya berjalan masuk ke kamar mandi dan merambah ke dalam bilik kaca sembari menghidupkan alat pemancur air. Rerintikan hujan dari benda yang tertempel di atas kepalanya itu seketika menggelitiki ubun-ubunnya, membasahi leher, pundak, mengaliri dada padatnya, perut, paha, dan mata kaki sampai menyaluri limbah dakinya ke corong pembuangan.

Mulutnya tampak termangap sembari mendongak. Kedua tangan memeluk rapat lehernya. Anne lalu menunduk dengan netra menatap sekumpulan bulu-bulu lebat di daerah kewanitaannya.

“Aku malu kalau itu tidak dibersihkan,” gumam Anne risih. Deraian air sedikit-sedikit masuk melalui mulutnya. Apa jadinya kalau Henry membongkar wilayah bawah perutnya dengan napsu tak terkontrol nanti? Belum lagi bulu ketiaknya kembali memanjang satu-satu. Dia tidak mau kejadian damparatan pedas hanya karena bulu ketiak terulang kembali.

“Manusia berbulu.” Anne mencela dirinya sendiri karena sadar akan pertumbuhan bulu-bulunya sedikit lebih subur.

Kerlingan matanya menuju kotak perkakas berisi alat-alat untuk mandi di dekat wastafel dari bilik kaca. Anne lantas keluar untuk mengambil alat pencukur.

***

Rambut basahnya tampak dibalut handuk sehingga terbentuk seperti turban dan badannya dibungkus mantel handuk berwarna abu-abu muda. Anne kemudian bergerak ke arah lemari pakaian untuk mengambil baju yang dibutuhkannya. Namun sebelum berbelok dan memagut pegangan pintu lemari, Anne terpaku memandangi kaca tinggi yang menampilkan keseluruhan dirinya.

Pemikirannya tak pasti. Anne membuka turban handuk di kepalanya dan mengucek-ngucek rambut yang semrawutan lembab, lalu dia jatuhkan begitu saja ke lantai di dekat mata kakinya.

Anne terlihat tak begoyang setenang air kini.

Tangan kanan bergerak ke ikat pinggang mantel handuk sehingga terbebas simpulannya. Kedua tangan Anne kemudian kompak membuka mantel handuk bagaikan membuka tiraian keseluruhan di balik bilik kain berbahan hangat itu.

Mantel handuk jatuh ke lantai. Anne tersenyum kecil memandangi bentuk tubuhnya yang ramping dan bertulang, bulu-bulu terlihat asri bersih di sekitaran mahkota di antara paha, dada membalon sintal, dan lehernya menjenjang apik. Dia kemudian mengangkat kedua tangannya dan membentuk silang di atas kepala sambil merekah senyumannya menatap ketiak yang terbebas dari serabutan-serabutan halus.

Badan berbalik sembari lehernya terputar menatap kaca dari balik bahu. Anne sesadar mungkin menikmati bokong tepos yang masih bisa diremas dagingnya dan empuk.

Dia lalu meninggalkan bayangan dirinya di kaca dan melewati manekin. Arah kaki Anne kini menuju meja rias yang tidak jauh dari ranjang.

Dada bugilnya menantang ketika dia duduk di hadapan kaca dan meja riasnya. Anne termangu menatap pernak-pernik alat riasan dan kosmetik di atas meja. Akan tetapi, rasa penasaran muncul ketika melirik laci meja rias yang setara dengan perut ratanya. Dia kemudian mencubit pegangan berbentuk bundar dan menarik lacinya keluar.

Intuisi Anne tepat, karena merasa ada sesuatu yang dia kerjakan beberapa waktu lalu dengan laci itu. Tangannya menggapai ponsel pintar yang terbaring di antara bros-bros mahal.

Anne menghidupkan ponsel. Permasalahannya tetap sama—dia tidak tahu kata sandinya. Otaknya kembali teringat saat menemukan ponsel di atas meja rias dan waktu itu Anne hendak pergi ke acara perilisan terbaru kalung GF. Tentu dia mengira itu adalah ponselnya, tapi malah merasa ganjil karena tak bisa mengaksesnya dan tak biasa memegang model ponsel pintar bagi kalangan kelas atas seperti itu. Anne sempat menyangsikan kalau ponsel itu bukanlah miliknya.

“Ny. Goodfell—” Mata Emma termelotot dan sangat terkejut dengan penampilan berani Anne. “Oh, maaf.” Dia langsung membungkukkan pandangan matanya ke lantai dan berjalan mundur.

“It’s all right,” sela Anne dan seketika menghentikan asisten urusan rumah itu yang hampir keluar kamar lagi. “Ada apa?”

Emma terpaku dan tidak tahu harus bertindak bagaimana. Kalau kepalanya menegak, dia masih terkejut dengan penampilan bugil Anne. Dan kalau kepalanya terus menunduk, pasti akan sangat tak sopan.

“Ak-aku dapat telepon dari Tn. Goodfellow. Katanya nanti malam kau dan dia akan menghadiri makan malam bersama keluarga Goodfellow.” Emma gugup. Kepalanya berani menegak, tapi kedua matanya fokus saja ke wajah Anne.

“Keluarga Goodfellow?” tanya Anne kaget.

“I-iya.”

“Mungkin dia tidak bisa menelepon ke sini, makanya menelepon Emma,” batin Anne sambil menatap terus ponsel di depan putingnya.

“Ada lagi?” Anne menengok Emma dengan mengangkat sedikit kepalanya.

“Nanti malam, Ben akan menjemput.”

“Ben?” Dia tahu nama itu. Ingatan tentang profesi pria pelontos yang sangat bersahabat sebagai supir dan asisten pribadinya itu menggenjot seketika. “Oh, ada lagi?”

Emma menggeleng lemah, lalu pamit untuk mengurusi kegiatannya di dapur. Namun baru selangkah kecil dia berjalan, kakinya terhenti mendengar interupsi dari wanita di balik punggungnya itu.

“Emma, aku mau tahu ….” Anne bimbang.

“Ya, Ny. Goodfellow?” Emma berbalik seratus delapan puluh derajat.

“Tidak jadi.” Dia menggeleng kecil dan tersenyum datar. Sebenarnya dia mau mengeluh dan bertanya ke Emma tentang masalah ponselnya, barangkali dia tahu. Tapi, Anne mengurungkan maksud hatinya dan minta tolong ke Ben saja nanti malam.

Emma sadar posisinya sudah tidak diinginkan ketika si nyonya besar itu memutar leher menuju kaca rias sambil memegang gincu berwarna krim pudar.

Olesan gincu kemudian mencoraki bibirnya. Tangan Anne tampak sedikit gemetaran seperti anak yang baru pertama kali belajar menulis menggunakan pensil.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel