Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Cuilan XII

Celana panjang berwarna aprikot berbahan ringan, pinggang tinggi dengan simpulan kupu-kupu di pinggul kanan, dan atasan berleher oblong terlihat membalut cantik tubuhnya. Anne berkaca sambil menyerong-nyerong kecil tumitnya ke kiri dan kanan berulang-ulang kali. Lapisan rambutnya disisihkan di antara kening sambil memijit-mijit cepolan yang tegak di atas ubun-ubun.

Senyuman kecil terlihat merekah di bibir dan sekilas melirik alas kaki dengan tapak datar berwarna cokelat muda. Anne lebih suka memakai jenis sandal itu dibandingkan dominasi hak tinggi lainnya.

Tiba-tiba lehernya terputar mengarah ke pintu. Kaca panjang di hadapan Anne lepas dari perhatiannya ketika pria berpakaian kasual itu masuk dan menutup pintu kamar setelah seharian berada di luar dengan segudang aktivitas bisnisnya.

“Ready?” Tali jam yang melingkari pergelangan tangan tampak diketatkan sedikit. Rona wajahnya tetap tak acuh. Lalu, Henry membuka laci di dekat meja ranjang dan meraih parfum berbentuk kotak bening. Semprotannya memercik ke sudut bawah ketiak, dada, dan di balik tengkuk dengan keharuman maskulin dari esens bunga teratai, apel, dan pohon pinus. Henry sekilas tampak seperti petugas dengan alat metal detektor yang memeriksa dirinya sendiri.

Anne terpaku sejenak tatkala memandangi suaminya itu bisa berpenampilan keren juga dengan kaus abu-abu gelap mengepas dan berlengan panjang sehingga aura muda, gagah, dan bugar berhasil memikat hatinya.

“Ya,” ujar Anne pelan. Kedua kaki tertuju ke meja rias dan menatap wajahnya di kaca dengan polesan natural. Gincu berwarna merah muda lembut mewarnai kedua bibir. Dia lalu mengambil tas kecil di sebelah tapalan tangan kanannya.

Kedua netra membatu sejenak sambil menatap tas yang telah terbuka penutupnya. Anne ingat ada ponsel yang rencananya tadi akan diadukan kepada Ben supaya dicari solusi sampai benda itu kembali aktif dan dapat diakses seperti sedia kala. Alasan dengan bubuhan kalimat terlupa atau barangkali ponselnya rusak sudah benar-benar terpatri di dalam pikirannya, tapi orang yang menjemput Anne malah Henry.

“Bukannya Emma bilang kalau Ben yang akan menjemput?” tanya Anne dalam batin dan bola matanya menggeser ke pria yang tengah duduk di sofa dekat gorden dengan gaya rambut seperti duri-duri es menyamping itu tampak asyik mengetik-ngetik di layar ponselnya.

Kepalanya langsung bangun dan mengarah ke Anne, seolah-olah insting seseorang yang sedang memperhatikannya bekerja dengan sangat baik.

“Ready?” Henry bertanya dan mengulang kata yang sama. Dia melihat sang istri mengerjap-ngerjap dan menundukkan pandangannya.

“Ya,” balas Anne singkat sambil menutup tasnya.

Henry kemudian bangkit dari sofa dan menyelipkan ponsel di saku celana denim. Anne mulai bergerak membuntuti pria yang sedang membuka daun pintu itu.

Chris tampak selalu siap menunggu tuan besarnya di luar dari tadi, dan menerima anggukan persetujuan untuk menyupiri kedua pasangan yang masih ranum itu menuju kediaman keluarga Goodfellow.

Saat kaki mereka bertiga memulai tahapan beberapa jengkal, Ben langsung menghentikan siulannya sembari menatap Chris, Anne, dan Henry bersamaan. Gerakan Ben membisu setelah tiba di puncak anak tangga terakhir dengan kepala termiring dan alisnya sedikit mencelat.

“Ben, kami akan pergi ke Killin bersama Chris. Aku lupa mengabarimu.” Henry mendekati pria yang masih terkejur itu lantaran tugasnya jadi sia-sia sesampai di mansion.

Chris dan Anne tampak merayap tak seberapa jauh di balik punggung Henry.

Pria bernama lengkap Christopher Hill itu lalu mendahului Henry tanpa diberi aba-aba dengan cekatan.

“Em ….” Suara seksinya mengoak seperti burung gagak dan menghentikan langkah kaki asisten pribadinya itu sebelum mengarungi anak-anak tangga menuju lantai bawah. “Kalian berdua mengingatkanku pada masa kecilku.” Telunjuk Henry bergantian mengarah ke kedua pria dengan profesi serupa yang tampak saling berhadapan, meski badan Chris mengahadap ke depan tangga.

Chris bingung, sedangkan Ben tetap termangu di dalam kebosanannya.

“Tweedledee dan Tweedledum,” celoteh Henry sambil mengangguk-angguk kecil dengan tawaan tertahan. Dia lalu membelah ruang kosong di antara kedua pria botak yang tampak saling menatap kini.

“Oh, bukan versi yang ada di buku-buku cerita. Tapi, film. Disney’s live action, If I’m not mistaken?” lanjut Henry sambil membalikkan badannya setengah, lalu menuruni tangga dengan cekikikan renyah.

Anne hanya bisa melirik sambil lalu saja di antara dua pria yang mirip itu. Dia tidak mau tertinggal jauh menyusul suaminya.

“Sepertinya dia sehat. Apa obat kemarin manjur?” tanya Ben di dalam benak. Matanya saling bertaut dengan Anne sekian detik sebelum meluncur ke turunan anak tangga memburui Henry.

Chris mendengkus kesal. Deruan angin terlepas dari kedua lubang hidungnya karena disamakan dengan tokoh yang ada di dalam cerita anak-anak berjudul Alice In Wonderland. Sebetulnya, Chris sudah mengetahui gaya tampilan Ben menyerupai dirinya pada saat peluncuran kalung GF seminggu yang lalu. Namun, juniornya itu malah bercanda-canda dengan alasan mengikuti Chris sebagai panutannya.

Jangan bilang dia mempercayai Ben yang berkarakter seperti badut itu. Chris tidak terlalu menggubrisnya, tapi sindiran tak terduga dari Henry seakan meruntuhkan harga dirinya.

Ben ditinggalkan sendirian setelah bertatap-tatapan sengit dengan seniornya tadi. Dia mendecakkan lidah sambil berkacak pinggang karena tak tahu harus berbuat apa selanjutnya. “Lebih baik aku minum ke pub. Lumayan, ada waktu kosong,” katanya menyimpulkan sendiri.

***

Bunyi tutupan pintu terdengar empuk di gendang telinga seperti memukul air tenang dengan telapak tangan yang rapat dan cepat.

Chris tak berlama-lama lagi untuk menghidupkan mesin mobil dan segera memulai perjalanan.

Mansion memuntahkan mobil mahal berjenis SUV dan menjelajahi Firhill Road. Kedua pengantin baru itu masih saling diam satu sama lain, meski saling bersebelahan dengan jarak setengah lengan.

Anne terlihat melipat kedua tangannya di depan dada sambil menggosok-gosok lengan atasnya. Dia merasa suhu dingin di malam itu lumayan mencekam hingga berhasil merambat masuk ke dalam mobil.

“Chris, hidupkan penghangatnya.” Henry memerintah asistennya yang duduk di balik kemudi.

“Ok, Sir,” jawab pria bermata perak gelap itu dan menghidupkan sistem penghangat mobil dengan cekatan.

“Heuh?” Anne sedikit salah tingkah karena tak dinyana mendapatkan perhatian dari suaminya yang berwatak keras itu. Tapi, tetap saja dia tak berani menoleh ke Henry dan langsung memalingkan pandangannya ke kaca pintu mobil dengan suguhan bangunan memanjang dari stadion sepakbola bernama Firhill Stadium.

“Kau sudah mendingan?” tanya Henry kaku. Kepalanya tetap fokus ke depan, lalu menengok ke samping setelah ekor matanya menangkap Anne sedang berani menatapnya. “Sudah minum obat?”

“Oh, ak-aku baik-baik saja,” jawab Anne agak kalang. Dia masih tak enak dengan kejadian kepala pening dan mual di malam manis yang dipersiapkan Henry sebagai saksi ritual bercumbu-cumbu secara legal bagi keduanya. “Tidak perlu obat. Cukup istirahat dan … makan.”

“Aku tidak mau seperti itu lagi.”

Anne mengulum bibir dinginnya.

“Terlepas kemarin malam kau berbohong atau jujur. Peristiwa itu sangat murahan di mataku.” Henry tak berkedip, dagunya tak bergoyang, dan mulutnya kembali tersibak. “Aku tidak terbiasa direndahkan begitu.”

Dadanya tampak mengembang ketika mendengar ultimatum yang seakan-akan masih menyangsikan sang istri berpura-pura dengan kejadian di malam setelah pernikahan itu. Anne lalu melancarkan napasnya dengan ketukan pelan satu per satu seperti peserta yang mengikuti kelas meditasi.

“Buka cepolan rambutmu. Aku tidak suka,” desak Henry. Urat lehernya seketika mencuat.

“What?” sungut Anne. Otomatis menoleh deras ke pria di sampingnya.

“I don’t like that.” Intonasinya mengancam dan tetap menatap tekun ke depan.

“It’s just a bun. What if I say that I don’t want—”

“I—don’t—like that.” Sorotan tajam menyiksa iris mata istrinya yang bergetar-getar.

Anne mendecak kesal. Tangannya merampas ikatan dan jepitan cepolan, lalu dia masukkan ke dalam tas secepat mungkin dengan kesal. Jarinya kemudian menggaruk-garuk rambut yang menggumpal dan kini harus bergabung dengan juluran-juluran kelompok rambut lainnya.

“Tidak usah pakai kaca,” pikir Anne sambil mengutuk-ngutuk kenapa bisa punya suami dan betah memacari seorang Henry Goodfellow dulu. “Apa aku tidak sadar berpacaran dengan Henry? Apa aku diguna-guna?”

Anne terkesiap. Tangan kanannya baru saja beristirahat di atas paha, tapi seketika disusupi telapak tangan besar milik pria yang berada di dekatnya. Sebenarnya dia refleks hendak melepaskan pelukan tangan Henry, tapi dia takut nanti pria itu murka karena tersinggung.

“I still love you,” kata Henry dengan nada berbisik sembari rajin mengelus-elus punggung tangan pujaan hatinya yang cuma bisa diam seribu bahasa.

Anne sedikit geli dan masih belum terbiasa menghadapi perangai seperti roller coaster itu.

***

Mobil mereka telah sampai di Desa Killin setelah memakan kurang lebih satu setengah jam, dan memasuki pekarangan rumah bergaya Tudor dengan atap berbentuk segitiga yang menegak tinggi.

Anne sempat tak percaya kalau rumah dengan tembok bata ekspos yang sangat mencirikan kejayaan era Ratu Elizabeth I itu sesederhana seperti yang dilihatnya sekarang. Untuk ukuran modelan seperti Henry, rasa-rasanya dia tak begitu yakin kalau pria bersepatu sneakers kasual itu keturunan dari keluarga yang biasa-biasa saja.

Terkatup mulut Anne setelah sekian detik menganga sembari kupingnya menangkap hempasan pintu dari Henry.

Mobil melaju untuk diparkirkan di halaman belakang. Henry tersingkap tepat di belakang Anne dari balik badan mobil.

“Move,” tegur Henry sembari melintas di samping Anne menuju pintu rumah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel