Cuilan V
Sekumpulan wanita berbusana modis menyambut dan lekas-lekas menuntun Anne ke dalam ruangan khusus mendandani pengantin. Tanpa berpikir lama, Anne pun menuruti kehendak dari salah satu mereka agar membuka baju bawaannya dan diganti dengan gaun pengantin yang sudah diberikan oleh Ben setelah ke ruangan itu beberapa saat lalu.
Cermin panjang menyiarkan postur lengkap tubuhnya dari atas hingga bawah. Anne memakai gaun putih berbahan sifon dengan bawahan mengembang berbentuk segitiga simetris, tali bahu setipis lidi, dan renda rajutan berupa bunga-bunga yang ditambal manik-manik berlian.
“Apa kau sudah sarapan?” tanya salah seorang wanita dengan kacamata petaknya.
Anne menggeser kepalanya dan mengangguk ke arah perempuan tekun itu. “Sudah. Waktu di jalan mau ke sini.” Dia mempersiapkan dirinya dengan baik dan menyantap haggis untuk sarapannya di dalam mobil. Makanan khas Skotlandia berisi jeroan domba seperti jantung dan paru-paru, cincangan bawang, oatmeal, lemak, garam, dan rempah-rempah dengan dibungkus menggunakan rebusan lambung domba itu telah dipersiapkan sangat baik oleh Emma.
“Oh, sorry. Aku agak telat,” ujar perempuan berambut pixie yang mengenakan baju berleher tinggi, bahannya elastis dengan warna hitam pekat, berlengan panjang, dan celana katun panjang abu-abu. Dia melenggang masuk dan langsung menghampiri sang calon pengantin wanita.
“Hai, Anne.” Perempuan beranting-anting oval besar dengan aksen bubuk-bubuk kerlip itu tersenyum singkat. Tanpa menunggu jawaban Anne barang beberapa detik saja, dia langsung tampak sibuk memeperhatikan detail-detail baju pengantin.
“Hai.” Anne tetap melancarkan sapaan baliknya, meskipun wanita bernama Lauren itu hanya membalas dengan gelagat curi-curi pandang.
Dia sedikit gentar dengan rona Anne yang tersenyum tulus. Biasanya Anne Winterdust selalu jutek, datar, cuek, dan memberengut jika berurusan dengan wanita yang bernama lengkap Lauren McReeds itu. Dia pun sebenarnya juga tidak heran kenapa Anne begitu pasif padanya. Tidak lain dan tidak bukan, karena wanita lulusan Oxford University itu cemburu dengan kedekatan Henry dengan dirinya. Bahkan Lauren pun juga tahu seluk-beluk pertikaian kedua calon pengantin, karena Henry selalu curhat dan sekadar butuh ruang untuk saling bergurau dengannya. Meskipun Henry kerap berdalih bahwa Lauren hanyalah teman dari masa kecil, remaja, dan hingga dewasa seperti sekarang, Anne yang asli tidak mentolerir kedekatan mereka berdua lantaran dia tahu kalau Lauren juga menaruh hati pada pengusaha muda di bidang perhiasan itu.
“Ada yang salah di sini,” kata Lauren sembari terus memandangi gaun pengantin dan matanya bermuara ke bagian dada tengah. “Seharusnya di sini ada berlian berbentuk hati. Di mana dia?”
Anne menunduk dan menatap sekilas ke dadanya. Dia benar-benar tidak mendapatkan petunjuk dari apa yang dimaskud wanita berbulu mata lentik itu.
Lauren mendecakkan lidahnya kecil dengan penuh sesal. “Luna, apa berliannya sengaja kau copot? Atau bagaimana?” tanyanya dengan nada tegas dan menegur wanita berkaca mata petak tadi yang merupakan salah satu asisten kepercayaannya.
Anne hanya diam dengan percikan yang terjadi di pagi menuju jam delapan itu.
“Oh, em. Seharusnya … apa ada, ya?” Luna bertanya balik dengan nada suara sedikit oleng menghadapi kepala proyeknya. Dia seketika merasa bersalah dan menggigit bibir bawahnya.
“Ck. Kenapa pekerjaanmu jadi tidak beres begitu?” Lauren mengumpat kesal. Dia kemudian mengeluarkan tablet berukuran sebelas inci dari tas sandang yang dibawa asisten pribadinya. Lalu, jarinya menggeser layar demi layar dan menunjukkan sesuatu yang dipermasalahkan kepada Luna.
Anne melihat sekilas rancangan baju yang tertampil di layar tablet. Memang benar. Ketika Lauren memijit layar, berlian berbentuk hati tampak sedang terfokus dengan jelas.
“Em, maaf. Aku tidak mau ikut campur. Tapi, kenapa bisa hilang? Aku benar-benar tidak tahu,” ujar Anne sehingga memaksa Lauren melemparkan tatapan ke dirinya.
“Hm.” Lauren hanya menghela dan mengangkat kedua alisnya serentak. Tidak ada tanggapan berarti dari mulut wanita yang sejatinya Anne mengetahui bahwa dia dan Henry telah bertemu di sebuah restoran khusus steak ketika menuju aktivitasnya melakukan fitting baju di minggu kemarin. Anne benar-benar baru tahu sekarang kalau wanita bersuara desah itu merupakan perancang busana pernikahan dirinya dan Henry. Tapi, hal yang menjadi misteri adalah kenapa hubungan mereka bisa seintim itu sampai pegang-pegangan tangan segala.
“Apa benar-benar aku harus cemburu?” tanya Anne gamang dalam batin. Dia seakan benar-benar merasa tidak ada secercah rasa kasih sayang ataupun cinta tulus pada Henry. Justru hanya merasa kasihan dengan pria yang sepertinya punya gangguan mental karena kerap kasar dan mau menang sendiri.
“Stacey, bisa kau suruh asistennmu segera bawakan duplikat Heart Flawless Diamond untuk gaun pengantin Anne Winterdust?” Lauren menelepon. Anne tahu dengan siapa dia bicara. Siapa lagi kalau bukan Stacey Wise—sang perancang perhiasan. “Aku rasa kemarin ada duplikatnya, ‘kan?”
“Aku tidak tahu juga. Berlian itu hilang sekarang. Semua orang tidak tahu,” kata Lauren memburu sambil giat menahan kesebalan. “Masih ada waktu dua jam. Atau, kalau bisa lebih cepat dari itu.”
“Ya benar, lokasinya di Nevis Range. Tolong lebih cepat, Stace. Acara pemberkatan dimulai jam sebelas soalnya.” Lauren mengontrol kegeramannya dan berusaha sabar.
“Tidak bisa, Stacey,” lanjut Lauren setelah mendengar kalimat-kalimat negosiasi wanita ceriwis yang membujuknya untuk tidak usah memakai berlian itu mengingat keadaan sudah begitu mepet. “Kau tahu, ‘kan? Aku kalau sudah merancang, tidak boleh ada satu pun tertinggal atau bahkan hilang. Kalau modelnya begitu, ya, kubuat begitu. No debat pokoknya.”
“Bisa, ya, Stace.” Lauren memohon dengan melembutkan bunyi suaranya. “Kau suruh asistenmu mengantarkannya ke Nevis Range.”
Lauren kemudian menutup telepon setelah Stacey menyanggupi permintaannya, meski rada-rada memaksa.
“Dua jam dari sekarang, berlian hati itu akan datang,” kata Lauren ke para asistennya berjumlah enam orang dan Anne dari tadi cuma bisa bergeming mencerna keteledoran yang masih tidak jelas siapa yang harus mempertanggung jawabkannya. Sementara Anne memang sudah tahu gaun pengantin itu ada di kamarnya, tapi dia betul-betul tidak tahu kalau ada berlian hati sebagai ornamen di dada. Anne hanya tahu desain gaun pengantin sebagaimana yang dia pakai sekarang tersangkut rapi di manekin.
“Sebaiknya rias saja dulu penagntinnya,” ujar Lauren menyuruh salah seorang asistennya berambut keriting dan berwarna jahe seperti keturunan Skotlandia kebanyakan. “Aku mau keluar sebentar melihat persiapan pengantin pria.”
Lauren lantas memutar balik badannya dengan bunyian lantang dari sandal hak tinggi elegan, tali pengikat pergelangan kakinya dapat disesuaikan, bantalan telapak kaki terbuat dari kulit binatang yang sangat membuat nyaman ketika bergerak, dan berwarna hitam pekat. Dia tak berbasa-basi kepada siapa pun, termasuk Anne Winterdust. Air mukanya berubah berseri-seri dan semangat untuk menyambangi seorang Henry Goodfellow yang dia pikir akan semakin berkharisma dengan busana pernikahan khas rancangannya.
