Cuilan VI
“Aku datang ke sini pakai sayap yang penuh ludah cerocosan,” ujar pria berperawakan pendek, kecil, kurus seperti kelaparan berhari-hari, dan melambai. Dia lalu membuka kotak khusus berlapiskan kain beledu hitam dari tas sandangnya.
“That’s it! You’ve saved my live.” Luna menderap ke pria bernama Erick sambil terpukau akan sinaran Heart Flawless Diamond, walaupun hanya duplikasi. Kedua jarinya pelan-pelan mencapit dan mengeluarkan berlian itu dari singkapan persemayamannya.
“Hm. Di mana toilet di sini?” tanya Erick. Mukanya tampak tak bergairah, lesu, dan masa bodoh dengan kelopak mata setengah kuyu ketika menatap ekspresi Luna seperti anjing yang tersengat terik matahari di siang bolong.
“Aku tidak tahu. Kau tanya saja orang lain di luar. Kami sibuk.” Kibasan rambut Luna sambil membalikkan badannya seakan mengusir suruhan Stacey Wise itu yang terlihat pucat menahan kencing dengan lutut bergetar.
Tangan Luna membantu Anne berdiri dengan hati-hati dari tempat duduk riasnya. Dia mengambil gulungan benang dari kotak laci meja dengan energik dan mulai menjahit berlian supaya tersangkut indah di wilayah tengah dadanya.
Anne diberi aba-aba agar diam di beberapa menit ke depan. Meskipun perasaannya gundah ketika melihat jarum mulai menusuk kain, seakan tidak lucu jika itu menusuk dada sintalnya. “Bisa jadi seperti balon meletus,” katanya polos dalam hati. Namun, Anne segera mengontrol pikirannya karena dia percaya keprofesionalan perempuan muda berponi tirai itu.
“Em … Anne.” Luna mengajaknya bercakap-cakap sembari mengisi kekosongan.
“Ya,” tutur Anne dengan mulut hampir tak terbuka dan suara tertahan karena kepatuhannya untuk selalu diam, tapi anehnya malah diajak bicara.
“Apa dadamu tidak merasa sesak?”
“Em?” Anne tidak tahu maksudnya.
“Tidak merasa kepenuhan di sekitar dada?” Mata Luna tetap menjuling secara telaten ke benang dan jarum secara bergantian. Dia membuktikan pekerjaannya sebagai penjahit yang terampil. “Apa ukuran bra-mu masih sama?”
“Ya, agak sesak. Tapi, ya, tidak apa-apa,” sahutnya singkat. “Memang aku suka beli bra berukuran lebih setingkat dari yang kupunya di dalam lemari akhir-akhir ini. Mungkin berat badanku naik.”
Luna hendak melontarkan keheranan dari bentuk dada Anne yang bulat berisi. Di dalam ruang kepalanya terbubuhi penuh kecurigaan apakah Anne mungkin melakukan operasi payudara, implan, atau metode suntik-suntikan memakai bahan kimia lainnya sehingga melunturkan ikonnya sebagai alumni dari kontes kencantikan yang dituntut berpenampilan apa adanya dengan kecerdasan luar biasa. Namun, Luna akhirnya membenamkan spekulasi-spekulasi yang bisa jadi akan menyingggung Anne dan tentunya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Oh. Mungkin, ya ….” Luna tidak percaya kalau berat badan wanita di depannya sedang naik. Buktinya pinggul, perut, dan punggung semuanya tampak pas. Bahkan, Luna menyadari Anne agak terlihat kurus dari biasanya.
“Bagaimana?!” Lauren menerobos masuk ke ruang dandan lagi. Anne mendelik ke arahnya. “Aku tadi bertemu Erick—asisten Stacey di luar. Apa sudah beres?”
Luna menggunting dengan sigap sisaan benang dari cantolan di balik Heart Flawless Diamond. Dia kemudian melihat bosnya sekejap dari balik bahu dan memutar tumitnya penuh. Senyumnya seperti mentari di pagi hari. “OK. Ready.”
“Good.” Lauren mengamati dari ujung kaki sampai berhenti ke wajah Anne yang begitu terias apik dan tidak terlalu berlebihan. Lipstik berwarna rasberi muda tampak semakin meningkatkan daya tarik seorang Anne Winterdust.
Dari dalam hati sebenarnya dia mau mengulas senyuman ke Lauren. Tapi berhubung lagak wanita bertubuh tinggi semampai dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya itu tampak congkak, Anne kemudian merendam maksud hatinya begitu saja.
“Jam berapa sekarang? Apa sudah mau dimulai?” tanya Lauren sambil mencari-cari jam dinding dengan mata berwarna abu-abu gelapnya, namun tidak satu pun dia temukan hingga dahinya mengernyit.
“Sebelas kurang sepuluh menit,” kata Luna sembari menekuri ponsel pintarnya bermodel lipat itu. Dia mau menutup dan membalikkannya lagi ke dalam tas kantungnya tadi. Ibarat sambil menyelam mninum air, dia pun sekalian mengecek jam dan memberitahu Lauren.
“Sepertinya sebentar lagi—” Kalimat Lauren terpenggal ketika seorang pria sebagai penyusun dan koordinator acara pernikahan Anne dan Henry berdiri di depan pintu. Pria berpakaian kemeja rapi itu mengumumkan bahwa acara siap dilaksanakan, Henry sudah bergerak lebih awal ke tempat pemberkatan, dan para pengiring wanita telah bersiap-siap menyambut Anne di luar.
Hatinya seakan meluncur jatuh ke dasar lambung. Dia tidak tahu apakah harus bahagia, panik, sedih bercampur senang, atau bagaimana. Normalnya para pengantin mungkin akan menikmati kekhidmatan dan gejolak kebahagiaan yang tak terlukiskan, tapi Anne justru merasa masih hambar dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi di hari spesial bagi setiap pasangan di dunia ini.
Lauren keluar dari ruangan dan mengajak asisten pribadinya. Tiba saatnya dia menyusul untuk menjadi tamu undangan sekaligus penyaksi janji suci.
“Ini buket bungamu.” Luna memberikan buket mungil berisi karangan bunga peony, dahlia, dan mawar kepada Anne.
Tangkai buket itu digenggam tangan kanan Anne. Napas kegugupannya menggetarkan salah satu kelopak dahlia.
***
“Tn. Goodfellow. Sekarang kau bisa menggandeng pengantin wanitanya,” kata si koordinator acara kepada lelaki tua berumur tujuh puluhan dan segera menyambagi Anne.
“Anne. Wow, beautiful.” Pria berkulit keriput dan tampak bergoyang-goyang dagingnya ketika bergerak sedikit saja, seolah-olah tak terlengket di tulang seutuhnya. Lalu, dia memepersilakan Anne mengaitkan tangannya ke dalam lubang gandengan yang telah dibuatnya.
Anne tersipu akan pujian pria tua yang belum dia ketahui secara jelas statusnya. “Apakah pria tua ini ayahnya Henry?” tanyanya dalam batin. Anne tersadar kalau Henry belum mengenalkan anggota keluarganya sehingga membuatnya semakin bingung, seakan-akan selama ini dirinya tak lebih hanyalah sebagai kekasih simpanan
Giliran pengiring pengantin wanita beraksi dan segera mengatur formasi di belakang Anne. Mereka berdua mengangkat gaun pengantin agar tidak menyapu jalur yang berumput dan bertanah.
Jika pengiring wanita sebanyak dua orang berada di belakang, maka dua pengiring anak-anak di depannya terlihat seperti kurcaci yang menenteng keranjang berisi petikan-petikan kelopak bunga untuk ditaburkan sewaktu memasuki jalur inti menuju tempat pemberkatan.
Alunan musik bernada nyaring, meliuk-liuk, dan merdu yang berasal dari alat musik tradsional Skotlandia bernama bagpipe telah menemani segerombolan pengiring sang calon pengantin wanita. Tidak terasa sudah berjalan kira-kira sejauh lima puluh meter dari bangsal kayu yang disulap menjadi tempat dandan pengantin. Anne kini telah berada di tengah jalan dan dihimpit oleh pepohonan-pepohonan rindang yang menggerisik di sisi kiri dan kanan.
***
“She looks gorgeous,” ujar Molly dengan menggerakkan bibir kecilnya. Kakak tengah Henry Goodfellow yang bertubuh tambun, pendek, dagu berlipat dua, pipi bulat tembam, dan dadanya boros meluber ke mana-mana itu memancing pembicaraan dengan kakak tertua di sisinya.
“Penampilannya agak dipaksakan. Senyumnya tidak tulus.” Perempuan kurus seperti kabel dan bermuka judes itu mencibir dari balik gigi kuningnya karena kebiasaan merokok.
“Kalau kau tidak suka, maka berpenampilanlah seolah-olah kau suka,” balas Molly sambil terkikih kecil di kerongkongannya.
“Maksudmu? Kau menyindirku apa dia?”
“Let’s see, Holly. Dia tersenyum ke kita.” Molly mengatup kedua bibirnya setelah menyenggol siku Holly ketika calon adik ipar mereka secara bergilir melirik para undangan yang mengapitnya sambil setia tegak berdiri tanpa memutarkan lehernya dengan senyuman awet.
Kedua netra Anne menangkap sekilas para undangan pria yang rata-rata mengenakan jas hitam maskulin, sedangkan para wanita hampir keseluruhan memakai hiasan topi yang biasa digunakan wanita-wanita Inggris dengan padananan busana sekreatif mungkin.
Lalu, Anne meluruskan pandangannya ke depan tanpa mempersoalkan pekerjaan luar biasa dari bocah-bocah perempuan yang menaburkan kelopak-kelopak bunganya sehingga sukses membagi porsi tontonan para undangan agar tidak selalu terpaku ke dirinya.
Henry berpakaian tuxedo hitam dengan ornamen bunga tersangkut di dada kirinya tampak gagah berdiri di atas undakan sebagai tempat pemberkatan yang ditata rapi menggunakan rumput hijau oleh penyusun acara. Parasnya berseri-seri menyambut calon istrinya.
***
“Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya akan persilakan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya.” Imam dengan jubah serba putih itu mulai mengiringi janji suci perkawinan kedua pengantin.
“Henry Stuart Goodfellow. Maukah saudara menikah dengan Anne Beatrice Winterdust yang berdiri dan hadir di depanmu untuk mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun duka?” lanjut Imam berkacamata bundar kecil.
“Yes, I will.” Mata birunya seakan membius Anne. Henry sukses mengucapkannya dengan mantap.
“Anne Beatrice Winterdust. Maukah saudara menikah dengan Henry Stuart Goodfellow yang berdiri dan hadir di depanmu untuk mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun duka?”
Anne menelan payah salivanya. Matanya tak berani menatap lansung Henry. Dia hanya menatap dagu dan sesekali jakun pria yang menunggu-nunggu jawaban dari janji sucinya.
Lengang.
Daun-daun bergesekan satu sama lain sehingga bunyinya membangunkan bulu kuduk Anne.
Para undangan terpatung.
Anne membuka matanya. “Yes. I will.”
Lirikan mata dengan kepala saling toleh-menoleh dan senyuman lega dari setiap hadirin seakan langsung mencairkan suasana perkawinan.
Lauren tampak berdiri di sisi belakang dengan wajah mengendur.
Tanpa harus disuruh sang Imam, Henry menyodorkan bibirnya ke Anne. Mereka berciuman selama sepuluh detik.
Lauren menggulung matanya ke langit.
Henry tersenyum puas.
Anne tersenyum dengan garis bibir mendatar. Pekerjaannya sebagai penghibur para undangan telah rampung terlaksana, lantaran hatinya masih merasa ganjil kepada pria yang sudah sah menjadi suaminya kini.
Dan, Anne Winterdust telah resmi menjadi Anne Goodfellow.
