Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Cuilan IV

“Ayo, kita berangkat,” ucap Anne sambil menutup pintu mobil. Pinggulnya sedikit digerakkan agar mencari posisi yang nyaman ketika duduk.

“Em, kita akan pergi?” Ben menatap Anne dari kaca spion yang tertempel di tengah. Matanya menelurkan sejumlah tanda tanya. Dia cukup kaget melihat Anne Winterdust berbusana seadanya saja dengan celana denim dan baju kaus berlengan pendek. Biasanya paling tidak dia mengenakan blus untuk kegiatan nonformal, wajah dirias cerah, dan wangi semerbak di dalam mobil sangat mencirikan dirinya. Namun, Ben cepat-cepat tersadar bahwa wanita yang sedang duduk di belakang itu bukanlah Anne Winterdust asli.

Walaupun Anne palsu sedang di dalam kelinglungan dan memorinya termanipulasi, tapi sifat aslinya tetap melekat.

“Kita akan ke mana, Nn. Winterdust?” Ben bertanya. Mobil yang sengaja dia ganti dari kemarin dengan alasan Anne Winterdust lebih memerlukan sedan dibandingkan mobil MVP yang digunakan terakhir di Desa Wanlockhead terdengar tengah dihidupkan. Ben sengaja beralasan seperti itu agar tidak terendus dari apa pun yang telah terlanjur dibuatnya.

“Ke mana?” Anne bertanya balik, lalu berpikir sejenak. “Aku sebenarnya tidak tahu. Bagaimana kalau ke tempat yang menenangkan?”

Dahi Ben seketika bergaris-garis. Anne Winterdust asli dikenangnya tidak pernah bertanya balik dan tujuannya pun selalu jelas. Ben lalu mengangguk tipis sambil tetap memaklumi. “Baik.”

Punggung Anne bersemayam dengan lembut ketika gambaran dari luar kaca mobil telah bergerak maju.

***

Mereka sampai di sebuah taman kota bernama Glasgow Green. Ketika Anne keluar dari mobil, matanya tampak berbinar-binar menyantap segala kehijauan di setiap sudut taman. Aliran darahnya seakan lancar dan menyejukkan otaknya.

Anne mengajak Ben untuk sekalian menemaninya. Ben menoleh dengan sigap dan terpelongo, karena selama ini dia tidak pernah begitu intim dengan Anne Winterdust. Paling sering, Ben hanya diminta menunggunya saja.

“Aah. Di sini sangat bersih dan berangin.” Hembusan siliran angin meniup-niup rambutnya. Anne kemudian menyelipkannya di balik daun telinga.

“Seperti mendapatkan kedamaian,” lanjut Anne. Kepalanya menoleh ke arah Ben yang menemani setahap demi setahap irama kakinya.

“Di sini memang bagus buat merelaksasi diri,” jawab Ben sekadar saja. Meski bisa pelan-pelan beradaptasi dengan Anne versi baru, Ben tetap saja merasa canggung.

“Ya. Rasa-rasanya aku tidak begitu asing dengan semua yang bersentuhan dengan kehijauan, rindang, dan asri seperti di tempat ini,” ungkap Anne. “Aku merasa seperti terbiasa dibandingkan hidup di dalam rumah besar yang mewah.”

Ben tak tahu harus membalas apa. Hatinya mendadak berdesir-desir dan perutnya agak mulas ketika mendengar pengakuan yang memang merefleksikan jati diri wanita di sebelahnya yang berasal dari pedesaan dengan dataran-dataran tinggi berbukit hijau.

“Woaah, patung siapa ini?” Kepalanya sedikit mendongak ke patung seorang pria berjaket klasik dipagari besi-besi hitam tipis setinggi paha.

“James Watt. Ahli mesin ternama kebanggaan Skotlandia,” jawab Ben.

“Ah, ya. Aku seperti pernah membaca kisahnya. Mungkin di sekolah?” katanya. “Namanya seperti tidak asing.”

Ben tak berkomentar. Kedua tangan beristirahat di atas pantatnya.

“Sayang sekali. Patungnya tidak terurus.” Bibir bawah Anne terlihat maju sekilas ketika mengungkapkan kekecewaannya melihat patung yang tak terawat sehingga dipenuhi lumut-lumut.

“Apa mau mengambil foto, Nn. Winterdust?” Ben menawarkan.

Anne menggeleng cuek. “Aku tidak selera melakukannya.”

Ben mengatup kedua bibirnya dan benaknya berdengung. “Anne Winterdust yang asli tidak mungkin menolak dan sangat senang memgambil foto di tempat-tempat tertentu.”

“Em … Ben. Aku boleh minta sesuatu darimu?” tanya Anne sambil sekilas melirik.

“Ya?” Dia sekejap mengerjap dan bola matanya langsung membidik Anne. Lamunannya berhasil tidak terus diperlihara.

“Jangan panggil aku Nn. Winterdust.”

“Em, maksudnya?” Alis kanan Ben terjungkit ketika meresponnya.

“Panggil saja Anne.”

“Ah, aku ….” Ben mengelak dan merasa tak enak.

“Just call me Anne. Ok?” Anne melekukkan garis mulutnya sehingga tersenyum manis kepada pria itu.

“Oh, I can’t.” Dia semakin salah tingkah sambil menekukkan lehernya. Tangannya terlihat rajin mengusap-usap tengkuk.

“Anne saja. Ok?” Anne berusaha meyakinkan dan sedikit memaksa.

Ben menggeleng-geleng kecil dan tertawa renyah. Anne pun ikut terbawa suasana cair itu.

“Oh, ya. Kemarin ada wanita muda yang bilang padaku untuk mengikuti Runway perilisan kalung terbaru GF,” kata Anne memulai topik yang baru.

“Hm.” Ben mengangguk.

“Itu acara seperti apa?” tanya Anne dan menoleh dengan tatapan sedikit mencuri-curi. Dia merasa bersalah lagi lantaran wajah Ben tersirat keheranan. “Maksudku … aku akan jadi apanya?”

Ben kemudian menjawabnya cepat agar Anne tidak merasa ganjil dengan hal-hal baru yang dia jalani. “Ya, kau berjalan di atas panggung seperti model, Nn. Winterdust.”

“Ben ….” Anne menegur asisten pribadinya agar tidak usah terlalu formal memanggilnya.

“Oh. Em … Anne.” Dia tergagu sambil menggaruk-garuk kecil pipinya dengan jari telunjuk. “Itu …. Ya, begitu.”

Anne mengangguk-angguk, tapi nada suaranya melayang sembari berusaha mengail bayangan-bayangan dari ingatannya. “Hm.”

“Sebaiknya kau berlatih, Anne.” Ben menyarankan. Tapak kaki mereka terhenti sekejap.

“Ya. Ide bagus!” ujarnya setengah memekik. “Tapi, dengan siapa? Apa kita membutuhkan pelatih untuk sehari ini saja?”

“Bagaimana kalau lihat dari internet?”

“Dari internet?”

Ben lantas membuka ponsel dan menyentuh salah satu aplikasi penyaji video.

Setelah lima menit menonton video yang berisikan model-model berlenggak-lenggok di panggung peragaan busana, timbul rasa penasaran Anne untuk mempraktikkannya.

Ben tak kuasa menahan gelaknya karena melihat gaya jalan wanita itu yang masih kaku. Kaki wanita dengan sandal sintetik beralas pipih itu tampak seperti terlalu menyilang satu sama lain dan dilebih-lebihkan.

Anne kemudian ikut-ikutan tertawa juga. Dia berkacak pinggang dan perangainya dibuat-buat dengan wajah tegas ala-ala model.

“Geli, ya?” tanya Anne ketika menatap pria berusia tiga puluh dua tahun itu berulang-ulang kali menahan dadanya dengan telapak tangan agar ledakan tawanya dapat terkendali.

Anne kini mencoba lebih serius.

“Wow!!!” Ben bertepuk tangan menghargai usaha majikan gadungannya itu.

“It works?” tanya Anne setelah memeragakannya dengan apik di jalur panjang menuju The Nelson Monument yang sangat pas untuk latihannya.

“Not bad,” kata Ben dengan kedua jempol meninggi.

Anne membungkuk dan menyangga tangannya di lutut. Mereka berdua tertawa-tawa bersama dalam kegirangan hiburan yang dibuat sendiri.

“Em … Anne. Bukankah kau harus fitting baju untuk acara besok?” tanya Ben mengingatkan.

“Fitting baju? Aku tidak tahu,” ucap Anne. Mimiknya berubah datar.

“Ya. Kita harus segera pergi. Ini sudah jam tiga lewat. Kita harus sampai di butik sebelum jam empat.” Untung saja dia bertemu dengan Nadya secara tak sengaja di lift salah satu lantai gedung perusahaan GF. Keluhan wanita India itu masih bersarang di dalam ingatannya lantaran Anne tidak seperti biasanya dan berbeda. Namun, Ben menepisnya dan mengatakan bahwa Anne sedang tidak enak badan dan kelelahan dengan kesibukannya menghadiri beberapa kegiatan sosial.

***

Meski ingatannya kini sedang buyar, tapi kota Glasgow yang terkenal dengan kebudayaan, mesum gratis, galeri, dan tempat tersohor untuk penggila belanja selain kota London itu tidaklah dirasa begitu asing. Anne menikmati lagi perjalanan mobil sembari menatap keindahan bangunan-bangunan bergaya klasik di setiap simpang maupun sudut jalan.

Badan Anne terpegas mendadak ke depan sewaktu Ben mengerem mobil. Setelah dia amati, rupanya hanya lampu merah biasa. Ben menumpahkan kekesalannya dengan desisan sambil memukul setir kemudi.

“Ben—” Teguran kecil hendak melompat keluar dari mulut Anne untuk mengingatkan pria itu tidak usah terburu-buru dan santai saja. Namun, matanya tanpa sengaja melereng ke sebuah bentangan kaca dari restoran yang di dalamnya terpampang jelas beberapa konsumennya sedang menikmati jamuan yang sedang mereka pesan. Seketika teguran itu terusir dari pikirannya. Ben pun tak sempat mendengarnya.

Mulut Anne terbuka seukuran setengah jari kelingking. Matanya tetap terpaku ke kaca. Salah satu mejanya menampilkan Henry sedang bersama wanita lain.

“Henry,” gumamnya. Kalau boleh jujur, Anne tidak memiliki perasaan yang begitu bergejolak melihat Henry dengan wanita lain dan sepertinya tengah berada di dalam urusannya sendiri. Biarpun sekarang kekasihnya itu menumpangkan satu tangannya ke wanita berambut pixie dan warnanya semerah darah sembari tersenyum lepas satu sama lain, tapi Anne cuma bisa tercengang saja menatap keistimewaan hubungan yang bisa diendusnya.

“Tidak mungkin mereka berdua punya hubungan biasa-biasa saja,” ujar Anne curiga dalam benak sambil agak menyipitkan matanya. Perasaan masih tawar, tapi ada jiwa detektif melembahi relung batinnya.

Mobil melanjutkan perjalanannya kembali, sedangkan mata Anne tak lepas menonton adegan kedua pasangan dari restoran khusus steak di persimpangan empat Main St.. Bahkan, Henry menarik secarik tisu dan mengelap pinggiran mulut wanita berkulit pucat itu sehingga berubah semerah bunga mawar pipinya.

Kepalanya berputar ke depan, dan tangannya terlipat di depan dada.

“Kenapa aku tidak cemburu, ya?” tanya Anne dengan remeh di dalam hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel