Cuilan VII
Silih berganti para tamu undangan mengunjungi sekaligus menyelamati kedua pengantin. Sejak pemberkatan telah lancar dilaksanakan, Anne tidak ubahnya seperti boneka yang dipaksa hidup dan wajib mengenal seluruh kerabat dan relasi Henry. Mereka begitu santai dan senang mengajaknya berbincang-bincang atau hanya sekadar basa-basi. Beruntung Anne terbantu dengan acara perilisan kalung GF sehingga tidak begitu kaku ketika menghadapinya. Apalagi saat bertemu Stacey, dia terbahak-bahak menceritakan kisah pagi hari yang mendadak terusik karena berita hilangnya Heart Flawless Diamond.
“Aku sangat terkejut tadi pagi. Kau tidak tahu, ‘kan?” Stacey membuka matanya lebar-lebar seperti lemur. Telapak tangannya dialasi piring marmer kecil bermotif lingkaran emas di pinggirannya dan kue mangkuk berdiri tepat di atasnya. “Aku menerima telepon dari Lauren dan masih pakai penutup mata. Tulang punggungku seperti kesetrum dan langsung meraba-raba meja di samping tempat tidurku.”
Stacey memeragakan awalan adegan kisahnya seperti zombie yang buta. Anne pun menahan kekeraman perutnya akibat terlalu cekikikan.
“Untung aku punya kebiasaan menonaktifkan mode getar lagi setelah ada urusan. Kalau tidak, hm … aku tidak tahu akan jadi apa acara ini, Anne,” imbuh Stacey.
“Oh.” Kepala Anne teleng sambil menggigit daging di balik pipinya karena merasa tak enak hati kepada perempuan berbusana simpel dengan warna abu-abu kekuningan dan berbahan serba sifon itu. “Kau memang benar-benar juru selamat, Stace.”
“Oh. Kau harus menyalibku kalau begitu.”
Anne menggeleng-geleng dan menyeka air mata tawannya lantaran mendengar celotehan yang efektif menghiburnya di tengah-tengah kegundahan dan suasana batin yang tawar pada momen itu.
“Hariku memang sangat terkutuk. Sudah kesiangan, malah dapat berita buruk.” Satcey menghela napas dan matanya tampak mendung.
“Sorry, Stace.” Anne menyesal dan ikut merasa berdosa.
“Oh, my darling. Meski aku masih heran kenapa berlian yang asli bisa hilang sampai detik ini. Tapi, ya, tidak ada waktu untuk saling menyalahkan,” katanya dengan bibir menegerucut padat setelah melahap utuh kue mangkuk berwarna merah beledu pada lapisan manisnya. “Dan, siapa juga yang mau disalahkan?” Dia letakkan kembali piring kuenya tadi di meja.
“Kalau aku tahu saja, pasti tidak ada kejadian itu. Masalahnya, aku memang benar-benar—”
“Well, semuanya sudah terjadi. Biarkan terjadi. Kalau bukan Lauren yang berinisiatif dan memaksa buat duplikat karena takutnya ada kejadian tak terduga dan harus ada ‘Rencana B’ waktu kami masih membuat berlian itu di tahap mendesain, aku mungkin bisa tambah kelimpungan lagi.” Stacey berbicara sambil mengorek-ngorek sisa makanan di sela gigi geraham belakangnya sehingga pipinya terlihat menjendul sebelah. “Hebat juga Lauren, seperti punya six sense. Hehehe.”
Anne tidak bereaksi banyak ketika ada sangkut pautnya dengan Lauren.
“Apa tidak masalah, Anne?” tanya Stacey.
“Masalah?” Anne bertanya balik dan kedua alisnya terjungkit bersamaan.
“Berliannya duplikasi, bukan yang asli.”
“Em, tapi ini seperti kelihatan asli.”
“Beda. Ini cuma tiga karat. Aslinya sedikit lebih berat dan berkilau daripada ini. Ada material yang dikurangi soalnya.”
“Oh, begitu ya,” kata Anne. “Tapi, aku tidak masalah sama sekali. Aku justru bersyukur. Kukasih banyak jempol atas pencapaianmu dan asisten-asistenmu juga.”
Stacey tersanjung dengan dua angkatan ibu jari dari wanita anggun berpakaian serba putih di depannya.
“Em …. Well, skip from the topic that makes us suddenly crazy,” gumam Stacey mengalihkan. “Congrats for you. Sekarang kau bersuamikan seorang Henry Goodfellow.” Gigi-gigi besarnya tersingkap dari bibir lebarnya.
Anne terlihat mengipas-ngipaskan kelopak matanya dan tatapannya mengelak kedua netra Stacey. Dia tidak begitu puas membalas ucapan selamat dari perempuan beraksen Cockney itu. Anne tersenyum sambil menekan kedua bibirnya hingga rapat dan lehernya menunduk malu-malu karena perasaan bimbangnya.
“Angkat kepalamu, my darling.” Stacey merayu. “Kau akan bawa-bawa nama keluarga Goodfellow mulai sekarang.”
Anne terpekur dan menebak-nebak seperti apa keluarga Goodfellow itu, karena dari tadi siang sampai sore belum ada yang menghampirinya dan mengaku-ngaku sebagai bagian dari keluarga Goodfellow secara gamblang. Dia ingat pria tua yang mendampinginya dengan sebutan Tn. Goodfellow bisa dipastikan termasuk bagian keluarga Goodfellow, tapi pria tua itu seakan tak berjejak lagi dari pandangan matanya. Sejauh ini hanya kerabat, rekan bisnis, dan beberapa relasi saja yang dia jumpai.
“Let’s cheers, Anne.” Stacey mengambil sampanye di atas meja yang beralaskan kain satin putih.
Anne mengedikkan bahunya sebelah. Tangannya melayang ke gelas kristal dengan batang panjang yang mudah dikepit jari-jarinya. Lalu, gelas mereka berdentang kompak.
***
Matahari tampak jauh di ufuk barat, seakan tidak sanggup menerangi lokasi acara pernikahan untuk beberapa menit ke depan.
Sesuai dengan susunan acara, kedua pengantin diminta menghadap ke arah barat di tempat yang agak terbuka dan jauh dari kerumunan pepohonan.
Buket bunga kemudian diserahkan kepada Henry. Tangannya bergerak menuju tangan istrinya.
“Hold,” ujar Henry dengan nada kecil. Dia meilirik ekspresi rata dan tatapan kosong Anne sambil memandangi matahari berwarna jingga tua dicekik awan yang dipelihara dari tadi pagi selalu putih, tapi kini warnanya menjadi seram seperti mengkhianatinya.
“Oh.” Mulut Anne membulat sekilas karena tersadar oleh teguran Henry. Tangkai buket bunga digenggamnya dan tangan besar suaminya menimpa di balik jari-jarinya.
“Now. Here we come.” Pemandu acara memekik dengan semangat. “Pengantin akan melemparkan buket ke para budak-budak asmara. Atau … em … apa bisa kubilang sekumpulan pengemis-pengemis nasib untuk masalah perjodohan?”
Sekumpulan tamu undangan yang terlihat ramai di belakang kedua pengantin terdengar mengeluh dan menyoraki si pemandu acara. Mereka kemudian terkikih-kikih bangga meratapi ketidakberuntungan dan berharap untuk bisa mendapatkan keajaiban setelah buket mendarat ke tangan salah seorang yang mungkin akan benar-benar dikaruniai dan mengikuti jejak sang pengantin.
“Now. Satu … dua ….” Pembawa acara berambut klimis itu menggantung sejenak. Dia menggeleng-geleng ketika menatap perilaku saling berdesak-desakan lantaran ketidaksabaran mereka akan mencomot buketnya. “Dua ….”
Henry dan Anne tampak mengangkat buket bunga sejajar kening mereka kini.
“Dua ….” Pembawa acara luwes itu terus menggantung.
“What the hell is he doing? It’s f*cking too late,” desis Henry. Lehernya menegang dan bosan sehingga membuat Anne merasa tak nyaman dan susah menelan air liurnya.
“Tiga!” Serunya tiba-tiba.
Sebanyak dua puluh persen adalah hasil kekuatan tangan Henry sehingga buket bunga terlempar jauh ke belakang karena ungkapan kejengkelannya.
Riuh rendah kehebohan terdengar tak habis-habis sewaktu menyaksikan buket yang jauh terlewat di atas kepala. Lalu, mereka semua fokus ke pendaratan buket yang jatuh terbaring di dekat mata kaki perempuan berambut pixie.
Buket bunga diangkatnya sekaligus memberantakkan gugusan-gugusan tatapan mata ke arah perempuan yang sedang menikmati sampanyenya.
“Siapa yang dapat?” gumam Anne sembari memutarkan tumitnya bersamaan dengan Henry.
“Lauren?” kata Henry sambil mencengir. Dia langsung tahu karena tinggi badan yang memumpuni sehingga bisa melihat dari kejauhan. Dahinya terkusut, tapi raut mukanya bangga.
