Cuilan VIII
Para tamu undangan diminta menyalakan senter dari ponsel mereka masing-masing setelah pesta makan malam berakhir. Tentulah semuanya tidak heran, karena konsep acara pernikahan Henry dan Anne memang tertulis secara jelas di dalam undangan dilaksanankan dengan waktu terbatas.
Jumlah tamu undangan di sesi akhir tidak terlalu ramai. Mereka semua bersiap-siap melepaskan kedua pasangan yang berbahagia menuju mobil sedan berwarna biru metalik. Kilatan senter dari setiap ponsel memantul di badan mobil. Mereka pun begitu terksesima dan meleleh ketika Henry mempersilakan Anne untuk masuk ke dalam mobil.
Perasaan hatinya masih tetap hambar, tapi perlakuan manis Henry sedikit kurang bisa dia apresiasi hingga membuatnya tersanjung. Anne lalu mengangkat seinci gaunnya sambil menggencet bokong ke bantalan kursi.
Henry tersenyum memandangi Anne. Meski mata wanita itu masih terpaku saja ke depan, namun beberapa detik kemudian dia berpaling dan membalas sekilas tatapan Henry dengan senyuman ala kadarnya saja.
Anne berpikir dan bertanya-tanya tanpa henti di dalam batinnya lantaran dia sendiri tidak tahu akan di bawa ke mana sehabis acara itu. Skema, perencanaan, dan susunan acara saja tidak jelas dia ketahui. Bahkan, beberapa hari sebelum acara pesta pernikahan semuanya tampak biasa. Sekejap dia berpikir hal itu mungkin akan membuatnya takjub dan tersentuh layaknya dijamu seperti seorang ratu tanpa perlu bersusah-susah payah. Tapi, Anne justru malah heran.
Henry menutup pelan pintu mobil. Badannya seketika lincah berbalik menghadapi kerubungan para tamu undangan yang tetap setia menyenteri keberlangsungan setiap jengkal momennya. Muka Henry tampak sedikit mengelak sinaran terang dari senter ponsel pintar sambil tersenyum memaklumi. Lalu, dia terburu-buru memulai langkah gesitnya mengitari moncong depan mobil sampai terdengar bunyi hempasan sebagai pertanda pintu mobil pengemudi telah ditutup.
Lolongan kesukacitaan dari tamu undangan begitu deras melepas kepergian kereta kencana model kekinian sang pengantin.
Lauren masih bergeming dengan tangan terlipat di depan dadanya. Dia kemudian mengikuti irama seluruh penonton yang otomatis membubarkan diri, bergerak ke parkiran mobil, dan kembali ke rumah masing-masing.
“Buket bunganya. Kau tadi yang dapat, ‘kan?” Koordinator acara mencegat perempuan beranting-anting besar. Niatnya tulus memberikan buket bunga sesuai landasan pengetahuannya beberapa saat lalu sewaktu prosesi pelemparan buket berlangsung.
Lauren terkesiap sehingga terpasak kedua kakinya.
“Keep it for you.” Alisnya menyatu dan wajahnya buram seketika. Lauren melengos dari pria di depannya yang tampak terheran-heran dan merasa bersalah setelah menyensor gerak-gerik ketersinggungan.
***
Dua puluh lima menit di dalam perjalanan hanya digerogoti kegugupan, kecemasan, dan kecanggungan. Anne tidak berani bertanya apa pun kepada suaminya yang tengah tekun mengemudi dengan ekspresi dinginnya.
“Em. Tujuan kita mau ke mana?” Anne menelisik jalanan kecil beraspal yang di sekelilingnya tampak pohon-pohon rimbun dan semak bagaikan barisan laskar raksasa di malam hari.
Henry masih begitu serius menatap ke depan.
Gejala-gejala pertanyaannya akan dienyahkan begitu saja semakin menokok kesadaran Anne.
“Sebentar lagi,” jawab Henry singkat dan membuat kepala wanita di sebelahnya itu menoleh lagi ke dirinya dengan setitik rasa curiga.
“Aku ingin menikmatimu, Anne.” Henry menantang balasan mata Anne. Lalu, kakinya menginjak pedal gas lebih dalam agar mempercepat lajuannya. Dia seakan tak sabar agar bisa melampiaskan nafsu kejamnya.
Anne merinding seketika, otot kerongkongannya mengejang, dan kakinya terasa sedingin es. Di satu sisi dia berpikir wajar kalau pengantin baru akan menikmati kemesraan dan bersenang-senang, tapi di sisi lain dia tidak ikhlas jika tubuhnya mulai ternodai dan akan dilegalkan sepenuhnya untuk Henry Goodfellow. Anne jadi sangat bimbang dan resah.
***
Kedua kaki Henry lekas-lekas mengunjungi Anne. Dia tampak seperti kesatria sembari menawarkan tangannya setelah membukakan pintu mobil.
Anne tidak bisa menghindari perangai yang terlihat agak dibuat-buat itu. Dia merasa benar-benar tidak siap untuk meladeni Henry dan gestur tubuhnya terkesan sedikit dilambat-lambati. Alasan kecapekan, penat, atau semacamnya ingin sekali terlontar dari mulutnya, tapi dia takut kalau calon lawan mainnya itu bisa-bisa kecewa besar dan meledak.
BUK! Pintu mobil dibanting lumayan kencang.
Henry segera menuntun Anne. Kedua tangan kanan mereka saling terjalin ke sebuah kasur berukuran cukup untuk dua orang dengan kerangka serba kayu dan beberapa lilin pewangi yang berdiri tegak di atas batu-batu alam besar di sekitarnya.
Anne terpelongo dengan rancangan yang dipersiapkan Henry.
“Apa aku akan melakukannya perdana di alam terbuka seperti ini?” pikir Anne yang kerap diintai rasa galau.
Henry menyuruhnya duduk di atas pinggiran ranjang. Anne kemudian menuruti sambil matanya tak lepas memeriksa ke segala arah untuk memastikan tidak ada satu manusia pun yang menontoni mereka.
“Tenang saja. Tidak ada yang melihat kita,” gumam Henry sambil melepaskan tali penjerat di lingkaran belakang pergelangan kaki Anne, lalu menyingkirkan kedua hak tinggi berbahan vinil dengan motif bunga matahari yang terbuat dari berlian dan menempel di sekitaran tutupan jari-jari kaki.
Henry bangkit dari jongkoknya.
Kedua mata pengantin baru itu beradu beberapa detik. Lalu, tangan Henry menangkup garis rahang Anne.
“I love you,” ungkap Henry setelah mencatuk bibir Anne supaya membiarkannya bernafas sejenak. Lalu, dia semakin beringas menaklukan bibir istrinya.
Entah kenapa kali ini Anne menikmati kegagahan Henry. Walaupun belum ada rasa cinta kasih bersemi sempurna di sanubarinya, tapi gelora napsunya seakan tersesak ingin dicumbu pria berjambang tipis itu.
“Aduh ….” Anne meringis sambil memegangi kepalanya. Giginya terkatup rapat dan matanya terpejam sangat kuat.
“What?” Henry bingung lantaran dia belum sempat beraksi membongkar mahkota istimewa milik wanita yang berbaring di bawahnya. Dia masih ingin memperpanjang durasi pemanasan dan merangsang Anne lebih lagi dan lagi.
“Aaah ….” Anne mengeluh, setengah badannya terbangkit cepat. Tangannya berani menghalau Henry dan terus mencengkeram kepalanya hingga terkusut tatanan rambut indahnya.
“Jangan bilang ini cuma alasanmu, Anne,” sergah Henry sambil mengguncang kedua pundak Anne. “Kau sekarang milikku, Anne Goodfellow.”
Matanya terbuka sebentar, tapi tertutup lagi karena kepeningan yang kian parah. Tubuhnya terasa berayun-ayun seperti peselancar yang sedang berusaha menaklukan ombak besar. Dia lalu mendorong Henry dengan keras sambil terseok-seok menuju batu besar dan menyandarkan tangannya.
“Aaaaaaaaaaah!!!” raung Anne. Denyut jantungnya berirama tak wajar.
“Ayo, kita pergi.” Dengungan suara perempuan tua beredar di dalam otaknya. Anne mengesah.
“Fenella … Fe-ne-lla.” Sayup-sayup sebuah kata timbul di dalam batok kepalanya, tapi Anne tidak mendapatkan petunjuk gambaran-gambaran yang dihasilkan memori otaknya. Gelap dan kosong, namun suara perempuan tua itu masih terngiang-ngiang.
“Call … Ben.” Anne resah dan perutnya mual.
“Kenapa aku harus—” tolak Henry dan mencoba membujuk untuk kembali ke ranjang.
“CALL BEN!!!!!!”
“Sh*t!” Henry langsung menjemput ponselnya di dalam mobil. Hatinya dirajam kegeraman dan kemurkaan karena merasa tak dihargai.
