Bab 02.
Bab 02.
( Li = Satuan jarak yang biasa digunakan di zaman kekaisaran, 1 Li setara 500-600 meter)
Beberapa hari berlalu.
Yi Zhen merasakan tubuhnya sudah cukup kuat, tampak luka-lukanya pun telah pulih sepenuhnya, yang tersisa di tubuhnya hanyalah bekas luka yang bakal menghiasi tubuhnya itu.
“Meski guru Wei hanya seorang pemula tapi kemampuannya sebagai seorang tabib dan peracik ramuan lebih tinggi dari semua alkemis di sekte ini,” ujarnya bermonolog sambil memeriksa tubuhnya sendiri yang mulai membaik.
Yi Zhen berjalan keluar, dari sana ia menuju ke arah barat dimana sebuah berada. Ia membasuh wajah dan tubuhnya untuk membersihkan dirinya.
Setelah merasa segar ia kemudian menatap ke seberang sungai di mana sebuah kawasan hutan berada.
Hutan angin. Sesuai dengan namanya, hutan yang masih menjadi bagian dari kawasan wilayah sekte Serigala emas itu memunculkan suara angin yang tidak biasa yang terdengar seperti lolongan serigala.
Hutan angin sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu hutan bagian luar, bagian tengah dan bagian dalam.Hutan angin sejatinya tidak dimiliki sepenuhnya oleh Sekte Serigala Emas, Hutan ini terbagi menjadi empat wilayah yang masing-masingnya dikuasai oleh empat sekte dan wilayah timur hutan angin dikelola oleh Sekte Serigala Emas.
Yi Zhen menoleh ke belakang di mana bangunan sekte terlihat di kejauhan. Ia tersenyum kecut saat melihat bangunan yang jaraknya sekitar enam li dari tempat tinggalnya.
Kawasan tempat tinggal untuk murid luar seperti dirinya harusnya berada di dalam wilayah sekte. Namun, karena ia belum membuka dantiannya dan untuk menghindari perundungan maka ia ditempatkan di gubuk tersebut.
“Benar…di dunia ini yang lemah tidak akan dianggap dan yang kuat yang akan diakui,” ucapnya datar.
Yi Zhen kembali menatap ke arah Hutan angin, dengan keyakinan yang telah bulat ia pun bertekad untuk menjadi kuat.
Yi Zhen berjalan ke tepian sungai yang aliran sungainya tidak terlalu deras, saat air telah setinggi perutnya ia pun mulai mengambil sikap duduk bersila di sana.
Kini seluruh tubuhnya tenggelam di dalam air, saat ini ia berusaha untuk memperkuat paru-parunya dan melatih pernapasannya.
Dalam kitab pelatihan dan pengolahan tubuh yang semalam dibacanya dikatakan jika teknik dasar kultivasi adalah pengaturan dan pengendalian napas. Karena itulah ia mulai melatih kapasitas paru-parunya dan teknik pengendaliannya.
“Ternyata tidak semudah yang dibayangkan!” batinnya sambil berusaha menahan nafasnya.
Hanya dalam waktu 50 helaan nafas ia pun muncul ke permukaan, ia sadar jika kemampuan tubuhnya masih jauh dari harapannya.
“Saat ini hanya itu kemampuan tubuhku. Kalau begitu memang itu yang harus dilakukan!” ujarnya bermonolog.
Yi Zhen kemudian merobek kain pakaiannya, dari sana ia mengikatkan batu di kaki, tangan dan perutnya. Setelah dirasa cukup kuat ia pun mengambil dua batu yang berukuran cukup besar lalu memanggulnya di kedua pundak.
Ia pun mulai berjalan melawan arus aliran sungai, dengan beban yang dibawanya ditambah aliran sungai yang mendorongnya membuat ia kesulitan untuk berjalan ke depan.
Meski begitu ia tak berputus asa, ia terus mencoba untuk berjalan ke depan dengan target menempuh jarak satu li dari posisinya.
Beban berat yang dibawa dan mendera kaki tangannya membuat dirinya terengah. Namun, semua itu tidak dirasanya. Keinginan dan tekad untuk menjadi kuat membuatnya mulai berjalan langkah demi langkah.
“Aku harus bisa…aku pasti bisa!” batinnya menguatkan diri.
Waktu berlalu dan malam pun menjelang.
Brukkk.
“Haahh…haahhh….”
Di dekat hulu sungai, Yi Zhen merangkak ke tepian sungai sambil terengah engah, tampak kelelahan mendera dirinya. Meski begitu, sorot matanya memancarkan kepuasaan atas hasil yang dicapainya.
“Ternyata…aku…sanggup….” ujarnya terbata.
Ia langsung menjatuhkan dirinya di tanah lalu terbaring di sana sambil melihat bintang yang memenuhi langit malam
Ia merasakan ketenangan saat melihat hamparan bintang yang memanjakan matanya itu.
Kryuuuk.
Ketenangannya buyar karena perutnya yang bersuara.
“Ahh, aku lupa jika selama dua hari ini aku belum mengisi perutku,” ujarnya dengan kecut.
Yi Zhen bangkit dari posisi berbaringnya, saat melihat sekitarnya ia baru tersadar ternyata dirinya berada cukup jauh dari tempat tinggalnya.
“Sepertinya aku hanya bisa mencari makan di sekitaran tempat ini,” ujarnya sambil melihat situasi dan waktu yang akan menjelang malam.
Dengan hati-hati ia memasuki tepian hutan, dari sana ia pun mencari tanaman dan buah buahan yang bisa dimakan.
Biasanya ia berburu ikan di sungai untuk mengisi perutnya. Namun, karena waktu dan kondisinya yang lelah membuatnya memutuskan untuk mencari makanan yang lebih mudah.
Wajahnya berbinar saat menemukan beberapa tanaman yang dikenalnya. Ia menemukan dua tanaman ginseng muda dan beberapa jamur kepala merah di tempat tersebut.
Dengan segera ia mengambil kedua tanaman tersebut.
“Jamur merah ini terlihat berbeda dari biasanya, seharusnya tidak ada bintik putih di atasnya. Kenapa jamur merah ini memilikinya?” ujarnya sambil menelaah jamur merah yang diambilnya.
Meski merasa janggal namun karena lapar yang mendera membuatnya tidak memikirkan hal tersebut. Ia hanya berpikir jika bintik putih pada jamur tersebut mungkin hanya debu yang jatuh dari pepohonan.
Ia pun memakan ginseng dan jamur tersebut secara bergantian, wajahnya berbinar karena paduan kedua tanaman yang dimakan mentah itu ternyata memiliki rasa khas di lidahnya.
“Enak…tidak terlalu buruk! Ini seperti memakan daging yang dibumbui dengan jahe merah!” ujarnya menilai rasa campuran kedua tanaman tersebut.
Hanya sebentar saja seluruh tanaman itu telah berpindah ke perutnya, meski tidak mengenyangkan namun ia merasakan tubuhnya sedikit bertenaga setelah makan.
Yi Zhen pun bangkit untuk kembali ke tepian sungai, namun baru saja ia melangkah ia merasakan perutnya mulai panas yang mana rasa panas itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia jatuh berlutut di tanah, wajahnya memerah karena rasa panas yang menjalar di dalam tubuhnya.
Tak lama ia mulai berkeringat dingin dan tubuhnya kini mulai basah oleh keringat.
Panas yang menyebar mulai terasa menyakitkan ia merasa jika seluruh tubuhnya seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum akupuntur.
Yi Zhen ingin berteriak namun hal itu tidak bisa dilakukannya karena ia merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya.
Setelah beberapa waktu ia pun mulai memuntahkan sesuatu dari mulutnya, yang ia muntahkan adalah makanan yang sebelumnya ia makan yang bercampur cairan pekat hitam.
Dari hidungnya keluar lendir dengan warna dan kekentalan serupa, semua kotoran tersebut menggenang di tanah dan mengeluarkan aroma yang menusuk.
Yi Zhen melihat keringat yang keluar dan membasahi tubuhnya, tampak keringatnya itu berwarna kekuningan, tidak seperti biasanya.
“Sial, apa yang terjadi? Apa mungkin aku keracunan?”
“Tapi…kenapa aku merasa tubuhku menjadi lebih ringan setelah memuntahkan semua ini?” batinnya.
Ia mencoba menelaah semua yang terjadi, semua keuntungan dan kerugian yang didapatnya hari ini ia pertimbangkan dengan seksama.
Setelah beberapa waktu ia pun tersenyum dengan sendirinya.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya aku akan menjalani hal ini apapun resikonya!”
“Seperti kata guru, jalan menjadi kuat tidaklah mudah, pastinya ada resiko yang harus diambil dan dijalani!” ujarnya penuh arti.
