Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 01.

Bab 01.

“ Pecundang!” 

“ Sampah!” 

Pandangan tajam dengan sorot meremehkan, menghina dan penuh cemoohan ditambah teriakan dengan kata kata menyakitkan menyertai perjalanan Yi Zhen yang sedang berjalan sambil menanggung dua buah ember air dengan menggunakan sebuah tongkat di pundaknya. Yi Zhen dengan tubuh kurusnya terus berjalan melewati jalan kecil di halaman belakang Sekte Serigala Emas  tanpa menggubris perkataan orang orang yang ada di sisi kiri dan kanan jalan kecil itu, ia tetap berjalan meski kata kata hinaan terus menusuk telinga dan hatinya.

“ Lihat, siapa ini! Pecundang yang sebentar lagi akan dikeluarkan!”  Seru seorang pemuda lainnya yang langsung disambut gelak tawa para pemuda yang bersamanya.Yi Zhen melirik sekilas ke arah sumber suara, tampak Bu Tong lah orang yang berbicara,sang tuan muda klan Bu yang juga murid luar Sekte.

Tentu lebih baik untuknya tidak berkata apalagi membalas perkataan Bu Tong, selain statusnya sebagai tuan muda klan Bu, ia juga merupakan murid dengan peringkat sepuluh terbaik yang mendapat perhatian khusus dari sekte..

“ Aku siapa? Memang aku hanya orang biasa yang tak memiliki pendukung di belakangku,” batin Yi Zhen.

Ia kembali berjalan. Namun, Bu Tong dan teman-temannya menjahilinya dengan melemparkan batu ke dalam ember besar yang dibawanya.

Tentu saja hal itu membuat beban yang ia tanggung semakin berat dan juga membuat keseimbangannya menjadi goyah.

“Bu Tong semakin menjadi semenjak ia melihat nona Li Na meminta bantuanku, mungkin memang sebaiknya  jika aku harus menjaga jarak darinya agar Bu Tong tidak terus menindasku.” Batin Yi Zhen.

Yi Zhen yang mendengar semua hinaan itu tetap diam,tak membalas, ia tetap fokus mengangkut dua ember kayu yang tingginya setengah badannya itu sambil berusaha menjaga agar air di dalam ember tidak tumpah dan membasahi jalan. Wajah dan tubuhnya yang kini dipenuhi keringat menandakan jika dirinya sangat kelelahan dengan apa yang dilakukannya, tapi untuknya hal itu masih lebih baik ketimbang lelah di hatinya.

Yi Zhen melanjutkan langkahnya, dengan perlahan ia berjalan untuk menjaga keseimbangan tanggungan yang dibawanya.Saat ia melangkahkan kakinya, dari arah belakang Bu Tong mendekatinya, sambil tersenyum jahat ia kemudian menendang kaki Yi Zhen yang mana hal tersebut membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Wush

Bruaakk

Duaaakk

Byuuur

“ Arrggghh”

Yi Zhen jatuh dan terhempas tanah dengan keras, ember air yang dibawanya tumpah dan membasahi tubuhnya dimana satu ember menindih tubuh kurusnya.

Dari posisi jatuhnya ia menatap ke arah sumber suara teriakan, matanya membulat saat melihat Bu Tong ikut terjatuh tak jauh dari posisinya, yang membuatnya terkejut tentu apa yang dilihatnya dimana ember lainnya pecah dengan pecahan kayunya menggores  lengan kanan Bu Tong sehingga membuat luka terbuka di lengannya itu.

“ Bajingan, dasar sampah! Kau melukaiku!” Teriak Bu Tong sambil mengerang kesakitan.

Teriakan Bu Tong sontak menarik perhatian, kini belasan murid yang berada di sekitaran jalan  tersebut langsung menuju ke arah sumber suara, gegas mereka menolong Bu Tong yang memegangi tangannya yang berdarah.

“ Dia sengaja melukaiku, sampah ini sengaja melukai ku!“ Teriak Bu Tong penuh emosi. Mendengar kata kata Bu Tong, sebagian murid yang bersama dengannya langsung bergerak, mereka langsung mengerubungi Yi Zhen dan melancarkan pukulan serta tendangan ke arahnya.

Refleks Yi Zhen meringkukan badannya dengan dua tangan melindungi kepalanya, tentunya itu dengan sendirinya ia lakukan karena hal ini telah sering terjadi padanya.

Darah segar mulai keluar dari mulutnya akibat luka dalam yang diterima, kulit tubuhnya mulai timbul lebam dan luka terbuka akibat pukulan dan tendangan bertubi yang dilancarkan anak buah sekaligus pengikut Bu Tong tersebut.

Saking banyaknya pukulan dan tendangan yang menghantam tubuhnya membuat Yi Zhen pun merasakan kesakitan yang luar biasa apalagi saat Bu Tong melancarkan sebuah tendangan ke kepalanya, sakit yang telah melewati batasnya itu membuatnya perlahan kehilangan kesadarannya.

Melihat Yi Zhen tak bergerak spontan membuat mereka semua menghentikan aksinya, ada kegelisahan yang timbul di wajah mereka saat melihat banyaknya darah yang menggenang dan kondisi Yi Zhen yang tak sadarkan diri.

Bu Tong pun terlihat tegang mendapati situasi Yi Zhen yang seperti itu.

“Cih, dasar lemah! Aku rasa ia hanya berpura-pura saja agar kita mengasihaninya!” ucapnya dengan dingin.

“Tapi…wajahnya pucat! Selain itu darah yang ia muntahkan sangat banyak! Apa ini tidak masalah? Bukankah lebih baik kita berirahukan hal ini pada pengajar?” ujar salah seorang rekan Bu Tong dengan nada ketakutan.

Bu Tong menatap tajam pada rekannya yang berkata padanya itu. “ Apa kau bodoh? Jika kau memberitahukan ini pada guru pengajar pastinya kita semua yang akan kena  masalah! Apa kau mau mendapat hukuman dari sekte karena hal ini?” ujar Bu Tong yang langsung membuat semua orang serba salah dibuatnya.

Melihat keraguan di wajah mereka segera Bu Tong pun angkat bicara kembali. “ Sudah, jangan banyak berpikir. Kita tinggalkan saja dia disini! Nanti pasti ada yang menemukannya!” 

“Selain itu kalian tidak perlu khawatir dengan kejadian ini, kalian lihat sendiri jika ia yang ceroboh dan melukaiku. Itu jadi alibi kita jika ia membuat masalah!” 

“Namun, kalian tidak perlu berpikir jauh sampai ke sana. Bukankah sebentar lagi ia juga akan dikeluarkan dari sekte karena ia sampah tak berguna? Tentunya para pengajar dan tetua sekte akan lebih memprioritaskan kita yang akan menjadi tulang punggung sekte ke depannya!” jelas Bu Tong yang langsung dibenarkan semua orang.

Melihat semua orang membenarkan pendapatnya ia pun menyeringai setelahnya.

“Mari pergi dari sini, hidup matinya saat ini semuanya tergantung pada dirinya sendiri!” seru Bu Tong dengan angkuh.

Mereka pun pergi dari sana mengikuti Bu Tong yang memimpin jalan.

Yi Zhen yang masih tersadar tentunya mendengar semua perkataan Bu Tong secara keseluruhan. Amarah di hatinya memuncak atas apa yang dikatakannya dan juga perlakuan para murid tersebut.

Meski amarah menguasai hati dan pikirannya namun tidak dengan tubuhnya, ia hanya bisa pasrah menghadapi kelemahan dirinya itu.

“Aku…aku tidak bisa terus seperti ini!” 

“Aku…aku tidak bisa mengharapkan belas kasihan orang lain untuk bisa maju!” 

“Aku…aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri untuk bisa merubah nasib diriku ini!” Batinnya.

Tekad Yi Zhen sudah bulat, meski begitu tubuhnya tidak bisa merespon niat dan tekadnya itu sehingga meskipun ia mencoba mempertahankan kesadarannya namun hal itu tidak terjadi.

*

*

*

Yi Zhen membuka matanya perlahan, ia merasakan tubuhnya dipenuhi rasa sakit yang amat sangat. 

Ia memperhatikan sekelilingnya sesaat setelah pandangannya menjadi jelas.

“Dinding yang terbuat dari anyaman bambu…atap  yang hilang di beberapa tempat dan… dipan yang terbuat dari bambu…ini tempat tinggalku,” batinnya.

Tentunya ia hafal dengan kondisi rumah sementaranya itu. Gubuk kecil berukuran empat kali empat mi  yang berada di pinggiran sekte itu adalah tempat tinggalnya selama menempuh pelajaran di sekte Serigala Emas.

Tidak seperti murid sekte lainnya, ia mendapatkan perlakuan berbeda karena dirinya yang belum bisa membuka dantiannya. Karena hal itu pula yang membuatnya tidak bisa memberikan kontribusi pada sekte sehingga apa yang diterimanya saat ini adalah imbalannya.

Suara tumbukan yang dibarengi dengan keluarnya aroma obat membuat pikiran Yi Zhen buyar, ia menoleh ke arah sumber suara, tampak seorang pria berumuran sekitar empat puluh tahunan sedang meracik obat di pojok ruangan.

“Guru Wei…” ucap Yi Zhen dengan suara serak.

Pria yang dipanggil guru oleh Yi Zhen segera menoleh, ia kemudian menghentikan kegiatannya lalu menghampiri ke tempat Yi Zhen berada.

Yi Zhen pun sadar kemungkinan besar gurunya lah yang menyelamatkannya. 

Guru Wei duduk di samping ranjang Yi Zhen, dari sana ia membantu muridnya itu untuk sedikit tegak agar bisa meminum ramuan yang telah disiapkan olehnya.

Yi Zhen kembali berbaring.

Ia menatap penuh arti pada sang guru yang selama ini selalu baik padanya.

Ya, selama hampir dua tahun ia menimba ilmu di Sekte Serigala Emas hanya ada dua orang yang bersikap baik padanya dan guru Wei adalah salah satu diantaranya.

Guru Wei yang seorang alkemis tingkat sepuluh atau Alkemis tingkat pemula  itu tidak pernah bersikap buruk padanya meski ia belum bisa membuka dantiannya.

Sang guru pun tetap memberinya pengajaran yang lain guna menutupi kekurangannya saat ini.

“Yi Zhen, siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Guru Wei dengan penuh penekanan.

Yi Zhen tak menjawab, ia memalingkan pandangannya ke lain tempat,ia tak berani melihat netra mata gurunya itu.

“Guru…memangnya apa yang akan guru lakukan jika mengetahui siapa pelakunya? Apa guru akan menghukum mereka? Hal itu hanya akan membuat masalah yang baru untukku dan juga pada guru!” 

“Aku seperti ini karena aku lemah, aku tidak bisa membela diriku sendiri!” 

“Apa yang terjadi padaku saat ini akan kubalas dengan kekuatanku sendiri, jadi…kuharap guru bisa mengerti!” jelas Yi Zhen.

Guru Wei tersenyum kecut, apa yang Yi Zhen katakan tidaklah salah. Ia pun dulu pernah mengalami hal yang sama jadi ia tahu betul perasaan muridnya itu.

Guru Wei menghela nafas panjang, ia tak habis pikir dengan takdir yang Yi Zhen alami. Muridnya yang pintar,cerdas dan berdedikasi itu seperti tidak mendapatkan berkah langit. 

Bagaimana tidak ia bisa berpikir seperti itu? Dengan segala kelebihan yang muridnya miliki ternyata ia mendapatkan kekurangan yang sangat vital yaitu tidak bisa membuka dantiannya. Tentunya hal itu menjadi hambatan besar yang membuat cita-cita Yi Zhen terancam gagal.

Membuka dantian sendiri sebenarnya bukan perkara yang mudah tapi bisa dikatakan hal itu tidak  sulit juga.

Disebut tidak mudah karena untuk membuka dantian diperlukan beberapa syarat agar bisa dibuka secara mandiri. Disebut tidak sulit karena hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan pil buatan alkemis. Namun tentunya ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pil tingkat tujuh tersebut.

“Zhen’er, guru paham…karena kau meminta seperti itu maka guru akan mengikuti apa yang kau inginkan.” 

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” tahya Guru Wei sambil memperbaiki balutan kain di tubuh Yi Zhen.

Yi Zhen menatap sang guru penuh arti.

“Guru…apakah benar jika aku akan dikeluarkan dari sekte?” tanyanya serius.

Guru Wei terperanjat. Namun, sesaat kemudian ia pun kembali menunjukan wajah tenangnya.

“Ya, itu benar. Aku mendengar dalam beberapa bulan kedepan akan dilakukan penilaian ranah semua murid sekte.” 

“Semua murid yang tidak bisa menunjukan perkembangannya akan dikeluarkan dari sekte,” jawabnya dengan tenang.

Yi Zhen tak berkata.

Hening tercipta.

Beberapa saat kemudian Guru Wei kembali angkat bicara, “Zhen’er, kau memiliki bakat dalam pengobatan, Guru kira ada baiknya kau memikirkan tujuan lain sebagai alternatif pilihan, “ ujar Guru Wei hati-hati. Tentunya ia berkata seperti itu karena ia tidak ingin melukai perasaan muridnya itu.

Yi Zhen tersenyum lalu angkat bicara, “ Terima kasih atas sarannya guru. Namun, aku memiliki tujuan sehingga aku belum menyerah untuk tetap mencoba menjadi seorang cultivator!” jawabnya dengan penuh tekad.

Guru Wei mengangguk paham, meski muridnya tidak pernah menceritakan tujuannya namun ia tahu pastinya ada hal yang ingin diraih Yi Zhen sehingga ia bersikeras untuk bisa menjadi seorang cultivator dan seorang alkemis.

“Kalau begitu berusahalah! Jalan untuk meraih cita-cita dan harapan tidak pernah mudah, ada pengorbanan dan rasa sakit yang harus dilalui untuk mencapainya,” ujar Guru Wei sambil menepuk bahu Yi Zhen berulang.

Sang guru kemudian mengeluarkan dua buah kitab dari kantong penyimpanan yang ia bawa lalu meletakkannya di atas meja yang ada di sebelah ranjang bambu.

“Ini kitab teknik akupuntur dan juga kitab pelatihan tubuh dasar  yang rekanku berikan padaku. Sepertinya ini lebih berguna bagimu, Zhen’er,” ujarnya dengan tenang.

Guru Wei pun bangkit dari duduknya.

“Kondisimu sudah tidak ada masalah, namun untuk sementara waktu kau perlu beristirahat agar luka dalammu bisa cepat pulih.” 

“Guru kembali dulu, nanti jika ada waktu guru akan kembali kemari,” ujar Guru Wei dengan tenang.

“Terima kasih, guru!” ucap Yi Zhen tulus yang langsung disambut senyuman gurunya itu. 

Setelah kepergian gurunya, Yi Zhen merubah posisi berbaringnya, ia kini duduk bersandar pada dinding rumah sambil membaca kitab yang sang guru berikan padanya.

Ia membaca satu kitab pertama, kitab dasar pengolahan dan dasar  pelatihan tubuh. Ia membacanya perlahan dan mempelajarinya dengan seksama.

Hanya berselang dua batang dupa, ia beralih pada kitab kedua. Kembali ia membacanya dengan seksama.

Wajahnya berbinar setelahnya.

“Ternyata ada cara lain untuk membuka dantianku, dan semua itu harus dilakukan dengan melatih tubuhku terlebih dahulu, baru setelah itu aku bisa membuka meridian di tubuhku dengan akupuntur untuk merangsang dan memperkecil hambatan pada terobosan dantian!” ujarnya dengan menggebu-gebu.

Tanpa Yi Zhen sadari sang guru masih berdiri mematung di depan pintu gubuknya, mendengar perkataan muridnya itu langsung membuat Guru Wei tersenyum penuh arti.

“Kini semua tergantung pada dirimu sendiri,” ujar Guru Wei dengan pelan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel