Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ultimatum

“P-Pak?”

“Bapak tahu setelah kejadian Mega, kamu pasti sudah cukup belajar dan tak akan mengulangi. Sementara untuk melepas ikatan batin antara bapak dengan cucu-cucu tersayang maka satu-satunya jalan adalah tetap mengikatmu ke dalam keluarga.”

“T-tapi bagaimanapun mereka adalah cucu bapak juga, tak akan terputus.”

“Siapa yang bisa menjamin kau akan tetap di sini dan tidak membawa cucu-cucuku pulang ke kampung asalmu yang jauh itu?!”

Apa yang bapak katakan benar juga, karena aku pun sempat memikirkan hal yang sama. Bahwa tak ada guna berlama-lama di tanah rantau, tempat perjuangan yang setiap sudutnya mengingatkanku padamu. 

Jika mau maju dan menatap hidup, aku harus meninggalkan tanah ini selama-lamanya. Entah nanti atau kapan lagi jika anak-anak kita bertanya tentangmu baru aku akan membuka cerita kita. 

Bagaimana aku bisa terpikat ceriamu, jiwa bebasmu, pemikiran-pemikiranmu yang polos, otak cerdasmu. Dan bagaimana aku harus sikut-sikutan dengan para pria yang diam-diam mencari perhatianmu saat di kampus dulu.

Cepatnya rasa syukur pudar jika kita tak pandai menghargai apa yang sudah kita miliki. Lihatlah bagaimana Tuhan memberikan hukuman padaku yang terlena. 

Aku mendunduk dalam, tak menyanggah pernyataan bapak.

“Ijinkan Amri memperbaiki kesalahan Amri dulu Pak. Hidup Am masih berantakan, tidak adil untuk Meta atau bahkan anak-anak itu jika Amri gegabah mengambil keputusan.”

“Huh!” Suara dengusan keras keluar dari hidung bapak. Bapak tampak gusar.

“Jangan bilang kau sudah punya pengganti Mega yang lain?!”

“Ti-tidak Pak! Amri tidak pernah mengkhianati Mega. Punya satu saja tidak becus, apalagi harus menambah.”

“Baguslah. Bapak berikan waktu 1 minggu untukmu memberikan keputusan. Jika kau tak menyetujui permintaan bapak yang telah kehilangan seorang anak, maka pergi sana kembali ke asalmu. Tapi cucu-cucuku tak akan kemana-mana.”

Glek.

Kerongkonganku menelan ludah dengan susah payah. Pembicaraan kita hari ini di luar prediksiku. Aku tak siap untuk membantah.

Lamat-lamat aku mendengar tawa renyah anak-anak dari bagian belakang rumah diiringi deburan air, mereka pasti sedang berenang di kolam ikan belakang seperti yang biasa mereka lakukan jika berkunjung ke sini. 

Hatiku merasa terbasuh. Mereka belum kehilangan fitrah anak-anak mereka, mungkin karena aku yang tak sempat menghibur mereka dua minggu ini? 

Karena jujur saja, bagiku untuk tersenyum kembali saja rasanya mustahil, apalagi harus menghibur mereka. Sejauh ini aku tidak gila saja sudah anugerah. 

“Jika kau setuju, maka bapak akan minta Meta segera mengurus kepulangannya dari Jerman.”

“Pak... Kasih Amri waktu 1 bulan. Amri harus menata hidup Amri kembali. Akan Amri pertimbangkan baik-baik tawaran bapak sembari menyiapkan anak-anak. Karena jujur saja, Amri takut masih belum pantas memiliki istri lagi. Fokus Amri sekarang adalah anak-anak.”

“Bapak pegang baik-baik ucapanmu. Awas saja jika bapak tahu kau tiba-tiba hendak kawin dengan wanita lain, atau hendak membawa lari cucu-cucuku. Kau tak akan bisa pulang dengan selamat. Cucu bapak tetap di sini bagaimanapun caranya, itu harga mati.”

Aku tahu itu bukan ancaman kosong, karena bapak memang penguasa dari daerah yang merupakan kampung transmigran ini. Mudah baginya untuk memerintahkan orang melacakku. Beliau cukup disegani jika tak ingin dibilang ditakuti.

“Iya Pak, Amri janji.”

Suara derit kursi bergeser saat bapak berdiri menuju belakang rumah. “Makan, Am, ibumu sudah menyiapkan makan siang.” Beliau mengatakannya sembari memunggungiku, aku paham beliau yang tak bisa berkata manis. Tapi meyakini jika hati bapak sangat baik.

“Iya, Pak.” Aku mengekor di belakang beliau.

Bapak mendahului menuju bagian belakang rumah dengan langkah cepat-cepat, tadi sudah menahan diri untuk mendukung cucu-cucu kesayangannya. Mengambil Ali pertama kali yang berdiri di pinggiran, mengangkatnya tinggi-tinggi, Ali tergelak kegirangan. Gantian Rayi dan Azka yang berebut meminta perhatian kakeknya.

Ibu Tum – mertuaku, duduk di bale kayu luar samping pintu menyusut air mata dengan dasternya.

“Am...” Sapa beliau padaku, dan aku pun duduk di sampingnya.

“Maafkan Amri ya Bu...”

“Bapak pasti sudah berbicara padamu mengenai Meta.”

“Iya, Bu.”

“Pertimbangkanlah baik-baik.”

“Ya, Bu.”

“Wanita itu sejatinya memang pandai memendam luka. JIKA dirasanya bicara sudah percuma.” Di kalimat terakhir ibu sempat melirikku, aku menunduk malu.

“Yang ibu sesalkan, mengapa ia tak sempat berbicara pada ibu, memilih membawa luka hatinya pergi seorang diri. Mungkin salah ibu juga yang tak berusaha lebih keras untuk mencari tahu...”

“Tidak bu, semua ini murni kesalahan Amri. Seandainya Amri bisa menjadi suami yang baik, pasti kejadiannya tidak begini.”

“Huuf... Biarkan anak-anak itu di sini beberapa hari ini Am. Kau fokus dulu saja kembali bekerja. Nanti jika suasana sudah kondusif, kau jemput lagi tak papa.”

“Tapi Azka dan Rayi harus sekolah Bu.”

“Mereka pasti mengerti, nanti Ibu bantu ngomong sama kepala sekolah mereka.”

Aku tak hendak membantah. Mungkin kata Ibu ada benarnya, situasi ini bisa jadi jalan keluar bagiku dan juga anak-anak.

“Makanlah, Am. Ibu dan bapak tadi sudah duluan.”

“Amri menunggu anak-anak selesai berenang Bu.”

Bu Tum tersenyum, “Kau sudah berubah Tam. Dulu mana peduli pada anak istrimu, asyik berfokus terus dengan ponsel dan dirimu sendiri. Tak peduli dengan kerepotan Mega. Kini pandanganmu tak lepas dari anak-anak itu. Tak elok memang jika Ibu bilang perubahan baikmu ini karena kematian anakku, tapi mungkin pengorbanan Mega demi menyelamatkan anak-anaknya juga.”

Aku tak menyadarinya, instingku pada anak-anak ini terjadi secara alami. Mungkin karena aku tahu sudah tak ada lagi yang bisa kuandalkan karena kamu sudah tak ada. Salahnya aku dulu, aku menumpukan semua beban padamu sendiri. Hanya karena merasa bahwa mengurus anak-anak adalah tugasmu, walaupun membuatnya berdua.

“Sana, makanlah yang kenyang. Kau tampak benar-benar tidak terawat.”

Tanganku terulur ke arah kumis dan cambang yang tumbuh lebat. Biasanya dulu aku klimis, tak pernah membiarkan mereka tumbuh menutupi wajahku. Belum lagi baju yang biasanya licin rapi kini keriting karena sekenanya kusambar dari jemuran. Mana sempat setrika?

Kini, bagaimana mau merawat diri, tidur nyenyak 1 jam di malam hari saja rasanya berlebihan. Selain karena anak-anak yang bergantian mengigau memanggil-manggilmu, juga karena rasa bersalah yang menggerogotiku. 

Sudah berulang kali aku berharap menemuimu dalam mimpi, sekedar untuk mengucap maaf, bersimpuh di kakimu, adinda. Tapi Tuhan tak mengabulkannya, mungkin karena Tuhan tahu kau sudah bahagia di sana tanpa harus merisaukan keadaanku lagi di sini.

Mengenai permintaan orang tuamu, aku harus bagaimana adinda? Boleh kasih aku kisi-kisi nggak istriku yang pintar?

Aku makan masakan ibu tak seperti biasanya, hanya mengambil seperlunya. Cukup untukku menyambung hidup saja. Karena makanan seperti apapun sudah tak membuatku selera. Jika tak kutahan-tahan bahkan ingin kumuntahkan kembali.

Bu Tum hanya melirikku sambil menghembuskan napas pelan.

“Wajar jika kamu sedih Am, tapi jangan lama-lama. Anak-anakmu membutuhkanmu lebih dari sebelum-sebelumnya. Kuatlah.”

Pelan ditepuknya pundakku dan aku hanya menanggapinya dengan mengangguk.

Ekspresinya dengan cepat berganti senang tatkala cucu-cucunya keluar bersamaan dari kolam meminta dihanduki.

Tring!

Suara pesan masuk di ponselmu yang kini kubawa kemana-mana karena gallerinya berisi foto-fotomu tersenyum dengan anak-anak kita.

[Am, Kak Ita tahu kamu yang membawa ponsel Mega. Bagaimana ini Am? Bapak dan Ibu semakin menggila karena rencana mereka gagal. Kak Ita takut akan jadi korban selanjutnya.]

[Rencana apa, korban apa, Kak?]

[Guna-guna mereka, Am.]

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel