Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pulang

Guna-guna? Korban selanjutnya?

Lalu siapa korban sebelumnya? Apakah yang mereka maksud adalah Mega istriku?

Tanganku terkepal kuat menggenggam ponsel. Sepertinya terlalu banyak hal yang disembunyikan oleh keluargaku di kampung. Jika kali ini aku mengulangi kesalahan dengan tidak peduli, maka aku takut aku juga akan kena, atau bahkan yang lebih parahnya yaitu anak-anakku.

Ini tak bisa dibiarkan, aku harus menemukan titik terang.

Aku bangkit dari kursi makan dan berjalan mendekati kedua mertuaku yang bahu membahu memakaikan baju Rayi dan Ali.

“Pak, Bu. Amri titip anak-anak untuk sementara waktu. Ada yang harus Amri selesaikan di kampung, Amri pasti kembali menjemput anak-anak.”

“Ada masalah yang mendesak?”

“Iya Pak, Amri sedang berusaha mencari tahu. Kak Ita membutuhkan pertolongan Amri.”

“Apa yang perlu bapak bantu, Am?”

Duh, terbuat dari apa hati mertuaku ini pada mantunya yang kurang ajar. Sementara aku sendiri belum memaafkan diriku. Entah sampai kapan.

“Sementara ini belum ada Pak, Amri masih belum paham juga duduk perkaranya bagaimana. Ini kesana untuk mencari tahu dulu baru bisa menentukan langkah yang harus diambil.”

“Baiklah. Mau pulang berapa lama?”

“Paling lama 2 minggu Pak. Amri pasti kembali untuk anak-anak, jika Allah mengijinkan.”

“Bukan bapak tidak percaya, tapi kamu tahu sendiri anak-anak tidak suka dibohongi. Bapak dan Ibu harus tahu menjawab apa kalau nanti mereka tanya. Ingat Am, kau adalah sosok yang akan menjadi contoh bagi anak-anakmu. 

Jika kau ingin anak-anak ini nantinya percaya pada setiap perkataanmu, maka penuhilah janji yang kau ucapkan pada mereka. Jangan sekali-sekali meremehkan janji pada anak kecil, mereka merekam semuanya dengan sangat baik.”

Satu lagi ilmu penting yang kudapat dari bapak mertua. Aku mengamini betul yang beliau ajarkan, karena itu juga yang berulang kali menjadi isi pertengkaranku dengan Mega, tak heran ia sangat jengkel melihatku yang sering menyepelekan janji. Karena pembandingku adalah bapak mertuaku sendiri.

Sementara aku, yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang tak stabil dan tak ideal membuatku tak memiliki sosok panutan, itu pula mungkin yang membuat keputusan-keputusanku menjadi bias. 

“Iya Pak, Amri berusaha untuk menepati janji.”

Bapak dan Ibu hanya mengangguk. Aku menatap Azka yang mendengarkan percakapan kami dengan seksama. Ia kurang lebih sudah mengerti apa yang orang dewasa perbincangkan, oleh karena itu aku pun berusaha untuk berbicara hati-hati jika tampak ia di sekitar.

Kudekati ia yang diam menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutku, sebuah janji yang akan menjadi suar hari demi harinya saat menungguku kembali.

“Mas, ayah pergi dulu ya. Mas di sini dulu sama adek-adek, jangan nakal, nurut sama kakek dan nenek ya?”

“Jangan lama-lama yah...”

“Iya, kalau urusan ayah cepat beres, ayah langsung pulang.”

“Janji ya.”

“Janji.”

“Kalau nanti adek Rayi nanya-nanya bunda sama ayah gimana?”

“Mas kasih tahu aja kalau ayah pergi beliin Rayi dan adek Ali lego, ya? Kalau mas Azka pengen apa?”

Ia menggeleng cepat.

“Mas gak pengen apa-apa, yah. Pengennya ayah cepet balik aja biar Rayi dan adek Ali gak sedih.”

Aku mengusap kepalanya pelan dan mengecup keningnya. Betapa baik dan dewasanya anak sulungku ini. Persis seperti sang bunda.

Setelah itu, aku ganti mendekati Rayi dan Ali, memeluk mereka dan menghirup kuat-kuat aroma tubuh mereka. Bekalku pergi untuk sementara agar setiap selku mengingat mereka bertiga dan mendukung niatku untuk kembali menghirup aroma yang sama.

Setelah itu, aku memacu motorku pulang, mengemas pakaian seperlunya. Selanjutnya meminta ijin HR untuk mengambil sisa jatah cuti, setelah disetujui lalu memesan tiket. Beruntung masih ada penerbangan hari itu yang bisa kukejar. 

 

Begitu saja, dan aku sudah kembali ke tanah jawa.

 

***

Dalam travel yang membawaku ke kampung, ingatan akan masa lalu membanjiri pikiran.

Aku dan Kak Ita adalah saudara kandung, namun kami berdua bukanlah anak kandung bapak dan ibu, melainkan anak dari Bu Reni - ummiku, adik kandung ibu yang meninggal selepas melahirkanku.

Jadi yang kupanggil sebagai Ibu dan Bapak sebenarnya adalah Bude dan Pakdeku.

Karena tak memiliki sanak saudara lain, praktis membuatku dan Kak Ita diangkat anak oleh Bude Heni dan Pakde Mardi, suaminya.

Karena dirawat dari bayi, makanya aku memanggil Bude Heni dan suaminya sebagai Ibu dan Bapak serta menaruh hormat kepada mereka berdua. Bude dan pakde memiliki anak selain aku dan Kak Ita yang berjumlah sepasang - laki-laki dan perempuan, juga dengan rentang usia yang hampir sama persis dengan kami.

Mas Hendri dan Mbak Santi, demikian aku memanggilnya.

Masa kecilku dan Kak Ita sebenarnya tak pernah mulus-mulus saja, kami diperlakukan berbeda karena kami memang bukan anak kandung bude dan pakde. 

Saat Mas Hendri dan Mbak Santi selalu mendapatkan limpahan kasih sayang dan dimanja dengan makanan dan mainan, maka dibaliknya adalah kami yang sudah kenyang mendapat siksaan demi siksaan sebagai saluran kekesalan bude dan pakde.

Sedari kecil, aku menyaksikan Kak Ita yang dipaksa untuk mengerjakan kerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, menyuci baju dan piring. Jika Kak Ita lalai sedikit saja, maka gagang sapu atau sabuk pakde mampir di tubuh kurus Kak Ita.

Aku masih merekam dengan jelas suara teriakan Kak Ita yang meminta ampun agar tak dipukul terus-terusan. Sosok bude dan pakde bagiku dulu sangat mengerikan. Setiap kali melihat kelebatan mereka saja mampu membuat tubuh kecilku mengkerut.

Tak jarang akupun kena jika tak sengaja mengompol saat malam, atau mencomot makanan yang bukan merupakan bagianku. Tak ada kemewahan menggunakan popok sekali pakai untukku dulu dan makanan kami adalah sisaan dari apa yang tak habis mereka makan.

Jika suasana hati mereka buruk, tubuh kecil kami dipontang panting untuk menyalurkan kekesalan bude dan pakde. Aku dan Kak Ita kecil belajar untuk memendam.

Kami akan saling menghibur kala malam tiba, di kamar yang dijadikan gudang, beralaskan tikar dan tumpukan kardus agar terasa empuk.

Beranjak remaja, aku yang tak tahan melihat perlakuan mereka pada Kak Ita akhirnya melawan. Saat itulah titik balik perubahan perlakuan mereka pada kami. Layaknya pembully kebanyakan, saat korban sudah berani melawan malah mereka yang jadi ciut. 

Lebih-lebih aku tahu jika rumah yang kami tempati sebenarnya adalah rumah peninggalan kakek dari garis abah yang merupakan bapak kandungku, sehingga mereka dan anak-anak mereka sebenarnya tidak berhak menempati rumah itu. 

Setelah perlakuan mereka membaik, aku tak mengambil hati peristiwa masa lalu dan berusaha memaafkan serta mempelakukan mereka layaknya kedua orang tuaku. 

Kupikir kami akhirnya bisa akur layaknya keluarga, rasa hormat dan pengabdianku akan berbalas serupa. Lalu ini apa? Apa yang mereka lakukan pada Kak Ita dan juga istriku?

Naifnya aku selama ini yang mengharapkan perlakuan mereka padaku dan Kak Ita akan berubah.

Mobil travel berhenti di pinggir jalan rumahku, aku sampai hampir tengah malam. Sengaja tak mengabari siapa-siapa, bahkan Kak Ita karena aku ingin menilai sendiri situasi yang sebenarnya.

Jika aku mengabari dahulu, bisa saja kondisi asli ditutup-tutupi, seperti halnya dulu kami yang disuruh tidur di kamar Kak Hendri atau Kak Santi setiap keluarga dari pihak abah datang menengok.

Setelah membayar ongkos travel, dengan ransel di sampirkan di pundak serta langkah tegap aku menuju ke rumah.

Tampak lampu yang terang benderang di ruang tamu, aku mendengar gelak tawa ramai dari dalam rumah. Dengan lirih mengucapkan salam, aku membuka pintu depan yang tak terkunci lebar-lebar. 

Tawa orang-orang yang berada di dalam seketika berhenti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel