Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tawaran Menikah Dengan Adik Ipar

Dua minggu setelah kepergianmu.

Mengendarai motor matic lawas yang cicilannya masih kurang 2 tahun lagi, aku mengajak ketiga jagoanku ikut serta berkendara selama 1 jam menuju kediaman kakek dan neneknya dari pihak sang bunda yang berada di kecamatan berbeda. 

Karena biasanya ada kamu yang menjaga mereka di belakang, maka kini demi keselamatan anak-anak, aku memapas gengsi dengan mengikatkan selendang mengelilingi tubuh mereka. Khawatir jika mereka terkantuk-kantuk di jalan karena terpaan angin.

Sembari mempersiapkan mereka menggunakan jaket tebal dan helm, pikiranku melayang. Jika dulu setiap kita hendak pergi kemana-mana, ada kamu yang lebih dahulu mempersiapkan mereka. Mulai sibuk 2 jam lebih dulu sebelum waktu yang dijanjikan.

Sedang aku hanya cukup menyiapkan diri sendiri. 

Itupun seringnya membuatmu jengkel karena aku yang lelet, aku yang membuat janji aku juga yang tak menepati. Setiap kali kamu tanya berangkat jam berapa, kujawab dengan lugas. Namun, itu bukan jam kita pergi, tapi jamku untuk masuk kamar mandi. Tak lupa nongkrong 40 menit sendiri di kloset. 

Tak peduli wajah sebalmu dan anak-anak yang lama menunggu.

“Ayah itu bisa gak sih tepat waktu? Tadi yang bilang jam 10 siapa?”

“Aduh bun, kita pergi mau santai kan? Jadi gak mood lho kalau belum berangkat saja bunda sudah ngomel-ngomel.” Malah aku yang gas lighting. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11.

Azka dan Rayi bertengkar dan baju mereka sudah tidak karuan, mengeluh kepanasan, sedang aku masih santai mematut diri. 

Dandananmu juga sudah mulai berantakan karena Ali rewel ngantuk meminta asi. Resleting terbuka dengan jilbab yang disampirkan melewati bahu kau menatapku dengan tatapan marah.

“Yah, ayah cuma ngurus diri sendiri saja lho kenapa lama sekali. Anak-anak sudah rewel karena terlalu lama menunggu. Mereka tadinya semangat sekarang malah jadi gak mood gara-gara ayah.”

“Ya jadi mau berangkat gak ini?! Udah dibilang, kalau mau berangkat tu jangan ngomel-ngomel dulu bisa gak?!” 

“Astagfirullah ayah... Gak adil lho ayah sama bunda.”

“Gak adil apa sih?! Gak jelas.”

“Coba saja kalau teman ayah yang ngajak pergi, pasti gak pakai lama langsung berangkat. Nyiapkan anak tiga itu repot lho yah, hargai sedikit kenapa usaha bunda. Yang menentukan jamnya tadi ayah lho, bunda berusaha menepati.”

“Kenapa jadi bawa-bawa temanku sih?! Mulai gak nyambung lho, gak jelas. Dahlah, gak usah berangkat aja sekalian. Cuman mau nengok-nengok mainan juga kan?! Gak penting. Beli online aja biar gak ribet!”

Kusampirkan lagi celana panjang yang hendak kukenakan ke atas kastok dan merokok ke teras depan. 

Rasa kecewamu begitu nyata, tapi aku mengabaikannya. Entah apa yang kau katakan saat itu pada anak-anak kita karena janji jalan-jalan hari itu tak jadi kupenuhi. Aku tak peduli, sudahlah hari ini seharusnya aku libur maunya tenang, tidur sampai siang. Malah jadi dongkol karena kau yang tak bisa menahan kritikan padaku.

Selepas menghabiskan dua batang rokok, aku melihatmu yang rebahan membelakangiku, anak-anak sudah tidur semua. Saat kulirik wajahmu, aku dapat melihat aliran air mata masih membekas di sana. Kan benar, cengeng banget memang.

 

Lihatlah aku saat ini adinda, menggantikan tugasmu menyiapkan anak-anak kita. Beruntung mereka sudah besar-besar, kau menyiapkan karakter mereka dengan sebaik-baiknya sehingga tak begitu menyusahkanku sekarang. 

Begitupun aku sempat juga merasa kewalahan, apalagi kamu dulu adinda? Aku minta maaf ya? Kalau jadi kamu, aku pasti juga tak akan tahan memiliki partner hidup yang menyebalkan ini. 

 

Kuperhatikan Azka yang sekarang begitu pendiam, dengan cekatan membantuku menyiapkan si kecil Ali dan menginstruksikan Rayi yang masih asyik bermain ke sana kemari dengan sabar. Apa yang berkecamuk dalam hatinya, aku tak bisa meraba seberapa luka. 

Di usianya yang sekarang dia sudah paham arti kehilangan, tapi juga belum siap untuk menghadapinya. Mengapa rasa sakit ini harus dihadapinya juga, seandainya bisa, biar aku saja yang merasakannya.

Aku janji, akan lebih memberinya perhatian dibanding adik-adiknya, aku tak mau ia menanggung semua sedih tanpa pintu keluar. Aku pastikan untuk menyepuh lukanya yang menganga bersama-sama.

 

“Mas Azka, makasih ya sudah jadi kakak yang baik?”

Tampak binar terang di matanya mendengar apresiasi meluncur dari mulutku untuknya. Kutebus kesalahanku yang dulu-dulu padamu melalui perantara anak sulung kita ya adinda? Aku tahu ia yang paling berhak menerima perhatianku karena sering absen saat tumbuh kembangnya dulu.

Aku juga ingat rasa bersalahmu yang memberinya adik saat ia masih sangat membutuhkan perhatian penuhmu. Ia yang menjadi sasaran kekesalan karena tekanan demi tekanan yang kau hadapi saat mengurus anak kita bertiga, sendirian. 

Begitupun ia masih mampu tumbuh menjadi pribadi dengan hati lembut dan pemaaf. 

 

Alhamdulillah perjalanan menuju rumah mertua lancar tanpa kendala yang berarti, paling mampir sebentar di tepi jalan untuk membelikan jajanan untuk anak-anak agar tak rewel saat main di sana.

Sempat singgah meneduh sebentar karena Ali dan Rayi yang sempat terkantuk-kantuk di depan karena terpaan angin sampai menunggu mereka segeran.

Tiba di pekarangan mertua yang luas dikelilingi oleh pohon-pohon sawit, sang nenek – ibu mertuaku berlari menyongsong cucu-cucunya. Dengan penuh sayang merangkul mereka sembari menangis meraung, sedih meratapi nasib cucu-cucunya yang ditinggalkan sang bunda.

Aku melihat bapak mertua keluar, menatapku dengan raut wajah beliau yang garang. Diamnya beliau mengandung sejuta makna. Bahkan setelah lulus menjadi menantu pun aku masih belum bisa dekat dengan beliau. Ada rasa segan karena beliau yang pendiam.

Dahulu, meminta restunya adalah perjuangan luar biasa. Kini, aku harus bilang apa? Puterinya kusia-siakan hingga memilih pergi dengan bunuh diri. Sang pesakitan ini sedang menimbang-nimbang hukumannya sendiri.

Ibu mertua mengambil cucunya masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku yang bingung harus sendirian menghadap bapak. Tanganku sudah basah oleh keringat karena gugupku. Hendak berlama-lama di atas motor, mengulur waktu.

Namun bapak yang sedang duduk di kursi teras mengirimkan tatapan tajam ke arahku.

“Huuuf...” aku menghembuskan napas pelan, rasanya persis sama seperti kali pertama hendak bertemu kedua orang tuamu waktu itu untuk mengutarakan keseriusanku. Rasanya seperti hari penghakiman, begitu juga hari ini.

Dengan langkah yang dilambat-lambatkan aku melangkah menemui beliau, lutut ini terasa lemas saat jarak kami sudah dekat. Aku bersimpuh dan meminta maaf di kaki beliau.

“Apa kesalahan Mega padamu, Amri? Apakah selama ini ia tak kudidik menjadi istri yang baik untukmu?”

Dengan getar tertahan beliau bertanya. Cuma kata-kata itu saja yang keluar dari mulut beliau. Tak ada penghakiman seperti yang kuperhitungkan, namun malah semakin membuatku malu.

“Tak ada pak, Amri yang salah. Amri belum bisa menjadi suami yang baik untuk Mega, maafkan Amri, pak... Amri banyak-banyak salah...”

“Selama ini Mega tak pernah sekalipun menceritakan kesusahannya. Tapi kami dapat merasa, senyum riangnya dulu hilang dan kini ia lebih banyak diam setiap kali berkunjung. Kami tak bertanya, karena menunggu waktu ia mengungkapkan sendiri. 

Uangkah yang jadi masalah, Amri? Atau kau tak ridha dengan pelayanan istrimu selama ini hingga ia merasa tak berharga?”

“Bukan pak... Sama sekali bukan, Amri luput memberikan perhatian yang dibutuhkan oleh Mega. Amri sibuk dengan diri sendiri, walaupun itu Amri lakukan untuk memenuhi nafkah Amri pada keluarga. Amri sadar jika kelalaian Amri lah yang memicu keputus-asaan Mega. Amri menyesal, pak.”

“Huuuf... Nasi sudah menjadi bubur, walau bapak menyesal mengijinkan Mega memilihmu. Namun sekarang yang harus menjadi fokus utama adalah anak-anak itu, Am.”

“Amri janji akan merawat dan membesarkan mereka dengan sebaik-baiknya, pak. Itu janji Amri pada Mega di depan pusaranya.”

“Tentu tak mudah membesarkan tiga orang anak sendirian tanpa seorang perempuan.”

“Amri akan berusaha, pak. Mereka juga anak-anak yang baik, tak banyak tingkah.”

“Masih terlalu dini dalam menilai karakter anak, kau tak akan tahu repotnya jika nanti mereka sudah beranjak remaja jika tak ada yang mengawasi mereka dari rumah.”

Aku sempat terdiam mendengarkan petuah bapak.

“Menikahlah dengan Meta.”

Tiga kata yang memberi efek kejut seperti tersetrum listrik.

Apa yang membuat bapak mempercayakan anak perempuannya yang lain lagi padaku?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel