Habis Sudah Sabarku
“E-eh, Amri?! Kenapa pulang gak ngabari? Anak-anakmu, cucuku, di mana?” Bude Heni geragapan, tangannya panik mematikan televisi baru berukuran sangat besar 55 inchi yang hampir menutupi salah satu sisi dinding ruang tamu itu. Melihat kabel-kabelnya yang masih menjuntai, beberapa plastik dan kardus pembungkusnya yang berantakan aku menduga TV itu baru saja dibeli hari ini.
Saat aku sedang berduka, mereka asyik tertawa-tawa dan menghamburkan-hamburkan uangku, karena kutaksir harga televisi itu hampir setara dengan besaran kiriman yang kukirimkan pada mereka setiap bulan. Hatiku sembilu, sementara anak dan istriku selama ini harus rela berbagi satu ponsel usang sebagai hiburan.
Jika mereka begitu royalnya membeli barang, maka tak heran mereka masih saja merongrong jatah dari Mega dan juga Kak Ita di luar kirimanku tiap bulan.
Belum lagi motor matic dengan bodi besar tipe terbaru yang terparkir di dalam ruang tamu, platnya masih putih. Apakah ini cicilan hutang 17 juta yang mereka bebankan pada Mega? Rahangku mengeras kaku.
Bude memerintahkan anak-anaknya untuk beranjak pergi, karena aku yang tak segera menjawab pertanyaan bude yang terkesan hanya basa basi itu. Namun mereka tak ingin pergi, sayang melewatkan drama di depan mata. Pakde diam saja, kicep tanpa suara.
“Aku ingat betul bude dan pakde sudah kubuatkan rumah di tanah warisan ummi. Mengapa masih di sini?” Aku bertanya dengan nada dingin. Jika mereka di sini, bagaimana dengan Kak Ita?
Bude, pakde, Mas Hendri beserta istri dan juga Mbak Santi saling pandang melempar tanggungjawab untuk menjawab.
Karena seyogyanya atas rengekan bude dulu, aku sengaja membuatkannya rumah yang lebih besar dan kokoh dengan hasil keringatku kala bujang di tanah bagianku dari warisan peninggalan ummi. Jaraknya hanya 2 rumah dari rumah ini.
Aku dan Kak Ita mempertahankan rumah ini karena halamannya yang lebih luas dan karena kata Kak Ita rumah ini menyimpan memori masa kecil baginya yang lebih dulu merasakan kasih sayang ummi dan abah dulu.
Kurelakan masa mudaku kerja keras membanting tulang untuk memperjuangkan mimpi Kak Ita memiliki rumah ini seutuhnya tanpa campur tangan bude dan pakde. Tapi ini apa? Sejak kapan mereka kembali menguasai rumah ini? Karena aku dapat melihat semua atribut mereka di seluruh penjuru rumah.
Mustahil jika mereka di sini hanya sekedar main.
“Rumahnya... Sedang bude sewakan Am, lumayan uangnya untuk bulanan.”
“Masih kurang yang tiap bulan Amri kirimkan sampai harus mengganggu Kak Ita dan keluarganya?!”
Bude berdiri tak tenang, bola matanya berputar gelisah memikirkan alasan kebohongan lain.
“Kuranglah Am, kan uang itu juga untuk kebutuhan bude dan anak-anak bude... Eh.” Bude keceplosan salah bicara, aku sudah tak lagi mampu membendung rasa marah.
“APA?!! Anak-anak, suami sampai mantu bude pun mengandalkan hidup dari uangku?!! Bude pikir aku apa??! SAPI PERAH KALIAN??! GAK ADA HAK ANAK-ANAK BUDE ATAS UANGKU!!”
“Jangan begitulah Amri, bagaimanapun mereka kan saudaramu juga...” Pakde urun suara yang langsung terdiam kala kutatap tajam, siapa dia beraninya menasehatiku, dasar benalu sok pongah.
“HAHA, bisa-bisanya... Aku memang saudara mereka pakde. Tapi aku B-U-K-A-N bapak mereka,” sindirku langsung kepada pakde yang melengos dan membuang muka, ngedumel sendiri. Kalau orangnya waras, harusnya dia sadar diri.
“Jangan begitulah Amri. Hendri baru saja berhenti jualan karena jual beli motor bekasnya sepi, modalnya habis. Santi juga belum nemu pekerjaan lain yang cocok karena di tempat kerjanya kemarin gajinya kecil. Pakdemu juga sudah tua, sudah saatnya pensiun, kau sebagai saudara yang sedang mendapatkan rejeki lebih kan memang sudah kewajibannya membantu,” bude dengan lancar membela keluarga intinya.
“Kalau begini saja kalian menganggapku saudara. Gak malu sama sekali mengandalkanku yang bahkan tak punya kewajiban apapun pada kalian. Asal pakde dan bude tahu, tanggungjawab mereka itu ada pada kalian. Bukan sama aku.
Aneh ya? Lihatlah, kalian padahal tak ada yang bekerja tapi bisa beli barang-barang mewah?” Lirikku tajam pada motor dan TV baru tersebut, “Dan salahku selama ini terlalu buta atas perlakuan kalian yang memanfaatkanku tak habis-habis. Bantu itu sebentar! Bukan terus-terusan! Kalian masih pada sehat, bukan jompo atau lumpuh!”
“Amri! Ucapanmu kurang ajar sekali sama kami. Kau tak ingat orang tuaku yang membesarkanmu dan si Ita dulu?!” Mas Hendri, laki-laki yang selama ini manjanya minta ampun, yang uang mahar untuk melamar istrinya pun hasil minta-minta sama aku itu berseloroh sambil memainkan telunjuknya ke arah wajahku.
“B*cotmu tinggi sekali Mas. Membesarkan? Sakit tak dirawat, makan sisa-sisa, kerjaan rumah tanpa dibayar, samsak orang tuamu kalau kesal? Itu yang kau bilang membesarkan?!”
“Ya buktinya kalian bisa hidup sampai sekarang kan juga berkat orang tuaku!”
“Jangan omong besar kalau gak tahu apa-apa kamu Mas. Warisan dari abah dan ummiku harusnya cukup berlimpah hingga aku dan Kak Ita menyelesaikan studi S2 jika tak dihabiskan oleh kalian! Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku dan Kak Ita pasti lebih memilih untuk hidup berdua tanpa kalian, sekumpulan lintah!”
Bude terkejut dengan mata melotot karena ucapanku sekaligus karena tak menyangka aku mengetahui mengenai seluk beluk harta almarhum kedua orang tuaku yang sudah dihabiskan tanpa sisa olehnya dan sang suami dengan rakus. Bagaimana bisa dia hidup jika suami modal k*nt*lnya itu saja tak pernah bekerja dan dia juga hanya ibu rumah tangga yang kerjaannya sehari-hari ongkang-ongkang kaki berdua?
Siapa saja juga tahu jika mereka bisa hidup enak hanya dari mengandalkan warisan kedua orang tuaku yang dulunya merupakan saudagar kain yang menyuplai barang dagangannya ke berbagai kota besar di tanah jawa.
“AMRI! KAU SUDAH KETERLALUAN!! TARIK UCAPANMU ATAU---” Kak Santi ikut-ikutan namun dengan lantang kupotong.
“ATAU APA?! Kalian bisa apa jika tak ada aku atau Kak Ita?!”
Santi kehabisan suara, ia menarik-narik lengan baju ibunya, tapi tumben budeku pun kehabisan kata-kata. Mungkin karena tak mengira aku akan pulang secepat ini padahal baru saja kehilangan istri.
Jika aku memberitahu, mereka pasti sudah menyiapkan sandiwara dengan rapih, sama seperti dulu setiap saudara abah datang memeriksa kondisi kami. Ia dan pakde akan pura-pura menyayangi kami, mengancam kami berbicara jujur kepada keluarga jika tak ingin berakhir diusir.
Aku dan Kak Ita kecil menurut saja karena dulu tak tahu mau pergi kemana, saudara abah yang juga saudagar kaya itu tinggal amat jauh dan kami tak dekat. Kami tak berani percaya padanya.
“Karena kini mataku telah terbuka, maka malam ini juga kalian menyingkir dari rumah ini! Kemasi barang-barang kalian! Dan apa saja yang kalian beli dari uangku, haram untuk kalian bawa, aku tak rela.”
“Amri! Jangan begitu... Kasihanilah kami, mau tinggal di mana ibu dan bapakmu ini?! Maafkan kami Amriii... Ibu dan bapak sudah tak muda lagi Am, tak mau hidup terlunta-lunta, Mega pasti tak ingin suaminya seperti ini kan?!” Bude bersimpuh dan menggelendoti kakiku, aku sangat risih dibuatnya.
Bisa-bisanya dia menjual nama istriku?! Wanita yang tak memiliki hubungan darah sama sekali dengan mereka tapi kena poroti juga?! Astaga selama ini aku begitu butanya!
Namun tak urung melihat wajahnya yang sedikit menua, membuatku iba, bagaimanapun juga beliau adalah kakak dari ibuku. Jika ibuku masih hidup mungkin akan memiliki rupa yang sama. Baru saja aku hendak menarik ucapanku...
“BRAK!! BRAKK!!” Suara pintu kayu yang dipukul dengan keras bersumber dari samping rumah. Wajah bude, pakde dan anak-anaknya seketika semakin pias.
“Suara apa itu?!” Hardikku.
“Oh- itu, pakde memelihara anjing besar untuk menjaga rumah, sementara dikurung karena sudah malam. Mungkin dia sedang mengendus baumu makanya berontak ingin keluar,” pakde yang berkilah cepat dan didukung oleh anak istrinya.
“Amri---! Itu suaramu kan Amri?!”
Begitu suara dari dalam sana yang sangat aku kenal. Wajah mereka kembali panik, bude yang masih menggelendotiku semakin mempererat cengkramannya seolah tak ingin membiarkanku melihat ke sana.
“Lepaskan!!” Aku menolak cengkraman bude pada kakiku dan ia tersungkur ke lantai yang segera ditangkap oleh anak dan suaminya.
Aku tak memedulikan mereka dan dengan langkah lebar menuju samping belakang rumah. Aku ingat dulu rumah samping ini terdapat bangunan dari bambu-bambu yang difungsikan sebagai kandang ayam.
Lantainya dari tanah yang gembur oleh banyak kotoran ayam dan lembab karena buangan dari kamar mandi di alirkan ke sini. Otomatis tempat ini sangat amatlah bau.
Aku tak berani menduga siapa orang yang mereka kurung di dalam sana, namun dari suaranya aku dapatlah menebak. Hanya saja hati kecilku masih berharap jika dugaanku salah.
“BRAK!! BRAK!!” Suara berontak dari dalam karena pintu kayunya di gerendel dari luar.
“Am--- Amri!” Demikian suara penuh harap Kak Ita dari dalam.
“KURANG AJARRR!!” Umpatku kali ini dengan sekuat tenaga.
