5. Petualangan di Bawah Langit Griffith
Pagi itu matahari Los Angeles bersinar lembut, memantul di jendela kamar hotel keluarga Indra dan Yana. Setelah beberapa hari penuh tawa dan permainan di Universal Studios dan Santa Monica Pier, kini mereka bersiap menjelajahi tempat yang sedikit berbeda yaitu Griffith Observatory dan Griffith Park.
Yana sedang merapikan topi bucket pink milik Nala sementara Indra memeriksa tas kecil berisi botol air, kamera, dan kudapan ringan.
“Nathan, sudah siap?” seru Indra sambil memanggil dari depan pintu.
“Sudah, Daddy!” Nathan berlari kecil, mengenakan kaus bertuliskan NASA Explorer dan membawa teropong kecil yang baru dibelikan kemarin.
Nala muncul dari kamar, memakai gaun biru muda dengan gambar bintang-bintang di pinggirnya. “Aku juga siap, Daddy! Hari ini aku mau lihat planet sungguhan!” katanya dengan mata berbinar.
Indra tertawa pelan. “Planet sungguhan cuma bisa dilihat lewat teleskop, Sayang. Tapi siapa tahu saat ini kita bisa melihat Saturnus.”
Yana memegang tangan anak kembarnya. “Ayo, astronaut kecil. Petualangan kita dimulai.”
Mobil mereka meluncur melewati jalanan Los Angeles yang ramai. Dari kejauhan, bukit hijau yang menaungi Griffith Park mulai terlihat. Di atasnya, bangunan putih bergaya klasik dengan kubah besar. Griffith Observatory, berdiri megah.
“Wow,” gumam Nathan.
“Itu kayak gedung luar angkasa, Mom.”
Yana tersenyum sambil memandangi pemandangan dari jendela. “Iya, Sayang. Di sana nanti kita bisa lihat bintang dan planet lewat teleskop besar.”
Nala menepuk lutut kakaknya. “Kamu pikir nanti kita bisa melihat alien juga nggak?”
Indra tertawa dari kursi pengemudi. “Alien-nya belum tentu ada, tapi kalau ada, Daddy janji akan foto bareng buat kalian.”
Kedua anak itu langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Begitu mereka tiba, angin sejuk langsung menyambut. Dari pelataran observatorium, pemandangan kota Los Angeles tampak luar biasa. Gedung-gedung tinggi berjejer seperti miniatur, dan di kejauhan, tulisan putih besar HOLLYWOOD terlihat jelas di lereng bukit.
“Cantik banget,” bisik Yana sambil mengambil foto.
“Mom! Aku mau lihat teleskopnya!” seru Nathan sambil menarik tangan Yana.
Mereka masuk ke dalam gedung. Suasana di dalam tenang dan menakjubkan. Cahaya biru redup menyinari dinding yang dipenuhi gambar planet, rasi bintang, dan foto-foto galaksi.
Seorang petugas ramah menyapa mereka. “Selamat datang di Griffith Observatory! Pertunjukan planetarium akan dimulai lima menit lagi.”
Indra mengangguk sopan. “Terima kasih, kami ada empat orang.”
Mereka pun memasuki ruang planetarium yang berbentuk kubah besar. Tempat duduk melingkar, dan langit-langitnya segera berubah menjadi langit malam penuh bintang.
Ketika pertunjukan dimulai, suara narator yang tenang memenuhi ruangan.
“Bayangkan kita berlayar melintasi galaksi. Di sana, bintang-bintang lahir, planet berputar, dan waktu terasa berhenti.”
Nala menatap ke atas, matanya membulat kagum. “Lihat, Mom! Itu Jupiter! Besar banget!”
Nathan menunjuk ke arah proyeksi Saturnus. “Dan itu Saturnus! Cincinnya keren banget!”
Yana tersenyum lembut melihat ekspresi kagum mereka. Dia berbisik pada Indra, “Aku suka lihat mereka kayak gini. Anak-anak kita benar-benar menikmati dunia di sekelilingnya.”
Indra mengangguk. “Ya, Sayang. Rasa ingin tahu Nala dan Nathan itu yang harus kita jaga. Dunia terasa lebih hidup kalau dilihat lewat mata mereka.”
Pertunjukan berlangsung sekitar dua puluh menit, menampilkan simulasi luar angkasa, komet, dan bintang jatuh. Ketika lampu kembali menyala, Nala langsung bertepuk tangan. “Aku suka banget! Boleh nonton lagi nggak, Daddy?”
Indra terkekeh. “Kita keliling dulu, nanti kalau masih sempat, boleh.”
Mereka naik ke lantai atas di mana teleskop besar mengarah ke langit biru. Nathan berdiri di depan teleskop sambil mencoba mengintip.
“Daddy, aku lihat gunung!” katanya semangat.
“Itu bukan gunung, itu bagian dari bukit di seberang sana,” jelas Indra sambil membetulkan posisi teleskop. “Coba nanti malam, kalau langitnya cerah, kamu bisa lihat bintang.”
Nala berdiri di dekat pagar balkon, menunjuk ke kejauhan. “Itu tulisan HOLLYWOOD, kan, Mom?”
“Iya, Sayang.” Yana mengeluarkan ponselnya.
“Ayo, kita pose dulu di sini.”
Mereka berempat berfoto bersama dengan latar belakang pemandangan kota Los Angeles dan tulisan HOLLYWOOD yang ikonik. Nathan dan Nala membuat pose seperti astronot, sementara Indra dan Yana tersenyum bahagia.
“Ini foto keluarga terbaik kita sejauh ini,” seru Yana sambil menatap layar ponselnya.
Indra tersenyum. “Dan kita baru menjalaninya separuh hari.”
Setelah puas menjelajah observatorium, mereka berjalan menuruni tangga menuju taman luas di bawah bukit. Hamparan rumput hijau membentang sejauh mata memandang, dengan pepohonan besar yang meneduhkan.
Indra membuka tikar piknik dan menata bekal yang sudah disiapkan dari hotel. Ada sandwich, buah potong, dan jus jeruk segar.
Nala langsung duduk bersila, mengambil potongan apel. “Aku suka tempat ini, Daddy. Anginnya enak banget.”
Nathan merebahkan diri di atas rumput. “Aku bisa lihat awan bentuk roket!”
Yana tersenyum sambil menatap langit. “Kamu benar. Itu mirip roket.”
Indra ikut berbaring di samping anak-anaknya. “Kalian tahu nggak, awan itu berubah-ubah bentuknya. Sama kayak hidup. Kadang jadi kapal, kadang jadi roket. Tapi kalau hati kalian bahagia, semuanya kelihatan indah.”
Nathan memutar badan menatap ayahnya. “Daddy, kamu kayak guru aja ngomongnya.”
Yana tertawa geli. “Daddy memang guru, tapi untuk kita bertiga.”
Indra pura-pura menghela napas panjang. “Wah, susah juga jadi ayah bijak di depan keluarga yang suka bercanda.”
Nala menepuk pipi ayahnya. “Tapi aku tetap sayang Daddy.”
Indra langsung tersenyum lebar. “Itu hadiah terbaik buat hari ini.”
Setelah makan siang, mereka berjalan ke area berkuda. Seekor kuda cokelat muda bernama Sunny dan kuda putih kecil bernama Luna sudah menunggu.
Petugas yang ada di sana menjelaskan dengan ramah. “Anak-anak bisa naik kuda ini dengan pendamping. Jalur kelilingnya sekitar lima belas menit.”
Nathan langsung berseru, “Aku mau yang cokelat!”
“Kalau gitu aku yang putih!” sahut Nala cepat.
Indra dan Yana saling berpandangan sambil tersenyum. “Cocok banget, Nathan pilih Sunny, Nala pilih Luna,” ujar Yana.
Petugas membantu anak-anak naik ke pelana. Nathan tampak bersemangat memegang tali kendali, sementara Nala sedikit gugup di awal tapi segera tersenyum begitu kudanya mulai berjalan pelan.
“Daddy! Lihat! Aku bisa naik sendiri!” teriak Nathan.
“Pelan-pelan, ya, Nak. Jangan tarik talinya terlalu keras,” seru Indra sambil merekam dengan kamera.
Nala tertawa terbahak-bahak di atas kuda putihnya. “Mom, aku kayak princess yang lagi keliling taman!”
“Dan kakakmu jadi pahlawan berkuda,” sahut Yana.
“Kalian berdua pasangan petualang luar angkasa yang lagi liburan di bumi.”
Tawa mereka menggema di udara sore Griffith Park yang tenang. Burung-burung beterbangan di antara pepohonan, sementara sinar matahari menembus ranting, menciptakan cahaya keemasan yang indah.
Setelah perjalanan singkat, Nathan dan Nala turun dari kuda dengan wajah puas.
“Naik kuda seru banget!” kata Nathan.
“Besok kita bisa naik kuda lagi, Daddy?”
Indra menepuk bahu putranya. “Kita lihat nanti, ya. Tapi hari ini kamu udah jadi cowboy sejati.”
Nala mengangguk. “Dan aku jadi princess berkuda!”
Menjelang sore, mereka kembali ke area atas observatorium. Langit mulai berubah jingga, matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala kota.
Nathan dan Nala duduk di pagar batu, menikmati pemandangan kota Los Angeles yang perlahan menyalakan lampu-lampunya.
“Indah banget,” bisik Nala.
“Lihat, Daddy,” ujar Nathan menunjuk langit.
“Bintangnya mulai kelihatan!”
Indra menatap ke atas dan tersenyum. “Itu pertanda hari kita hampir selesai, tapi juga awal malam yang baru.”
Yana menggenggam tangan suaminya. “Hari ini sungguh sempurna, ya.”
Indra mengangguk. “Setiap hari bareng kalian selalu terasa sempurna.”
Nala bersandar di bahu ibunya. “Mom, kalau nanti aku sudah besar, aku pengin jadi orang yang bisa lihat bintang setiap hari.”
“Berarti kamu harus jadi ilmuwan atau astronom,” jawab Yana lembut.
Nathan menimpali, “Kalau gitu aku mau jadi pilot roket biar bisa jemput Nala di luar angkasa.”
Indra menatap mereka berdua dengan bangga. “Kalian berdua bener-bener punya mimpi yang keren. Daddy doain semoga suatu hari nanti, kalian bisa capai semuanya.”
Matahari pun tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit ungu yang dihiasi bintang pertama malam itu. Angin bertiup pelan, membawa aroma rumput dan udara dingin dari bukit.
Di balkon observatorium, keluarga kecil itu saling berpelukan, menikmati ketenangan, kebersamaan, dan rasa syukur.
Di bawah langit luas Griffith, mereka menyadari satu hal sederhana namun berharga,
bahwa setiap petualangan bukan hanya tentang tempat yang mereka datangi, tapi tentang momen yang dijalani bersama.
Dan malam itu, di antara bintang-bintang yang mulai bermunculan, cinta mereka kembali bersinar, hangat, tulus, dan tak tergantikan.
