6. Petualangan Alam di Los Angeles Zoo dan Botanical Gardens
Udara Los Angeles terasa sejuk dan segar pagi itu. Sinar matahari menembus tirai kamar hotel, membangunkan keluarga kecil itu setelah tidur panjang semalam.
Yana duduk di pinggir tempat tidur sambil membelai rambut kedua anaknya yang masih terlelap. “Bangun, Sayang. Hari ini kita akan ke kebun binatang,” ucapnya lembut.
Mata Nathan langsung terbuka lebar. “Kebun binatang? Yang ada jerapahnya?”
“Betul,” jawab Indra dari meja, sambil menyiapkan kamera.
“Ada jerapah, singa, panda merah, gajah, zebra, bahkan flamingo juga.”
Nala yang masih setengah mengantuk langsung duduk. “Aku mau lihat panda merah! Lucu banget di gambar!”
Yana tersenyum. “Nanti kita cari, ya. Sekarang ayo siap-siap dulu.”
Setelah sarapan, mereka berangkat menuju Los Angeles Zoo and Botanical Gardens, yang terletak di daerah Griffith Park juga, tak jauh dari observatorium yang mereka kunjungi kemarin. Jalanan masih agak lengang, dan udara pagi yang segar membuat perjalanan terasa menyenangkan.
Nathan menatap keluar jendela mobil. “Daddy, kenapa namanya ada botanical garden-nya juga?”
“Itu karena selain kebun binatang, di sana juga ada taman dengan banyak tumbuhan langka dari seluruh dunia,” jelas Indra.
“Kamu nanti bisa lihat pohon-pohon raksasa dan bunga aneh yang nggak ada di Indonesia.”
“Wah!” seru Nala kagum.
“Berarti kayak hutan ajaib ya, Mom?”
Yana tertawa pelan. “Ya, bisa dibilang begitu.”
Ketika mobil memasuki area parkir, mereka disambut dengan papan bertuliskan Welcome to Los Angeles Zoo dengan gambar singa besar tersenyum di atasnya.
Begitu masuk, aroma dedaunan dan suara burung langsung menyelimuti mereka. Nathan dan Nala tak sabar berlari kecil menuju papan penunjuk bertuliskan Giraffe Feeding Area.
Di sana, beberapa pengunjung sedang antre sambil memegang daun-daunan panjang. Seekor jerapah tinggi menjulurkan lehernya dari balik pagar, lidah ungunya menjulur mengambil daun dari tangan seorang anak kecil.
“Lihat, Mom!” seru Nala.
“Lidahnya panjang banget!”
Yana tertawa. “Iya, panjang dan lucu.”
Petugas kebun binatang memberikan dua ikat daun pada Nathan dan Nala.
“Oke, siapa duluan?” tanya petugas dengan senyum ramah.
“Aku dulu!” Nathan mengangkat daun tinggi-tinggi. Jerapah itu langsung mendekat dan menjilat daun dari tangannya.
“Wow!” Nathan terkejut tapi senang.
“Lembut banget lidahnya!”
Nala menatap dengan kagum. “Sekarang giliranku!” katanya sambil maju. Dia memegang daun dengan kedua tangan kecilnya. Jerapah itu membungkuk perlahan, dan Nala tertawa terbahak-bahak saat lidah panjang itu menyentuh tangannya.
“Lucu banget, Daddy! Dia makan kayak dari sedotan!”
Indra mengambil foto cepat. “Bagus, Nala. Senyum dulu, klik! Wah, nanti kita cetak ya buat album liburan.”
Setelah itu, mereka duduk di bangku dekat area jerapah, sambil memandangi hewan-hewan tinggi itu berjalan anggun di bawah sinar matahari.
“Daddy, kenapa lehernya panjang banget?” tanya Nathan serius.
“Supaya bisa makan daun dari pohon yang tinggi,” jawab Indra.
“Itu cara Tuhan bikin mereka bisa bertahan hidup.”
Nala mengangguk. “Berarti setiap hewan punya kelebihannya, ya?”
“Betul,” jawab Yana sambil tersenyum bangga.
“Sama seperti manusia.”
Setelah puas di area jerapah, keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan ke Zoo Train Station. Sebuah kereta mini berwarna cerah berhenti di depan mereka, dengan gambar hewan di tiap gerbong, ada singa, zebra, dan gajah.
“Wah, lucunya!” seru Nala.
Nathan langsung menarik tangan ayahnya. “Ayo naik, Daddy! Aku mau duduk di depan!”
Petugas membantu naik ke gerbong pertama. Begitu kereta mulai berjalan pelan, suara peluit kecil berbunyi, dan mereka berkeliling melihat berbagai zona kebun binatang.
“Di sebelah kiri ada habitat singa Afrika,” ucap suara pemandu lewat pengeras suara.
“Dan di kanan, kalian bisa melihat kolam flamingo.”
Nala menunjuk ke arah kolam. “Lihat, Mom! Flamingonya pink semua!”
Yana memotret cepat. “Mereka cantik banget, ya.”
Nathan memandangi dengan serius. “Kenapa bulunya pink, Daddy?”
“Karena makanan mereka, udang kecil dan alga yang mengandung pigmen merah,” jelas Indra.
“Itu yang bikin warnanya jadi pink.”
“Berarti kalau makanannya berubah, bulunya bisa berubah juga?” tanya Nala penasaran.
Indra mengangguk. “Iya, kalau mereka nggak makan cukup makanan berpigmen, bulunya bisa jadi pucat.”
Nathan berdecak kagum. “Wah, sains itu keren banget!”
Kereta terus berkeliling, melewati kandang gajah, monyet, dan harimau. Sesekali terdengar tawa pengunjung, dan suara hewan bersahutan di kejauhan. Angin sore berhembus lembut, membuat suasana semakin menyenangkan.
“Daddy,” ucap Nala sambil bersandar di lengan ayahnya.
“Aku suka tempat ini. Banyak hewan lucu dan semua kelihatan bahagia.”
Indra menatap putrinya dengan senyum lembut. “Kalau kamu bisa melihat kebahagiaan dari mereka, berarti hatimu juga sedang bahagia, Nala.”
Setelah naik kereta, mereka menuju area edukatif yang disebut Adventure Island, zona bermain interaktif di mana anak-anak bisa belajar tentang hewan dan alam lewat permainan.
Begitu masuk, Nathan langsung tertarik pada replika gua kecil. “Mom, aku mau masuk ke sini!”
Di dalam gua itu, ada suara gemericik air dan gambar kelelawar di langit-langit. Yana menemaninya sambil tertawa bahagia saat Nathan berpura-pura jadi penjelajah.
Sementara itu, Nala mengikuti kegiatan Junior Zookeeper, di mana anak-anak diberi tugas mengenali jejak kaki hewan di pasir buatan.
Petugas wanita muda yang ramah memberi instruksi, “Coba tebak, ini jejak siapa?”
Nala menatap jejak besar di depannya. “Hmm … kayaknya ini gajah!”
“Betul sekali!” jawab petugas. “Kamu pintar!”
Indra memotret lagi dari kejauhan. “Wah, calon ahli hewan, nih,” katanya bangga.
Nala tersenyum malu-malu. “Aku cuma suka belajar tentang binatang, Daddy.”
Nathan kemudian bergabung, membawa kertas berisi gambar hewan yang diwarnai olehnya. “Aku warnain zebra-nya biru biar keren!”
Petugas tertawa. “Zebra biru? Kenapa nggak?”
Yana mengelus kepala anak laki-lakinya. “Yang penting kamu senang menggambar.”
Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di Adventure Island. Nathan dan Nala bermain di jembatan tali, menyusuri jalur edukasi, hingga ikut kuis kecil tentang satwa liar.
“Mom, aku dapet stiker bintang!” seru Nala sambil menunjukkan pernak-pernik kecil bergambar singa.
“Bagus sekali,” ucap Yana sambil memeluk putrinya.
“Itu hadiah buat semangatmu lebih lagi untuk belajar.”
Sebelum pulang, mereka berjalan-jalan di area taman botani yang luas. Warna-warni bunga bermekaran. Ada ungu lavender, merah mawar, dan kuning matahari. Beberapa kupu-kupu beterbangan di antara tanaman tropis.
“Ini indah banget,” ujar Yana pelan.
“Rasanya seperti dunia yang tenang.”
Nathan memungut daun berbentuk unik. “Daddy, ini daun dari pohon apa?”
Indra membaca papan kecil di dekatnya. “Itu dari pohon ginkgo, berasal dari Asia. Pohon yang sangat tua, sudah ada sejak zaman dinosaurus.”
“Wow, berarti pohon itu tua banget ya,” seru Nala.
“Lebih tua dari kakek-kakek!” tambah Nathan sambil tertawa.
Mereka kemudian duduk di bangku taman. Di sekitar tempat itu, suara air dari air mancur kecil terdengar menenangkan.
“Mom, aku suka tempat yang banyak bunga kayak gini. Wangi dan damai,” seru Nala.
Yana mengangguk. “Iya, tempat seperti ini bikin hati tenang.”
Indra menatap mereka bertiga dengan perasaan bahagia. “Kalian tahu nggak, hari-hari seperti ini yang Daddy paling syukuri. Nggak perlu mewah, yang penting kita tetap bersama.”
Nathan memeluk ayahnya. “Aku juga senang, Daddy. Ini hari paling seru!”
Saat matahari mulai condong ke barat, mereka keluar dari taman botani menuju pintu keluar kebun binatang. Langit berubah jingga keemasan, memantulkan cahaya lembut di wajah mereka.
Nala berjalan sambil memegang tangan ibunya, sementara Nathan menggandeng tangan ayahnya.
“Daddy,” ujar Nathan pelan. “Kalau nanti kita ke kebun binatang lagi, aku mau kasih makan gajah.”
“Boleh,” jawab Indra. “Kita simpan itu di daftar liburan berikutnya.”
“Dan aku mau lihat panda merah lagi!” tambah Nala.
“Siap, Princess,” seru Yana.
“Nanti kita cari kebun binatang yang punya lebih banyak panda.”
Sebelum benar-benar pergi, mereka berhenti sejenak di depan gerbang besar bertuliskan, Thank You for Visiting the Los Angeles Zoo. Indra mengeluarkan kamera dan mengatur timer.
“Oke, senyum semuanya.”
Klik.
Foto keluarga itu memperlihatkan empat wajah bahagia, berlatar langit senja yang keemasan. Sebagai simbol hari yang sempurna, penuh tawa, pengetahuan, dan cinta.
Saat mereka berjalan menuju mobil, Yana menatap suaminya dan berbisik, “Hari ini benar-benar indah.”
Indra menggenggam tangan istrinya. “Setiap hari bersama kalian selalu indah, Sayang.”
Nathan dan Nala saling berpegangan tangan di depan mereka, berlari kecil sambil tertawa.
Dan di antara canda tawa anak-anak itu, di bawah langit Los Angeles yang mulai memudar, mereka sadar jika cinta keluarga adalah rumah terbaik, ke manapun kaki akan melangkah.
