Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Malam Romantis di Los Angeles

Malam turun perlahan di atas langit Los Angeles. Kota itu berkilau seperti hamparan bintang yang jatuh di bumi. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit berpendar lembut, menciptakan panorama indah yang bisa terlihat jelas dari balkon kamar hotel tempat Indra dan Yana menginap bersama Nathan dan Nala.

Hari itu sungguh panjang dan penuh kenangan.

Nathan dan Nala tertidur pulas di kamar sebelah, setelah seharian penuh bermain di pantai Santa Monica, naik bianglala, makan es krim, dan bermain pasir hingga matahari terbenam. Tubuh kecil mereka lelah, namun wajah keduanya tetap menyimpan senyum kecil yang menandakan mimpi indah.

Di dalam kamar yang temaram, Yana memandangi kedua buah hatinya sebentar sebelum menutup pintu perlahan. Dia berjalan ke balkon, di mana Indra sudah menunggunya sambil memegang dua cangkir cokelat panas.

“Capek?” tanya Indra lembut ketika Yana mendekat.

Yana tersenyum tipis. “Capek banget … tapi aku bahagia.”

Indra mengulurkan salah satu cangkir itu. “Untuk istri tercantik yang hari ini berhasil membuat dua bocah kecil tersenyum seharian.”

Yana menerimanya, merasakan hangatnya mengalir sampai ke hatinya. “Dan untuk suami paling sabar yang sanggup gendong Nala dari pantai sampai ke mobil.”

Indra tertawa pelan. “Kalau bukan anakku sendiri, mana kuat aku bawa sejauh itu. Beratnya udah kayak koper isi batu.”

Yana ikut tertawa. “Dia memang makin besar. Waktu cepat banget berlalu ya, Ndra? Rasanya baru kemarin mereka belajar jalan, sekarang udah usia sekolah dasar.”

Indra mengangguk pelan, menatap jauh ke arah lampu-lampu kota. “Iya waktu itu aneh. Kadang terasa lambat, tapi sekaligus cepat. Aku masih ingat malam-malam waktu Nala demam, kamu begadang di sampingnya. Sekarang, mereka sudah berani tidur sendiri.”

Yana menatap suaminya dengan lembut. “Dan aku masih ingat waktu kamu pulang malam dari kantor, tapi tetap nyempatin bacain dongeng buat Nathan. Mereka mungkin nggak tahu, tapi aku lihat gimana kamu berusaha jadi ayah terbaik buat mereka.”

Indra menatap Yana ada sinar teduh di matanya, yang menandakan betapa dalam rasa syukurnya. “Kamu tahu, Yana? Semua yang aku capai nggak ada artinya tanpa kamu. Kamu rumahku, jangkar hidupku.”

Yana menunduk, pipinya memerah karena kata-kata itu terasa begitu tulus. “Jangan ngomong kayak gitu ah, nanti aku mewek.”

Indra tertawa pelan, lalu menarik kursinya mendekat. “Kalau nangisnya karena bahagia, nggak apa-apa, Sayang.”

Angin laut dari kejauhan berhembus lembut. Balkon itu cukup luas, dengan sofa panjang yang nyaman dan pemandangan spektakuler ke arah downtown Los Angeles. Di bawah sana, mobil-mobil berderet bagai barisan kunang-kunang.

Yana menyandarkan kepala di bahu Indra. “Kamu tahu, ini malam yang sungguh sempurna.”

Indra mengusap lembut rambut istrinya. “Belum sempurna kalau belum ada musiknya.”

Lalu, dengan senyum tipis, Indra mengambil ponselnya dan memutar lagu pelan nada jazz klasik, lembut, dan romantis. Suara saxophone dan piano berbaur dengan semilir angin.

Yana terkekeh pelan. “Serius kita mau menari di balkon?”

Indra berdiri, menundukkan badan dengan gaya formal seperti di film. “Boleh saya minta kesempatan berdansa, Nyonya?”

Yana menggeleng sambil tertawa. “Kamu ini, selalu tahu caranya bikin aku tersipu.”

Namun Yana tetap bangkit, menaruh cangkir cokelatnya di meja, dan menerima uluran tangan Indra. Keduanya berdiri di bawah cahaya lembut dari lampu balkon, menari perlahan mengikuti irama musik.

Langkah mereka tidak sempurna, tapi terasa alami.

Yana bersandar di dada Indra, mendengar detak jantung suaminya yang stabil.

“Dulu waktu kita awal kenal,” Yana berbisik.

“Aku nggak pernah nyangka kita bakal sampai sejauh ini.”

Indra tersenyum. “Aku juga. Tapi ternyata cinta yang tulus, kalau dijaga tiap hari, bisa jadi hal paling indah.”

Mereka menari tanpa bicara untuk beberapa menit. Hanya suara lembut musik dan hembusan angin yang menemani.

Ketika lagu berakhir, Indra masih memeluk Yana. “Kamu tahu, aku pengin momen kayak gini bisa berhenti di sini. Selamanya.”

Yana menatap suaminya penuh kasih. “Tapi kalau berhenti, kita nggak bisa lanjut liat anak-anak tumbuh, Ndra.”

Indra terkekeh. “Iya juga sih. Tapi malam ini, aku pengin waktu berjalan lambat. Aku mau menikmati semuanya.”

Yana mengangguk pelan. “Aku juga.”

Mereka kembali duduk di sofa, menikmati sisa cokelat panas yang mulai mendingin. Dari jauh terdengar sirene samar dan suara kota yang tak pernah benar-benar tidur. Namun di balkon itu, dunia terasa sunyi dan damai.

Indra lalu menatap bintang-bintang yang samar di langit. “Lucu ya, di kota sebesar ini, bintang kelihatan sedikit.”

Yana menatap arah yang sama. “Tapi tetap ada. Seperti kita. Kadang tertutup cahaya lain, tapi nggak pernah hilang.”

Indra menoleh pada Yana, terdiam sejenak kagum pada kata-kata sederhana itu. “Kamu selalu punya cara bikin hal biasa jadi luar biasa.”

Yana tersenyum, mengangkat bahu. “Mungkin karena aku belajar dari kamu.”

Indra menggenggam tangannya erat. “Terima kasih, Yana. Buat semuanya. Buat sabar nunggu aku kalau lembur, buat jagain anak-anak, buat selalu bikin rumah kita terasa hidup.”

Yana menatap mata suaminya dengan lembut. “Kamu juga, Ndra. Terima kasih udah jadi pelindung kami. Aku tahu kamu kerja keras, tapi aku juga tahu kamu nggak pernah lupa caranya mencintai.”

Mereka saling menatap, dan dalam tatapan itu tersimpan ribuan kenangan. Ada tawa, tangis, perjuangan, dan cinta yang tumbuh seiring waktu.

Angin malam bertiup lembut, membuat rambut Yana sedikit berantakan. Indra mengangkat tangannya, membenarkan helai rambut yang menutupi wajah istrinya. Gerakannya begitu lembut hingga Yana memejamkan mata sejenak.

“Malam ini indah,” bisik Yana.

“Karena ada kamu,” jawab Indra pelan.

Setelah beberapa saat, mereka masuk kembali ke kamar. Nathan dan Nala masih tertidur lelap, selimut mereka sedikit terlepas. Yana menunduk dan membetulkan selimut itu satu per satu, lalu mencium dahi keduanya.

Indra berdiri di ambang pintu, menatap adegan itu dengan hati penuh rasa syukur.

“Mereka tidur nyenyak sekali,” ucapnya pelan.

“Ya. Anak-anak selalu tidur paling tenang setelah hari yang menyenangkan.”

Setelah memastikan semuanya aman, mereka menuju kamar mandi untuk berendam bersama di bathtub besar yang menghadap ke jendela panorama kota. Uap air hangat perlahan memenuhi ruangan, menciptakan suasana nyaman dan tenang.

Keduanya tidak bicara banyak, hanya saling menatap dan tersenyum, berbagi keheningan yang penuh makna.

“Ndra,” ucap Yana tiba-tiba.

“Kamu pernah takut kehilangan semua kebahagiaan ini?”

Indra terdiam sesaat, lalu menjawab dengan tenang, “Pernah. Tapi aku lebih memilih percaya kalau kita terus saling jaga, nggak ada yang bisa mengambilnya.”

Yana tersenyum. “Aku suka jawaban itu.”

“Aku nggak cuma ngomong, Yana. Aku janji. Aku bakal terus jagain kamu, Nathan, dan Nala apapun yang terjadi.”

“Dan aku akan selalu di sini,” jawab Yana lembut.

“Bersamamu.”

Keheningan kembali turun, namun kini bukan keheningan kosong melainkan kedamaian dua hati yang saling memahami.

Indra mengangkat tangan, menyentuh pipi Yana. “Kamu tahu, di dunia ini, nggak ada tempat yang lebih nyaman daripada bersamamu.”

Yana menatapnya, matanya berkilau. “Dan bagiku, nggak ada yang lebih berarti daripada kita, dan keluarga kecil kita.”

Keduanya pun saling berciuman hangat dan panas. Indra pun mulai menyusuri setiap lekukan tubuh istrinya dengan jari-jarinya dan juga lidahnya yang lihai.

“Ah, Sayang! Ouhhh!” desah Yana tak tertahankan saat Indra mulai menjilati pucuk pink kecokelatan miliknya dengan lidahnya yang nakal.

Sementara jari-jari suaminya sibuk di bawah sana. Dengan gerakan maju mundur yang awalnya pelan namun lama kelamaan menjadi cepat.

“Akh!” Yana mendapatkan pelepasan pertamanya.

Namun indra tidak mau berhenti di situ. Dia mulai mengangkat tubuh istrinya di pinggiran bathtub dengan posisi kaki terbuka. Lalu kemudian Indra membenamkan wajahnya di antara kedua paha istrinya dan mulai melakukan jilatan lidah maha dahsyat.

Tangan Indra tak tinggal diam ikut bermain di dua bukit kembar istrinya. Memainkan pucuknya dan meremasnya dengan sesuka hatinya.

“Akh!” Yana mendapatkan pelepasannya lagi.

Kemudian Indra menurunkan tubuh istrinya ke dalam bathtub. Menyuruhnya untuk membelakangi dirinya. Lalu sang suami mulai melakukan genjotan dari arah belakang.

“Indra! Oh, Sayang! Aah!” desah Yana tak tertahankan.

Beberapa gaya bercinta mereka lakoni malam itu sampai keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.

“Akh! Arrggghh!” erang keduanya bersamaan.

Di luar, langit Los Angeles mulai berubah. Lampu kota berkedip, sementara bulan menggantung anggun di antara awan. Di kamar hotel yang hangat itu, Indra dan Yana menikmati malam mereka dengan tenang tidak dengan pesta, atau kemewahan, tapi dengan cinta tulus yang terus tumbuh.

Sementara Nathan dan Nala terlelap dalam mimpi indah, dua orang tua mereka tahu satu hal pasti: kebahagiaan sejati bukan terletak pada tempat yang mereka datangi, tapi pada hati yang mereka bawa bersama.

Dan malam itu, di bawah langit Los Angeles yang berkilau, cinta mereka terasa begitu nyata lembut, hangat, dan abadi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel