3. Senja di Santa Monica Pier
Matahari baru saja naik ketika keluarga kecil itu meninggalkan hotel mereka di Beverly Hills. Udara Los Angeles terasa segar, langit biru tanpa awan, dan semilir angin membawa aroma laut dari kejauhan. Hari itu adalah hari yang cerah sangat sempurna untuk bermain di pantai.
“Dad, hari ini kita ke pantai, kan?” tanya Nathan dari kursi belakang mobil.
“Iya, Nathan,” jawab Indra sambil menatap spion, tersenyum pada bayangan anak laki-lakinya yang penuh semangat.
“Namanya Santa Monica Beach. Ada bianglala besar di dermaganya.”
“Dan aku mau naik itu!” seru Nala, matanya berbinar.
“Aku juga mau makan es krim di pinggir laut!”
Yana yang duduk di samping Indra ikut tertawa. “Kayaknya Mommy juga mau, tuh. Sudah lama banget kita nggak duduk santai di tepi pantai.”
“Benar,” sahut Indra, menatap sebentar istrinya.
“Liburan ini bukan cuma buat anak-anak, tapi buat kita juga.”
Mobil melaju menyusuri jalanan yang menurun ke arah pantai. Dari kejauhan, Nathan dan Nala melihat panorama laut biru yang luas membentang hingga ke horizon. Ombak berkilauan terkena sinar matahari, sementara di kejauhan terlihat bianglala besar berwarna-warni yang berputar perlahan.
“Wah, Daddy! Lihat! Itu Pacific Wheel!” seru Nathan heboh.
“Cantik banget!” tambah Nala, menempelkan wajahnya ke jendela mobil.
Indra tersenyum puas. “Siap-siap, dua bintang kecil. Kita sebentar lagi sampai.”
Begitu mereka keluar dari mobil, semilir angin laut langsung menyapa. Udara terasa asin dan lembab, namun menyegarkan. Suara deburan ombak berpadu dengan musik dari para musisi jalanan yang bermain gitar di dekat dermaga.
Yana menggandeng tangan Nala, sementara Indra berjalan di samping Nathan. Di sepanjang jalan menuju dermaga, toko-toko souvenir menjual topi pantai, kaos khas Santa Monica, dan gantungan kunci berbentuk surfboard.
“Mom, aku mau topi ini!” seru Nala sambil menunjuk topi anyaman bergambar Barbie berjemur.
Yana terkekeh. “Kamu ini, Nala. Di mana-mana pasti cari Barbie.”
Nathan menunjuk ke kios sebelah. “Kalau aku mau kacamata hitam kayak surfer!”
Indra membelikan keduanya, topi pink untuk Nala dan kacamata hitam keren untuk Nathan. Lalu mereka melanjutkan langkah ke arah dermaga utama, tempat ikon Santa Monica Pier berdiri megah.
Musik ceria terdengar dari taman bermain di atas dermaga. Ada aroma popcorn, wangi jagung bakar, dan suara anak-anak tertawa di segala arah.
“Wah, ramai banget ya,” seru Yana sambil memotret suasana dengan ponselnya.
“Pantai ini memang ikon Los Angeles,” jawab Indra.
“Setiap film Hollywood pasti pernah ambil gambar di sini.”
Mereka berjalan menuju wahana Pacific Wheel, bianglala besar berwarna merah, biru, dan kuning yang berputar lambat di ujung dermaga. Nathan dan Nala tak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka.
“Daddy! Ayo cepat! Aku nggak sabar mau lihat laut dari atas!” seru Nathan.
“Tenang, Nathan. Antrenya sebentar lagi giliran kita.”
Ketika mereka masuk ke kabin bianglala, petugas menutup pintunya dengan senyum ramah. Perlahan, kursi mulai naik, makin lama makin tinggi. Dari atas, pemandangan laut membentang luas, air berkilau memantulkan cahaya matahari, sementara ombak lembut memukul bibir pantai.
“Wah,” ucap Nala pelan.
“Indah banget, Mommy!”
Yana merangkul putrinya. “Lihat tuh, Sayang. Langit, laut, semuanya biru.”
Nathan menunjuk ke bawah. “Daddy, lihat! Ada orang surfing!”
“Iya, itu peselancar. Di pantai ini ombaknya bagus sekali,” jawab Indra.
“Kalau kamu sudah besar, mungkin bisa belajar juga.”
Nala menatap Indra sambil terkikik. “Kalau aku mau naik bianglala terus aja, Daddy. Nggak mau jatuh ke air.”
Semua tertawa. Angin laut meniup rambut Yana yang tergerai lembut, dan Indra sempat menatap istrinya lama, ada kebahagiaan terpancar di wajahnya.
“Terima kasih, Yana,” katanya pelan.
Yana menoleh. “Untuk apa?”
“Untuk selalu jadi alasan aku kerja keras. Lihat mereka,” Indra menunjuk Nathan dan Nala yang sedang bersandar di jendela, tertawa.
“Kita berhasil membuat masa kecil mereka indah.”
Yana tersenyum lembut. “Dan kamu berhasil membuat aku bahagia.”
Bianglala terus berputar, membawa mereka semakin tinggi di atas laut, seolah waktu berhenti sejenak untuk membiarkan mereka menikmati kedamaian.
Setelah turun, Nathan langsung menarik tangan ayahnya ke arah bangunan penuh lampu warna-warni bertuliskan Playland Arcade.
“Daddy! Ayo main di sini!”
“Baiklah,” jawab Indra.
“Tapi jangan kaget kalau Daddy jago main game, ya.”
Begitu masuk, suasananya seperti dunia penuh lampu dan suara. Mesin permainan berdering, tawa anak-anak terdengar di mana-mana. Nathan memilih permainan balapan mobil, sementara Nala berlari ke mesin capit boneka.
“Mom, bantu aku ambil boneka unicorn itu!” katanya, menatap serius ke arah mesin.
Yana berdiri di sampingnya, memberi semangat.
“Sedikit ke kanan, Nala … ya, tahan, lepas!”
Capitan turun dan berhasil! Boneka unicorn terangkat keluar dari mesin.
“Hore!” teriak Nala sambil melompat kegirangan.
Sementara itu, Nathan menepuk dada dengan bangga. “Daddy, aku menang tiga kali di game balap!”
Indra mengacungkan jempol. “Daddy tahu kamu calon pembalap hebat. Tapi jangan balapan beneran di jalan, ya.”
Mereka tertawa lagi. Setelah bermain beberapa permainan lain yaitu menembak target, melempar bola ke keranjang, dan menukar tiket hadiah. Lalu mereka keluar membawa beberapa boneka dan gantungan kunci kecil.
“Wah, rasanya kayak menang lomba!” seru Nala senang.
Di dekat dermaga, mereka menemukan kedai es krim kecil dengan tulisan lucu, Cool Waves Creamery. Aroma wafel dan vanilla menggoda siapa pun yang lewat.
“Mom, aku mau es krim cokelat dua scoop!” tutur Nathan.
“Dan aku mau strawberry dengan topping marshmallow!” seru Nala.
Indra memesan untuk semuanya. Dia sendiri memilih rasa kopi, sementara Yana mengambil vanilla caramel. Mereka duduk di bangku kayu menghadap laut, angin lembut berhembus, membelai wajah mereka.
Nathan menjilat es krimnya sambil memandangi ombak. “Daddy, lautnya luas banget, ya. Kalau aku berenang terus ke sana, bisa sampai mana?”
Indra tersenyum. “Bisa sampai jauh sekali, mungkin ke Jepang.”
Nala terkikik. “Nathan nggak bisa renang sejauh itu, Daddy.”
Yana menatap kedua anaknya penuh kasih. “Laut itu luas, Sayang. Sama seperti dunia ini. Tapi jangan pernah takut bermimpi. Suatu hari kalian bisa menjelajahinya dengan cara kalian sendiri.”
Indra menggenggam tangan Yana. “Kamu selalu tahu kata-kata yang tepat, Darling.”
Yana menatap suaminya sambil tersenyum. “Karena aku belajar dari kamu.”
Menjelang sore, mereka turun ke area pantai. Indra menggelar tikar besar yang dibawa dari mobil, sementara Yana menyiapkan bekal sandwich, buah potong, dan jus jeruk dingin. Nathan dan Nala langsung berlari ke tepi laut, tertawa saat ombak kecil membasahi kaki mereka.
“Mom, airnya dingin tapi enak!” teriak Nala.
Nathan mulai membangun benteng pasir. “Daddy, bantu aku bikin menara!”
Indra ikut jongkok, membantu membentuk menara pasir dengan cetakan biru. “Nah, ini bagian Daddy ahlinya,” katanya bangga.
Sementara itu, Yana duduk di atas tikar, menonton mereka dengan senyum hangat. Dia memotret setiap momen saat Nathan tertawa, Nala yang menari-nari kecil di tepi air, dan Indra yang ikut bermain pasir seperti anak-anak.
Tak lama, Nathan berseru, “Daddy, benteng kita jadi!”
“Wah, bagus banget!” seru Yana sambil bertepuk tangan.
“Kita kasih bendera kecil dari sedotan ini, ya?”
Nala menancapkan sedotan di puncak menara. “Taraaa! Ini kerajaan pantai Nala dan Nathan!”
“Dan aku raja lautnya!” ujar Nathan dengan gaya superhero.
“Kalau gitu aku ratu pantainya,” balas Nala.
Indra berdiri dan pura-pura memberi hormat. “Yang Mulia Raja dan Ratu, izinkan rakyat jelata ini istirahat sejenak di bawah sinar matahari.”
Semua tertawa keras.
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan air. Langit berubah warna, jingga, merah muda, lalu ungu lembut. Angin sore berhembus pelan membawa aroma laut yang damai.
Nathan bersandar di pangkuan Yana. “Mom, aku senang banget hari ini.”
Nala ikut berbaring di sebelahnya. “Aku juga. Pengin di sini terus.”
Indra duduk di samping mereka, menatap laut. “Daddy juga. Tapi yang paling penting, Daddy senang melihat kalian bahagia.”
Yana menatap keluarganya dan berkata lembut, “Kita nggak butuh apa-apa lagi selain ini, waktu bersama.”
Senja di Santa Monica menjadi saksi kebahagiaan keluarga kecil itu. Bianglala masih berputar di kejauhan, cahaya lampunya mulai menyala satu per satu, sementara ombak memecah di pantai, berirama lembut seperti lagu pengantar tidur.
Malam turun perlahan. Nathan dan Nala tertidur di pangkuan Yana, masih dengan pasir di tangan mereka dan senyum kecil di bibir. Indra menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta.
“Yana,” bisiknya, “hidup ini indah, ya?”
Yana mengangguk pelan. “Indah sekali, selama kita bersama.”
