Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Petualangan di Universal Studios Hollywood

Matahari Los Angeles bersinar lembut pagi itu, menembus tirai jendela kamar hotel tempat keluarga kecil itu menginap. Udara musim panas terasa segar, bercampur aroma laut yang dibawa angin dari arah barat. Suara burung camar terdengar samar di kejauhan, pertanda hari yang cerah menanti.

Yana menatap jam di dinding baru pukul tujuh pagi. Dia tersenyum tipis, lalu menepuk pelan bahu suaminya.

“Bangun, Sayang. Hari ini waktunya kita ke Universal Studios.”

Indra membuka mata perlahan, masih setengah mengantuk, lalu tersenyum melihat istrinya yang sudah berpakaian rapi dengan kaos putih dan jaket denim. “Wah, kayaknya ada yang paling semangat hari ini.”

“Jelas dong. Aku udah nunggu hari ini dari Jakarta,” jawab Yana sambil terkekeh.

Dari kamar sebelah, terdengar suara dua anak kecil yang berdebat seru.

“Nala, itu topiku!” seru Nathan.

“Bukan! Ini punyaku, yang ada logo Minion-nya!” balas Nala.

Indra bangkit, berjalan ke kamar anak-anak sambil tertawa.

“Aduh, dua pahlawan kecil ini sudah mulai beraksi pagi-pagi.”

Nathan berlari kecil ke arah ayahnya dengan topi di tangan. “Daddy! Hari ini aku mau main di wahana Minion! Katanya bisa masuk ke rumah Gru beneran!”

“Dan aku mau beli tongkat sihir di dunia Harry Potter!” seru Nala, matanya berbinar.

“Aku mau punya yang bisa nyala kalau digerakkan kayak di film!”

Indra dan Yana saling pandang, tertawa bersama.

“Baiklah, dua bintang kecil,” ucap Indra akhirnya.

“Hari ini kita jadi Minion dan penyihir, ya.”

Sekitar pukul delapan, keluarga kecil itu sudah berada di dalam mobil sewaan yang membawa mereka dari Beverly Hills menuju Universal City. Jalanan Los Angeles tampak hidup deretan pohon palem di sepanjang boulevard bergoyang lembut tertiup angin. Dari kejauhan, papan besar bertuliskan, Universal Studios Hollywood tampak menjulang megah.

Begitu mobil berhenti di area parkir, Nathan dan Nala langsung tak sabar turun.

“Daddy! Lihat itu! Bola dunia raksasa!” seru Nathan sambil menunjuk landmark ikonik Universal yang berputar perlahan.

“Wah, keren banget!” tambah Nala.

“Kayak di film-film!”

Yana mengambil ponselnya, mengabadikan momen itu.

“Oke, pose dulu semua! Nathan, jangan pura-pura jadi Spiderman ya, ini bukan Marvel Land.”

Nathan tertawa sambil bergaya dengan tangan seperti menembakkan jaring.

“Biar keren, Mommy!”

Indra mengajak mereka masuk ke gerbang utama. Suasana di dalam sudah ramai, penuh wisatawan dari berbagai negara. Musik latar khas film-film Universal terdengar menggema, menambah nuansa magis.

“Daddy, kita pertama ke mana?” tanya Nathan, menggenggam tiket di tangannya.

“Kita mulai dari Minion Mayhem, ya,” jawab Indra sambil melihat peta taman hiburan.

“Kebetulan dekat dari pintu masuk.”

Di depan wahana Minion Mayhem, antrean sudah mengular, tapi suasananya meriah. Dinding berwarna kuning cerah penuh gambar Minion membuat anak-anak tak berhenti tertawa.

“Mom, lihat! Itu Minion bawa pisang!” seru Nala sambil menunjuk poster besar.

“Banana!” Nathan menirukan suara Minion, membuat beberapa pengunjung di belakangnya ikut tertawa.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mereka masuk ke ruang simulasi. Lampu redup, dan layar besar menampilkan Gru yang berbicara dengan gaya khasnya.

“Welcome, new recruits!” suara Gru menggema.

“Today, you will become ... Minions!”

Nathan menjerit kegirangan.

“Daddy! Aku jadi Minion!”

“Pegangan yang kuat, ya,” pesan Yana sambil memegang tangan Nala.

Ketika wahana mulai bergerak, ruangan bergetar lembut. Mereka seakan meluncur di laboratorium rahasia Gru, dikejar-kejar Minion lucu, menabrak mesin, lalu melayang di udara. Nathan dan Nala berteriak campur tawa sepanjang wahana berlangsung.

Begitu selesai, mereka keluar dengan wajah berseri-seri.

“Itu seru banget!” tutur Nathan, napasnya masih tersengal.

“Aku mau naik lagi!”

“Besok aja, Nala. Masih banyak tempat yang harus kita kunjungi,” jawab Indra sambil tertawa.

Yana menatap anak-anaknya dengan senyum bahagia. “Lihat wajah kalian, kayaknya ini hari paling seru selama liburan.”

“Masih belum, Mommy!” ujar Nala.

“Masih ada dunia Harry Potter!”

Mereka kemudian berjalan menuju area yang dipenuhi bangunan bergaya kastil batu, meniru kota sihir Hogsmeade. Salju buatan menutupi atap-atap, dan aroma butterbeer manis tercium di udara.

“Wow,” seru Nala pelan.

“Mommy, kita kayak beneran masuk ke dunia Harry Potter.”

Indra mengangguk kagum. “Detail banget ya. Sampai patung burung hantu pun mirip di film.”

Nathan memandang sekeliling, matanya berputar ke segala arah. “Daddy, itu Hogwarts-nya ya?”

“Iya, itu dia,” jawab Indra.

“Dan kita akan masuk ke sana.”

Begitu melangkah ke dalam kastil Hogwarts, mereka melewati koridor panjang berhiaskan lukisan yang hidup, bergerak dan berbicara. Nala berpegangan pada tangan Yana sambil tersenyum lebar.

“Mommy, lukisannya ngomong beneran!”

Yana tertawa. “Sihirnya keren ya.”

Mereka lalu menaiki wahana Harry Potter and the Forbidden Journey. Dengan kacamata 3D, mereka seolah-olah terbang di atas sapu bersama Harry, menghindari naga dan Dementor. Nathan berteriak kegirangan, sementara Nala menutup mata separuh waktu tapi tak berhenti tertawa.

Begitu keluar, Nathan langsung berseru, “Aku mau sapu terbang kayak Harry!”

“Kalau kamu dapat nilai bagus di sekolah, Daddy belikan sapu, tapi buat nyapu kamar kamu sendiri,” jawab Indra sambil bercanda.

Semua tertawa.

Nala kemudian melihat toko, Ollivanders Wand Shop dan menarik tangan Yana.

“Mom, aku mau beli tongkat sihir!”

Di dalam toko, suasana temaram dan penuh rak kayu berisi ratusan kotak tongkat. Seorang pegawai berpakaian seperti penyihir mendekat dan memilihkan satu tongkat untuk Nala. Saat gadis kecil itu mengayunkannya, lampu toko bergetar seolah hidup.

Semua pengunjung bertepuk tangan.

“Itu tandanya, tongkat itu memilihmu,” seru si pegawai dengan nada magis.

Nala menatap tongkatnya dengan mata berbinar. “Aku penyihir beneran, Mommy!”

Setelah makan siang di area Mel’s Diner, mereka melanjutkan ke acara yang paling terkenal yaitu Studio Tour. Mereka naik ke dalam tram panjang berwarna biru muda yang dikemudikan oleh pemandu ramah.

“Selamat datang di Universal Studios Tour!” ucap sang pemandu dengan mikrofon.

“Di sebelah kanan Anda, itu adalah rumah dari film Desperate Housewives. Dan di depan sana lokasi syuting Fast and Furious!”

Nathan menatap dengan mulut menganga.

“Daddy! Itu mobil aslinya Dominic Toretto!”

Indra tersenyum. “Iya, itu salah satunya. Keren, kan?”

Tram melaju perlahan melewati set kota palsu, reruntuhan pesawat, dan bahkan hujan buatan. Saat bagian wahana Jaws, seekor hiu mekanik muncul dari air, membuat semua penumpang menjerit.

“Wah! Huuuu!” teriak Nala sambil menutup wajahnya.

Nathan malah tertawa. “Tenang, Nala! Itu cuma robot!”

Yana memeluk keduanya, tertawa bersama. “Kalian berdua memang berani, ya.”

Perjalanan dilanjutkan ke King Kong 360 3D, layar raksasa yang menampilkan pertempuran epik antara King Kong dan dinosaurus, membuat tram berguncang hebat. Anak-anak berteriak campur kagum.

“Gila, ini kayak beneran!” seru Nathan.

Setelah tur berakhir, mereka turun dengan perasaan puas dan kagum.

“Daddy, sekarang aku tahu gimana film dibuat!” ucap Nathan dengan mata berbinar.

“Dan aku mau jadi penyihir yang main film di sini!” tambah Nala sambil mengacungkan tongkatnya.

Indra dan Yana saling pandang penuh kebahagiaan. “Kalau kalian terus semangat belajar dan berani bermimpi, semua bisa terjadi,” seru Yana lembut.

Menjelang sore, mereka menuju area WaterWorld Show, teater besar terbuka dengan kolam air biru di tengah. Pengunjung mulai memenuhi tempat duduk, dan Nathan serta Nala duduk di barisan depan dengan semangat.

“Mom, kenapa namanya WaterWorld?” tanya Nala.

“Itu pertunjukan aksi di atas air,” jawab Yana.

“Nanti ada jet ski, ledakan, bahkan api beneran.”

Beberapa menit kemudian, suara musik menggema. Aktor-aktor beraksi dengan jet ski melintasi air, saling kejar, melompat dari menara tinggi, dan meledakkan kapal mini. Nathan menatap dengan mulut terbuka, sementara Nala bertepuk tangan tiap kali air memercik ke penonton.

“Wah, keren banget, Mom!” seru Nathan.

“Kayak nonton film langsung!”

Ketika adegan terakhir muncul, ledakan besar disertai api menjulang, semua penonton bersorak. Nala menatap langit penuh asap buatan dengan kagum.

“Dad, aku mau jadi aktris di sini nanti!” katanya dengan polos.

Indra mengusap kepala putrinya. “Asal jangan yang lompat ke api, ya.”

Yana tertawa. “Kamu kebanyakan nonton film, Sayang.”

Setelah pertunjukan usai, mereka berjalan keluar menuju Universal CityWalk, area belanja dan restoran yang ramai. Lampu neon mulai menyala, menciptakan suasana malam yang penuh warna.

Nathan memegang es krim cokelat, sementara Nala memilih cupcake berwarna pink.

“Daddy,” ucap Nathan pelan.

“Hari ini adalah salah satu hari terbaik di hidupku.”

Indra tersenyum lembut. “Daddy senang kamu bahagia, Nathan.”

“Besok kita kemana?” tanya Nala dengan semangat.

Yana menatap suaminya sambil tersenyum penuh arti. “Besok kita ke tempat yang lebih seru lagi, ya?”

Kedua anak itu menjerit bersamaan. “Yaay!”

Indra memeluk mereka bertiga, menikmati momen kecil penuh tawa di bawah langit Los Angeles yang mulai berwarna jingga keunguan.

Hari itu bukan sekadar perjalanan wisata, tapi kenangan hangat yang akan mereka simpan seumur hidup.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel