1. Liburan Keluarga ke Los Angeles
Setelah perayaan ulang tahun Nathan dan Nala, kehidupan rumah tangga Indra dan Yana semakin harmonis. Kini, kedua anak kembar mereka telah tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Waktu berjalan cepat, dan tanpa terasa, Nathan dan Nala sudah duduk di bangku sekolah dasar.
Hari itu, matahari bersinar cerah di halaman rumah mereka. Nathan dan Nala baru saja pulang dari sekolah, masih mengenakan seragam putih biru yang rapi. Di ruang makan, Yana sudah menyiapkan hidangan kesukaan mereka yaitu ayam goreng madu dan nasi hangat.
“Daddy belum pulang, Mom?” tanya Nathan sambil membuka sepatu.
“Sebentar lagi, Sayang. Katanya mau langsung ke rumah setelah meeting,” jawab Mommy Yana sambil menuangkan jus jeruk ke gelas anak-anaknya.
“Ye, nanti kita bisa makan malam bareng, ya!” seru Nala dengan wajah cerah.
Malam itu, seperti yang dijanjikan, Indra akhirnya pulang. Tubuhnya sedikit lelah, tapi senyumnya tetap hangat. Dia meletakkan jas kerjanya di sofa dan langsung memeluk anak-anaknya.
“Wah, sudah besar aja nih anak Daddy. Ada berita apa hari ini?” tanya Indra sambil menatap mereka berdua.
Nathan dan Nala saling pandang, lalu tersenyum kompak.
“Daddy, boleh nggak liburan ke luar negeri?” tanya Nala tiba-tiba.
Indra terkejut sesaat, lalu tertawa kecil. “Hah? Liburan ke luar negeri? Emangnya kalian mau ke mana?”
“Los Angeles!” jawab Nathan cepat, matanya berkilat penuh semangat.
“Aku pengin ke Disneyland, Daddy! Katanya ada wahana Spiderman!”
Nala langsung menimpali, “Dan aku mau ke rumah Barbie! Di Los Angeles ada Barbie Dreamhouse, lho, Mom!”
Yana tersenyum sambil menatap anak-anaknya yang begitu bersemangat. Dia lalu memandang Indra.
“Gimana, Sayang? Sudah lama mereka minta liburan. Pas juga ini libur sekolah dua minggu.”
Indra berpikir sejenak. Pekerjaannya sebagai CEO IEI Corp, perusahaan teknologi besar di Jakarta, memang menyita banyak waktu. Namun melihat wajah ceria anak-anaknya, rasa lelah itu seakan sirna.
“Hmm …” Indra pura-pura berpikir keras.
“Tapi Los Angeles jauh, lho. Pesawatnya bisa dua belas jam lebih. Kalian kuat nggak?”
Nathan menjawab dengan cepat, “Aku kuat, Dad! Aku kan Spiderman!”
“Aku juga kuat! Aku putri Barbie yang berani naik pesawat tinggi!” sahut Nala sambil tertawa lebar.
Yana menatap suaminya, tersenyum lembut. “Kamu tahu kan, mereka udah lama banget pengin jalan-jalan bareng kamu. Kayaknya ini waktu yang pas.”
Indra menghela napas kecil lalu tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu, kita berangkat liburan ke Los Angeles!”
Teriakan gembira langsung memenuhi ruang makan. Nathan dan Nala melompat kegirangan sambil berpelukan.
“Yeay! Terima kasih, Dad! Terima kasih, Mom!”
Indra memeluk mereka berdua erat. Di matanya, ada rasa haru yang tak bisa disembunyikan. Dia tahu, kebahagiaan sejati bukan tentang bisnis besar, tapi tentang waktu berharga bersama keluarga kecilnya.
Dua minggu berikutnya penuh dengan kesibukan. Yana menyiapkan pakaian musim panas, topi, dan kacamata hitam untuk anak-anaknya. Nala sibuk memilih gaun mana yang cocok untuk foto di Disneyland, sementara Nathan mencari informasi tentang wahana Spiderman di internet.
“Mom, boleh nggak aku bawa boneka Barbie yang besar ini?” tanya Nala sambil memeluk boneka hampir sebesar tubuhnya.
Yana terkekeh. “Sayang, bonekanya nanti nggak muat di koper. Bawa yang kecil saja ya, supaya Barbie-nya bisa ikut jalan-jalan juga.”
Nala mengangguk setengah hati, lalu menaruh boneka besar itu di tempat tidur. “Baiklah, nanti aku titip di rumah. Tapi yang kecil ini harus ikut!”
Sementara itu Nathan sibuk membuka peta digital di tablet. “Dad, aku udah buat daftar tempat yang mau kita kunjungi!” katanya sambil menunjukkan daftar. Ada Disneyland California, Universal Studios Hollywood, Santa Monica Pier, Griffith Observatory, Hollywood Walk of Fame dan beberapa tempat lainnya.
Indra menatap putranya dengan bangga. “Wah, anak Daddy sudah kayak travel planner aja.”
Yana menambahkan dengan lembut, “Jangan lupa belanja oleh-oleh juga ya, Nathan.”
“Siap, Mommy!” jawab Nathan mantap.
Hari keberangkatan pun tiba. Bandara Soekarno-Hatta pagi itu ramai, tapi keluarga kecil itu terlihat mencuri perhatian. Indra tampak gagah dengan setelan kasual elegan, Yana mengenakan dress putih dengan cardigan biru muda, sementara Nathan dan Nala tampil lucu dengan ransel Spiderman dan Barbie di punggung mereka.
“Dad, pesawatnya besar banget!” seru Nathan saat melihat pesawat yang akan mereka naiki.
“Ya, ini Boeing 777. Kita naik kelas bisnis, jadi kalian bisa tidur nyenyak nanti,” jawab Indra sambil tersenyum.
“Kayak di rumah ya, Mom?” tanya Nala polos.
Yana tersenyum lembut. “Iya, bahkan lebih nyaman, Sayang.”
Begitu pesawat mengudara, Nala menatap awan dari jendela dengan kagum. “Mommy, lihat! Awan-nya kayak kapas gula!”
Yana mengangguk sambil mengelus rambut putrinya. “Cantik, ya. Itu yang kamu lihat dari atas langit Indonesia.”
Nathan, di sisi lain, sibuk menonton film Spiderman di layar kecil di depan kursinya. “Dad, di Los Angeles beneran ada kota kayak gini nggak?”
Indra tertawa pelan. “Ada. Nanti kamu bakal lihat jembatan merah besar, namanya Golden Gate eh, tapi itu di San Francisco. Kalau di LA, ada gedung tinggi dan studio film seperti di film Spiderman.”
“Wah! Aku nggak sabar!” ujar Nathan semangat.
Sepuluh jam lebih di udara terasa singkat bagi mereka. Begitu pesawat mendarat di Bandara Internasional Los Angeles, anak-anak langsung bersorak kecil.
“Selamat datang di Amerika!” seru Yana sambil tersenyum.
Udara musim panas Los Angeles menyambut mereka dengan hangat. Langit biru cerah, pohon palem menjulang di sepanjang jalan, dan suara burung camar terdengar samar dari kejauhan. Dari jendela mobil sewaan yang mereka naiki, Nala menatap keluar dengan mata berbinar.
“Daddy, di sini kayak di film Barbie! Cantik banget!”
Indra menoleh ke arah Yana dan tersenyum. “Akhirnya, kita sampai juga.”
Hari pertama, mereka mengunjungi Disneyland California. Begitu memasuki gerbang utama, Nathan dan Nala langsung berlari kecil sambil berteriak kegirangan.
“Mom, lihat! Ada kastil Barbie!” seru Nala menunjuk bangunan berwarna pastel di kejauhan.
“Dan itu roller coaster Spiderman!” seru Nathan tak kalah antusias.
Yana dan Indra hanya tertawa melihat tingkah anak-anak mereka yang begitu bahagia. Mereka berfoto bersama di depan kastil besar, lalu menikmati berbagai wahana, dari kereta fantasi, rumah boneka, hingga parade karakter Disney.
Saat siang tiba, mereka makan siang di restoran tematik bertema pahlawan super. Nathan duduk sambil memegang burger besar dengan logo laba-laba di atas rotinya.
“Daddy, rasanya enak banget! Ini burger Spiderman!” katanya sambil tertawa.
Nala menikmati es krim berbentuk mahkota Barbie. “Aku suka banget, Mom! Ini rasanya kayak permen!”
Indra dan Yana saling berpandangan, senyum keduanya sama hangatnya. Dalam hati, mereka tahu, semua kerja keras dan waktu yang terbuang di kantor akhirnya terbayar oleh momen bahagia ini, melihat anak-anak tertawa tanpa beban.
Hari-hari berikutnya penuh petualangan. Mereka berjalan-jalan di Hollywood Walk of Fame, berfoto di depan nama-nama artis terkenal.
“Daddy, kapan nama Daddy bisa ada di sini?” tanya Nathan polos.
Indra terkekeh. “Kalau Daddy jadi bintang film dulu, baru bisa, Nathan.”
Nala menimpali, “Kalau aku, nanti tulisannya ‘Princess Nala, Queen of Barbie Land!’”
Semua tertawa keras.
Di sore hari, mereka mengunjungi Santa Monica Pier. Angin laut berhembus lembut, matahari mulai turun di ufuk barat, menciptakan langit jingga keemasan. Nathan bermain di wahana bianglala, sedangkan Nala memotret pemandangan dengan kamera kecil yang diberikan Yana.
“Dad, Mom, sini deh! Aku mau foto bareng!” seru Nala.
Mereka berdiri di pinggir dermaga, tersenyum ke arah kamera. Klik! Momen itu terekam selamanya, bukan hanya di kamera, tapi juga di hati mereka.
