Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Aku menemukan mu

Banyak pesan masuk, sebagian besar dari Nayla, sahabatnya dan juga dari Rafael.

Rafael menelponnya sebanyak dua puluh kali dan mengirimkan segudang pesan:

"Fiona kamu dimana? Aku mau menjelaskan semuanya. Itu bukan seperti yang kamu kira. Aku ingin bertemu."

"Dasar brengsek," lirih Fiona saat membaca pesan itu, air mata sudah menggenang di pelupuk mata.

Penjelasan apa lagi yang bisa dipercaya? Ia melihat mereka dengan mata kepalanya sendiri.

Ponselnya kembali berdering. Nama ‘Nayla’ tertera di layarnya, Fiona hampir tidak ingin mengangkat, tapi akhirnya jarinya menekan tombol hijau.

"Halo!" jawab Fiona dengan suara serak dan pelan.

"Fiona, ya ampun. Nomor lo kenapa nggak aktif dari semalam? Lo dimana? Bukannya lo ke Bandung nyusul Rafael, tapi Rafael malah nelpon gue nanyain lo," cerca Nayla, suaranya terdengar panik dan cemas.

Fiona menghela napas panjang. Dadanya terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, sakitnya lebih tajam dari rasa pegal di tubuhnya.

"Fiona, lo masih disana kan? Ada apa? Lo dimana sekarang?" Nayla bertanya lagi mendengar suara helaan napas Fiona.

"Gue lagi di jalan, arah balik. Nanti gue telpon lagi kalo udah sampe kosan," jawab Fiona sendu, menahan air matanya yang hampir jatuh. Ia tidak sanggup mendengar suara Nayla lagi.

"Lo dimana tepatnya? Biar gue jemput kesana!"

"Nggak perlu, gue lagi nunggu bis."

Bip!

Fiona mematikan sambungan teleponnya sepihak. Tangannya meremas ujung blusnya dengan kencang, sampai knukelnya memutih.

Ia menatap lalu lintas kota Bandung yang ramai, merasa sangat sendiri di tengah keramaian.

"Jangan nangis Fio, lo hebat. Lo kuat," ucapnya menyemangati diri sendiri, tapi kata-kata itu terasa hampa dan kosong.

Bis yang ditunggu akhirnya datang. Fiona masuk ke dalam dengan langkah gontai, tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Ia mencari tempat duduk di belakang, tepat di samping jendela.

Begitu bis melaju meninggalkan terminal, air matanya tidak bisa ditahan lagi. Ia menutup mulutnya dengan tangan, tapi desisan isaknya masih terdengar. Hati Fiona hancur sehancur-hancurnya.

Ia tidak menyangka akan mendapat pengkhianatan dari dua orang yang paling ia percaya dan sayangi.

"Kenapa mereka jahat banget sama gue?" lirihnya di antara isakan.

Ia menunduk, wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang. Suara tangisnya tertahan tapi air matanya terus turun deras seperti hujan yang tak kunjung reda.

"Gue bahkan tidur sama orang asing. Dasar Fiona bego, bodoh, dan murahan," makinya pada dirinya sendiri sambil memukuli pahanya berulang kali, menghukum diri untuk kesalahan yang ia sesali.

***

Sementara di kamar hotel 201. Ghaisan yang pingsan perlahan membuka matanya.

"Awwwww." Dia meringis, merasakan tengkuknya yang sakit seperti dipukul besi. Pandangannya berputar sebelum akhirnya fokus.

Dia melihat sekeliling. Pakaiannya masih berceceran di lantai, tapi gadis itu, Fiona, sudah pergi tanpa jejak.

“Mana gadis itu?” gumamnya serak. Dia menyentuh tengkuknya yang nyeri. “Dia memukulku dengan tangan. Apa dia seorang penipu?” Tapi nalurinya membantah.

Saat menyibak selimut, matanya terkunci pada sebuah bercak noda merah kecoklatan yang tak terbantahkan di sprei putih. Samar-samar, ingatan semalam kembali mengalir.

Percakapan di bar, air mata gadis itu yang tumpah saat bercerita, tatapan matanya yang hancur.

“Aku sakit hati, Om. Pacarku selingkuh dengan sepupuku sendiri.”

Dan kemudian, di kamar ini, di saat emosi dan alkohol bercampur, mereka saling mencari pelampiasan satu sama lain.

Ghaisan mengusap wajahnya sendiri setelah melihat noda merah di atas sprei. Rasa sesal yang dalam menyergapnya.

"Sial, aku sudah merusaknya. Dia benar-benar masih perawan. Seharusnya aku bisa menahan diri dan tidak melakukan itu," gumamnya penuh frustrasi.

Ia bukan lelaki sembarangan. Ia seorang pengusaha sukses, dan lebih dari itu, ia adalah seorang suami—meski rumah tangganya sedang di ujung tanduk karena perselingkuhan istrinya, Jihan, yang baru-baru ini terbongkar.

Malam kemarin seharusnya ia merenung, bukan menambah masalah dengan mengambil keperawanan seorang gadis yang sedang patah hati.

Ghaisan bergeser menuju nakas dan meraih ponselnya. Dia mencari kontak asisten pribadinya lalu menelponnya.

“Bawakan aku baju ganti ke hotel Amaris. Kamar 201. Aku juga ingin kamu mencari sesuatu. Cepat datang kemari.”

Bip!

Setelah mengatakan itu, Ghaisan mematikan sambungan telepon.

Ia mengambil dompetnya lalu memeriksanya. Semua kartunya utuh, tidak ada yang hilang. Hanya uang seratus ribu yang lenyap.

“Dia hanya mengambil satu lembar uang. Padahal dia bisa mengambil semuanya,” gumamnya, heran sekaligus tersentuh.

Gadis itu jelas dalam kesulitan, tapi masih mempertahankan sepercik kejujuran.

Ghaisan mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.

Ia duduk di sofa sambil menuangkan air mineral dari teko ke gelas. Pikirannya kalut. Ponselnya berdering kembali, memecah kesunyian.

Ia melihat nama ‘Karina’, kakak perempuannya tertera di layar. Ghaisan langsung mengangkat.

“Ada apa, Kak?”

Terdengar suara seorang perempuan yang tegang dari seberang sana.

“Kamu dimana, Ghaisan? Kami sudah mendengar kabar perselingkuhan Jihan. Pulanglah, kita bahas ini di rumah. Mama dan Papa sangat kecewa.”

"Kak, aku bisa menyelesaikan masalah pernikahanku sendiri," tukas Ghaisan, suaranya berat.

"Mereka ingin kamu pulang sekarang. Kamu sangat tahu bagaimana sifat mereka. Mereka bisa membuat segalanya semakin rumit."

Tut!

Tut!

Karina mematikan teleponnya sepihak. Ghaisan menghembuskan asap rokok dengan kesal.

“Sial, cepat sekali berita menyebar,” geramnya.

Namun, saat matanya kembali tertuju pada bercak merah di sprei dan pada bantal yang masih menyimpan wangi samar Fiona, sesuatu bergolak dalam dirinya.

Bukan sekadar rasa bersalah. Ada rasa kepemilikan, keinginan untuk melindungi, dan kemarahan pada siapa pun yang telah menyakiti gadis itu—termasuk dirinya sendiri.

“Aku tidak akan melepaskanmu,” bisiknya pada bayangan Fiona di kepalanya.

***

Fiona langsung merebahkan diri di atas kasur kosannya yang sempit begitu sampai di Jakarta. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya justru semakin liar.

Ia menatap langit-langit kamar kos yang bocor dengan wajah sendu.

Kehormatan yang selama ini ia jaga begitu ketat dari Rafael karena ia percaya akan disimpan untuk malam pertama pernikahan mereka, justru malah direnggut oleh orang asing karena kebodohan dan keputusasaannya sendiri.

"Ibu, maafin Fiona," lirihnya pada foto ibunya yang tersenyum di meja belajar.

Air mata kembali menetes. Ia memeluk guling erat-erat, seolah itu bisa meredam rasa sakit pada hati dan bagian bawah tubuhnya yang masih perih.

Kelelahan fisik dan mental akhirnya menang. Ia memejamkan mata dan tertidur pulas, lupa mengabari siapa pun termasuk Nayla tentang kepulangannya.

***

Tok!

Tok!

Suara ketukan keras di pintu kayu kosannya yang tipis membangunkan Fiona dari tidur yang gelisah. Ruangan sudah gelap, menunjukkan hari sudah malam

"Siapa?!" tanyanya dengan suara serak. Tidak ada sahutan.

Tok!

Tok!

Pintu diketuk lagi, kali ini lebih keras dan berwibawa, membuat daun pintu yang ringkas bergetar.

"Siapa sih? Jangan-jangan ibu kos minta uang sewa. Tapi kenapa nggak ngomong?" gerutunya dalam hati.

Ia memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur, masih mengenakan baju yang sama dari Bandung.

Kepalanya pening.

Fiona membuka kunci pintu lalu menariknya. Dua pria berpakaian formal—satu dengan kemeja putih dan jas, yang lainnya seperti pengawal—berdiri tegap di depan pintu. Fiona tercekat.

"Om Ghaisan," gumamnya syok, darah seolah mengalir deras ke kepalanya kemudian menghilang, membuatnya limbung.

“Aku menemukanmu!”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel