Bab 3. Kamu milikku
“Sesuai dengan permintaanmu.” Ghaisan mempercepat irama tempo gerakannya. Tanganya mengelus pipi Fiona yang mulus tanpa cela.
Fiona merasakan gelombang panas yang semakin tak tertahankan menjalar dari ujung kaki hingga ke seluruh tubuhnya. Genggaman tangannya di leher Ghaisan semakin kencang, kuku-kuku itu hampir menancap.
“Aku… aku akan…” desis Fiona, suaranya terputus-putus oleh hentakan yang semakin cepat dan dalam.
“Lepaskan saja, jangan ragu.”
Ghaisan tersenyum, sorot matanya penuh konsentrasi dan penguasaan. Ia merasakan otot-otot di sekelilingnya mulai mengencang, tanda puncak semakin dekat.
Dengan tenaga terakhir, ia mengatur nafas dan menambah kecepatan serta kedalaman gerakan, memastikan setiap dorongan mencapai titik paling sensitif.
“Ahhhhh…!”
Tiba-tiba, Fiona mengeluarkan teriakan panjang yang parau, seluruh tubuhnya bergetar hebat seperti tersengat listrik.
Kepalanya terlempar ke belakang, lehernya menegang. Kamar itu dipenuhi oleh suara desahan dan erangan yang saling bertautan.
Ghaisan tetap bertahan, terus bergerak hingga getaran itu berangsur mereda. Barulah kemudian ia membiarkan dirinya ikut terseret, mengeluarkan desahan dalam sambil menahan tubuh Fiona yang lemas.
Beberapa saat kemudian, dalam keheningan yang hanya diisi oleh napas yang masih tersengal-sengal, Fiona berbisik lirih.
“Om… luar biasa.”
“Kamu membuatku gila.”
Ghaisan menarik napas panjang, lalu perlahan melepaskan genggaman dan merapikan posisi mereka.
“Istirahat dulu,” katanya dengan suara berat, namun penuh kepuasan. “Malam ini masih panjang.”
“Aku lelah,” bisik Fiona terkulai lemas. "Aku tidak sanggup lagi."
Dia memejamkan mata tidak kuat menahan campuran ngantuk dan lelah. Ghaisan mendaratkan kecupan di kening gadis yang terlihat lelah tersebut.
“Jadi seperti ini rasanya menyentuh seorang gadis?” gumam Ghaisan dalam hati. “Mulai hari ini, kamu milikku. Hanya milikku.”
Keesokan paginya.
"Aduh badanku rasanya remuk."
Tubuh Fiona pegal seolah-olah tertimpa batu besar.
Ia menoleh perlahan dan sekilas melihat seorang pria yang sedang terlelap, wajahnya damai hingga membuat denyut jantungnya berdebar kencang, menghantam dada.
“Astaga …! Apa yang aku lakukan?” gumamnya pelan.
Mata cepat melirik ke bawah. Tubuhnya hanya tertutup selimut tebal. Tanpa pikir panjang, ia menyunggingkan kain itu. Kulitnya yang polos terbentang di depan mata; ia menahan napas, dada terjepit sesaat.
Ingatan pagi itu kabur seperti kabut pagi. Tapi rasa menusuk di bagian bawah tubuhnya sudah cukup menjawab segalanya.
“Sial, karena aku mabuk. Aku melakukan ini semua!” pekik Fiona kembali, kali ini suaranya terdengar frustasi. Ia melirik ke samping seorang pria tampan dan jelas dewasa masih memejamkan mata. “Ya ampun, bagaimana aku bisa tidur dengan pria asing. Ganteng sih, tapi kayaknya udah nikah deh.”
Napas panjang keluar dari bibirnya saat ia berusaha bangkit pelan-pelan.
“Aku harus segera kabur sebelum pria itu bangun,” gumam Fiona penuh tekad. Bola matanya membelalak. “Kenapa baju, kutang sama yang lainnya berceceran di lantai?”
Ia menggeser tubuh perlahan di atas kasur, jari-jari sudah meraih ke arah tumpukan pakaiannya, siap mengambil dan pergi secepat mungkin.
Tangan berkacak menggenggam pinggangnya, setiap gerakan membuat rasa nyeri menyambar ke tulang belakang.
Ia cepat-cepat meraih satu per satu pakaiannya, gerakannya tergesa-gesa namun terhenti saat ujung jemari hampir menyentuh celana dalam terakhir.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar melingkar erat di sekitar perutnya, membuat nafasnya tersengal.
“Apa kamu berpikir mau kabur begitu saja? Kamu tidak akan bisa lari dari sini,” bisiknya.
Fiona kaku seketika, tubuhnya menggigil bukan hanya karena rasa sakit. Jantungnya berdebar seperti akan meledak, mata memandang tangan yang mengikat dirinya.
Keringat dingin menetes di dahinya saat ia mencoba menoleh perlahan, tapi tubuh pria di belakang sudah menempel erat, menghalangi setiap gerakan.
“Lepas, Om!” pinta Fiona meronta, tubuhnya berusaha melenturkan diri dari genggaman itu. “Ini tidak benar. Aku mau pulang.”
Ghaisan menggeser tubuhnya lebih dekat, napas hangat menyentuh lehernya.
“Kamu yang duluan menggodaku, sekarang kamu mau pergi begitu saja?”
“Om, dibelakang ada kadal buntung!” tunjuk Fiona ke belakang Ghaisan, suaranya dibuat semendesah mungkin untuk menyamarkan ketegangan.
Pria maskulin yang hanya memakai boxer itu menengok ke belakang, lengannya yang berotot menegang saat ia memutar badan.
"Apa? Mana?!" tanyanya, tatapannya masih kabur oleh sisa alkohol dan kegelapan.
Bugh!
Fiona melayangkan pukulan tepat ke tengkuk leher Ghaisan. Bukan pukulan yang elegan, tapi keras dan penuh tekad.
Pria tampan dengan tinggi 185 cm itu hanya sempat menoleh sekilas, matanya melebar sepersaat sebelum akhirnya gelap, tubuhnya jatuh kembali ke atas kasur dengan berat.
"Maaf, Om. Kepaksa," bisik Fiona, suaranya gemetar.
Dadanya berdegup kencang, nyaris meledak. Ia mengedarkan pandang liar, mencari kutang warna hitamnya yang entah bagaimana bisa terbang dan tersangkut di atas kap lampu kamar hotel.
"Kenapa juga dia bisa terbang kesana?" gumamnya frustrasi.
Ia berdiri di atas ranjang, tubuhnya pegal dan perih, lalu meraihnya dengan susah payah. Ia memakainya cepat, lalu mengambil baju dan celana jeans di lantai dan bergegas mengenakannya.
Setiap gerakan terasa menyakitkan. Ia takut Ghaisan keburu bangun dan menariknya lagi ke atas ranjang, mengulang kesalahan yang sudah terlalu mahal harganya.
Fiona hendak melangkah menuju pintu namun ia segera berbalik, merogoh tas ranselnya yang berada di atas nakas. Ia membuka dompet kulit tuanya dengan gemetar untuk memastikan isinya.
"Ya ampun," desahnya putus asa. Di dalamnya hanya tersisa selembar uang dua puluh ribuan yang lusuh. "Tinggal selembar, mana cukup buat ongkos balik ke Jakarta. Dasar Rafael brengsek. Gue jauh-jauh datang ke Bandung buat ngasih kejutan. Tapi malah gue yang dikasih kejutan."
Hatinya teriris mengingat kejadian semalam. Niat hatinya menyambangi Rafael di kamar kosnya untuk merayakan ulang tahun mereka yang ke dua tahun dengan kejutan.
Tapi kejutan itu berbalik arah saat ia mendapati pintu kamar Rafael terbuka sedikit, dan di dalamnya, di atas kasur kasur Rafael sedang bercinda dengan Mikaila, sepupunya sendiri.
Dunia Fiona runtuh saat itu juga. Tanpa berpikir panjang, ia lari. Butuh pelampiasan, butuh cara untuk melupakan, ia masuk ke sebuah bar kecil dan menenggak segala minuman yang ia tak paham namanya.
Ingatannya setelah itu samar-samar. Yang ia ingat hanyalah sosok pria tampan dengan mata yang tampak sama sedihnya di bar, lalu mereka berbicara, tertawa, dan melakukan hal terlarang.
Fiona mundur lagi beberapa langkah dari pintu. Bola matanya terkunci pada dompet kulit hitam mewah yang ada di atas nakas, di samping tempat tidur yang masih berantakan.
Ia melangkah mengendap-endap seperti pencuri yang sedang beroperasi, perasaan malu dan hina membakar pipinya.
“Maaf, Om. Izin pinjam duit cepe buat ongkos balik,” bisiknya seraya membuka dompet itu.
Selembar kartu identitas segera menarik perhatiannya. "Ghaisan Oliver Rafindra. Umur 35 tahun. Status: menikah." Fiona membacanya pelan. Dadanya sesak. "Beneran udah punya istri, Hot Daddy dong," gumamnya getir.
Bola matanya melebar melihat banyaknya kartu kredit dan kartu anggota eksklusif yang tersusun rapi di sana.
"Kayaknya bukan orang kaleng-kaleng," ucapnya lagi.
Cepat-cepat, dengan hati yang berbeban berat, Fiona mengambil selembar uang seratus ribu dari dalam dompet Ghaisan.
Banyak pesan masuk, sebagian besar dari Nayla, sahabatnya dan juga dari Rafael.
Rafael menelponnya sebanyak dua puluh kali dan mengirimkan segudang pesan:
"Fiona kamu dimana? Aku mau menjelaskan semuanya. Itu bukan seperti yang kamu kira. Aku ingin bertemu."
Ia merasa seperti penjahat, tapi kebutuhan memaksa. Biasanya Rafael yang memberinya uang saku bulanan sebagai tambahan, dan kini Rafael bukan lagi apa-apa baginya.
Fiona melangkah keluar kamar sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di bagian yang paling intim.
“Apes banget sih hidup gue, diselingkuhin terus malah tidur sama suami orang,” batinnya lirih, rasa jijik pada dirinya sendiri memuncak.
Ia bergegas menyusuri koridor hotel yang sepi dan turun menggunakan lift, berharap tidak bertemu siapa pun.
***
Ia bergegas keluar hotel dan menghentikan angkot yang lewat, menuju halte bis antar kota.
Saat sedang menunggu bis datang di halte yang ramai, Fiona menyalakan ponsel yang sengaja dimatikan sejak semalam. Layar langsung banjir oleh notifikasi.
