Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Kontrak

"Om Ghaisan?" ucap Fiona tergagap, matanya membelalak tak percaya.

Pria itu berdiri di depan pintu kosannya dengan tatapan tajam dan dingin, jauh berbeda dari pria yang sedang bersedih dan lembut di bar semalam.

Ghaisan tak menjawab. "Boleh saya masuk?" tanyanya, namun nadanya lebih mirip pernyataan, bukan permintaan yang bisa ditolak.

Belum sempat Fiona menjawab atau menolak, Ghaisan sudah melenggang masuk ke dalam ruangan sempit itu dengan langkah mantap.

Seorang pria lain yang mengiringinya tetap menunggu di luar, menjaga pintu dengan sikap waspada. Ghaisan mengedarkan pandangnya yang tajam, menyapu setiap sudut kamar kos yang sederhana dan berantakan ini.

Tumpukan baju belum disetrika, beberapa bungkus mie instan, dan buku-buku kuliah berserakan. Sebelum akhirnya, dengan tenang, ia duduk di sebuah kursi kayu di depan meja belajar tempat laptop Fiona tertutup rapat.

"Om tau kosan aku darimana?!" tanya Fiona, suaranya bergetar antara takut dan bingung.

Jantungnya berdebar kencang. Bagaimana mungkin pria yang baru ia temui kemarin malam bisa menemukan tempat tinggalnya?

“Duduk!" titah Ghaisan, suaranya rendah tapi penuh kuasa, memotong semua pertanyaan dan gejolak dalam diri Fiona.

Tubuh Fiona seakan bergerak sendiri, dipenuhi oleh aura otoritas yang dipancarkan pria itu. Ia duduk di tepi ranjang, tepat di hadapan Ghaisan.

Dalam cahaya lampu neon yang redup, wajah pria itu terlihat begitu tegas, berkarisma, dan dingin.

Ini adalah wajah seorang pengusaha sukses, seorang yang berkuasa, bukan wajah ‘Om’ yang ia temui di bar yang sedang murung karena masalah rumah tangga.

“Om, aku ... aku minta maaf tentang tadi pagi, tentang uangnya..." Fiona mencoba bicara, berusaha mengurai kekakuan, tapi lidahnya terasa kelu.

Ia masih malu membayangkan bagaimana ia kabur setelah memukul Ghaisa hingga pingsan lalu mengambil selembar uang milik pria itu.

"Berani sekali kamu memukulku," geram Ghaisan, matanya menyala sejenak. "Tapi datang bukan untuk membahas itu." Dari dalam saku jasnya yang mahal, ia mengeluarkan sebuah map coklat tipis dan melemparkannya ke pangkuan Fiona. “Baca dan tanda tangani!"

Fiona melihat map itu seperti melihat ular berbisa.

“A—apa ini?" tanyanya, bingung dan semakin ketakutan.

“Baca dan tanda tangani saja," ulang Ghaisan, tidak memberikan ruang sedikitpun untuk tanya lebih lanjut. Suaranya datar namun mematung.

Dengan tangan gemetar, Fiona membuka map tersebut. Isinya hanya selembar kertas berkop firma hukum yang terlihat sangat resmi, penuh dengan klausul-klausul yang ditulis rapi.

Ia membaca dengan pelan dan teliti, kata demi kata seperti petir yang menghantam jiwanya.

1. Pihak Pertama Ghaisan Oliver Rafindra akan menanggung seluruh biaya hidup, pendidikan, dan hutang Fion Chaila Putri.

2. Pihak Kedua bersedia menjadi istri kontrak dari Pihak Pertama untuk jangka waktu dua tahun.

3. Hubungan ini bersifat rahasia dan terbatas. Pihak Kedua harus bersedia menemani Pihak Pertama saat dibutuhkan dalam acara sosial atau keluarga. Bahkan memenuhi kebutuhan biologis kapanpun diminta.

4. Segala kebutuhan materi akan dipenuhi selama kontrak berlangsung termasuk kehidupan ibu dan adik Fiona di kampung.

Bola mata Fiona membelalak. Ia menatap Ghaisan, tak percaya, lalu kembali menatap kertas itu, berharap ini hanya mimpi buruk.

"Om... Om mau aku jadi gadis simpanan?" Suaranya nyaris tak terdengar, penuh dengan rasa terhina dan ngeri.

"Lebih tepatnya istri kontrak,"koreksi Ghaisan dingin, tanpa ekspresi. "Aku sudah tahu segalanya tentang kamu, Fiona. Kamu sedang butuh uang. Sangat butuh. Bayar kosan yang sudah telat tiga bulan, tunggakan uang kuliah dua semester di Universitas Bakti Utama, dan biaya sekolah adikmu di kampung yang nyaris putus. Belum lagi hutang pada rentenir yang dipinjam ibumu dulu untuk biaya pengobatan ayah dan adikmu." Setiap kata Ghaisan seperti pisau yang menusuk tepat pada luka

Fiona."Aku bisa memenuhi semua kebutuhan itu, melunasi semuanya, jika kamu setuju."

Fiona merasa dunia berputar. Dadanya sesak. Bagaimana mungkin pria ini tahu segalanya dalam hitungan jam?

"Ini gila, aku nggak mau!" tolaknya, berusaha keras agar suaranya tidak terisak. "Om udah nikah. Bagaimana kalo istri Om tahu Om punya... gadis simpanan?" Kata ‘gadis simpanan’ itu terasa sangat pahit dan kotor di mulutnya.

"Sudah aku bilang, istri kontrak. Kita akan menikah secara sah, meski dibawah tangan. Aku memberimu status dan perlindungan," jelasnya singkat.

Kepala Fiona menggeleng, batin nya menolak dengan keras.

"Tetap saja aku akan jadi rahasia. Keberadaanku di rahasiakan. Aku tidak mau merusak rumah tangga orang lain. Aku menolak jadi sugar baby, simpanan, atau apapun itu!"

Ghaisan menatap Fiona dengan tatapan tajam yang bisa menembus jiwa. Fiona membalas tatapan itu dengan mata melotot, mencoba menunjukkan keberanian yang nyaris habis.

“Soal pernikahanku, aku sedang dalam proses perceraian," potong Ghaisan cepat, sedikit emosi tersembul di raut wajahnya. “Jadi itu urusanku. Kamu tidak perlu memikirkannya. Aku memberimu tawaran yang mungkin diimpikan banyak wanita. Keamanan finansial. Hidupmu, ibumu, adikmu, akan terjamin."

"Kalau begitu pilih mereka saja! Hidupku sudah cukup banyak masalah, Om. Aku nggak mau nambah beban dengan jadi perusak rumah tangga orang!" teriak Fiona, bangkit dari tempat tidur, emosinya meluap.

Ghaisan juga berdiri, tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat Fiona merasa semakin kecil dan lemah.

"Aku tidak mau mereka. Aku mau kamu. Kamulah yang membuatku melakukan ini. Aku yang mengambil sesuatu darimu," ujarnya, suaranya tiba-tiba lebih berat, ada beban emosi yang dalam di balik kata-katanya. "Ini juga caraku... menebus kesalahan."

Fiona mengusap wajahnya, frustasi. Air mata mulai mengalir lagi, membasahi pipinya yang pucat.

"Om, aku juga salah. Aku mabuk dan kita... melakukannya. Please, jangan menambah beban hidup aku lagi dengan kontrak gila ini. Aku nggak mau dijadiin mainan!"

"Aku tidak main-main, Fiona.” Ghaisan mendekat, tatapannya intens. "Aku serius. Aku bisa membuat kamu keluar dari semua masalahmu dengan satu tanda tangan. Tugasmu hanya satu: ada saat aku butuh. Itu saja."

Dia mengambil pena emas dari saku dalam jasnya dan menyerahkannya pada Fiona. Map kontrak itu terbuka di atas kasur yang sumpek, seolah menantang dan menunggu.

"Om, aku tidak akan menuntut apapun karena disini aku juga salah. Aku mabuk dan... menggodamu. Jadi Om tidak perlu memberiku surat kontrak segala. Aku mau melupakannya saja," pinta Fiona, suaranya lirih.

Hening sejenak. Ghaisan menghela nafas panjang. Fiona mengusap wajahnya, merasa hidupnya seperti lelucon yang kejam. Pacar selingkuh dan selingkuhannya adalah sepupunya sendiri.

Dia mabuk dan tidur dengan pria asing. Sekarang pria asing itu datang memberinya surat kontrak pernikahan. Sungguh tidak masuk akal.

"Begini amat hidupku?" gumamnya pelan, namun Ghaisan bisa mendengarnya.

"Dengar, Fiona. Aku bisa memberikanmu apapun yang tidak bisa kamu capai dengan usahamu sendiri sekarang," kata Ghaisan, mencoba pendekatan lain. "Aku juga bisa membantumu membalas pengkhianatan kekasih dan juga saudaramu itu. Jadi pikirkan baik-baik sebelum kamu menolaknya."

Fiona terdiam. Kata-kata 'membalas' menggema di kepalanya. Rafael dan Mikaila. Wajah mereka yang mesra tadi siang muncul lagi, menyakitkan.

Tangannya mengepal erat hingga kukunya menancap di telapak tangan dan memutih.

"Beri aku waktu untuk berpikir," sahut Fiona akhirnya, nafasnya berat.

Ghaisan terdiam beberapa saat, matanya mengukur Fiona. Hingga akhirnya ia mengangguk pelan. "Baik. Berapa lama?"

"Satu minggu," jawab Fiona cepat, berharap mendapat waktu yang cukup.

"Tiga hari."

Bola mata Fiona melotot nyaris keluar. "Om ngasih waktu apa neror sih? Aku minta satu minggu!"

"Lusa!" Ghaisan tak bergeming.

Fiona meremas angin, mulutnya terbuka lebar tak percaya dengan tawar-menawar yang aneh ini.

"Ya ampun, ibu kosan saja masih bisa diajak negosiasi. Ok. Tiga hari!" Ia menyerah pada tawaran pertama.

"Besok."

"OM GHAISAN. AKU INI BUKAN BARANG ATAU BONEKA!" sentak Fiona meledak, kesabarannya habis. "INI HIDUPKU!"

"Tidak ada negosiasi lagi," ucap Ghaisan tegas. "Besok malam, kamu harus memberikan jawabanmu."

Fiona memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

"Kalau nggak bisa negosiasi ngapain tadi nanya berapa hari? Aku bisa gila dibuatnya."

"Pikirkan adik dan ibumu. Terutama pengkhianatan orang yang selama ini kamu percaya," ujar Ghaisan, menekan titik lemahnya. Fiona membuang pandangan ke dinding yang bocor, menghindari tatapannya."Pikirkan juga isi dompetmu yang tidak ada secarik uang pun di dalamnya!”

"Nggak usah nyindir, aku memang gadis miskin dan bokek. Tapi aku masih punya harga diri!” balas Fiona pedas.

"Diaz!" panggil Ghaisan tiba-tiba.

Pria yang menunggu di luar segera membuka pintu. "Iya, Pak!”

"Berikan itu padanya!" titah Ghaisan, menunjuk beberapa tote bag branded yang ada di tangan Diaz.

Pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu mengangguk patuh. Dia menaruh semua tote bag ke atas ranjang, di samping map kontrak.

Fiona mengerutkan kening, bingung.

"Apa itu?" tanyanya penasaran namun masih curiga.

Ghaisan berdiri dan dengan elegan mengancingkan jasnya.

"Itu makanan dari restoran dan beberapa pakaian. Aku tahu kamu mungkin tidak punya uang untuk membeli makanan yang layak akhir-akhir ini."

"Terus aja ledek," kesal Fiona, namun perutnya keroncongan mengiyakan pernyataan Ghaisan.

Tring!

Sebuah notifikasi dari aplikasi banking berbunyi di ponselnya yang tua. Fiona melirik ponsel dan matanya terbeliak. Sebuah pemberitahuan transferan sebesar sepuluh juta rupiah baru saja masuk ke dalam rekeningnya.

"Anggap saja itu uang saku," kata Ghaisan, suaranya terdengar berbeda, sedikit lebih lunak. "Aku tahu adikmu butuh sepatu baru untuk sekolah. Ulang tahunnya minggu depan, bukan?"

Fiona membatu. Dadanya berdegup kencang. Dia ingat betul adiknya, Dea, yang minta dibelikan sepatu baru untuk kado ulang tahunnya.

Ia hanya bisa berjanji, padahal sama sekali tidak punya uang. Bagaimana Ghaisan bisa tahu?

"Apa yang harus aku lakukan?" batin Fiona lirih.

Rasa bingung, haru, dan marah berbaur jadi satu. Entah dia harus senang dengan uang yang menyelamatkan itu atau marah karena Ghaisan seperti sedang merendahkannya dengan belas kasihan yang terstruktur.

"Aku tunggu besok malam," ucap Ghaisan seraya melangkah keluar kamar, meninggalkan Fiona yang masih terduduk linglung.

"Diaz. Pastikan tidak ada yang mengganggunya."Pria bernama Diaz itu mengangguk.

"Dasar pemaksa! Arogan!" geram Fiona sendirian setelah pintu tertutup.

Tangannya meninju bantal, ingin sekali mencabik-cabik kertas kontrak itu dan wajah dingin Ghaisan.

Fiona terduduk kembali di tepi ranjang. Ia menatap pena emas itu, lalu menatap sekeliling kamar kosnya yang kecil, pengap, dan penuh dengan tanda-tanda kesulitan hidup.

Ia memikirkan ibunya yang bekerja banting tulang di kampung sebagai buruh serabutan dengan tangan yang sudah kasar.

Ia memikirkan surat peringatan dari pihak kampus dan ancaman ibu kos yang akan mengganti kuncinya.

Lalu, ia teringat Ghaisan, pria asing yang telah mengambil sesuatu yang tak ternilai darinya, dan kini menawarkan segalanya dengan harga yang lebih mahal lagi: kebebasan dan harga dirinya sendiri.

"Rafael... Mikaila,” gumam Fiona pelan, saat bayangan dua pengkhianat itu muncul kembali dalam ingatannya. "Awas kalian berdua."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel