Bab 2. Surga dunia
Pria itu sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya. Sebentar kemudian ia mengangguk pelan, mengambil gelas scoth yang sudah diletakkan di depannya.
Ia meneguk sebagian minumannya sebelum mulai bercerita dengan suara rendah.
“Kamu mungkin tidak akan percaya, istriku … aku baru saja tahu kalau dia selingkuh dengan pria lain. Dan ternyata dia sahabatku sendiri.”
Fiona menghela nafas lalu tertawa kecil dengan nada yang sedikit menyakitkan. “Kita punya masalah yang sama rupanya. Aku juga baru saja menemukan bahwa pacarku selingkuh dengan sepupuku sendiri. Aku datang kesini buat ngasih kejutan, malah aku yang jadi korban kejutan paling pahit.”
Pria itu menghela napas panjang seraya menuangkan scoth ke gelasnya.
"Menyedihkan sekali," katanya dengan kekehan kecil
Fiona menerimanya dengan senyum yang semakin menggoda. Dia mendekatkan tubuhnya perlahan, jemarinya yang indah menyentuh tangan pria itu.
“Kenapa kita harus terus menyakiti diri sendiri ya, Om?” bisik Fiona dekat telinga pria itu, napasnya yang berbau alkohol membuat kulit pria itu merinding. “Ada cara lain nggak, buat melupakan masalah ini?”
Pria itu hanya terdiam, matanya terpaku pada wajah Fiona yang semakin dekat. Rasa sakit yang tadinya menghantui dirinya mulai tergantikan oleh hasrat yang membara akibat godaan yang tak tertahankan.
“Ada, pastinya ada!” jawab pria itu cepat.
“Apa aku kurang cantik?” tanya seraya perlahan melepaskan resleting bagian atas bajunya, tidak hanya menunjukkan lekukan bahu yang indah namun juga sedikit mengungkapkan lekukan dada yang menarik.
"Kamu cantik, sangat cantik," sahut pria itu. "Aku, Ghaisan."
Tangan kiri Fiona menyentuh dada sendiri tanpa sadar sambil menatap pria itu dengan mata yang terbakar hasrat.
“Om Ghaisan, mau nemenin aku malam ini nggak? Aku juga mau merasakan apa yang mereka lakukan?"
"Apa kamu serius dengan ucapanmu?"
Fiona menarik lengan pria itu dan membawanya berdiri.
"Patah hati itu sangat menyakitkan. Aku punya pacar brengsek dan Om punya istri selingkuh," racau Fiona semakin tak terkendali. "Aku penasaran seperti apa rasanya kenikmatan dunia itu."
Saat berdiri, tubuhnya sengaja bergoyang-goyang, menggeser pinggangnya secara perlahan agar menarik perhatian pria itu ke setiap lekukan tubuhnya.
Ghaisan sudah benar-benar tidak bisa menahan hasrat yang membara di dalam dirinya lagi.
Semua godaan yang diberikan Fiona membuatnya kehilangan seluruh kendali dan rasa ingin berpikir.
"Ini untuk membayar minumanku dan juga minuman gadis ini." Ghaisan meletakan sebuah kartu ke atas meja.
"Terima kasih."
Tanpa basa-basi dan tanpa diberi tahu kemana, dia langsung mengangkat Fiona dengan kuat dan membawanya dalam keadaan menggendong.
Fiona sedikit terkejut namun langsung tertawa lembut dengan suara yang menggairahkan.
"Om mau bawa aku kemana?"
“Sudah cukup menggodaku … aku tidak bisa menahan diri lagi!” bisiknya, langkahnya langsung berjalan cepat meninggalkan bar tanpa tahu harus kemana.
“Kamu yang memulainya,” ujar Ghaisan dengan sorot mata berkabut.
Fiona hanya tersenyum lebih lebar dan mencium leher pria itu dengan penuh hasrat, menggigit lembut bagian telinganya.
“Tidak apa-apa Om … bawa saja aku kemana yang Om mau. Miliki aku!”
Tanpa berpikir panjang, pria itu berjalan menuju bagian depan bar hotel. Langkah Ghaisan sedikit sempoyongan, jelas pengaruh alkohol sudah menguasai keduanya.
Saat sampai di depan resepsionis, Ghaisan langsung menepuk meja dengan keras.
“Kamar terbaik yang ada sekarang juga! Segera!” ucapnya, tangan kanannya masih kuat menggendong Fiona yang tetap menggoda dengan mengelilingi lehernya.
“Ini kunci kamar Anda, nomor 201,” kata resepsionis menyerahkan kunci kamar.
“Terima kasih.”
Setelah mendapatkan kunci kamar, Ghaisan langsung membawa Fiona menuju lift. Beberapa pasang mata melirik ke arah mereka.
Ghaisan sama sekali tidak peduli dengan tatapan-tatapan itu.
“Kayaknya kita jadi pusat perhatian,” kekeh Fiona santai meski pandangannya mulai kabur.
“Jangan hiraukan mereka!”
“Om benar. Jangan pedulikan apapun!”
Ghaisan melangkah dengan cepat menuju kamar tersebut, langkahnya kuat dan penuh tekad untuk memenuhi hasrat yang sudah lama terkendali.
Sesampainya di kamar, pintu dikunci keras. Pria itu menjatuhkan Fiona lembut namun pasti di atas kasur membuat gadis itu menggeliat, nafasnya semakin dalam. Ia naik ke atasnya.
“Om ganteng ya,” racau Fiona, tangannya mengelus pipi Ghaisan. "Udah punya anak berapa?"
Fiona tertawa lembut lalu menariknya mendekat hingga tidak ada jarak lagi. Tanpa basa-basi, Ghaisan mencumbu bibirnya—pria itu langsung membalas dan sedikit menggigit ujung bibirnya.
“Ahh …,” desah Fiona.
Pria itu menutup matanya, tangan kirinya perlahan meraba dari pundak Fiona ke bawah arah pinggangnya, jari-jari menyentuh lekukan tubuhnya yang hangat.
Cumbuannya perlahan bergeser dari bibir ke rahang bawah gadis itu, lalu meluncur ke leher yang lembut. Ia menggigit dan menjilati bagian leher jenjang itu perlahan.
“Kamu sangat indah,” bisiknya dengan suara terbata-bata, nafasnya berbau alkohol.
“Om juga meresahkan.”
Fiona mengerang lembut, tangannya menyisir rambut pria itu kasar.
Ghaisan mengangguk tanpa melihatnya, jemarinya dengan cepat membuka resleting bajunya lalu melepasnya satu per satu. Tangan lain menyentuh tali bra Fiona, dengan gesit membukanya.
Tak lama kemudian, semua pakaian mereka terlepas, tubuh mereka saling bersentuhan tanpa ada penghalang lagi.
“Semua masalah kita akan menghilang,” gumam Ghaisan serak.
Ghaisan mencium dahi Fiona dengan lembut, kemudian menurunkan cumbuannya ke pelipis dan telinganya.
Tangan kanannya merapikan rambut yang berantakan di wajahnya, sementara tangan kirinya menyentuh lembut tubuh Fiona dengan penuh perhatian, memberikan sentuhan yang menenangkan dan hangat, seolah ingin menyampaikan perasaan yang dalam tanpa kata-kata.
Fiona merasakan kehangatan dan kedekatan yang membuat hatinya berdebar, membangkitkan perasaan nyaman dan penuh kasih.
“Aku akan hati-hati ... bilang saja kalau kamu tidak nyaman,” bisiknya dengan suara yang dalam dan sedikit terengah-engah, nafasnya hangat menyentuh kulit Fiona yang sudah berkeringat tipis.
“Apa rasanya sakit?” tanya Fiona pelan.
“Kamu akan menyukainya.”
Bruno berada di antara kaki Fiona, kehangatan tubuhnya terasa menyentuh bagian dalam paha gadis itu. Fiona mengangguk pelan, bibirnya sedikit menggigit lidahnya.
Matanya yang sedikit kabur karena mabuk tetap menatap ke mata Ghaisan, sementara tangannya menggenggam kasur di kedua sisi tubuhnya dengan erat, merasakan campuran antara gugup dan keinginan yang membara.
“Aku akan melakukannya.”
Saat Bruno mulai menyentuh bagian tubuh Fiona yang paling sensitif, Fiona menarik napas dalam-dalam, merasakan campuran antara geli dan hangat yang menyelimuti dirinya.
Ia merasa ada getaran lembut yang menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya sedikit terdiam dan menikmati momen itu dengan perasaan yang campur aduk antara ragu dan kehangatan.
Ia menggenggam bahu Ghaisan dengan kuat, kuku sedikit menusuk kulitnya.
Pria itu berhenti sejenak, mencium lehernya dari bawah ke atas, menjilati bagian leher jenjang itu sambil menenangkannya.
“Sabarlah ... sebentar lagi saja, aku akan pelan-pelan,” bisik Ghaisan di dekat telinga gadis itu, sementara tangannya terus meremas bukit kembarnya.
Setelah beberapa saat menunggu, ia perlahan melangkah lebih jauh, sedikit demi sedikit.
Fiona menggigit bibirnya kuat, mengeluarkan suara campuran antara desahan dan sedikit ringisan.
“Ahh, Om!” gumamnya dengan nafas yang terputus-putus.
“Rasanya sempit. Apa kamu belum pernah melakukannya?” tanya Ghaisan disela kesadaran yang hampir hilang.
Fiona mengangguk. “Aku belum pernah melakukannya. Mungkin karena itu, Rafael brengsek itu melakukanya dengan Mikaila. Sepupuku sendiri,” lirihnya sambil menggeliat.
“Aku bahkan menikahi wanita yang sudah tidak perawan lagi. Dan lebih sialnya, dia selingkuh dengan sahabatku sendiri,” beo Ghaisan getir.
Tangan Fiona menyentuh wajah Ghaisan yang merah padam. Meski pria itu lebih dewasa darinya, alisnya tebal, hidung mancung, sorot mata tajam. Justru menjadi daya tarik yang tidak terbantahkan.
“Kita lupakan mereka,” bisik Fiona.
"Kamu benar. Kita lupakan mereka. Malam ini hanya ada aku dan kamu"
Ghaisan mengangguk, pria itu mulai bergerak dengan irama yang lambat terlebih dahulu, kemudian perlahan mempercepatnya sedikit demi sedikit.
Tangan kirinya terus meremas rachel dan samantya yang naik turun mengikuti setiap gerakan, sementara tangan kanannya menggenggam pinggang Fiona erat untuk menjaga keseimbangan.
“Ahhh…..,” desah Fiona
Suara nafas yang terengah-engah dari keduanya bergema di kamar, diselingi desahan dan bisikan yang menggairahkan.
Ghaisan semakin mendekatkan tubuhnya, mencium bibir Fiona dengan penuh hasrat sambil terus bergerak.
Fiona mengerang lebih keras, tubuhnya mulai bergoyang mengikuti irama gerakan pria itu. Tangannya menyisir rambutnya dengan kasar, kemudian mengunci erat di lehernya.
“Ahh, Om! Lebih cepat lagi ... aku rasanya hampir sampai.”
