Bab 1.Kejutan menyakitkan
"Iya, Bu. Nanti kalau uang gajinya sudah masuk saya transfer. Saya minta maaf karena telat bayar kosan,” ucap seorang wanita cantik dan muda saat memasuki sebuah hotel mewah.
Ia menghela nafas saat sambungan telepon diputus secara terpisah. Tidak lama ponselnya kembali berdering. “Ya ampun apalagi sekarang?” gumamnya ketika melihat layar ponselnya.
“Halo, Pak!” sapa Fiona dengan nada sopan.
“Fiona, saya mau mengingatkan. Kamu harus melunasi uang semesteran sampai lusa. Kalau tidak, dengan berat hati. Kamu harus mengulang tahun depan.”
“Iya, Pak. Saya mengerti.”
Fiona menghela nafas panjang dan berat. Semua masalah berasa ada di atas pundaknya.
"Kenapa masalah datangnya rombongan sih? Satu-satu gitu biar otak gue waras," gumam Fiona lirih.
Ia melanjutkan langkah menuju meja resepsionis. Seorang wanita memakai seragam menyapanya ramah.
"Selamat malam ada yang bisa saya bantu?"
"Malam, Mbak. Maaf mau nanya. Kamar atas nama Rafael Fahreza nomor berapa ya?"
Kening wanita cantik dihadapannya mengkerut. Namun, senyum ramah masih terbit dari bibirnya yang berwarna merah.
"Mohon maaf, privasi pengunjung adalah hal yang utama bagi kami. Kami tidak dapat memberikan informasi apapun kecuali jika Mbak memiliki hubungan langsung dengan pengunjung tersebut."
"Tunggu bentar." Fiona merogoh ponsel lalu memperlihatkan galeri fotonya. "Saya datang untuk menyusul suami saya. Dia bilang memginap di hotel ini."
Resepsionis melihat foto Fiona dan seorang pria. Mereka memamerkan cincin couple ke arah kamera. Setelah menimang beberapa saat, resepsionis itu mengangguk paham."
"Kamar 307 lantai lima."
"Makasih, Mbak," sahut Fiona sambil membungkuk hormat. Ia segera bergegas menuju lift, matanya sempat melirik kue cokelat yang sengaja dibawanya sebagai kejutan. Malam ini adalah anniversary hubungan mereka yang ketiga.
“Ini kamar Rafael,” gumam seorang gadis saat berdiri di depan sebuah pintu kamar hotel. “Lho kok pintunya nggak dikunci?” tanya gadis itu, Fiona pada dirinya sendiri.
Tangannya terulur ragu saat mendorong pintu hotel. Dia melangkah masuk ke dalam dengan langkah perlahan.
“Sayang …, ah! Pelan-pelan, di dalam rasanya penuh banget.” rengek seorang gadis dari arah ranjang.
Langkah Fiona langsung terhenti. Entah kenapa dia merasa familiar dengan suara gadis tersebut.
“Apa gue salah kamar?” gumam Fiona seraya melihat ponselnya. Dia membaca pesan dari tunangannya. “Ini benar kamar Rafael, lalu siapa yang —?”
“Hmpph! Salah sendiri kamu datang menggodaku. Sudah tahu aku sangat menyukai tubuhmu,” suara pria itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.
Bola mata Fiona membelalak saat mendengar suara sahutan seorang pria. Tubuhnya yang ramping bergetar hebat, rambut panjangnya yang dikuncir membuat leher jenjang mulus terlihat jelas.
“Kalau kamu suka tubuhku? Kenapa kamu harus nikah sama Fiona? Lalu nasib aku gimana? Mau sampai kapan kita main belakang seperti ini?" racau gadis itu lagi di sela desahan nikmat yang tengah dirasakanya.
“Mau bagaimana lagi, pertunangan aku dan Fiona sudah diatur oleh kedua orang tua kami. Pernikahan kami tidak lebih karena perjodohan. Kamu jangan cemas. Meski aku menikah dengan Fiona, aku akan sering menemuimu. Kita akan menikah setelah usia pernikahan aku dan Fiona berjalan lancar.”
Mata Fiona membulat sempurna. Ia mengenali suara itu, suara tunangannya, Rafael. Jantungnya berdegup kencang, bercampur antara rasa penasaran dan marah.
“Mikaila, tubuh kamu membuatku candu.”
“Ahh, terus dorong lebih dalam lagi. Aku menyukainya,” desah gadis keenakan. “Setelah menikah aku nggak yakin Fiona bisa membuatmu ketagihan.”
“Itu sudah pasti. Bisa jadi pernikahan kami hambar. Selama pacaran dia tidak pernah mau aku sentuh.”
“Astaga, mereka…dasar brengsek.”
Fiona membekap mulutnya sendiri, menahan jeritan yang nyaris lolos. Pemandangan di hadapannya seperti mimpi buruk dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Di atas ranjang, pacarnya tengah menindih Mikaila, sepupu Fiona. Keduanya polos, tubuh mereka basah oleh keringat dan bergerak dalam ritme yang memuakkan.
Mata Fiona memanas, air mata menggenang di pelupuk matanya.
Fiona mengepalkan tangan jingga kukunya menancap dan memutih.
“Dasar manusia sampah, brengsek!” pekiknya dalam hati, tenggorokannya tercekat, terlalu kelu untuk sekadar memaki mereka.
Fiona tidak pernah menyangka.Niat hati ingin memberikan kejutan pada Rafael, justru malah dia yang mendapatkannya.
Fiona sengaja diam-diam pergi ke bandung tanpa memberitahu Rafael jika dia mau datang
“Jangan nangis, Fiona. Tahan,” gumamnya menguatkan diri sendiri.
Cepat-cepat dia meraih ponsel dan merekam dua orang yang sedang menikmati pergumulan panas mereka. Air mata Fiona akhirnya keluar meski ditahan sekuat apapun.
Hatinya sakit, jiwanya seakan seperti melayang. Tidak sanggup melihat pengkhianatan yang dilakukan dua orang yang begitu disayangi nya
“Kenapa? Kenapa mereka tega melakukannya sama gue?”
“Lebih cepat, Sayang. Ahhh…”
“Tentu sesuai keinginanmu.”
Mereka terus bercumbu dengan mesra, seolah tidak ada seorangpun yang melihat. Rasanya Fiona ingin masuk dan menghajar kedua manusia tidak tahu malu itu.
Namun, dia memilih merekam dengan tangan gemetar.
“Nikmati hari ini dengan sepuas kalian. Aku akan memastikan kalian berdua menyesalinya.” Tidak tahan lagi, Fiona menendang pintu kamar hingga terbuka.
Brak!
Mikaila dan Rafael spontan menoleh. Bola mata mereka membelalak melihat sosok yang tidak terduga.
“Ahhhhhh!” Mikaila mendorong tubuh Rafael lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
“Fiona, aku bisa jelaskan,” kata Rafael gagap.
“Aku nggak butuh penjelasan. Dasar cowok brengsek.”
Bugh!
Fiona meninju wajah Rafael.
“Makan ini.” Fiona juga menendang bruno Rafael yang masih tegak berdiri.
“Awwwwwww,” ringis Rafael terjatuh ke lantai menahan sakit. Lalu jatuh pingsan.
“Rafael!” teriak Mikaila.
“Lo!” Fiona menunjuk Mikaila yang terlihat ketakutan. “Dasar cewek murahan. Makan ini.” Fiona melemparkan kue yang dibawanya ke atas kepala Mikaila.
“Fiona, hentikan!” Mikaila histeris saat rambut dan wajahnya penuh dengan krim kue.
“Dasar manusia sampah,” maki Fiona sambil melayangkan tangan ke udara. Mikaila sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Plak!
Fiona tidak kehabisan akal. Dia memakai sepatu sneaker milik Rafael untuk memukul wajah Mikaila.
“Ahhhhhh. Darah!” teriak Mikaila saat melihat darah segar keluar dari hidungnya lalu pingsan.
Fiona berbalik dan menjauh dari kamar itu. Langkah yang tak pasti, membawanya ke bar hotel.
Suasana remang-remang dengan alunan musik yang menghentak sedikit meredakan sakit di hatinya. Ia duduk di bar dan memesan minuman.
“Beri aku minuman yang bisa membuat aku lupa semuanya ,” ucap Fiona pada bartender dengan suara serak.
“Anda yakin?”
“Jangan banyak nanya. Pokoknya aku mau melupakan semua masalah dalam hidupku.”
Bartender itu mengangguk dan segera menyiapkan pesanannya. Fiona meneguk minan itu hingga tandas.
Panas alkohol membakar kerongkongannya, tapi tak mampu membakar luka di hatinya. Ia merasa kosong, hampa, seolah tidak ada lagi yang tersisa dalam dirinya.
“Aku mau satu lagi,” pinta Fiona, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Ia ingin melupakan semuanya, meskipun hanya untuk sementara.
Fiona terus memesan gelas demi gelas wiskey berharap bisa melupakan semua yang baru saja terjadi. Pikirannya kosong, tubuhnya mulai kehilangan kendali.
Selama ini dia selalu memegang gaya hidup sehat tapi runtuh karena sakit hati dan masalah hidup lainnya.
“Aku harus cari uang seperti apa lagi?” gumamnya frustasi.
"Beri aku scoth terbaik!"
Sontak Fiona melirik pria di sebelahnya dengan senyum menggoda yang muncul di bibirnya.
"Waw, ini sih Hot Daddy banget," gumamnya melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Seorang pria dengan pakaian jas mahal yang mengkilap sempurna, disertai jam tangan Rolex yang berbinar di pergelangan tangannya.
"Mapan, meresahkan. Jadi ani-aninya juga gue nggak nolak," racau Fiona yang mulai kehilangan akal sehat.
Wajahnya tampak tegas namun tertutupi lapisan rasa sakit dan kelelahan yang mendalam, matanya seolah sedang menyimpan beban besar yang tak bisa disampaikan pada siapapun.
"Om lagi patah hati juga ya?"
