BAB 4 — EMPAT PULUH TUJUH PERSEN
Marvaine menyewa sebuah kamar kecil di penginapan paling murah di Veldran.
Dindingnya tipis, lantainya berbunyi saat diinjak, dan jendela satu-satunya menghadap ke gang yang bau. Tapi di atas meja kayu yang hampir patah kakinya, Marvaine membentangkan empat lembar perkamen tua di samping buku hitam tadi, dan tiba-tiba ruangan sempit itu terasa seperti ruang penelitian.
Arvan duduk di sisi ranjang, menatap semuanya.
"Kutukan Darah bukan berasal dari iblis biasa," mulai Marvaine sambil menunjuk diagram di perkamen pertama. Sebuah lingkaran dengan simbol-simbol yang Arvan tidak kenali mengelilingi gambar sosok manusia di tengahnya. "Ini berasal dari sesuatu yang lebih tua. Lebih dalam dari lapisan dunia manapun yang diketahui kultivator modern."
"Lebih tua dari iblis?"
"Lebih tua dari konsep iblis itu sendiri." Marvaine menarik perkamen kedua ke depan. "Para peneliti Menara menyebutnya Entitas Primordial. Makhluk yang ada sebelum dunia ini punya nama. Sebelum kultivasi ditemukan. Sebelum manusia belajar bahwa kekuatan bisa dilatih."
Arvan menatap diagram itu. Sosok di tengah lingkaran tampak sedang berteriak, mulutnya terbuka lebar, tangan terentang ke samping seperti disalib oleh sesuatu yang tidak terlihat.
"Entitas ini menciptakan kutukan sebagai kontrak," lanjut Marvaine. "Bukan hukuman. Kontrak. Ada sesuatu yang ditawarkan, ada sesuatu yang diminta sebagai bayaran."
"Kekuatan ditukar nyawa orang yang kusayang."
"Lebih tepatnya, kekuatan ditukar dengan ikatan emosi terkuat yang kau miliki." Marvaine mengetuk diagram itu. "Entitas Primordial tidak membutuhkan nyawa. Mereka membutuhkan energi emosional. Kehilangan, duka, rasa sakit kehilangan seseorang yang benar-benar kau cintai, itu adalah bahan bakar paling murni yang ada di alam semesta ini."
Arvan merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya.
"Jadi mereka membunuh orang yang kusayang untuk memakan rasa sakitku."
"Ya."
Satu kata. Tapi beratnya seperti langit yang runtuh.
Arvan berdiri, berjalan ke jendela, menatap gang kotor di bawah tanpa benar-benar melihatnya. Di dalam kepalanya, sistem masih berkedip dengan angka yang tidak berhenti bergerak.
LEVEL SAAT INI: 1
JARAK KE LEVEL 2: 43%
Ia menarik napas panjang. "Kau bilang kutukan ini bisa dipatahkan."
"Bisa."
"Caranya?"
Marvaine tidak langsung menjawab. Ia menggulung perkamen pertama dan menaruhnya kembali, jari-jarinya bergerak pelan seperti seseorang yang sedang menyusun kata-kata dengan hati-hati.
"Davan Kresh mencoba memutusnya dengan cara menghapus semua keterikatan emosionalnya," kata Marvaine akhirnya. "Ia berpikir kalau tidak ada yang ia cintai, kutukan tidak punya bahan bakar. Tidak bisa bekerja."
"Dan?"
"Tidak berhasil. Kutukan tetap berjalan. Orang-orang yang dulu ia cintai terus mati bahkan setelah ia paksa dirinya berhenti peduli." Marvaine memandang Arvan dari belakang. "Karena kutukan tidak membaca perasaan yang ada sekarang. Ia membaca jejak ikatan yang pernah terbentuk. Selama seseorang pernah menjadi bagian penting dari hidupmu, mereka tetap dalam daftar."
Arvan menutup matanya sebentar.
Denta. Delapan belas tahun persahabatan. Tidak bisa dihapus.
Seraphine. Gadis yang tidak pernah bicara langsung padanya tapi selalu meninggalkan makanan di depan pintunya waktu musim paceklik. Tidak bisa dihapus.
"Lalu apa cara yang benar untuk memutusnya?"
Marvaine berjalan ke sisinya, berdiri di sebelah jendela. "Harus kembali ke sumbernya. Entitas Primordial yang menciptakan kontrak ini. Dan membatalkan kontrak langsung dari akarnya."
"Di mana Entitas itu sekarang?"
"Di Lapisan Kesembilan."
Arvan membuka matanya.
Lapisan Kesembilan. Dalam ilmu kultivasi yang ia tahu, dunia ini terdiri dari lapisan-lapisan realitas yang bertumpuk seperti kulit bawang. Lapisan Pertama adalah dunia manusia. Lapisan berikutnya semakin dalam, semakin berbahaya, dihuni oleh makhluk-makhluk yang semakin kuat dan semakin asing.
Lapisan Kesembilan adalah yang terdalam. Batas paling ujung dari realitas yang diketahui.
Tidak ada kultivator yang pernah mencapainya dan kembali hidup.
"Untuk mencapai Lapisan Kesembilan," kata Marvaine pelan, "kau harus menembus Lapisan Pertama sampai Kedelapan. Dan untuk menembus setiap lapisan, kau butuh kekuatan yang cukup."
"Yang berarti aku harus terus naik level."
"Ya."
"Yang berarti lebih banyak orang mati."
"Ya."
Arvan menoleh ke arah Marvaine. Perempuan itu menatap balik tanpa menghindar, matanya abu-abu dan datar seperti langit sebelum badai.
"Kau sudah tahu ini sejak awal," kata Arvan. "Sejak kau berhenti di gang itu dan mendekatiku. Kau tahu satu-satunya cara untuk memutus kutukan ini adalah dengan membiarkan kutukan itu terus bekerja dulu."
"Ya."
"Dan kau tidak bilang dari awal karena—"
"Karena orang yang baru saja kehilangan ibunya butuh beberapa menit untuk bernapas sebelum diberitahu bahwa ia akan kehilangan lebih banyak lagi." Nada Marvaine tidak berubah tapi ada sesuatu di baliknya yang tidak bisa Arvan baca. "Maaf kalau aku salah."
Hening.
Di luar jendela, Veldran terus bergerak dengan ritmenya sendiri. Orang-orang tertawa, berdagang, bertengkar, hidup. Tidak ada yang tahu bahwa di kamar kecil berbau apak ini, seorang pemuda delapan belas tahun sedang berdiri di tepi keputusan yang akan mengubah semuanya.
"Ada berapa orang dalam daftarku?" tanya Arvan akhirnya.
Marvaine mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Kau bilang kutukan membaca jejak ikatan yang pernah terbentuk. Seberapa jauh ia menelusuri? Hanya orang yang masih hidup? Atau semua orang yang pernah punya ikatan denganku?"
Marvaine terdiam lebih lama dari biasanya.
"Itu pertanyaan yang bagus," katanya pelan. "Dan aku tidak punya jawaban pastinya."
"Tebak."
"Berdasarkan catatan Davan Kresh—" Marvaine mengambil buku hitam itu lagi, membukanya ke halaman tengah, "ia kehilangan dua puluh tiga orang sebelum mencapai Level 47. Ibunya, ayahnya, dua saudara, seorang guru, belasan murid dan rekan yang dekat dengannya." Ia menutup buku itu. "Kutukan tampaknya mengambil yang paling dekat dulu. Yang paling dalam ikatannya."
Denta.
Nama itu muncul di kepala Arvan otomatis dan ia membencinya karena itu.
"Aku perlu tahu satu hal lagi," kata Arvan. "Sistem yang ada di kepalaku ini. Dari mana asalnya? Apakah Davan juga punya sistem yang sama?"
Marvaine berbalik ke arahnya dengan cepat, terlalu cepat untuk sesuatu yang seharusnya biasa. "Kau punya sistem?"
"Semacam panel informasi di dalam pikiranku. Menampilkan level, persentase, peringatan."
Ekspresi Marvaine berubah untuk pertama kalinya sejak mereka bicara. Bukan ketakutan. Bukan keheranan. Sesuatu yang lebih kompleks dari keduanya.
"Davan tidak punya sistem," kata Marvaine pelan. "Tidak ada catatan bahwa pembawa Kutukan Darah manapun sebelumnya punya sistem."
"Artinya?"
"Artinya kutukan yang kau bawa bukan versi yang sama dengan yang ada di catatan." Marvaine menatapnya dengan intensitas baru. "Seseorang atau sesuatu telah memodifikasinya."
Kata itu, modifikasi, terasa seperti air dingin yang disiramkan ke tengkuk Arvan.
Kutukan yang sudah berusia ribuan tahun. Tapi versi yang ia bawa sudah dimodifikasi.
Oleh siapa. Untuk apa.
Sistem di kepalanya berkedip.
LEVEL SAAT INI: 1
JARAK KE LEVEL 2: 47%
Empat puluh tujuh persen.
Lebih dari separuh jalan menuju kematian berikutnya.
Dan ia bahkan belum mulai berlatih kultivasi dengan sungguh-sungguh.
Ketukan keras di pintu kamar memotong pikirannya.
Marvaine dan Arvan saling menatap. Tangan Marvaine bergerak pelan ke balik jubahnya.
"Siapa?" panggil Marvaine.
"Pesan untuk tamu baru." Suara dari balik pintu terdengar seperti suara pelayan penginapan. "Dari seseorang di luar kota."
Marvaine mengangguk tipis ke arah Arvan. Arvan berdiri mengambil posisi di sisi pintu, punggungnya menempel tembok.
Marvaine membuka pintu.
Seorang pelayan muda berdiri di sana dengan amplop coklat di tangannya, wajahnya polos dan tidak mencurigakan. Tapi Arvan memperhatikan satu hal yang pelayan itu tidak sadari.
Tanah di sol sepatunya berwarna merah tua.
Tanah merah tua hanya ada di satu tempat dalam radius dua hari perjalanan dari Veldran.
Kaldvera.
Seseorang dari desanya mengikutinya sampai ke sini.
Marvaine mengambil amplop itu dan menutup pintu. Ia membaliknya dan melihat tidak ada nama pengirim. Hanya satu simbol yang dicap di atas lilin penutupnya.
Arvan mengenali simbol itu.
Ia pernah melihatnya sekali, ukiran di dinding gua di belakang desanya yang selalu dilarang dikunjungi oleh para tetua. Ukiran yang selalu dijawab dengan omelan panjang dan perubahan topik kalau ia bertanya.
Simbol yang sama dengan yang ada di sampul buku hitam Marvaine.
"Buka," kata Arvan.
Marvaine mematahkan lilin dan membuka amplop.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas.
BAWA DIA KE MENARA HITAM SEBELUM LEVEL 2. SETELAH ITU TERLAMBAT.
DAN ARVAN — JANGAN PERCAYA SEMUA YANG DIKATAKAN MARVAINE KEPADAMU.
Arvan membaca surat itu dua kali.
Lalu ia mendongak menatap Marvaine.
Perempuan itu menatap balik dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.
Lanjut Bab 5?
