BAB 3 — MENARA YANG TIDAK MENYAMBUT
Kota Veldran bukan seperti yang Arvan bayangkan.
Ia menghabiskan tiga hari perjalanan dengan kepala penuh gambaran tentang kota besar yang ramai, menara kultivasi yang menjulang gagah, dan para kultivator bijak yang akan membantunya menemukan jawaban atas kutukan yang melingkari hidupnya.
Yang ia temukan adalah kenyataan yang jauh lebih keras dari itu.
Veldran memang besar. Tapi besarnya bukan megah, melainkan sesak. Jalanan dipenuhi pedagang yang berteriak-teriak menawarkan barang, pengemis yang berjongkok di sudut-sudut bangunan tua, dan kultivator-kultivator muda berseragam perguruan yang berjalan dengan dada membusung seolah jalanan adalah milik nenek moyang mereka.
Arvan masuk melalui gerbang selatan dengan baju perjalanan yang sudah tiga hari tidak berganti dan sepatu yang sol kirinya mulai terlepas.
Tidak ada yang memandangnya dua kali.
Menara Kultivasi Veldran bisa dilihat dari mana saja di kota ini. Bangunan segi delapan setinggi dua ratus meter dengan dinding dari batu hitam yang entah dari mana asalnya, dilapisi ornamen emas yang berpendar samar bahkan di siang hari. Di puncaknya, sebuah kristal biru besar memancarkan cahaya ke langit seperti mercusuar.
Simbol kekuatan. Simbol bahwa di sini, kekuatan adalah segalanya.
Arvan berjalan lurus ke sana.
Dua penjaga berdiri di pintu masuk, berbadan besar dengan baju zirah Menara dan tombak yang ujungnya bersinar tipis karena dilapisi energi kultivasi. Keduanya melirik Arvan dari atas ke bawah ketika ia mendekat.
"Tujuan?" tanya penjaga kiri, suaranya datar seperti bicara pada tembok.
"Saya ingin menemui pengurus Menara. Saya punya pertanyaan tentang—"
"Kartu perguruan."
Arvan terdiam sebentar. "Saya tidak punya kartu perguruan. Saya bukan anggota perguruan manapun."
Penjaga kiri dan kanan saling melirik. Lalu penjaga kanan menatap Arvan dengan tatapan yang familiar sekali bagi Arvan karena ia sudah melihat tatapan itu seumur hidupnya. Tatapan orang yang melihat sesuatu yang tidak dianggapnya layak ada.
"Menara tidak melayani orang tanpa afiliasi perguruan," kata penjaga kanan. "Pergi."
"Ini soal Kutukan Darah. Saya perlu—"
"Pergi." Tombak penjaga kanan bergerak satu inci ke depan, bukan ancaman langsung tapi cukup jelas artinya.
Arvan berdiri di sana tiga detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu berbalik.
Ia tidak pergi jauh. Ia mencari sudut di antara dua bangunan yang menghadap ke pintu samping Menara, duduk di sana, dan mulai berpikir.
Sistem di kepalanya berkedip.
LEVEL SAAT INI: 1
JARAK KE LEVEL 2: 41%
Tujuh persen naik dalam tiga hari perjalanan. Arvan tidak melakukan latihan kultivasi apapun, tidak meditasi, tidak berlatih teknik. Tapi levelnya tetap naik.
Dari mana?
Ia menelusuri ingatannya tentang tiga hari terakhir. Dua kali ia berpapasan dengan makhluk purba di hutan, keduanya tingkat rendah, dan keduanya ia hindari dengan bersembunyi. Tapi ada satu momen di hari kedua ketika seekor serigala bermata api menyerangnya dari belakang dan ia menangkis cakarnya dengan lengan telanjang secara refleks.
Serigala itu menghantam batu besar dan pingsan.
Arvan tidak terluka.
Rupanya sistem ini berjalan bahkan tanpa ia sadari. Setiap kali ia menggunakan kekuatan itu, bahkan secara tidak sengaja, persentasenya naik.
Yang berarti ia harus lebih berhati-hati.
Empat puluh satu persen menuju Level 2. Menuju kematian berikutnya.
Denta atau Seraphine.
"Kau dari Kaldvera?"
Suara itu datang dari arah yang tidak ia duga. Arvan mendongak dan menemukan seorang perempuan berdiri di mulut gang, berusia sekitar tiga puluh tahun, dengan jubah abu-abu sederhana dan rambut hitam yang diikat asal. Tidak ada lambang perguruan di pakaiannya. Tidak ada senjata yang terlihat.
Yang menarik perhatian Arvan adalah matanya. Mata abu-abu yang menatapnya seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Dari mana kau tahu?" tanya Arvan, satu tangannya bergerak sedikit ke samping secara refleks.
"Bau asapnya masih menempel di bajumu." Perempuan itu mengangguk ke arah baju Arvan. "Kaldvera diserang tiga hari lalu. Garuda Batu Abyssal tingkat tujuh. Kabarnya sudah sampai Veldran kemarin." Ia berhenti sebentar. "Kabarnya juga ada seseorang yang menghentikannya dengan tangan kosong."
Arvan tidak menjawab.
"Kau ditolak masuk Menara?"
"Bukan urusanmu."
Perempuan itu tidak tersinggung. Ia justru melangkah masuk ke gang dan duduk di atas kotak kayu di seberang Arvan, seperti mereka sudah janji bertemu di sini. "Menara tidak akan membantumu apapun yang kau cari. Mereka hanya peduli pada kultivator yang sudah punya nama atau sudah punya koin."
"Lalu kenapa aku harus percaya padamu?"
"Kau tidak harus." Perempuan itu mengangkat bahu. "Tapi aku satu-satunya orang di kota ini yang tahu apa itu Kutukan Darah dan bagaimana cara kerjanya."
Arvan terdiam.
Ia mendengar namanya disebut perempuan ini sama seperti yang tertulis di sistem kepalanya. Bukan kemungkinan. Bukan dugaan.
"Namamu?" tanya Arvan akhirnya.
"Marvaine. Dulu peneliti Menara, sekarang bukan." Sesuatu yang gelap melintas di wajahnya sebentar lalu hilang. "Dan kau Arvan Duskara. Pembawa Kutukan Darah pertama dalam tiga ratus tahun."
Kata-kata itu mendarat di dada Arvan seperti batu.
Pertama dalam tiga ratus tahun.
Artinya ini pernah terjadi sebelumnya.
"Ceritakan," kata Arvan.
Marvaine menatapnya sebentar, seperti menimbang sesuatu. Lalu ia mengeluarkan sebuah buku tipis dari balik jubahnya dan meletakkannya di antara mereka berdua. Sampulnya hitam, tidak ada judul, dengan simbol yang Arvan tidak kenali tercetak di tengahnya.
"Tiga ratus dua puluh tahun lalu," mulai Marvaine, "ada seorang kultivator bernama Davan Kresh. Tingkat kultivasi nol sepertimu. Muncul dari desa kecil yang tidak ada di peta manapun. Tiba-tiba punya kekuatan yang bahkan kultivator tingkat Dewa pun tidak bisa jelaskan." Ia mengetuk sampul buku itu pelan. "Dan setiap kali ia naik level, seseorang yang ia cintai mati."
Arvan tidak berkedip.
"Ia mencoba berhenti kultivasi," lanjut Marvaine. "Berhasil selama dua tahun. Tapi ancaman yang sama yang memaksanya bangkit pertama kali tidak berhenti tumbuh. Makhluk purba dari lapisan dunia bawah mulai menembus batas alam. Dan satu-satunya yang bisa menghentikan mereka adalah Davan."
"Apa yang terjadi padanya?"
Marvaine diam sebentar.
"Ia naik sampai Level 47 sebelum akhirnya berhenti sendiri." Suaranya turun. "Di Level 47, tidak ada lagi yang tersisa untuk diambil kutukan itu."
Perut Arvan mengencang.
"Semua orang yang ia cintai sudah habis di level-level sebelumnya."
Sunyi di gang itu terasa lebih berat dari sebelumnya.
"Lalu apa yang terjadi dengan ancaman makhluk purba itu?" tanya Arvan pelan.
"Davan menghentikannya." Marvaine menatapnya lurus. "Tapi ia melakukannya sendirian. Dalam keadaan kosong. Tanpa siapapun yang tersisa." Ia berhenti sebentar. "Menara menyebutnya pahlawan. Tidak ada yang menyebutnya manusia."
Arvan menatap buku hitam itu lama.
"Di dalam buku itu," kata Marvaine, "ada catatan lengkap tentang kutukan ini. Termasuk satu hal yang tidak pernah diberitahu Menara kepada siapapun."
"Apa?"
Marvaine membuka buku itu ke halaman terakhir dan mendorongnya ke arah Arvan.
Di sana, ditulis dengan tinta yang tampak berbeda dari halaman lainnya, lebih tua, lebih pudar, ada satu kalimat pendek.
KUTUKAN INI BISA DIPATAHKAN. TAPI HARGANYA LEBIH BESAR DARI SEMUA YANG SUDAH KAU BAYAR.
Arvan membaca kalimat itu dua kali. Tiga kali.
Lalu ia mendongak ke arah Marvaine.
"Siapa yang merancang kutukan ini?"
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Marvaine terlihat ragu. Seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk jujur tapi tiba-tiba sadar kejujuran itu punya harga.
"Itulah yang aku cari selama sepuluh tahun terakhir," katanya akhirnya. "Dan itulah kenapa aku dikeluarkan dari Menara."
Di dalam kepala Arvan, sistem berkedip lagi.
LEVEL SAAT INI: 1
JARAK KE LEVEL 2: 43%
Dua persen dalam satu jam.
Waktu terus berjalan. Kutukan terus mendekat.
Dan di suatu tempat di luar sana, Denta dan Seraphine tidak tahu bahwa setiap napas Arvan membawa mereka selangkah lebih dekat ke bahaya.
Lanjut Bab 4?
