Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5 — TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA

Keheningan di kamar itu terasa seperti tali yang semakin hari semakin kencang lilitannya.

Arvan tidak menurunkan pandangannya dari Marvaine. Perempuan itu juga tidak mengalihkan matanya dari Arvan. Surat itu masih di tangan Marvaine, kertasnya sedikit bergetar bukan karena angin tapi karena sesuatu yang lebih dalam dari itu.

"Kau mau menjelaskan?" kata Arvan akhirnya.

"Aku tidak tahu siapa yang mengirim surat itu."

"Tapi kau tahu Menara Hitam."

Bukan pertanyaan. Marvaine menghela napas panjang dan meletakkan surat itu di atas meja di antara tumpukan perkamen. Ia duduk di kursi satu-satunya di kamar itu dan menyilangkan tangannya di pangkuan seperti seseorang yang sedang memutuskan seberapa banyak kebenaran yang akan ia bagi.

"Menara Hitam bukan bangunan," katanya. "Itu nama sebuah kelompok. Peneliti independen yang dikeluarkan atau melarikan diri dari Menara Kultivasi resmi karena menyelidiki hal-hal yang dianggap berbahaya oleh perguruan-perguruan besar."

"Seperti Kutukan Darah."

"Seperti Kutukan Darah. Dan hal-hal lain yang lebih besar dari itu." Marvaine menatap tangannya sendiri sebentar. "Aku pernah berhubungan dengan mereka. Dulu. Sebelum aku memutuskan bahwa cara mereka terlalu berisiko."

"Berisiko bagaimana?"

"Menara Hitam tidak hanya meneliti." Matanya naik menatap Arvan. "Mereka juga bereksperimen."

Kata itu menggantung di udara.

Arvan menarik kursi kecil dari bawah meja dan duduk memunggungi jendela, posisinya memungkinkan ia melihat pintu dan Marvaine sekaligus. Kebiasaan baru yang ia sadari muncul entah sejak kapan.

"Bereksperimen pada apa?"

"Pada pembawa kutukan." Marvaine berbicara pelan tapi kata-katanya tajam. "Davan Kresh bukan hanya diteliti oleh Menara Hitam. Ia dibimbing oleh mereka. Diarahkan. Beberapa keputusan terbesar dalam hidupnya yang tampak seperti pilihannya sendiri ternyata adalah hasil manipulasi halus dari Menara Hitam."

Arvan merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Bukan kekuatan kutukan. Sesuatu yang lebih dingin.

"Kau bilang kutukan yang kubawa sudah dimodifikasi."

"Ya."

"Dan Menara Hitam adalah pihak yang bereksperimen pada pembawa kutukan sebelumnya."

Marvaine tidak menjawab tapi jawaban itu sudah ada di matanya.

"Jadi bisa jadi mereka yang memodifikasi kutukan ini." Arvan memiringkan kepalanya sedikit. "Dan sekarang mereka mengirim surat menyuruhku datang ke mereka. Dan menyuruhku tidak mempercayaimu." Ia berhenti sebentar. "Tapi kau juga punya alasan untuk tidak memberitahuku soal Menara Hitam dari awal."

"Aku tidak berbohong padamu."

"Tidak berbohong berbeda dengan memberitahu semua kebenaran."

Marvaine diam.

Di luar jendela suara Veldran terus mengalir, teriakan pedagang, langkah kaki, sesekali tawa keras dari arah kedai di ujung jalan. Dunia yang tidak tahu dan tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di kamar kecil ini.

Sistem Arvan berkedip.

LEVEL SAAT INI: 1

JARAK KE LEVEL 2: 49%

Dua persen lagi dalam waktu yang sangat singkat.

"Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tanya Arvan langsung.

Marvaine menatapnya lama. Lalu dengan gerakan yang terasa seperti keputusan besar ia membuka jubahnya dan memperlihatkan sesuatu di lengan kirinya. Sebuah tanda di kulit, bukan tato, lebih dalam dari itu, seperti bekas luka yang sudah lama sembuh tapi membentuk simbol yang sama dengan yang ada di surat dan di buku hitam.

"Aku mantan anggota Menara Hitam," kata Marvaine. "Bukan hanya berhubungan dengan mereka. Aku bagian dari mereka selama tujuh tahun."

Arvan menatap tanda itu.

"Dan aku meninggalkan mereka tiga tahun lalu ketika aku menemukan apa yang sebenarnya mereka rencanakan untuk pembawa Kutukan Darah berikutnya." Marvaine menurunkan lengan jubahnya kembali. "Untuk kamu, Arvan. Rencana itu sudah disiapkan bahkan sebelum kamu lahir."

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit.

"Jelaskan."

"Menara Hitam percaya bahwa Entitas Primordial yang menciptakan kutukan ini bisa dipanggil ke dunia manusia." Marvaine berbicara cepat sekarang, seperti seseorang yang sudah lama menahan kata-kata dan akhirnya membiarkannya mengalir. "Tapi untuk memanggilnya butuh energi yang luar biasa besar. Energi duka yang murni. Yang hanya bisa dihasilkan oleh satu sumber."

"Pembawa kutukan."

"Seseorang yang kehilangan demi kehilangan, level demi level, sampai energi dukanya mencapai puncak tertinggi. Di titik itu, Entitas bisa ditarik masuk ke dunia ini." Marvaine menatapnya lurus. "Dan ketika Entitas Primordial masuk ke dunia manusia dalam wujud fisiknya, Menara Hitam bisa mengendalikannya. Memakai kekuatannya untuk menguasai semua lapisan realitas."

Arvan tidak bergerak.

"Kau adalah bahan bakar mereka," kata Marvaine pelan. "Rasa sakitmu adalah kunci ritual mereka. Itulah kenapa kutukan dimodifikasi. Versi aslinya tidak menghasilkan energi duka yang cukup murni. Versi yang kau bawa dirancang untuk memaksimalkan itu."

Di dalam kepala Arvan, semuanya mulai tersusun.

Sistem yang terlalu rapi. Persentase yang terlalu terukur. Peringatan yang selalu tepat waktu.

Bukan alat untuknya.

Alat untuk mengukur seberapa banyak energi yang sudah ia hasilkan untuk mereka.

"Mereka yang menciptakan sistem ini," kata Arvan.

"Aku yakin iya. Tapi aku tidak bisa membuktikannya."

"Dan surat tadi menyuruhku datang ke mereka sebelum Level 2." Arvan berdiri. "Karena setelah Level 2, energi duka dari kematian orang terdekat pertamaku sudah mengalir ke mereka. Dan mereka ingin memastikan aku masuk ke dalam lingkaran mereka sepenuhnya sebelum aku sadar apa yang terjadi."

Marvaine mengangguk pelan.

"Tapi kau juga mantan anggota mereka." Arvan menatapnya tajam. "Bagaimana aku tahu kau tidak dikirim untuk memastikan aku tidak pergi ke Menara Hitam? Mengurung aku di sini sampai Level 2 tercapai dan rasa sakitku sudah terlanjur mengalir ke mereka?"

Marvaine tidak menjawab langsung.

"Kau tidak bisa tahu," katanya akhirnya. "Tidak sepenuhnya. Tidak sekarang." Ia berdiri dan berjalan ke jendela, punggungnya ke arah Arvan. "Yang bisa aku tawarkan hanya ini. Aku tahu cara untuk memperlambat naiknya persentase kutukan. Bukan menghentikannya tapi memperlambat. Memberimu waktu lebih banyak sebelum Level 2 tercapai."

"Bagaimana?"

"Kutukan mengambil energi dari kekuatan yang kau gunakan dan dari intensitas emosi yang kau rasakan." Marvaine menoleh ke bahunya. "Latih dirimu untuk menekan emosi. Dinginkan perasaanmu. Dan hindari menggunakan kekuatan kutukan kecuali benar-benar terpaksa."

"Menekan emosi." Arvan mengulang kata-kata itu dengan nada yang sulit dibaca. "Sementara aku tahu setiap langkahku membawa orang yang kusayang selangkah lebih dekat ke kematian."

"Ya."

"Mudah sekali kau mengatakannya."

Marvaine berbalik penuh menghadapnya. "Tidak ada yang mudah dalam hal ini, Arvan. Tidak untukmu. Tidak untukku. Dan tidak untuk siapapun yang akan ikut terseret dalam perjalanan ini."

Hening sebentar.

Lalu dari luar jendela, suara yang seharusnya tidak mungkin ada di Veldran menembus kaca tipis itu.

Suara yang Arvan kenali bahkan dari kejauhan.

Suara Denta.

Arvan melompat ke jendela dan mendorong daunnya terbuka. Di bawah, di tengah kerumunan jalan yang ramai, ia melihat sosok yang terlalu familiar dengan tubuh besarnya dan rambut acaknya. Denta sedang berjalan celingukan ke setiap arah, jelas mencari seseorang.

Mencari Arvan.

Sistem berkedip tepat di saat yang sama.

LEVEL SAAT INI: 1

JARAK KE LEVEL 2: 51%

Lima puluh satu persen.

Lebih dari separuh.

Dan Denta baru saja tiba di kota yang sama.

Arvan menutup jendela dengan keras dan berbalik ke arah Marvaine.

"Aku butuh cara untuk memperlambat persentase itu sekarang juga," katanya. "Dan aku butuh cara untuk menjauhkan Denta dari sini tanpa memberitahunya kenapa."

"Denta siapa?"

"Orang yang akan mati kalau aku tidak bergerak cukup cepat."

Marvaine menatapnya tiga detik penuh, lalu ia mengangguk dan mulai membuka salah satu perkamen yang belum sempat dibuka sebelumnya.

"Duduk," katanya. "Kita tidak punya banyak waktu."

Di luar jendela, langkah Denta semakin dekat ke arah penginapan.

Dan di dalam kepala Arvan, angka itu terus bergerak.

Lima puluh dua persen.

Lanjut Bab 6?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel